5 Mitos Sangat Melekat pada Masyarakat Indonesia yang Jika Dilanggar Berdampak Bahaya

Rabu, 06 Oktober 2021, 00:10 WIB
28

Adat dan kebiasaan masyarakat Indonesia sangat melekat dengan hal-hal mistis dan gaib. Ada beberapa kepercayaan dan perilaku yang benar-benar dilarang untuk dilakukan. Tentunya jika dibenturkan dengan akal sehat menjadi sesuatu yang sangat aneh.

Namun beberapa mitos ini tumbuh dan berkembang dari mulut ke mulut hingga hari ini. Saking melekatnya, banyak orang yang percaya jika kepercayaan itu dilanggar bisa berdampak bahaya pada orang yang melakukan.

Gates Of Olympus

Edisi Bonanza88 merangkum sejumlah fakta tentang mitos yang masih melekat pada masyarakat Indonesia, bahkan hingga zaman digital saat ini.

Dilarang Pakai Baju Hijau di Area Pantai Selatan

Alasan Logis Kenapa Jangan Pakai Baju Hijau ke Pantai - Pikiran-Rakyat.com

Mitos bagi siapa pun yang mengenakan baju hijau bakal hilang atau ditelan ombak. Kepercayaan yang cukup dikenal masyarakat, khususnya yang ada di wilayah selatan Jawa, adalah larangan mengenakan baju hijau di pantai selatan. Konsekuensinya, kamu bisa hilang atau ditelan ombak laut selatan yang ganas.

Namun ada pihak yang menjelaskan bahwa ada benarnya juga dilarang memakai baju hijau di pantai. Lantaran air laut tampak berwarna biru, dasar laut yang berisikan pelbagai benda seperti pasir, karang, dan rumput laut, lalu terpapar sinar matahari, warna air laut pun jadi terlihat keruh, bahkan sedikit kehijauan.

Rise of Olympus

Sehingga jika berenang di laut atau terjebak di arus, dan memakai baju hijau, maka akan sangat sulit terlihat dari permukaan karena tersamar oleh perairan yang juga berwarna hijau, sehingga sulit terpantau orang lain.

Dilarang Mendaki dengan Jumlah Ganjil

Fakta Gunung Lawu

Ada mitos lainnya adalah dilarang mendaki gunung dengan jumlah ganjil, terutama saat mendaki Gunung Lawu. Hal ini lantaran Gunung Lawu menyimpan misteri pada tiga puncaknya yang dianggap paling sakral di Tanah Jawa.

Yang pertama adalah Puncak Hargo Dalem yang dipercaya sebagai tempat menghilangnya raja terakhir Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V.

Lalu puncak Hargo Dumiling diyakini sebagai tempat menghilangnya Ki Sabdopalon, yang merupakan abdi setia dari Prabu Brawijaya V. Sedangkan puncak ketiga adalah Puncak Hargo Dumilah merupakan tempat meditasi bagi penganut kejawen.

Dilarang Menginjak Sajen di Bali

Mengenal Sesajen di Bali yang Sering Dikaitkan Mitos Mistis

Sajen paling umum dapat dilihat di setiap sudut Bali adalah canang sari. Bentuknya bulat atau kotak dan diisi dengan daun dan bunga warna warni, serta diberi dupa.

Ukurannya tidak besar hanya setelapak tangan. Biasanya canang sari bisa ditemukan di jalan tepat depan pintu toko atau rumah.

Bagi Anda yang berlibur ke Bali, jangan sampai menginjak, menendang, dan melangkahi sajen, terutama dengan niatan sengaja. Konon, yang sengaja menginjak canang sari atau sajen tersebut akan mendapat celaka.

Membunyikan Klakson di Tempat Angker

Lewat Jalan Sepi, Pemotor Terus-Terusan Diganggu Makhluk Halus

Beredar mitos dari mulut ke mulut, jika melewati lokasi yang dipercaya angker maka diwajibkan untuk membunyikan klakson jika sedang berkendara di tempat yang rawan atau dikenal angker baik seperti tempat keramat, makam keramat, atau tempat angker lainnya.

Pengemudi disarankan untuk membunyikan klakson sebagai bentuk untuk meminta izin kepada penghuni di tempat tersebut. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk rasa penghormatan kita terhadap makhluk gaib tak kasat mata, dan seolah menjadi tanda permisi untuk melewati jalur tersebut.

Dilarang Ucapkan Kata ‘Lada’ di Gua Jepang dan Belanda di Bandung

 goa belanda

Di kawasan Dago Pakar. Kawasan Taman Hutan Raya Bandung Utara ada wisata sejarah yaitu Goa Belanda dan Goa Jepang.

Di tempat ini ada mitos yang berkembang di antara warga setempat yaitu pantangan mengucap kata ‘lada’. Hal ini lantaran menurut masyarakat setempat  berkaitan dengan nama seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati, yaitu Eyang Lada Wisesa.

Jika seseorang nekat mengucapkan kata lada, konon akan mengalami kerasukan.