Alcantara Bersaudara, Thiago dan Rafinha dari Galicia ke Panggung Besar Eropa

Kamis, 30 September 2021, 17:14 WIB
45

Dua saudara muda yang mengenakan pakaian yang serasi bermain sepak bola di stadion kosong. Mereka saling ngotot untuk menguasai bola dan saling membenturkan badan satu sama lain dengan kemampuan mereka mengolah bola di kaki, sangat menghibur untuk ditonton. Yang lebih tua menghentikan yang lebih muda dengan tekel keras, membuatnya menangis. Stadion yang itu bernama Estadio de Balaídos, kandang klub Spanyol, Celta. Kedua anak muda itu bukanlah sekadar penggemar yang beruntung bisa bermain di stadion klub professional seperti Celta Vigo. 

Mereka adalah anak-anak dari Mazinho, gelandang Brasil pemenang Piala Dunia 1994 yang pernah membela Celta. Mazinho bergabung dengan klub pada tahun 1996 dari Valencia setelah bermain dengan Vasco, Lecce, Fiorentina, dan Palmeiras. Dengan petualangan sebagai pemain professional, dia telah memberi anak-anaknya pendidikan berskala internasional. Yang lebih tua lahir di Italia pada tahun 1991, ketika Mazinho bermain untuk Lecce, sedangkan yang lebih muda lahir di Brasil pada tahun 1993, selagi dirinya memperkuat Palmeiras. 

Gates Of Olympus

Mazinho tentu akan dimaafkan karena menjadi pesepakbola professional yang menuntut anak-anaknya bisa mengikuti jejaknya menjadi pesepakbola profesional. Semua mimpi sang ayah digenapi pada akhirnya. Kita maju langsung ke bulan Desember 2011 dan Mazinho berada di Galicia menonton pertandingan bola basket putrinya. Di sisi lain negara itu, kedua putranya dan ibu mereka, Valeria, yang ternyata mantan atlet bola voli, berada di Camp Nou. 

Valéria ada di tribun, tetapi dua anak laki-laki buah cintanya bersama Mazinho, Thiago dan Rafinha, ada di lapangan. Keduanya memainkan pertandingan pertama mereka bersama untuk Barcelona melawan BATE di panggung besar Eropa, Liga Champions. Barça mengalahkan wakil Belarusia itu dengan skor 4-0, dengan Alcântara bersaudara menjalankan lini tengah dengan gemilang dan membuat orang-orang menaruh harapan besar untuk masa depannya.

Pada Mei 2015, banyak hal telah berubah. Alcântara bersaudara bukan lagi remaja – mereka masing-masing berusia 24 dan 22 tahun – dan saling bentrok di semi-final Liga Champions. Yang lebih tua, Thiago, menjadi starter untuk Bayern Munich, sementara Rafinha, adiknya yang meninggalkan Stadion Balaídos di tahun 1997 dengan berlinang air mata, masuk sebagai pemain pengganti untuk Barca. Mereka berpelukan saat peluit akhir dibunyikan. Thiago meringis melihat kekalahan 3-0 Bayern yang komprehensif tetapi mengaku bangga bisa bersama-sama dengan sang adik di atas lapangan.

Alcantara bersaudara tidak lagi mengenakan jersey yang sama– mereka malah menapaki jalan yang berbeda dalam upaya mencapai elit sepak bola Eropa. Bukan perselisihan yang jadi penyebabnya. Keduanya merupakan sosok gelandang yang punya nada permainan yang sama dan menggabungkan ajaran sepak bola dari negara-negara berbeda.

Setelah menghabiskan sebagian masa kecil mereka di Brasil dan Spanyol, sepak bola mereka memadukan disiplin taktis dari permainan Eropa dengan bakat besar individu biasa tertanam di dalam diri para pemuda Amerika Latin. Keduanya mampu membangun serangan dengan kecerdasan disertai pengendalian yang luar biasa sambil mempertahankan tanggung jawab mereka untuk lini pertahanan. 

Rise of Olympus

Uniknya, Thiago Alcantara memilih kewarganegaraan Spanyol, bagaimanapun, dia juga menikah dengan wanita Spanyol. Rafinha, setelah bermain untuk Timnas Spanyol di tingkat junior, telah memilih untuk mengikuti jejak ayahnya dan membela Timnas Brasil. 

“Saya orang Brasil. Saya lahir di Brasil dan saya selalu merasa seperti orang Brasil. Bagi saya, Brasil adalah negara saya,” kata Rafinha ketika ditanya tentang keputusannya. 

Thiago menemukan masalah yang lebih kompleks. Dia bilang, “Perasaan saya adalah bahwa tubuh saya dan semua hal saya di dalam diri saya – ketika saya bergerak, ketika saya melakukan segalanya – saya tetap orang Brasil,” katanya. 

“Keluarga saya orang Brasil, dan bahasa ibu saya adalah bahasa Portugis Brasil. Tetapi semua pemikiran dalam hidup saya, semua hubungan dengan orang-orang yang saya sayangi, saya pikir saya merasa lebih dari warga negara Spanyol. Begitulah cara saya tumbuh dewasa. Saya mulai membaca dalam bahasa Spanyol. Jadi bagi saya semuanya adalah campuran setiap hari. Agak sulit untuk dijelaskan, tetapi pada saat yang sama sangatlah mudah untuk dirasakan,” kata Thiago ketika menjelaskan pilihannya jadi Warga Negara Spanyol.

 

Alcantara Bersaudara Punya Jalan Karir yang Sedikit Berbeda

Mereka telah menikmati kesuksesan karir yang sedikit berbeda di ajang internasional masing-masing. Thiago memenangkan Kejuaraan Eropa U-17 pada 2008 dan juga level U-21 pada 2011 dan 2013, sementara Rafinha memenangkan medali emas di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. 

Cedera memaksa Thiago untuk melewatkan Piala Dunia 2014 di Brasil, bagaimanapun, dan pengalamannya di Rusia pada 2018 adalah kekecewaan kolektif untuk keseluruhan skuat La Roja. Rafinha sejauh ini tidak benar-benar jadi andalan di tim nasional Brasil, hanya membuat dua penampilan senior sejak debutnya pada tahun 2015. 

Thiago, dua tahun lebih tua dari Rafinha, muncul dari La Masia sebagai pewaris lini tengah Barca setelah menjalani waktunya di tim B mereka. Dia merasa sulit untuk menjadi andalan di starting XI, bagaimanapun, itu semua dikarenakan persaingan yang sangat ketat. Andrés Iniesta, Cesc Fabregas, Sergio Busquets dan Xavi semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat utama di Camp Nou. 

Hasilnya adalah musim terakhirnya di klub pada 2012/13, Barça gagal memenuhi klausul dalam kontraknya mengenai waktu bermain, membuat harga pelepasannya turun dari 90 juta euro menjadi hanya 18 juta euro.

Hal ini mendorong Pep Guardiola, orang yang memberi Thiago debutnya di tim utama di Barça, untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Sang gelandang pun diboyong dan menjadi landasan proyek barunya saat melatih Bayern Munchen pada musim panas 2013 lalu.

“Saya berbicara dengan klub tentang konsep saya dan memberi tahu mereka mengapa saya menginginkan Thiago. Dia adalah satu-satunya pemain yang saya inginkan. Itu dia atau bukan siapa-siapa,” kata Guardiola.

 

Sang Adik, Rafinha Juga Cabut dari Barcelona di Musim Panas 2013

Musim panas 2013 di saat Thiago hengkang, Rafinha juga pindah dari Barca. Dia melakukan debutnya untuk Barca pada bulan Desember 2011. Tapi, menjelang musim 2013/14 ia menandatangani kontrak baru dengan klub Catalan sebelum bergabung dengan Celta, tim lama ayahnya, dengan status pinjaman selama satu musim.

Pelatihnya di Galicia adalah Luis Enrique, yang sangat menyukai gelandang Brasil itu sehingga dia memutuskan untuk menggunakannya secara reguler ketika dia menjadi pelatih Barça musim berikutnya. Rafinha mungkin memainkan sepakbola terbaik dalam karirnya dalam dua tahun saat Luis Enrique jadi pelatih di Camp Nou. Dia juga merupakan bagian dari tim Blaugrana yang memenangkan treble bersejarah pada tahun 2015. Namun, ligamen anterior cruciatum kanannya robek pada bulan September yang merupakan pukulan bagi peluangnya untuk menasbihkan dirinya sebagai gelandang andalan di Camp Nou . 

Thiago menyuarakan dukungannya untuk saudaranya dalam sebuah posting Instagram: “Sekarang saya akhirnya mengerti ketika ibu berkata ‘Saya harap itu lutut saya dan bukan lutut Anda’. Itulah yang saya rasakan saat ini ketika saya memikirkan Anda dan saya yakin ibu akan merasakan hal yang sama. Orang-orang selalu mengatakan bahwa kami harus berjuang untuk impian kami, untuk berusaha dan bertahan. Tapi mereka tidak pernah mengatakan tembok yang menjulang akan setinggi dan selicin ini. Tapi aku masih ingin memanjat satu tembok besar itu lagi bersamamu, lihat seberapa tingginya dan melewati bersama,” tulisnya.

Thiago tahu apa yang dia bicarakan – kemajuan awalnya di Bayern juga terhambat oleh cedera. Ia mengalami robek ligamen lutut pada bulan Maret 2014 di musim pertamanya dan absen selama 371 hari, angka yang menjadi judul film dokumenter yang ia buat tentang rehabilitasinya di YouTube Channel pribadinya. Istrinya sangat suportif, begitu juga dengan sang ibu dan ayahnya. Rafinha juga muncul dalam momen yang menyentuh dalam film dokumenter tersebut. Dia mengejutkan Thiago datang, mengenakan jersey Bayern dengan nama dan nomor saudara laki-lakinya sebelum akhirnya menemaninya latihan. 

“Saya pikir hubungan kami adalah yang terbaik yang bisa dimiliki abang-adik. Dia adalah seorang ayah, saudara laki-laki dan sahabat saya. Dia adalah orang yang luar biasa. Dia memiliki hati yang besar, karakter yang kuat dan (dia) orang yang tahu apa yang diinginkan olehnya. Seseorang yang dapat Anda percayai, seseorang yang dapat Anda ajak bicara tentang apa pun. Apa pun yang Anda butuhkan, dia akan membantu Anda,” kata Rafinha dalam film dokumenter itu.

Pada saat ia pulih dari cedera, Thiago memiliki pertempuran lain di tangannya untuk menyegel starter regular di tim Bayern yang disesaki gelandang hebat saat itu. Ada nama-nama seperti, Arturo Vidal, Bastian Schweinsteiger, Joshua Kimmich, Mario Götze, Philipp Lahm, Toni Kroos, dan Xabi Alonso semuanya berbaris di lini tengah.

Kedatangan Carlo Ancelotti pada 2016 terbukti menjadi game-changer. Pelatih asal Italia itu menggeser posisi Thiago, memindahkannya ke posisi free-role. Persis di belakang striker andalan Robert Lewandowski yang sekaligus membuatnya jadi salah satu second striker langganan untuk Timnas Spanyol. Lewat posisi ini pun, dia menegaskan statusnya sebagai pesepakbola kelas dunia yang sesungguhnya. Dia mempertahankan akurasi passing di atas 90 persen di setiap musim selama berkarir di Bundesliga. 

Dia bisa mematahkan dari lini tengah dan merobek lawan di sepertiga akhir, menggunakan ancaman ganda dari jarak umpan yang mematikan dan kemampuan menggiring bola yang berbahaya. Tahun debutnya di bawah Ancelotti, yakni musim 2016/2017, dia berhasil mencatatkan lima gol dan lima assist, serta rata-rata dominan 119 sentuhan per game di semua kompetisi. 

“Saya belum pernah melihat hubungan yang baik antara pelatih dan pemain seperti dengan Carlo. Itu pula yang telah dikatakan para pemain Real Madrid kepada saya sebelum dia tiba di Bayern,” kata Thiago saat itu.

Sejak saat itu Thiago semakin kuat, bertransisi kembali ke lini tengah dan menjadi salah satu pemain paling dominan di Eropa. Dia memenangkan tujuh gelar liga berturut-turut dengan Bayern, serta empat DFB Pokals, Piala Dunia Antarklub dan Liga Champions. Dia juga menjadi pemain ke-13 yang memenangkan kompetisi elite Liga Champions dengan dua klub berbeda setelah kemenangannya tahun 2011 bersama Barca.

Dia tampil luar biasa dalam lanjutan Liga Champions 2019/2020 pasca-lockdown COVID-19 di Lisbon musim panas lalu. Menjalankan tugasnya dengan sangat baik saat Bayern menghancurkan Barcelona dengan skor telak 8-2. Dia juga berperan besar dalam kemenangan tipis 0-1 atas PSG di partai final dan membawa Bayern menjuarai Liga Champions musim tersebut. Saat kekalahan besar Barcelona dari Bayern yang dibela Thiago, sang adik Rafinha tidak ikut ambil bagian untuk kubu El Barca. Dia kembali menjalani musim 2019/2020 di Celta, lagi-lagi sebagai pemain pinjaman.

 

Rafinha di Ligue 1 Bela PSG, Thiago di Liga Inggris Bersama Liverpool

Kembali ke Camp Nou pada musim panas 2020 lalu, Rafinha sadar bahwa dirinya tidak punya tempat lagi. Terlebih lagi pergantian pelatih kepala Barcelona, yang menunjuk Ronald Koeman yang melakukan penjualan besar-besaran guna mendulang dana membeli pemain anyar. Dia pun dilepas Barca ke PSG secara permanen dengan mahar cuma 1,5 juta euro.

Lagi-lagi, Rafinha klub baru, begitu juga dengan Thiago. Sang abang memilih hengkang ke Anfield untuk berseragam Liverpool. Ini merupakan babak baru dalam karirnya yang belum pernah mencicipi kerasnya kompetisi Liga Inggris. Namun musim debutnya bersama The Reds tidaklah indah, di mana pandemic juga ikut andil dalam rusaknya tahun perdana di Liga Inggris. Thiago Alcantara sempat positif COVID-19 dan juga cedera lutut. Kedua masalah ini membuatnya harus absen sampai 22 pertandingan di musim 2020/2021.

Sementara sang adik, babak baru dalam karirnya bersama PSG di Ligue 1 Prancis lebih baik dari sang kakak di Inggris. Total, dari tiga kompetisi yang diikuti Les Parisiens, dia mencatat 34 penampilan dengan tujuh assist. Musim 2021/2022 yang baru beberapa laga berjalan, Rafinha tampaknya kurang mendapatkan menit bermain. Mengingat PSG baru saja kedatangan Georginio Wijnaldum yang bisa ditempatkan sebagai gelandang box-to-box belum lagi Lionel Messi yang juga piawai di posisi ini.

Meski kini berada di dua negara yang berbeda, sepak bola zaman sekarang harus berterima kasih dengan kehadiran Alcantara bersaudara. Ditempa dalam api yang sama dan dikeraskan oleh pengalaman cedera yang sama, mereka bukan pria yang sama saat bermain di stadion kosong di Galicia di sore hari tahun 1997. Juga ketika mereka melakukan debut bersama pada tahun 2011 atau ketika mereka bermain melawan satu sama lain pada tahun 2015. Mereka sudah berbeda, sebagai pemain dan manusia. 

Satu hal yang tidak berubah, bagaimanapun, adalah kekuatan ikatan darah mereka. Anda mendapatkan perasaan bahwa mereka menghargai itu di atas semua trofi dan jersey yang mereka kenakan.