Anonymous, Kelompok Hacker Paling Legendaris yang Banyak Lakukan Peretasan Bersejarah

Minggu, 31 Oktober 2021, 23:48 WIB
48

Setiap orang yang mengakses Internet setidaknya pernah sekali mendengar tentang kelompok peretas bernama Anonymous yang sungguh terkenal. Mereka jadi pihak yang bertanggung jawab atas beberapa kali kebocoran data-data penting dari perusahaan besar, lembaga pemerintahan, dan politisi di seluruh dunia.

Namun, tahukah Anda bagaimana kelompok itu muncul dan apa tujuan sebenarnya? Pertanyaannya mungkin agak sulit untuk dijawab, lagi pula, cara kerja para peretas pada umumnya, termasuk Anonymous, tidak akan pernah sedikit pun membeberkan cerita dan cara mereka bertindak di luar sana.

Extra Chilli

Kiprah mereka dimulai di forum online bernama 4Chan pada tahun 2003 dan menyebut dirinya “Anonymous” karena kebiasaan semua pengguna flatform tersebut memang selalu mengedepankan prinsip anonimitas. Berawal dari situ, mereka saat ini berkembang menjadi kelompok peretas termahsyur di seluruh dunia sebagai jaringan internasional yang benar-benar terorganisir rapi.

Seiring berjalannya waktu dan aksi-aksi yang dilakukan oleh Anonymous, mereka mulai dikaitkan dengan istilah “hacktivist ”, campuran dari kata “hacker” dan aktivis”. Dan tujuan sebenarnya, atau setidaknya yang paling mungkin mendekati kebenaran adalah untuk menjamin kebebasan berekspresi dan informasi.

Ciri khas kelompok tersebut diidentifikasi dengan topeng karakter V, dari film V for Vendetta. Isi film ini terinspirasi oleh tentara Inggris Guy Fawkes, yang terbunuh karena berpartisipasi dalam Gunpowder Conspiracy melawan Raja James I di Inggris. Anonymous pun ingin tampil layaknya Guy Fawkes, tapi dengan nasib yang jauh lebih baik.

 

Aubrey Cottle, Sang Pemimpin

Koi Gate

Era 2000-an silam, Aubrey Cottle adalah bagian dari sekelompok orang iseng di jaringan internet. Dia dan rekan-rekan sejawatnya eksis mengorbit di dua platform tenar pada zamannya, Something Awful dan 4chan. Ribuan orang menjadi pengguna platform ini yang didominasi kalangan remaja laki-laki muda. Namun di antara para pengguna, ada kelompok khusus yang paling menonjol dalam ruangan chat. Kelompok tersebut menyebut diri mereka sebagai Anonymous. Nama itu diambil dari cara 4chan menampilkan nama pengguna yang serba anonim.

Pada tahun 2007, Cottle mendapati kedatangan seorang pria mencurigakan di depan pintu rumahnya. Cottle kala itu baru berusia 20 tahun dan masih tinggal bersama ibunya di Toronto. Pria itu ternyata merupakan anggota Badan Intelijen Keamanan Kanada, lembaga yang posisi dan kekuataannya kira-kira setara dengan CIA. Meski ada rasa takut, Cottle tetap mengizinkan pria tadi masuk kemudian mengajaknya ke kamar.

Begitu masuk ke kamar, obrolan dengan suara agak dipelankan volume suaranya tercipta. Isi obrolan memang sensitif sehingga dijaga agar tidak ketahuan orang lain selain mereka berdua. Cottle sendiri terkejut ketika pria yang mendatangi rumahnya bertanya, “Apakah Anda bersedia menggunakan kemampuan Anda untuk melawan al-Qaeda dan kelompok teroris?”.

“Kamu ingin aku menyerang forum internet untukmu?” Cottle bertanya balik.

Jauh sebelum kedatangan agen Kanada, Cottle bersama rekan-rekannya sering berbuat onar di banyak game online. Paling biasa, Cottle dkk. hanya merusak topik pembicaraan di ruangan chat game online dengan berbagai bentuk meme atau troll internet; Itu saja sudah sangat menganggu. Level keisengan yang lebih tinggi, Cottle dkk. sering mencuri akun dari pengguna lain dalam game Habbo Hotel. Target operasional Cottle dkk. mencari pengguna yang kira-kira sudah cukup bagus akunnya.

Otoritas platform 4chan mulai resah melihat ulah Cottle dkk yang begitu meresahkan. 4chan mulai melakukan penindakan tegas kepada orang-orang yang super iseng seperti Cottle dkk. Tak punya lahan lagi, kelompok Cottle dkk. yang mulai biasa disebut dengan panggilan Anonymous, bermigrasi ke situs peniru 4chan, yaitu 420chan. Situs 420chan adalah situs buatan Cottle sendiri yang sengaja dia ranca untuk membahas dua hal kegemarannya, narkoba dan gulat profesional.

Titik inilah yang mulai menegaskan bahwa Cottle mengambil peran menjadi pemimpin de facto bagi kelompok Anonymous. Selaku pemimpin, Cottle menyusun sejumlah aturan mengenai Anonymous yang sebenarnya hanya candaannya saja. Peraturan ciptaan Cottle kini mahsyur dengan sebutan “Rules of the Internet”. Beberapa pasal isi “Rules of the Internet” adalah “Kami adalah Anonymous”, “Anonymous adalah sekelompok pasukan”, “Anonymous tidak pernah memaafkan”, “Anonymous tidak akan pernah lupa”, “Anonymous bisa menjadi monster yang mengerikan, tidak masuk akal, dan tidak punya belas kasihan”.

Cottle dan kelompok pimpinannya mulai mengenalkan diri menggunakan identitas topeng Guy Fawkes. Mereka sengaja melakukan hal ini hanya karena mereka menyukai film V for Vendetta, sebuah film adaptasi buku komik fiksi distopia tahun 2005. V, tokoh utama di film, mengenakan topeng sebagai bentuk penyamaran untuk melawan negara polisi fasis dengan mengebom gedung-gedung. V berusaha membalikkan kisah orisinil Guy Fawkes yang difitnah dalam cerita rakyat Inggris karena mencoba meledakkan Parlemen pada 1605.

Setelah identitas Anonymous lumayan dikenal masyarakat, Cottle bertemu lagi dengan pria anggota Badan Intelijen Keamanan Kanada. Cottle mengatakan kepada pria itu bakal mulai mempertimbangkan tawaran untuk melawan terorisme. Sembari menimbang-nimbang, operasional Anonymous tetap dibawa Cottle untuk fokus melancarkan kegiatan iseng bernada cyberbullying.

Tak lama berselang hari pertemuan Cottle dengan pria Badan Intelejen Keamanan Kanada, Anonymous masuk pemberitaan media massa. Isi beritanya menghebohkan, karena memberikan Anonymous cap “peretas yang sungguh meresahkan”. Pemberitaan menyoroti kegilaan cyberbullying garapan Anonymous. Cap demikian seakan menyiratkan ke publik bahwa Anonymous mungkin adalah sebuah organisasi teroris.

Bukannya gusar, Cottle malah sangat senang mendapati pemberitaan miring tentang Anonymous. Begini, Anonymous adalah organisasi yang kegiatannya meretas data-data internet untuk mengolok-olok orang lain dan menyediakan hiburan bagi warganet. Sementara peretasan merupakan suatu kegiata yang dilakukan para pelakunya untuk kesenangan mereka sendiri. Ketika dicap bak teroris, Anonymous tiba-tiba tanpa sengaja jadi punya daya pengaruh yang kuat dan tentu bisa mereka manfaatkan.

 

Aksi-aksi Bersejarah Anonymous

Anonymous menghabiskan sebagian besar tahun 2007 untuk melecehkan Hal Turner, pembawa acara radio yang sering dikaitkan dengan paham neo-Nazi. Sebenarnya Anonymous tidak masalah sama sekali atas latar belakang ne-Nazi yang menyelimuti Turner. Para anggota Anonymous menjadikan Turner sebagai objek peretasan karena mereka melihat dia sebagai sasaran empuk yang keamanan data-datanya mudah dibobol.

Setiap pekannya, Anonymous akan menyadap saluran telepon Turner, menelusuri situs-situs web yang pernah dikunjunginya, atau memesan ratusan pizza ke rumahnya. Intinya, Anonymous hanya bersenang-senang saja, tanpa maksud lain. Tetapi kesenangan itu akhirnya mereda ketika Anonymous tahu bahwa Turner adalah salah satu orang informan penting FBI.

Setelah Turner, Anonymous membutuhkan target baru. Mereka beralih ke Gereja Scientology, musuh besar para hacker dan aktivis kebebasan informasi sejak awal 1990-an. Hasil peretasan untuk target operasi baru ini berupa video yang belakangan diketahui dibuat oleh mantan anggota Anonymous, Gregg Housh. Anonymous coba menakut-nakuti Gereja Scientology berbekal reputasi mereka yang dicap sebagai organisasi hacker mengerikan bak teroris. Padahal aslinya Anonymous tidak semenakutkan itu, mereka hanya bersenang-senang saja.

“Selama bertahun-tahun kami telah mengawasi Anda,” bunyi gertakan Anonymous yang dirilis dalam video hasil peretasan.

Ketika video peretasan Gereja Scientology menjadi viral, antusiasme publik terhadap Anonymous mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Anonymous menjadi pusat pembicaraan khalayak dunia, baik di internet maupun dunia nyata. Bahkan animo publik kali ini mampu menimbulkan serangkaian aksi demonstrasi turun ke jalanan di kota-kota besar di seluruh dunia yang bersama menentang Gereja Scientology. Hampir semua demonstran turun ke jalan mengenakan topeng Guy Fawkes ciri khas kelompok Anonymous. Masyarakat luas amat terpengaruh oleh agenda setting Anonymous yang menuding Scientology telah menipu para pengikutnya dengan pseudosains dan secara ilegal membungkam kritik.

Begitu peretasan terhadap Scientology viral, Anonymous menyadari satu hal, bahwa mereka juga dapat mempengaruhi perubahan di dunia nyata. Dampaknya, kekompakan para anggota Anonymous terpecah, ada yang lebih suka terus-menerus membuat konten troll internet, dan ada yang condong ingin meretas demi menciptakan perubahan di masyarakat sosial. Cottle selaku pemimpin, tampak kurang tertarik mengubah dunia, ia lebih suka ke tujuan awalnya yang membuat troll internet.

Pada 2010, anggota Anonymous yang suka membantu menciptakan perubahan sosial, kembali menciptakan kehebohan. Mereka mendukung WikiLeaks, situs yang biasa membongkar rahasia banyak negara lewat internet. Kisahnya begini, pemerintah Amerika Serikat menuntut agar WikiLeaks berhenti merilis data-data rahasia negara ke publik. Pasca tuntutan AS muncul, sejumlah perusahaan sebelumnya menjadi mitra WikiLeaks ikutan menyerang dengan membekukan akun dan mematikan server situs tersebut.

Anonymous lantas turun tangan atas nama Julian Assange dan menyatakan perang terhadap Visa, MasterCard, PayPal karena menolak berbisnis dengan WikiLeaks. Pada tanggal 8 Desember 2010, situs Visa dan MasterCard berhasil dihapus oleh Anonymous. Tak lama, Anonymous juga sukses mengungkap rencana HBGary Federal, sebuah perusahaan keamanan yang berniat mempermalukan WikiLeaks menggunakan trik kotor. Kabar kebocoran data HBGary menjadi berita halaman depan di banyak media massa dan otomatis meningkatkan citra Anonymous.

Anggota-anggota Anonymous yang mulai menyasar perubahan sosial, bertunas dengan membentuk kelompok sendiri, yakni LulzSec (Lols Security). Operasional LulzSec selalu melakukan peretasan tingkat tinggi, menargetkan perusahaan besar seperti Sony dan beberapa lembaga pemerintah kapan pun mereka merasa bahwa ada kasus yang menginjak-injak kebebasan individu. Namun pada tahun 2012, FBI menangkap salah satu anggota LulzSec, Hector “Sabu” Monsegur, seorang pria berusia 28 tahun yang tinggal di perumahan kawasan New York City. Sabu kemudian diperdaya FBI menjadi informan yang membantu proses penangkapan anggota-anggota LulzSec lainnya.

Banyak lagi aksi-aksi peretasan hebat yang digawangi Anonymous. Pada 2010, Anonymous berhasil meretas para pelaku kejahatan seksual anak alias pedofilia yang sering beraksi di internet. Pada 2011, sebelum anggota-anggota LulzSec diciduk, mereka berhasil meretas perusahaan besar sekelas Sony. Paling anyar, terjadi pada akhir mei 2020, ketika gemuruh protes publik atas kasus pembunuhan polisi terhadap George Floyd berlangsung. Anonymous kembali lewat sebuah video dan membahas kasus kematian Floyd. Video menampilkan seseorang berpakaian hitam dengan topeng khas Anonymous yang berbicara panjang lebar.

“Salam, warga Amerika Serikat.”

“Ini adalah pesan dari Anonymous ke Departemen Kepolisian Minneapolis.”

“Kami akan mengungkap banyak kejahatan Anda kepada dunia.”

Serangkaian peretasan menyusul video rilisan Anonymous. Tim Walz, gubernur negara bagian Minnesota, daerah yang merenggut nyawa Floyd, mengkonfirmasi dalam sebuah wawancara bahwa komputer pemerintah diretas. Anonymous juga diduga telah membajak pemindai polisi Chicago pada tanggal 30 dan 31 Mei untuk memutar lagu “Fuck tha Police” karya NWA dan “Chocolate Rain” milik Tay Zonday. Tiga minggu kemudian, seseorang yang diidentifikasi sebagai Anonymous membocorkan ratusan gigabyte data-data internal polisi dari 200 agensi di seluruh AS. Peretasan yang diberi label #BlueLeaks, berisi informasi tentang pelanggaran-pelanggaran yang pernah dilakukan polisi kala bertugas.

BERITA TERKAIT