4 Fakta Menarik Gianluca Vialli, Sosok Belakang Layar Timnas Italia

Minggu, 18 Juli 2021, 16:33 WIB
56

Saat Wasit Anthony Taylor meniupkan peluit akhir pertandingan Italia vs Austria di babak 16 besar EURO 2020, Gianluca Vialli tak bisa menahan kegembiraan dengan berlari ke pinggir lapangan untuk merangkul pelatih Italia, Roberto Mancini.

Pelukan hangat dan selebrasi Gianluca Vialli bersama Roberto Mancini menjadi salah satu cerita yang disukai banyak penggemar saat menonton laga Italia vs Austria. Hal sama terulang saat Italia menjadi juara EURO 2020 setelah di partai final mengalahkan Inggris lewat babak adu penalti.

Gianluca Vialli bisa dibilang sebagai sosok di belakang layar yang membuat timnas Italia mampu menjadi juara EURO 2020. Berikut 4 fakta menarik pria yang pernah membela Chelsea tersebut.

Bersahabat karid dengan Roberto Mancini

Jauh sebelum kerja sama di timnas Italia, Mancini dan Vialli sudah menjalin persahabatan sejak lama. Keduanya bertemu pertama kali saat masih remaja di Coverciano, markas Timnas Italia.

“Kami (Vialli dan Mancini) pertama kali bertemu di Coverciano. Orang-orang sudah membicarakannya saat itu. Kami pasti sudah saling kenal selama 40 tahun,” ujar Vialli seperdi dikutip Edisi Bonanza88

Memulai karier di klub yang berbeda, nama Roberto Mancini sudah mencuat ke permukaan lebih dulu dari Gianluca Vialli. Saat berusia 13 tahun, Mancini sudah dikontrak klub Serie A, Bologna; sedangkan Vialli hanya bermain untuk klub Serie C, Cremonese.

Pada 1982, Mancini resmi berseragam Sampdoria usai bermain gemilang di Bologna. Dua tahun berselang, Sampdoria membeli Vialli berkat saran dari Mancini. Itu adalah awal dari periode paling sukses Sampdoria dalam sejarah mereka.

Melawan penyakit kanker

Beberapa waktu lalu, Gianluca Vialli mengaku dalam kondisi yang “sangat baik” setelah selama setahun berjuang melawan kanker. Pria 54 tahun itu mengatakan kepada surat kabar Italia Corriere Della Sera bahwa tubuhnya merespons perawatan dengan baik.

“Saya baik-baik saja, bahkan sangat baik. Ini sudah berlangsung setahun dan saya kembali untuk memiliki fisik terbaik,” kata Vialli. “Namun, saya masih belum jelas bagaimana permainan ini akan berakhir. Saya berharap kisah saya dapat menginspirasi orang-orang pada persimpangan hidup yang krusial.” tambahnya.

Hijrah ke Inggris

Vialli meninggalkan Serie A italia dengan status satu dari enam pemain Italia yang memenangkan tiga gelar kompetisi Eropa. Ruud Gullit, pelatih Chelsea saat itu, membawa Vialli ke Stamford Bridge dengan transfer $1 juta. Musim pertamanya dilalui dengan memenangkan Piala FA. Namun pada musim berikutnya Gullit mengeluarkannya dari starting line up, meski banyak mencetak gol hebat. Bahkan Gullit membatasinya hanya bermain beberapa menit.

Bertikai dengan Ruud Gullit

Pertikaian dengan Gullit tak terhindarkan. Februari 1988, manajemen Chelsea mengakhirinya dengan memecat Gullit, dan menunjuk Vialli sebagai player-manager. Ia mengubah gaya bermain Chelsea, dari indah menjadi efektif, dan memenangkan gelar Piala Coca Cola, Piala Winners, dan menapai tempat keempat di akhir musim Liga Primer.

Vialli pula yang memimpin Chelsea meraih gelar Piala Super Eropa, dengan mengalahkan Real Madrid 1-0. Musim berikutnya, Chelsea berada di tempat ketiga, dengan empat angka di belakang Manchester United. Pencapaian terbaik The Blues sejak 1970.