3 Fakta Vaksin Pfizer yang Mendapat Lampu Hijau dari BPOM

Jumat, 16 Juli 2021, 20:24 WIB
66

Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) baru saja menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) bagi vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer-BionTech. Di Indonesia vaksin ini akan bernama Comirnaty.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan berdasarkan data uji klinis fase III vaksin ini memiliki efikasi (kemanjuran) 95% melawan Covid-19 pada kelompok usia 16 tahun ke atas.

Gates Of Olympus

“Bagi remaja berusia 12-15 tahun efikasinya 100%,” ujarnya dalam konferensi pers digital di Jakarta seperti dikutip Edisi Bonanza88.

Penny menambahkan untuk aspek keamanan yang telah dikaji bersama Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) menunjukkan bahwa secara umum vaksin berbasis teknologi mRNA ini aman dan dapat ditoleransi pada semua kelompok usia.

“Kejadian reaksi yang sering timbul dari penggunaan vaksin ini antara lain nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendiri, dan demam,” terang Penny Lukito.

Berikut 3 fakta soal Vaksin Plizer untuk Covid-19

Rise of Olympus

Kemampuan vaksin Plizer

Dikutip dari laman CDC, berdasarkan bukti uji klinis pada orang berusia 16 tahun ke atas, vaksin Pfizer-BioNTech 95 persen efektif mencegah COVID-19 yang dikonfirmasi pada orang tanpa bukti infeksi sebelumnya.

Selain itu, dalam uji klinis terpisah, Pfizer-BioNTech juga efektif dalam mencegah COVID-19 pada remaja berusia 12-15 tahun, dan memicu respons imun pada orang berusia 12-15 tahun setidaknya sekuat respons imun pada orang berusia 16-25 tahun.

Hasil riset yang dilakukan oleh Public Health England (PHE) menunjukkan, dua dosis vaksin Pfizer menunjukkan efektivitas sebesar 96 persen dalam mencegah risiko rawat inap pada pengidap COVID-19 akibat virus jenis Delta. Varian asal India yang sebelumnya dikenal dengan nama B1617.2 ini disinyalir lebih cepat dan mudah menular serta sempat ditakutkan kebal terhadap vaksin.

Efek samping vaksin Plizer

Efek samping yang paling sering dilaporkan, yang biasanya berlangsung beberapa hari adalah:

  • nyeri di tempat suntikan
  • kelelahan
  • sakit kepala
  • nyeri otot
  • menggigil
  • nyeri sendi
  • demam.

Sebagai catatan, lebih banyak orang mengalami efek samping ini setelah menerima dosis kedua daripada dosis pertama, jadi penting bagi penyedia dan penerima vaksinasi untuk berharap bahwa mungkin ada beberapa efek samping setelah dosis kedua.

Penyimpanan khusus

Sebagaimana vaksin dengan platform mRNA yang memiliki spesifikasi penyimpanan khusus dengan menggunakan ultra low temperature. Alat khusus ini membutuhkan suhu di bawah atau -90 sampai -60 derajat Celcius.
Dengan demikian, hal ini perlu dikawal dengan baik terutama dalam pendistribusian vaksin ini nantinya. Namun, lebih lanjut, disampaikannya pula bahwa Pfizer telah menyiapkan sarana dan prasarana hingga sampai ke tempat pelaksanaan penyuntikan.