Asal Muasal Praktik Rasialis di Sepakbola Sulit Hilang

Kamis, 30 September 2021, 20:18 WIB
25

Rasisme merupakan fenomena yang tidak asing dalam dunia sepakbola, terutama di Eropa. Sebagai asosiasi yang menangani sepakbola di Eropa, UEFA (The Union of European Football Associations) mengeluarkan regulasi dan kebijakan anti-rasisme untuk mengurangi kasus rasisme di dunia pesepakbolaan Eropa.

Pada Desember tahun 2000, UEFA menguatkan regulasinya untuk memerangi rasisme dalam pertandingan sepakbola di semua kompetisi di Eropa.

Sebagai negara dengan tingkat rasisme sepakbola yang tinggi, Italia menjadi sorotan yang tajam oleh UEFA karena banyaknya kasus besar mengenai rasisme di sepakbola. Aturan dan regulasi UEFA yang diterapkan belum mampu mengurangi tingkat rasisme sepakbola di Italia.

Di Eropa, kasus rasisme yang sering ditemui di tengah masyarakat adalah buruknya perlakuan yang diterima oleh sebagian besar etnis minoritas, yakni para migran yang berasal dari bekas koloni Eropa, seperti Afrika atau Asia.

Etnis minoritas sering kali menjadi korban penganiayaan, pelecehan dan diskriminasi. Diskriminasi ini dapat berbentuk perbuatan yang tidak menyenangkan, atau bahkan pembatasan akan hak-hak untuk memiliki pekerjaan, partisipasi dalam politik, mendapatkan pendidikan yang layak, serta pemenuhan kebutuhan hidup mendasar lainnya.

Bukan hanya warga keturunan etnis Afrika dan Asia saja yang menjadi korban rasisme, warga Eropa penganut agama Yahudi pun juga sering menjadi korban. Bahkan, berdasarkan catatan sejarah yang ada, rasisme terhadap kaum Yahudi di dataran Eropa ini sesungguhnya sudah terjadi sejak berabad-abad silam.

Demba Ba, Pesepak Bola Muslim yang Lawan Rasialisme Lewat Ayat Al-Quran -  Inggris Bola.com

Pada beberapa tahun terakhir ini pun kaum Muslim di Eropa juga mulai menjadi target dari serangan rasis serta diskriminasi yang tidak menyenangkan oleh sebagian besar warga keturunan asli Eropa.

Negara-negara Eropa yang memiliki tingkat popularitas olahraga yang cukup besar, terutama dalam olah raga sepakbola,menghadapi kenyataan tak menyenangkan terkait tindakan rasisme ini. Ekskalasi rasisme terjadi hingga tahap yang memprihatinkan.

Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi sejumlah tindakan rasisme pada persepakbolaan Eropa, yang pada akhirnya menjadi pembahasan penting di antara aktor-aktor internasional terkait. Mereka menjadi semakin aktif melakukan berbagai pendekatan untuk memerangi rasisme dan diskriminasi. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan dibahas pada operasionalisasi konseptual.

Terkait dengan maraknya tindakan rasisme di pertandingan sepakbola di Eropa, pada Desember tahun 2000 UEFA menguatkan regulasinya untuk memerangi rasisme dalam pertandingan sepakbola di semua kompetisi di Eropa. Sejak saat itu, sudah ada dua puluh sanksi yang telah dikeluarkan oleh Badan Kontrol dan Disiplin UEFA.

UEFA says No to Racism | UEFA Champions League | UEFA.com

Berbicara tentang himbauan UEFA tersebut, asosiasi sepakbola nasional negara-negara Eropa, sebagai badan pengatur dan penjaga pertandingan, memiliki peran vital dalam mengidentifikasi permasalahan rasisme yang muncul di setiap pertandingan sepakbola.

Mereka juga miliki peran vital dalam menetapkan aturan yang jelas terkait tindakan rasisme, termasuk sanksi disiplin bagi pemain, klub atau pihak berwenang lainnya. Pada tingkat amatir, asosiasi sepakbola nasional harus waspada dan mengambil tindakan untuk mengatasi tingginya serangan rasis terhadap migran dan etnis minoritas.

Di beberapa negara Eropa bahkan negara maju seperti Norwegia, terdapat peraturan yang melarang individu yang lahir dari satu (atau lebih) orang tua berdarah asing untuk berkompetisi pada sepakbola tingkat amatir. Penekanan bahwa hanya pemain dengan kewarganegaraan penuh yang dapat bertanding di tingkat amatir pada akhirnya mencederai semangat pertandingan dan juga kemampuan untuk menyatukan individu dari latar belakang yang berbeda.

Dengan tujuan untuk mendukung tindakan yang lebih proaktif pada level lokal maupun nasional, UEFA telah mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan finansial bagi proyek antirasisme yang dilangsungkan oleh asosiasi sepakbola nasional masing-masing negara. Besaran dana yang dikucurkan sebesar 50 persen dari total anggaran proyek antirasisme setiap asosiasi sepakbola nasional.

Sepakbola Italia dan Tindakan Rasial

Soccer world's struggle with racism seems never ending - Los Angeles Times

Saat ini, jika berbicara mengenai rasisme di dalam pertandingan sepakbola, bukan hal yang mengherankan jika nama Italia selalu dikaitkan di dalamnya. Sebab, Italia merupakan salah satu dari lima besar liga sepakbola dengan kompetisi dan keuntungan terbesar di Eropa, namun dengan angka rasisme tertinggi jika dibandingkan dengan liga sepakbola negara Eropa lainnya (Liga sepakbola Inggris, Jerman, Perancis, dan Spanyol).

Beberapa kasus besar mengenai rasisme di sepakbola Italia mendapat sorotan yang tajam oleh UEFA dan juga Uni Eropa. Seperti misalnya kasus Marco Zoro, pemain klub Messina berdarah Afrikayang mencoba untuk menghentikan pertandingan kala Messina berhadapan dengan Inter Milan pada 27 November 2005.

Dia meninggalkan lapangan sambil membawa bola setelah mendapatka hinaan rasial dari beberapa suporter Inter Milan. Kemudian, di bulan April tahun 2009, pemain Inter Milan Mario Balotelli juga menjadi subjek pelecehan rasis oleh fans Juventus.Balotelli yang merupakan warga negara Italia keturunan Ghana diteriaki oleh Fans Juventus dengan sebutan “Monyet Hitam”.

Sebagai hukumannya, fans Juventus dilarangan menghadiri pertandingan kandang sebanyak satu kali. Kasus rasisme yang diterima Mario Balotelli ini bahkan terjadi sampai beberapa kali. Di stadion sepakbola Italia, sering ditemukan sejumlah fans yang berteriak atau menggeram ketika pemain kulit hitam menyentuh bola. Terkadang fans memasang spanduk yang mengatakan fans atau pemain beretnis Yahudi seharusnya berada di Auschwitz.

Sebagai asosiasi yang bertanggung jawab atas keberlangsungan liga-liga sepakbola di Eropa, UEFA bersama dengan Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGC) sebagai penyelenggara liga Italia, telah berusaha untuk menanggulangi kasus rasisme yang ada di Italia. FIGC menjadi kepanjangan tangan dari UEFA dan bertanggung jawab secara penuh kepada UEFA mengenai kelancaran pertandingan-pertandingan sepak bola yang diselenggarakannya.

Italy footballer Mario Balotelli threatens to quit match after racist  chants | News | DW | 03.11.2019

Dan itu artinya semua prinsip, norma, aturan dan kebijakan yang dikeluarkan UEFA juga harus dipatuhi, karena kebijakan tersebut merupakan mutual understanding dari seluruh stakeholder. FIGC juga mengeluarkan Lisensi UEFA yakni sebuah sertifikasi yang dikeluarkan oleh FIGC, dengan tujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar kualitas yang dikeluarkan

Diantara tujuan dari Sistem Lisensi klub UEFA adalah keinginan untuk menigkatkan kualitas dari sepakbola Eropa, mempromosikan pelatihan dan edukasi bagi pemain muda, memastikan level yang mencukupi dari kompetensi manajerial, meningkatkan fasilitas olahraga, meningkatkan manajemen ekonomi dan finansial dari klub, memastikan integritas dan perilaku yang pantas dari olahraga kompetitif dan mengembangkan sistem mendasar mengenai kriteria yang ditetapkan oleh Manual UEFA.

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada tahun 2002 UEFA mengeluarkan 10 poin rekomendasi antirasisme untuk diterapkan di liga-liga yang memiliki masalah dengan rasisme. Dan FIGC secara tegas berkomitmen untuk memerangi segala bentuk rasisme dan diskriminasi, mempromosikan nilai-nilai seperti rasa hormat dan integrasi.

Sebagai kepanjangan tangan dari UEFA, FIGC mengadopsi kampanye dan juga kebijakan antirasisme yang dikeluarkan UEFA. FIGC terjun ke dalam permasalahan tersebut dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sepakbola Italia. Mereka juga merealisasikan berbagai kebijakan antirasisme di semua lini liga, mulai dari liga amatir hingga profesional.

Hanya saja sejak UEFA mengeluarkan rekomendasi itu tahun 2002, FIGC baru mulai intensif terlibat dalam penyelesaian kasus rasisme dalam liga sepakbolanya pada tahun 2011. Di tahun itu mereka mulai intensif bekerjasama dengan Football Against Racism in Europe (FARE).

Beberapa even untuk menyuarakan antirasis mulai dilaksanakan. Keikutsertaan FIGC, yang diwakili oleh Unione Italiana Sport Per tutti (UISP), dalam ajang itu menjadi langkah awal yang disambut baik oleh khalayak sepakbola Eropa.

Mulai intensifnya FIGC memerangi rasisme terekam pertama kali pada peristiwa dihentikannya pertandingan antara Cagliari vs Inter Milan pada 17 Oktober 2010. FARE mencatat bahwa itu adalah kali pertama liga Serie A Italia diberhentikan karena ada kekerasan rasis.

Setelah kejadian tersebut, berangsur-angsur FGIC menerapkan aturan sanksi untuk setiap kekerasan rasis yang terjadi di dalam pertandigan sepakbola, terutama liga sepakbola profesional yang memiliki eksposur media massa yang besar. Dan setelah kejadian itu pula FGIC mulai mengungkapkan komitmen seriusnya dalam memerangi rasisme, termasuk secara resmi terlibat pada even-even yang diselenggarakan oleh FARE.

Upaya UEFA dalam menanggulangi rasisme di Italia juga dilaksanakan dalam pertandingan sepakbola anti-rasisme yang diselenggarakan sejak 1997 untuk melawan rasisme dan mengangkat penghargaan bagi kebersamaan multibudaya dan keragaman, game-game ini adalah acara non kompetitif yang mencakup serangkaian olahraga yang berbeda, termasuk sepakbola. Disponsori dan diselenggarakan oleh UISP, mitra jaringan FARE untuk Italia, ruang lingkup usaha ini adalah untuk melibatkan semua ekspresi budaya masyarakat, termasuk para pendukung fanatik minoritas dan masyarakat migran.

AC Milan on Twitter: "Art can be powerful, but we strongly disagree with  the use of monkeys as images in the fight against racism and were surprised  by the total lack of

Selain itu diadakannya kursus anti-rasisme untuk Klub Profesional di tahun 2011. FIGC menyelenggarakan kursus lisensi nasional untuk 127 delegasi klub profesional Italia Lega Serie A, Lega Serie B dan Lega Pro.

Hal ini terbukti menjadi kesempatan bagi FIGC untuk mengidentifikasi praktek-praktek terbaik dalam menanggulangi rasisme, dengan mengadopsi kampanye antirasisme UEFA sebagai standar acuan, serta untuk membuat strategi maupun proyek antirasis yang akan diterapkan dalam setiap pertandingan sepakbola yang ada di bawah kekuasaannya. Selain itu mereka juga mengadakan konferensi antirasisme. Konferensi itu berhubungan dengan isu perang melawan rasisme dan diskriminasi.

Konferensi ini diselenggarakan di beberapa tempat, dan berisi beberapa seminar. Beberapa di antaranya adalah seminar dari UEFA dengan “Kelembagaan Diskriminasi” yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda, dan juga seminar “Metode Percontohan Inovatif untuk Inklusi Sosial melalui Olahraga” yang disampaikan oleh Pusat Kebijakan Roma dan Minoritas serta UISP di Roma, Italia.

Peran UEFA dan FIGC dalam membentuk pemahaman antirasisme di Italia sangat besar. Namun pada kenyataannya norma, aturan, dan kebijakan yang berlaku dari UEFA hanya berkisar pada pemain dan ofisial. Sepuluh poin yang menjadi dasar pemberlakuan anti-rasisme belum bisa diimplementasikan secara maksimal pada pertandingan sepakbola di Italia.

Terkait dengan kampanye yang telah dilakukan UEFA melalui FIGC, kampanye FIGC dilakukan ketika pada tanggal 27 November 2005, Marco Zoro, pemain klub Messina asal Pantia Gading, berusaha menghentikan pertandingan saat Messina berhadapan dengan Inter Milan dengan meninggalkan lapangan dengan bola. Dia melakukan hal tersebut setelah merasa tersiksa oleh chant rasis dari beberapa pendukung Inter Milan. Karena insiden tersebut, FGIC menyelipkan kampanye antirasisme selama 5 menit di layar stadion setelah banyaknya protes.