Asal Muasal Kerajaan Prusia hingga Berdirinya Negara Adidaya Jerman

Jumat, 31 Desember 2021, 11:59 WIB
56

Edisi Bonanza88, Jakarta – Prusia / Prussia adalah nama yang terdengar asing bagi kita yang tinggal di masa kini. Namun jika kita melihat peta Eropa di masa beberapa abad yang lalu, kita bakal tahu kalau pernah ada negara di Eropa yang bernama Prusia. Prusia adalah nama dari sebuah negara yang pernah menempati wilayah Jerman utara dari Abad Pertengahan hingga permulaan abad ke-20.

Pada masa jayanya, Prusia (“Preussen” kalau dalam bahasa Jerman) merupakan salah satu negara adidaya Eropa berkat milternya yang kuat & industrinya yang maju. Dalam perkembangannya, Prusia juga menjadi alasan di balik berdirinya negara Jerman modern. Pasalnya berkat upaya penyatuan yang dilakukan oleh Prusia, negara-negara di wilayah cikal bakal Jerman setuju untuk melebur membentuk negara baru yang tidak lain adalah negara Jerman.

Wilayah Prusia pada awalnya dihuni oleh orang-orang pagan (penganut kepercayaan tradisional) yang secara sosial budaya termasuk dalam rumpun suku Baltik (wilayah Estonia, Latvia & Lithuania sekarang). Untuk membedakan penduduk Prusia Lama dari penduduk Prusia yang sudah menganut agama Kristen & berasal dari suku bangsa Jerman, Prusia di era pagan juga dikenal dengan nama “Prusia Lama”.

Status penduduk Prusia Lama sebagai penduduk Eropa yang belum menganut agama Kristen lantas menarik minat para misionaris untuk memperkenalkan agama Kristen kepada penduduk setempat. Santo Adalbert contohnya. Pemuka agama kelahiran Ceko tersebut pergi ke Prusia untuk menyebarkan agama Kristen. Namun akibat kuatnya penolakan dari penduduk setempat, Adalbert tewas dibunuh pada tahun 997.

Memasuki abad ke-13, penduduk pagan Prusia terlibat konflik dengan Ordo Teutonik, organisasi ksatria Kristen yang berasal dari Jerman. Peristiwa ini sekaligus menandai dimulainya Perang Salib Utara (Northern Crusade) di wilayah Prusia. Karena pasukan Ordo Teutonik memiliki tingkat kedisiplinan tinggi & dilengkapi dengan persenjataan lengkap, pasukan Teutonik berhasil menguasai wilayah-wilayah Prusia secara perlahan tapi pasti.

Kedigdayaan pasukan Ordo Teutonik di medan perang turut terbantu oleh fakta bahwa penduduk pagan Prusia aslinya tidak benar-benar solid, namun terdiri dari beberapa kelompok suku yang tidak jarang terlibat konflik 1 sama lain. Dampaknya, memasuki akhir abad ke-14, hampir seluruh penduduk di wilayah Prusia sudah berpindah agama ke Kristen.

Sukses menguasai wilayah Prusia, Ordo Teutonik kemudian mengundang orang-orang Jerman untuk bermukim di Prusia. Mereka menawarkan lahan-lahan luas kepada para imigran Jerman tadi. Ordo Teutonik juga berjanji akan menjamin keselamatan orang-orang Jerman yang bersedia pindah ke Prusia. Sebagai gantinya, imigran Jerman di Prusia diharuskan membayar pajak secara berkala kepada Ordo Teutonik.

Berkat kesepakatan yang saling menguntungkan tersebut, penduduk Jerman pun berduyun-duyun pindah ke Prusia. Kota-kota yang didirikan oleh suku Jerman bermunculan di sepanjang pantai utara & di tepi sungai. Saat jumlah mereka semakin banyak, suku Jerman secara berangsur-angsur menjadi suku bangsa paling dominan di wilayah Prusia.

Serangan Suku Tetangga

Raja Wilhelm I dan Pasukan Tentara Raksasa Kerajaan Prusia | kumparan.com

Kampanye militer Ordo Teutonik di wilayah Prusia di lain pihak mengundang rasa tidak suka dari Kerajaan Polandia & Lithuania. Mereka khawatir bahwa setelah berhasil menaklukkan Prusia, Ordo Teutonik akan mengalihkan fokusnya untuk ganti menaklukkan wilayah Polandia & Lithuania. Maka, kedua kerajaan tadi sepakat untuk bekerja sama memerangi Ordo Teutonik.

Situasi semakin runyam bagi Ordo Teutonik karena sejumlah bangsawan & penduduk Prusia yang tidak menyukai Ordo Teutonik membentuk organisasi tandingan yang bernama “Konfederasi Prusia” pada tahun 1440. Dampaknya, berdasarkan kesepakatan damai yang diresmikan di Thorn pada tahun 1466, wilayah Prusia kini berada di bawah kendali Polandia, sementara pemimpin Ordo Teutonik harus menyatakan sumpah kesetiaan kepada raja Polandia.

Melemahnya kekuatan Ordo Teutonik di Prusia terjadi bersamaan dengan munculnya gerakan Reformasi Protestan & menguatnya sentimen anti-Katolik di seantero Eropa. Tahun 1525, Albert selaku pemimpin Ordo Teutonik berpindah agama ke Protestan & mengubah wilayah kekuasaan Ordo Teutonik di Prusia menjadi negara baru dengan nama “Kadipaten Prusia” (Duchy of Prussia; Herzogtum Preussen).

Tahun 1618, Prusia mengalami penyatuan dengan Brandenburg, negara kecil di Jerman utara. Penyatuan ini bermula ketika John Sigismund – pemimpin Brandenburg – menikah dengan putri pemimpin Prusia. Saat Albert Frederick selaku pemimpin Prusia wafat tanpa sempat meninggalkan anak laki-laki untuk mewarisi tahtanya, John pun kemudian dipercaya untuk menjadi pemimpin Prusia sekaligus Brandenburg.

Brandenburg-Prusia terbentuk di saat Eropa tengah dilanda Perang 30 Tahun (Thirty Years War) antara Swedia & sekutunya melawan kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh anggota Dinasti Habsburg (salah satunya Austria). Karena Brandenburg-Prusia berlokasi tepat di antara Swedia & Austria, wilayah Brandenburg-Prusia pun porak poranda akibat terkena imbas perang.

Angkatan Perang yang Tangguh

Prusia, Kerajaan Perintis Berdirinya Negara Jerman | RE Tawon

Di Eropa pada masa itu, pasukan yang diterjunkan oleh masing-masing negara umumnya berasal dari kalangan relawan & tentara bayaran yang memiliki tingkat kedisiplinan rendah. Sadar kalau mempercayakan masalah keamanan negara kepada pasukan tentara bayaran merupakan hal yang beresiko, Frederick William selaku pemimpin Brandenburg-Prusia lantas mencetuskan berdirinya angkatan bersenjata Brandenburg-Prusia.

Para prajurit Brandenburg-Prusia berasal dari penduduk setempat yang direkrut melalui sistem wajib militer. Untuk meningkatkan efektifitas mereka di medan perang, militer Brandenburg-Prusia memiliki sistem latihan & peraturan yang ketat. Pajak tinggi juga diberlakukan supaya Brandenburg-Prusia memiliki cukup uang untuk membiayai pasukan.

Taktik militer baru juga digunakan supaya pasukan Prusia memiliki peluang lebih besar untuk mengalahkan lawannya. Pada masa itu, pasukan infantri dari kedua belah pihak memiliki kebiasaan untuk membentuk formasi berbaris sambil menghadap ke arah pasukan lawannya. Saat pertempuran dimulai, masing-masing pasukan akan berjalan ke depan secara bersama-sama.

Sembari berjalan ke arah pasukan musuhnya, pasukan di posisi terdepan akan menembakkan senapannya untuk mengurangi jumlah tentara di pihak musuh. Jika prajurit di posisi terdepan tewas akibat terkena tembakan musuh, prajurit di belakangnya kemudian akan maju untuk mengisi posisi yang ditinggalkannya.

Tujuan taktik ini adalah mengurangi jumlah tentara musuh sebanyak mungkin sebelum pertempuran berlanjut ke fase pertempuran jarak dekat memakai pedang & bayonet. Oleh karena itulah, biasanya pasukan yang hendak bertempur akan mengkonsentrasikan kekuatannya di bagian tengah formasi pasukan. Dan supaya formasinya selalu berada dalam kondisi rapat, prajurit yang menyusun formasi hanya diperbolehkan berjalan saat mendekati formasi pasukan musuhnya.

Pemerintah Prusia tidak menyukai taktik macam ini karena membatasi mobilitas & memiliki resiko kematian prajurit yang tinggi. Maka, alih-alih menyusuh pasukannya untuk menyerang sisi tengah formasi pasukan musuh, pasukan Prusia didokrin untuk fokus menyerang sisi sayap terlemah pasukan musuh. Saat sisi sayap tersebut sudah berhasil dijebol, pasukan Prusia kemudian bisa mengepung formasi pasukan musuh dari arah depan & belakang sekaligus.

Di pihak lawan, prajurit musuh kini menjadi kebingungan harus menyerang musuh yang ada di sisi mana. Akibatnya, tidak jarang prajurit musuh merasa panik sehingga formasi mereka kini tercerai berai. Berkat taktik inovatif tersebut & tingginya kedisiplinan yang dimiliki oleh prajuritnya, Prusia pun berhasil menyandang reputasi sebagai negara kecil dengan militer yang berbahaya.

Tahun 1655, Swedia menginvasi Polandia sehingga pecahlah Perang Utara Kedua (Second Northern War). Brandenburg-Prusia sekali lagi bernasib bak pelanduk yang terhimpit di antara para gajah. Namun Brandenburg-Prusia bukanlah pelanduk yang tidak berdaya. Dengan memanfaatkan reputasinya sebagai negara dengan militer yang efektif, Brandenburg-Prusia berhasil mengamankan aliansi militer dengan Swedia pada tahun 1656.

Di tengah-tengah berlangsungnya perang, Polandia membujuk Brandenburg-Prusia supaya berhenti bekerja sama dengan Swedia. Maka, pada tahun 1657, dicapailah Perjanjian Wehlau / Bromberg antara Polandia dengan Brandenburg-Prusia.

Lewat perjanjian ini, Polandia setuju untuk tidak lagi memperlakukan Brandenburg-Prusia sebagai negara bawahannya. Sebagai gantinya, Brandenburg-Prusia bakal mengirimkan 6.000 tentaranya untuk membantu Polandia dalam perang melawan Swedia. Dicapainya Perjanjian Wehlau menyebabkan Polandia & sekutunya berhasil mengalahkan Swedia di akhir perang.

Dalam jangka panjang, Perjanjian Wehlau menyebabkan Brandenburg-Prusia menjadi semakin leluasa dalam menentukan kebijakan-kebijakan luar negerinya. Tahun 1701, sebagai cara agar negaranya dipandang setara oleh kerajaan-kerajaan Eropa lainnya, Brandenburg-Prusia mengubah namanya menjadi “Kerajaan Prusia” (Kingdom of Prussia; Koenigreich Preussen).

Menjadi Negeri yang Ditakuti

Prusia, Kerajaan Perintis Berdirinya Negara Jerman | RE Tawon

Sejak berubah menjadi kerajaan, militer Prusia mengalami pertumbuhan pesat. Pada tahun 1713, militer Prusia diperkuat oleh 38.000 tentara. Namun pada tahun 1740, jumlah tentara Prusia sudah membengkak menjadi 83.000 tentara. Pasukan Prusia juga dilatih sedemikian rupa supaya bisa menembak lebih jauh & bermanuver lebih cepat dibandingkan tentara dari negara-negara Eropa lainnya.

Kemajuan Prusia bukan hanya mencakup sektor militer. Di sektor sosial, pemerintah Prusia menghapuskan sistem serfdom / monopoli tanah oleh kaum bangsawan, sehingga mereka yang bukan berasal dari golongan bangsawan kini bisa memiliki tanahnya sendiri & mengelolanya sebagai sumber mata pencaharian.

Di sektor pendidikan, setiap anak diharuskan menempuh pendidikan di bangku sekolah. Dikombinasikan dengan tanah Prusia yang kaya akan batu bara & bijih besi, Prusia pun berhasil tumbuh menjadi salah satu negara dengan sektor industri paling maju di Eropa daratan.

Dalam hal wilayah, wilayah Prusia timur terpisah dari wilayah Prusia lainnya akibat adanya wilayah Polandia yang terbentang di antara kedua wilayah Prusia tadi. Supaya kedua wilayah tersebut bisa tersambung, Prusia pun berambisi mencaplok wilayah Polandia bagian barat. Dengan memanfaatkan kondisi domestik Polandia yang sedang lemah, Prusia kemudian mengundang Rusia & Austria untuk membagi wilayah Polandia pada tahun 1772.

Pembagian tersebut ternyata belum memuaskan Prusia. Pada tahun 1793, Prusia & Rusia kembali mencaplok sebagian wilayah Polandia. Tidak rela melihat wilayah negara yang ditinggalinya kian menyusut, sejumlah milisi Polandia yang dipimpin oleh Tadeusz Kosciuzsko lantas melakukan pemberontakan pada tahun 1794.

Pasukan Prusia & Rusia lantas kembali menginvasi Polandia untuk menumpas pemberontakan tersebut. Untuk memastikan agar pemberontakan serupa tidak kembali meletus di kemudian hari, negara Polandia pun dibubarkan & sisa-sisa wilayahnya dicaplok oleh Prusia, Rusia, & Austria. Di masa kini, proses pencaplokan wilayah Polandia yang terjadi pada abad ke-18 dikenal dengan sebutan “Partisi Polandia” (Partition of Poland).

Sementara itu di sebelah barat, timbul Revolusi Perancis yang mengubah bentuk pemerintahan Perancis menjadi republik. Khawatir kalau revolusi tersebut bakal turut menjalar ke wilayahnya, negara-negara kerajaan tetangga Perancis – termasuk Prusia – beramai-ramai menyatakan perang kepada Republik Perancis.

Di tengah situasi kacau tersebut, muncullah sosok bernama Napoleon Bonaparte di pihak Perancis. Setelah berhasil menstabilkan kondisi dalam negeri & mengalahkan negara-negara musuh Perancis, Napoleon menobatkan dirinya menjadi kaisar Perancis. Ia lantas memerintahkan pasukan negaranya untuk ganti menginvasi negara-negara Eropa lainnya, sekaligus menandai dimulainya Perang Napoleon.

Prusia turut menjadi korban dari keganasan pasukan Perancis. Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Perancis, Prusia harus kehilangan sejumlah wilayahnya pada tahun 1807. Jika itu masih belum cukup, Prusia juga harus membayar biaya ganti rugi perang & membiarkan Perancis menempatkan pasukannya di sisa-sisa wilayah Prusia.

Periode kelam yang membayangi Prusia untungnya tidak berlangsung lama. Saat Perancis kehilangan begitu banyak tentaranya usai menginvasi Rusia, Prusia lantas melihat peristiwa tersebut sebagai momen untuk kembali menyatakan perang kepada Perancis. Tahun 1815, pasukan Prusia yang dibantu oleh Inggris berhasil mengalahkan pasukan Perancis di Waterloo, Belgia. Seusai pertempuran di Waterloo, Napoleon kemudian diasingkan ke luar Eropa.

Setelah masalah terkait Napoleon sudah berhasil diatasi, Prusia & negara-negara Eropa lainnya kemudian melakukan kongres akbar di Wina, Austria. Sedikit informasi, saat Perang Napoleon masih berlangsung, Perancis mendirikan banyak negara boneka di wilayah-wilayah taklukannya. Kongres Wina lantas dilaksanakan untuk membahas nasib negara-negara boneka tersebut seusai perang & menentukan batas wilayah terbaru masing-masing negara Eropa.

Salah satu hasil dari Kongres Wina adalah dibentuknya Konfederasi Jerman yang beranggotakan Prusia, Austria, & negara-negara kecil di wilayah cikal bakal Jerman. Karena Prusia & Austria merupakan 2 negara terbesar yang menjadi anggota konfederasi tersebut, keduanya sama-sama memendam ambisi untuk menjadi negara paling dominan dalam konfederasi.

Menjadi Negara Jerman

Jerman Bangun Kembali Istana Kerajaan Prusia

Perebutan pengaruh antara kedua negara tersebut akhirnya memuncak menjadi Perang 7 Minggu yang berlangsung pada tahun 1866. Untuk memecah konsentrasi Austria, Prusia menjalin aliansi dengan Kerajaan Italia yang terletak di sebelah selatan Austria, sehingga Austria tidak bisa mengkonsentrasikan seluruh pasukannya untuk menghadapi pasukan Prusia di sebelah utara.

Adanya bala bantuan dari Italia – beserta fakta bahwa militer Prusia memiliki persenjataan & taktik yang lebih modern dibandingkan militer Austria – menyebabkan Prusia pada akhirnya berhasil memenangkan Perang 7 Minggu. Seusai perang, Prusia & negara-negara kecil di Jerman utara kemudian melebur untuk membentuk negara baru yang bernama “Konfederasi Jerman Utara” (KJU; Norddeutscher Bund).

Secara politis, Prusia kini hanya berstatus sebagai 1 dari sekian banyak negara bagian yang menyusun wilayah KJU. Namun karena Prusia merupakan negara bagian terluas di KJU, Prusia pun dalam praktiknya menjadi negara bagian paling dominan dalam pemerintahan KJU.

Sebagai contoh, kota yang dipilih sebagai ibukota KJU adalah Berlin, kota yang juga berstatus sebagai ibukota negara bagian Prusia. Kemudian yang menempati jabatan kanselir / perdana menteri KJU adalah tokoh Prusia (Otto von Bismarck).

Pendirian KJU sendiri ternyata masih belum membuat pemerintah Prusia merasa puas. Mereka juga ingin menjadikan negara-negara di Jerman selatan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun penyatuan KJU dengan negara-negara Jerman selatan tidak bisa dilakukan begitu saja karena adanya kekhawatiran kalau Perancis – negara musuh lama Prusia – bakal melakukan segala cara untuk menggagalkan penyatuan tersebut.

Atas pertimbangan itulah, Prusia merasa bahwa Perancis harus dikalahkan lewat jalur militer supaya Perancis tidak bisa lagi menghalang-halangi upaya penyatuan KJU dengan negara-negara Jerman selatan. Masalahnya adalah dari segi jumlah tentara, Perancis lebih unggul dibandingkan Prusia & negara-negara bagian KJU. Sementara negara-negara Jerman selatan hanya mau membantu Prusia dalam perang jika Prusia yang diserang lebih dulu.

Momen yang dibutuhkan oleh Prusia akhirnya tiba pada tanggal 12 Juli 1870. Pada tanggal tersebut, duta besar Perancis bertemu dengan raja Prusia, William, di kota Ems. Dalam pertemuan tersebut, dubes Perancis & raja William aslinya hanya terlibat dalam pertukaran pendapat biasa tanpa insiden berarti.

Isi pertemuan tersebut kemudian ditulis & dikirimkan melalui telegram kepada Bismarck. Bismarck lalu memodifikasi isi telegram tersebut supaya timbul kesan bahwa raja William menghina negara Perancis dalam pertemuan di Ems. Saat telegram hasil modifikasi tersebut beredar ke publik, rakyat Perancis merasa amat marah sehingga Perancis kemudian menyatakan perang kepada Prusia pada tanggal 19 Juli.

Tags:

BERITA TERKAIT