Andre-Pierre Gignac dan Revolusi Sepak Bola di Meksiko

Kamis, 02 Desember 2021, 01:39 WIB
106

Maverick adalah sebuah istilah di mana sosok yang berani, cerdas dan pekerja keras. Sepak bola tidak berarti apa-apa tanpa sosok atau bahkan pemain yang bertipe Maverick ini. Para pemain dengan tipe ini biasanya sulit diprediksi dan kejutan-kejutan tersebutlah yang membuat para penggemar jatuh cinta kepada mereka, seperti yang dilakukan Andre-Pierre Gignac.

Marcelo Bielsa yang tahun 2015 melatih Marseille, menyaksikan bahwa Gignac merupakan striker yang masih mumpuni dengan torehan 21 gol. Namun entah kenapa dan mengejutkan – maverick banget, dia menolak tawarang perpanjangan kontrak dengan klub. Bahkan keputusannya benar-benar di luar nalar orang-orang, dia terbang sejauh 6.000 mil ke barat Eropa, tepatnya mendarat di Monterrey, Meksiko.

Gignac sendiri sebenarnya saat itu masih memiliki banyak pilihan, terutama ketertarikan dari duo klub besar Italia, Inter Milan dan Napoli. Begitu juga dengan peluang bermain di Arab Saudi, yang tentu banyak sekali uang bertebaran di sana, tapi semua ditolak mentah-mentah oleh sang pemain. Dia memilih pindah ke Amerika Utara. Dengan penolakan semua kesempatan bermain itu, dia pun dengan cepat mengambil hati para penggemar klub raksasa Meksiko, UANL Tigres, bahkan sebelum debut pertamanya di klub tersebut.

Saat mendarat di Meksiko untuk kali pertama, Gignac dikerumuni para penggemar yang menyambutnya di Bandara. Ini adalah pertama kalinya seorang pemain top Eropa memilih tim Liga MX sejak Pep Guardiola, tapi ini terasa berbeda. Guardiola bergabung di fase karirnya memang sudah meredup, lain dengan Gignac, pemain yang paling tepat digambarkan sebagai pemain yang sedang di puncak karirnya. Dia bisa dibilang seorang pemain yang telah meninggalkan zona nyamannya dengan tujuan untuk mengambil alih budaya sepakbola yang sangat berbeda dengan badai riuh menerpa.

Orang Eropa, lebih khusus lagi, orang Eropa Tengah, memiliki kebiasaan memandang rendah liga-liga di luar lima besar yang kita juga kenal sekarang. Meskipun adil untuk mengatakan bahwa negara-negara ini memang dihuni para pemain terbaik dan kekuatan finansial yang luar biasa, tidak adil untuk mengatakan bahwa mereka adalah segalanya dan akhir segalanya. Itu tampaknya coba dibuktikan oleh Gignac.

Meksiko, contohnya. Mereka negara yang hidup dan nafasnya sendiri adalah sepak bola. Topeng Luchador dengan warna klub dan tim nasional, sombrero yang bersejarah dan banyak fans yang bertato sering terlihat di tribun. Ini adalah negara yang menganggap permainan sepak bola indah dengan sangat serius.

Gignac mengatakan, “Saya sangat senang. Saya datang untuk memenangkan liga dan Libertadores.” Kedatangan Gignac semulus yang dia harapkan; dia tahu bahasanya, dia telah mempelajari rekan satu timnya dan juga lawannya. Penyerang seperti sebuah bisnis murni – dan kesempatan yang diinginkan adalah untuk membuktikan dirinya datang tepat waktu untuk mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan.

 

Kegagalan Pertama Gignac saat Datang ke Meksiko

Saat dirinya datang, Tigres sendiri telah mendapatkan undian di semifinal Copa Libertadores menghadapi klub bersejarah asal Porto Alegre, Brasil, yakni Internacional. Pada leg pertama di Brasil, Gignac sudah terdaftar dalam skuat dan juga bermain penuh selama 90 menit, tapi sayang, Internacional terlalu kuat dengan dukungan para pendukungnya sendiri. Kekalahan 1-2 di leg pertama seolah memangkas harapan Tigres lolos ke final Copa Libertadores, sebuah target yang mereka impikan sejak lama.

Pada leg kedua, Tigres dan Gignac punya dua target masing-masing, namun satu tujuan. Yakni membalikkan keadaan, sementara sang striker perlu membuktikan bahwa dirinya pindah ke Amerika Utara bukan sekadar menikmati masa tua saja. Hanya butuh 18 menit saat pertandingan leg kedua dimulai, dia akhirnya mencetak gol pertamanya untuk Tigres. Lompatan dan sundulan sangat kuat, membuat Alisson, yang kini menjadi andalan Liverpool, harus mengotori bajunya dengan tanah. Tapi bola tetap bersarang di gawangnya, 1-0 untuk Tigres.

Gol debut itu makin lengkap dengan gol bunuh diri bek Internacional, Gefferson disusul juga tandukan dari Egidio Arevalo yang memastikan Tigres mengamankan satu tempat di final Copa Libertadores 2015. Gignac tinggal selangkah lagi untuk mempersembahkan trofi pertamanya untuk Tigres, salah satu target terbesar dalam sejarah klub, karena memang belum pernah sekali pun juara kompetisi ini.

Pada partai final mereka dihadapkan raksasa Argentina yang memang sebelum pertandingan dimulai, tercatat sudah tiga kali juara Copa Libertadores. Seperti sebelum-sebelumnya, partai final juga digelar dengan format dua leg, Tigres bermain di kandang lebih dulu. Pertandingan berakhir dengan sama kuat antara Tigres vs River Plate.

Estadio Monumental, Buenos Aires, merupakan salah satu lapangan sepak bola yang menyimpan sejarah. Para legenda sepak bola terdahulu, seperti Alfredo Di Stefano, Enzo Francescoli dan Pablo Aimar sudah pernah merumput di sana. Tigres pun sebagai underdog dituntut untuk memulai laga dengan kejutan dan menengadahkan kepala mereka tetap tegak di awal pertandingan.

Sayang sekali kenyataan sering jauh dari harapan, River Plate langsung mendominasi sejak peluit tanda laga dimulai. Adalah Lucas Nicolas Alario yang menjadi pencetak gol pertama River di menit ke-44, jelang turun minum.

Gol kedua River seperti pukulan telak untuk Tigres bangun dari mimpi indah mereka. Sebuah eksekusi penalti yang lembut, yang sempat mendapat tepuk tangan sarkastik dan tawa dari kiper Tigres Nahuel Guzmán, dengan cekatan diubah menjadi bibir yang tertekuk oleh gelandang asal Uruguay, Carlos Sánchez. River unggul 2-0 dan makin menguasai pertandingan. Hanya empat menit setelah gol kedua, bek tengah mereka, Ramiro Funes Mori melompat dan menanduk bola, yang membuat skor 3-0. Tigres dan Gignac langsung tertunduk, tahu bahwa mimpi mereka di tahun tersebut sudah terkubur di lapangan legendaris Estadio Monumental.

 

Gignac Main di Meksiko, Tetap Dipanggil Timnas Prancis

Kembali ke tanah Meksiko, Gignac memulai dan menemukan kembali karirnya dengan sangat baik. Sebanyak 44 gol dalam 18 bulan pertamanya, banyak di antaranya adalah gol spektakuler, membuatnya mendapat julukan; El Más Chingón (Yang Paling Mengagumkan).

Musim Liga MX dibagi menjadi dua bagian, Apertura dan Clausura. Pada bulan Desember, Gignac telah membayar kepercayaan para penggemar dengan memimpin timnya meraih gelar Meksiko pertamanya dan keempat untuk klub, Apertura 2015. Dia kemudian menindaklanjutinya dengan membantu mengangkat trofi Campeón de Campeones pada tahun 2016, membuatnya mendapatkan penghargaan bernama Bola d’Oro, gelar individu yang diberikan kepada pemain terbaik di Meksiko.

Didier Deschamps tidak bisa terus-terusan mengabaikannya. Kala masih berkarir di Eropa, Gignac juga terus ditinggalkan dalam seleksi tim nasional Prancis. Namun, ketika Prancis akan memulai Euro 2016, Deschamps membutuhkan seorang back-up untuk Olivier Giroud. Performa Kevin Gamerio menurun dan skandal pengasingan Karim Benzema membuatnya tidak bisa dipanggil, yang berarti Gignac adalah satu-satunya striker yang tersedia.

“Tidak ada permusuhan di antara kita. [Deschamps] adalah orang yang berintegritas. Dia menunjukkannya ketika dia meminta saya kembali ke tim nasional,” kata Gignac kala itu.

Pada akhirnya, Prancis kalah dari Portugal di final, tetapi, secara pribadi, Gignac pasti senang. Meskipun dia tidak diragukan lagi bermain sebagai opsi kedua setelah Giroud, dia berhasil membuat enam penampilan selama turnamen, termasuk final, permainan di mana dia hampir mencetak gol.

Pada menit ke-93, saat permainan berada dalam keseimbangan, Gignac menerima bola di sisi kiri kotak enam yard, mengelabuhi Pepe dan melepaskan tembakan. Dia telah mengalahkan kiper Portugal Rui Patricio di tiang dekat, tetapi bola menghantam tiang gawang dan Antoine Greizmann tidak dapat memanfaatkan bola rebound tersebut. Gignac tinggal beberapa inci lagi untuk menjadi pemain pertama sejak awal turnamen yang berkarir di luar Eropa mencetak gol kemenangan di final kompetisi antar-negara Eropa.

Striker itu kembali ke Meksiko dengan perasaan yang penuh percaya diri. Penampilan terakhir yang dia tunjukkan bersama tim nasional diteruskan di atas lapangan bersama klubnya, Tigres. Meskipun dia tidak bisa mendapatkan trofi Euro 2016, dia tidak bisa berhenti menang dengan Tigres, mengangkat Apertura pada 2016 dan 2017 dan Clausura pada 2019.

Akhirnya, pada Agustus 2019, nama Gignac tercatat dalam sejarah, golnya yang ke-105 membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Tigres. Sebelum pertandingan, sebuah bendera besar Prancis dibentangkan oleh para penggemar Tigres dan Gignac berterima kasih kepada mereka dengan satu-satunya cara yang dia kuasai: mencetak hat-trick hanya dalam 23 menit awal pertandingan.

 

Mulai Menua, Gignac Berhasil Memberi Revolusi pada Meksiko dan Tigres

Di usianya yang ke-34, ia mulai merasa tahun 2020 akan menjadi kesempatan terakhirnya. Seperti biasa, kemajuan ke final Liga Champions Concacaf pun relatif mudah. Kemenangan nyaman melawan New York City FC di perempat final dan Olimpia of Honduras di semifinal membuat final melawan LAFC dan menghadapi salah satu striker berbakat Meksiko sendiri, Carlos Vela. Gignac awalnya diragukan bisa tampil di final karena cedera, tetapi akhirnya dia tidak melewatkan kesempatan ini.

COVID-19 berarti final harus dimainkan di stadion yang kosong, tetapi pria Prancis itu tidak gentar. Diego Rossi membawa Los Angeles FC unggul 1-0 lewat lob pendek di kotak enam yard yang membuat Guzmán tidak berkutik. Berbeda dengan final masa lalu, setelah tertinggal 0-1 Tigres bangkit. Sebelas menit kemudian, mereka menyamakan kedudukan melalui sundulan dari bek tengah Hugo Ayala. Saat skor imbang 1-1, motivasi besar terasa sekali dari klub Meksiko itu.

Gignac pun membuktikan kualitas dan pengalamannya pada menit ke-84, dengan mencetak gol atas namanya sendiri. Berdiri di tepi kotak penalti, bola diberikan kepadanya, dan dia dengan santai memasukkan bola melewati Kenneth Vermeer, penjaga gawang LAFC. Dia mungkin membuat gol itu terlihat mudah, tetapi selebrasinya benar-benar luar biasa. Rekan-rekan satu timnya berebutan memeluk juruselamat mereka. Anda bisa tahu dari raut wajahnya bahwa gol ini, dari ratusan golnya untuk Tigres, adalah yang paling berarti.

Petualangan Gignac di Meksiko memuncak pada Februari 2021 dengan final Piala Dunia Antarklub melawan Bayern Munich. Turnamen yang diragukan oleh para fans sepak bola Eropa, dengan banyak yang melihatnya sebagai pertandingan tidak seru, tetapi ini adalah kesempatan bagi Gignac untuk menunjukkan kepada elit Eropa bahwa mereka bukan Alpha dan Omega. Sayangnya, dan memang bisa ditebak, raksasa asal Jerman itu menang mudah, dengan satu-satunya gol yang dicetak oleh Benjamin Pavard.

Di dunia korporat di mana sepak bola telah menjadi komoditas, sulit untuk menemukan cerita yang benar-benar romantis. André-Pierre Gignac membuat langkah yang membingungkan banyak orang, tetapi kesuksesan dan kesediaannya untuk membawa budaya yang berbeda begitu dekat ke hatinya adalah salah satu narasi permainan yang indah saat ini. Bahkan bisa dibilang dia sosok revolusioner yang membawa perubahan dan gegap gempita sepak bola Eropa ke belahan dunia yang seringkali luput, Meksiko, dalam artikel ini, yang beruntung bisa merasakannya adalah UANL Tigres.

BERITA TERKAIT