4 Pribumi Terkaya di Zaman Penjajahan, bahkan dengan Kekayaannya Dihormati Ratu Belanda

Selasa, 05 Oktober 2021, 21:51 WIB
23

Meski di era kolonial banyak penduduk Indonesia yang melarat, namun sebagai negara jajahan ternyata ada juga para pribumi sukses dengan usahanya dan menjadi orang terkaya di kala itu.

Kekayaan yang mereka miliki berasal dari usaha yang mereka lakoni. Dari kekayaannya bahkan mereka bisa membuka lapangan pekerjaan dan mengangkat derajat mereka sebagai seorang pribumi terjajah.

Siapa saja mereka? Berikut Edisi Bonanza88 merangkumnya untuk Anda:

  1. Nitisemito

Kisah Nitisemito, Kejayaan dan Keruntuhan Raja Kretek dari Kudus

Istri Nitisemito, Nasilah adalah pemilik warung tembakau di Kudus, yang sering dijadikan tempat singgah oleh kusir-kusir tembakau seperti Nitisemito. Ada versi yang menyebutkan bahwa Nasilah adalah penemu rokok kretek, bukan Haji Jamhari.

Awalnya Nasilah risih karena banyaknya orang yang sering nginang dan dubangnya mengotori warungnya. Lalu ia pun meracik rokok dengan campuran cengkih yang dibalut dengan daun jagung kering, klobot, yang diikat dengan benang.

Rokok racikannya ternyata banyak disuka, terutama oleh para kusir dokar yang sering mangkal di warungnya. Selama menjadi kusir dokar, Nitisemito adalah orang yang paling sering mampir di warung tembakau Nasilah dibanding kusir dokar lainnya.

Melihat peluang ini, Nitisastro lantas memproduksi rokok kretek yang kemudian dipasarkan di wilayah Jawa sampai dengan Sumatera, dan bahkan timur Indonesia.

Produk rokok kretek tersebut diberi nama Tjap Bulatan Tiga. Lewat produk tersebut, Nitisemito berhasil mendirikan pabrik yang bisa menampung ribuan pekerja pribumi.

2. Oei Tiong Ham

Oei Tiong Ham - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pria satu ini adalah raja gula dari Semarang. Bisnis gula Oei Tiong Ham Concern cukup besar. Ia sempat memiliki lima pabrik melalui akuisisi sejumlah pabrik yang gulung tikar.

Pada puncak kejayaannya sekitar dekade 1920-an, Oei Tiong Ham (OTH) dijuluki sebagai Tuan 200 Juta Gulden, karena menjadi pengusaha pertama yang kekayaannya menembus angka 200 juta gulden atau sekitar Rp 27 triliun dengan nilai tukar saat ini.

Oei Tiong Ham yang flamboyan dan super kaya itu, memiliki lahan seluas 81 hektar di pusat Kota Semarang di sekitar rumah tinggalnya di kawasan Gergaji, Semarang. Rumahnya yang besar dan sering disebut Istana Gergaji atau Istana Balekambang, itu, kini masih utuh dan menjadi kantor Otoritas Jasa Keuangan Regional III Jawa Tengah dan DIY di Jalan Kyai Saleh.

Di tahun 1961, pemerintah Indonesia menyita dan mengambil alih aset Oei Tiong Ham yang kemudian dijadikan BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia.

  1. Samanhudi

Samanhudi - Soal kehamilan Jessica Iskandar, Kartika Putri punya banyak  rahasia - merdeka.com

Selain dikenal sebagai pahlawan pergerakan nasional, Kyai Haji Samanhudi juga merupakan salah satu “pahlawan bisnis” di zaman penjajahan.

Pria kelahiran Solo tahun 1868 ini adalah saudagar batik asal Solo. Di usia 20 tahun, Samanhudi berhasil punya perusahaan batik sendiri.

Dari usahanya tersebut, Samanhudi berhasil mengumpulkan total 800 gulden atau sekitar Rp 6 jutaan.  Setelah menunaikan ibadah haji di tahun 1904, Samanhudi merasa ada ketimpangan antara pebisnis Tiongkok dan pribumi di zaman kolonial.

Oleh sebab itu, Samanhudi pun mendirikan SDI atau Sarekat Dagang Islam yang kemudian jadi salah satu cikal bakal gerakan kemerdekaan Indonesia.

4. Tasripin

Kisah Tasripin, Juragan Kulit nan Legendaris dari Semarang

Tasripin adalah pengusaha kulit asal Jawa Tengah yang salah satu warisannya, yakni sebuah masjid, jadi bangunan bersejarah kota Semarang.

Di zaman Belanda, Tasripin memiliki usaha keluarga di bidang pembuatan sepatu kulit yang kemudian diekspor ke Belanda.

Cerita tentang seorang pribumi kaya raya bernama Tasripin rupanya terdengar hingga Negeri Belanda. Oleh Ratu Belanda Wilhelmina, dia diberikan sejumlah uang koin yang di kedua sisinya ada gambar wajah sang ratu.

Untuk mengapresiasi pemberian itu, Tasripin memasang beberapa uang koin itu di lantai rumah miliknya. Karena adanya uang koin ini, para serdadu Belanda tak pernah sekalipun menggeledah aset rumah milik Tasripin.

Selain dikenal sebagai pengusaha sukses Indonesia di zaman Belanda, Tasripin juga seorang tuan tanah di daerahnya. Tanah di Jalan MT. Haryono Semarang kebanyakan dimiliki oleh Tasripin.