Melinting Dewe, Rokok Tingwe yang Sedang Viral Saat Ini

Selasa, 28 September 2021, 17:19 WIB
19

Melinting rokok atau tingwe (ngelinting dewe)kembali mewabah di tengah pandemi Covid-19. Banyak yang meninggalkan rokok bermerek lalu beralih ke rokok tingwe. Ada yang memang sudah menjadi lelaku, namun tak sedikit yang sekadar ikut-ikutan.

Melinting tembakau identik dengan perilaku sehari-hari puluhan tahun lalu. Para orang tua, menggulung tembakau dengan papir atau kertas rokok secara manual. Kini, di tengah banjir rokok kemasan, melinting tembakau kembali muncul sebagai satu tren di berbagai kalangan. Dari kalangan dewasa hingga anak-anak muda.

Gates Of Olympus

Bagi sebagian orang, tingwe bukan sekadar opsi menikmati rokok belaka. Ada filosofi dan latar belakang psikologis panjang di setiap hisapan tembakau yang diramu. ’’Dari menikmati jadi mensyukuri,” kata Jabbar Abdullah, salah satu perokok tingwe dari Kota Mojokerto.

Bukan hiperbola. Menurutnya, setiap rokok tingwe yang dihisap tidak bisa lepas dari tangan-tangan halus para petani yang merawat dan membesarkan tembakau. Tingwe, lanjutnya, adalah cara sederhana untuk menghormati para petani tembakau yang menurutnya jauh dari kata sejahtera. Keinginan itulah yabg membawanya kembali menikmati tingwe.

Setidaknya, selama tiga bulan terakhir, dia sudah lepas total dari rokok kemasan. Beragam jenis tembakau sudah dicobanya. Mulai dari tembakau tambeng asli khas Desa Tambeng, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo hingga tembakau gayo yang identik dengan warnai hijau. ”Tambeng itu kalau bahasa jawa kan nakal. Seperti rasanya ini yang halus tapi sangar,” ungkapnya.

Dia mengaku, kebiasaan tingwe ini sudah mengakar pada dirinya sejak duduk di bangku kuliah. Selain irit biaya, ia menemukan sensasi tersendiri yang membuatnya jatuh cinta pada seluk-beluk tembakau. Sehingga, jika benar-benar sebagai penikmat tingwe, orang seharusnya bisa memperlakukan dan mendalami tembakau. ’’Sempat lepas dari tingwe dan kena rokok instan. Tapi setelah itu kemudian total ke tingwe lagi,’’ terang pria 38 tahun tersebut.

Meninggalkan kebiasaan menghisap rokok instan kembali ke tingwe, diakuinya memang butuh masa transisi. Namun, tradisi tingwe yang sudah dilakoni selama bertahun-tahun tak membuatnya kesulitan untuk menekuni dunia melinting tembakau. ’’Ini nikmat dari gusti Allah dan jangan lupa mendoakan petaninya,’’ ujarnya. Adaptasi memang diperlukan untuk membiasakan lidah dari rokok instan ke tingwe.

Rise of Olympus

Dari persoalan teknis seperti cara melinting tembakau sampai ke tingkatan memperlakukan tembakau. Setiap jenis tembakau disebutnya memiliki karakter berbeda sehingga perlu perawatan yang berbeda. Dari yang awalnya masih diselingi rokok filter, kini Jabbar sudah total merokok tingwe. ”Saya juga baca beragam literatur tentang tembakau dan melihat sendiri bagaimana petani-petani tembakau seperti di Kabuh (Jombang) itu berjuang,” terang Jabbar.

Tak hanya orang-orang punya akar kuat tentang tradisi tingwe. Kebiasaan melinting rokok saat ini memang banyak meracuni kalangan muda yang ikut-ikutan. Tren ini bisa dipahami dari upaya aktualisasi diri untuk mengikuti gaya hidup yang kekinian. Bisa pula alasan ekonomi. Dari alasan kedua ini, diakuinya memang masuk akal.

Tingwe dinilai lebih murah dari rokok kemasan. Bagaimana tidak, satu ons tembakau seharga Rp 20 ribu bisa jadi ratusan batang rokok. Ini jauh berbeda dengan rokok kemasan dengan harga sama yang hanya berisi rata-rata 12 batang. ’’Tidak heran kalau banyak yang beralih ke rokok tingwe karena dari sisi pengeluaran pun lebih hemat,’’ ungkapnya.

Namun demikian, dia meyakini, kebiasaan tanpa diikuti keinginan untuk mempelajari dan mencintai tembakau tak ada membuat para penikmat tingwe musiman ini bertahan lama. ’’Sifatnya temporal dan kembali ke rokok instan lagi kalau hanya ikut-ikutan,’’ pria Lingkungan Tropodo, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan itu

Siasat dari Ahli Hisap

Tingwe Adalah Solusi

Tingwe ini, punya dimensi strategis bagi konsumen rokok. Karena terdapat serapan dari petani tembakau ke konsumen rokok secara langsung, dengan rantai perdagangan yang lebih pendek.

Kedua, dari sisi konsumen, tingwe ini sangat irit. Satu ons tebmbakau tingwe seharga 20.000 rupiah sampai 30.000 rupiah, bisa dikonsumsi antara 4 sampai 7 hari (seminggu). Jadi satu bungkus rokok yang mereka beli dan habis dalam sehari, bisa dikonsumsi lebih panjang lagi. Irit, bukan?

Ketiga, tingwe juga mulai menjadi gaya hidup anak muda Indonesia. Tingwe yang dulu dianggap kampungan dan kuno, sekarang mulai menjadi sesuatu yang biasa dan terlihat ‘sexy’. Anak-anak muda mulai terbiasa masuk ke gerai-gerai penjual tembakau yang mulai bermunculan di berbagai kota, lalu nongkrong sambil melinting tembakau.

Fenomena tingwe bisa menjadi sebuah arus baru dalam pertembakauan negeri ini, dimana citra penikmat tingwe tidak dipandang sebelah mata, bahkan menjadi sebuah gaya hidup baru, karena dengan tingwe tidak terkastakan oleh usia maupun pendapatan.

Nah ada berbagai jenis tembakau yang bisa dicoba untuk Anda yang ingin beralih ke tingwe.

Tembakau srintil Temanggung laku Rp750.000 per kilogram - ANTARA News

  1. Tembakau Srintil Temanggung

Tembakau Srintil adalah jenis tembakau berkualitas asal Kabupaten Temanggung, Tidak semua lahan pertanian tembakau di Temanggung muncul jenis tembakau srintil. Keberadaannya sangat langka, hanya di daerah tertentu dan berkat kearifan lokal.

Aroma madu yang kuat adalah daya tarik utama bagi tembakau yang berasal dari sisi timur Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Namun jangan kaget jika harganya sangat fantastis, mengingat rasa sebanding dengan harga.

  1. Tembakau Tambeng

Tembakau tambeng adalah tembakau asal Besuki. Cita rasa kuat dan rajangan yang mempermudah saat tingwe menjadi keunggulannya.

Masyarakat Jawa Timur pasti tidak asing dengan tembakau tersebut, pasalnya tembakau tambeng tergolong mudah dijumpai dengan harga yang juga sopan di dompet.

  1. Tembakau Darmawangi

Tembakau Darmawangi merupakan jenis yang memiliki aroma yang khas. Tembakau ini berasal dari tanah Pasundan, yaitu Kabupaten Sumedang.

Warna tembakau ini biasanya kuning coklat cerah. Rasanya sangat sopan di tenggorokan, sehingga cocok sekali untuk perokok yang menyukai rokok ringan. Wanginya sangat khas dan rasanya ringan tanpa campuran cengkeh dan saus rokok pun sudah hampir mirip dengan rokok putih buatan pabrik.

  1. Tembakau Gayo

Pastinya sudah tidak asing dengan tembakau yang mempunyai khas hijau ini. Sepertin Namanya tembakau ini berasal dari daerah Nanggroe Aceh Darusalam. Cita rasa tembakau ditentukan oleh rajangan. Tapi di jenis tembakau ini memiliki rajangan yang halus dan membuat rasanya pun menjadi ringan.

Tembakau ini memiliki wangi yang hampir mirip dengan 4.20, inilah yang menjadi penyebab kenapa gayo hijau diminati anak-anak muda. Walaupun begitu tembakau ini tidak memiliki efek seperti ganja dan legal untuk dikonsumsi.

Kertas Rokok Alias Papir untuk Tingwe

LINTING TANPA LeM - PAPiR TiNGWE !!! - YouTube

Kalau Anda memiliki waktu luang bervakansi ke Gunung Kidul, bukan semata mampir ke tempat wisata seperti pantai, tebing, maupun gua, melainkan ke dusun-dusun pelosok, maka Anda akan menemukan peristiwa kultural yang lazim terjadi. Kebanyakan masyarakat di sana, merokok “tingwe” (linting dewe) merupakan hal biasa, bahkan telah mentradisi menjadi bagian dari habitus kehidupan sehari-hari.

Tingwe menjadi tanda akan penikmatan kehidupan bagi masyarakat Gunung Kidul. Melinting kertas rokok yang berisi tembakau dan “bahan-bahan alam lain” sesuai kreativitas sendiri, bahkan kerap kali ditambahkan “kemenyan”, adalah upaya resisten mereka melawan rokok konvensional secara simbolis.

Rokok linting itu sendiri biasanya berupa tembakau rajangan yang dibungkus selembar kertas tipis seukuran sekitar 6×10 centimeter. Orang Banyumas menyebutnya papir. Inilah bungkus rokok lintingan paling terkenal saat itu. Disamping itu ada kawung, atau klaras jagung istilah Banyumasannya. Klaras jagung atau kawung itu daun jagung yang telah dikeringkan dan digunakan untuk melinting tembakau garangan.

Tembakau garangan ini bentuknya seperti wajik berpetak-petak, warnanya hitam pekat, dengan ketebalan sekitar lima centimeter. Namun penggemar tembakau rajangan waktu itu sangat terbatas, dibanding tembakau rajangan yang dilinting dengan papir itu.

Sebutan papir mungkin berasal dari bahasa Inggris paper. Mungkin karena lidah orang Banyumas susah melafalkan “piper”, maka untuk mudahnya mereka melafalkan sebagai “papir”.

Kertas papir itu ada dua jenis rasanya. yang satu tawar dan yang lain manis. Namun perokok klinting umumnya lebih suka memakai papir tanpa rasa. Satu pak papir berisi 20-40 lembar papir. Papir yang terkenal waktu itu bermerk “Sinden” karena kertas pembungkus luarnya memang ada gambar seorang pesinden. Sedangkan kawung biasanya digunakan untuk tembakau.

Tembakau rajangan yang sudah digelar di atas papir umumnya ditambah kemenyan yang sudah dijadikan remah-remah, terkadang ada juga yang menambahkan dengan remah-remah klembak. Klembak adalah akar dari tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk bahan wewangian. Bentuk, besar dan panjangnya seperti ruas jari telunjuk orang dewasa. Warnanya coklat tua. Para perokok biasanya menggunakan pisau kecil, atau kuku jari jempol untuk mengopek kelembak. Biar rasa rokok lintingan menggigit ujung lidah, maka perokok lintingan juga kerap mencampurnya dengan wuwur, ini daun cengkeh yang telah ditumbuk halus.

Baru setelah itu, tembakau bersama kemenyan, wuwur dan klembak dilinting.. Jadilah rokok lintingan. Kemenyan itu fungsinya supaya api rokok tidak gampang mati, disamping untuk menambah cita rasa seperti juga fungsi klembak. Juga untuk menimbulkan aroma wangi. Konon para petani di sawah bisa bertahan berjam-jam bekerja tanpa merasa lapar jika rokok lintingan yang diisapnya “mbekok”.

Tembakau rajangan dikirim dalam bentuk keranjangan, atau disebut bal-balan. Keranjang itu terbuat dari anyaman bambu dan dibungkus kulit pohon pisang yang telah dijemur dan dikeringkan. Orang Banyumas menyebutnya gedebogan pisang. Fungsi gedebogan untuk membuat tembakau tetap lemas atau lembut selama beberapa hari. Jika tembakau kering, maka harganya menjadi sangat murah.

Nah keranjang bekas pembungkus tembakau itu, jika batang-batang bambunya kokoh, maka dapat difungsikan untuk kandang ayam atau burung dara. Sedangkan debogan batang pisang yang kering itu dijadikan bahan bakar di pawon untuk pengganti kayu bakar. Pawon adalah tungku yang terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai tempat menaruh teko, dandang atau panci untuk kegiatan masak-memasak sebelum era penggunaan kompor.

Satu keranjang tembakau beratnya rata-rata 50 – 60 kg. Tapi terkadang ada yang mencapai 80 kg bahkan 100 kg. Tembakau-tembakau itu dikirim dengan menggunakan truk. Satu truk bisa memuat sampai 50 keranjang. Begitu truk sampai ke tempat pengiriman, maka puluhan kuli angkut, disebut juga “kuli tagog”, dengan menggunakan pundak atau bahu mereka yang kokoh dan kekar berebut untuk menurunkan dan memasukan keranjang tembakau ke gudang milik pedagang tembakau. Pedagang tembakau, biasanya akan menggunakan daun jati untuk melapisi tembakau-tembakau setelah keranjang tembakau dibuka.