Awal Mula Trend Sepeda Jadi Kendaraan Populer dari Eropa hingga Menjalar ke Indonesia

Jumat, 31 Desember 2021, 19:51 WIB
46

Edisi Bonanza88, Jakarta – Sebagai alat transportasi, sepeda pada awalnya dirancang untuk menunjang mobilitas manusia, agar dengan energi yang relatif kecil dapat mencapai jarak yang cukup jauh dan kapasitas sepeda dalam mengangkut barang sangat terbatas. Selain sebagai alat transportasi menurut Mc Cullagh, sepeda juga memberikan nilai rekreatif dan menunjang pergerakan fisik yang sehat.

Menurut studi kasus sepeda dan berjalan kaki dari FHWA, faktor yang mempengaruhi pilihan moda perjalanan secara individu dikelompokkan menjadi dua. Faktor pertama adalah faktor personal dan subjektif terdiri dari : jarak, keselamatan lalu lintas, kenyamanan, biaya, penilaian waktu, penilaian berolahraga,

Kondisi fisik, keadaan keluarga, kebiasaan, sikap & nilai, penerimaan kelompok sebaya. Faktor kedua adalah faktor objektif dalam bentuk lingkungan seperti iklim dan topografi, sedangkan dalam bentuk ciri/keunggulan infrastruktur seperti kehadiran fasilitas sepeda dan kondisi lalu lintas, akses dan keterkaitan, alternatif transportasi.

Data yang dikumpulkan diantaranya adalah demografi pengendara dan pejalan kaki, tujuan perjalanan, dan persepsi dari masing-masing pengguna moda. Hasil survei menunjukkan bahwa alasan yang mempengaruhi untuk bersepeda yaitu: berolahraga, kesenangan, lingkungan, penghematan biaya.

Selain itu faktor yang mempengaruhi pilihan moda perjalanan secara rutin terdiri dari : waktu tempuh, kenyamanan, jadwal kerja, kebutuhan mobil untuk bekerja, kebutuhan mobil untuk lainnya, Tidak ada orang yang diajak car pool (berangkat bersama), Biaya, Tidak ada alternatif, Jarak, Berolahraga & kesehatan, Kepedulian lingkungan.

Sejarah Sepeda

Sejarah Sepeda dan Asal Muasal Namanya

Sepeda pertama kali ditemukan oleh Baron Karl Drais von Sauerbronn atau lebih dikenal dengan sebutan nama Karl Drais. Karl Drais lahir pada tanggal 29 April 1785 di Karlsruhe, Tepatnya di Negara Jerman. Berprofesi sebagai kepala pengawas hutan. Munculnya ide sebenarnya lahir dari masalah yang kita hadapi.

Seperti masalah yang dihadapi oleh Karl Drais, untuk menunjang tugasnya sebagai kepala pengawas hutan, ia membutuhkan alat transportasi dengan mobilitas tinggi. Dari situlah muncul ide untuk menciptakan alat transportasi untuk menunjang pekerjaannya. Akhirnya terbentuklah sebuah alat transportasi bernama sepeda, bentuk awal dari sepeda yang diciptakan oleh Karl Drais adalah berbentuk sepeda beroda tiga tanpa pedal.

Karl Drais memulai perjalanan pertamanya pada 12 Juni 1817, dari kota Manheim ke kota Schwetzinger Relaishaus, kemudian ia melakukan perjalanan keduanya dari kota Gernsbach ke kota Baden pada tahun 1817, karena semua masyarakat masih belum mengenal sepeda, Karl Drais dilaporkan dapat melaju dengan cepat.

Berkat perjalanannya dengan sepeda buatannya tersebut, banyak media meliput. Media yang masih ngetren saat itu adalah Koran. Ia dimuat dikoran lokal Jerman pada tahun 1817.

Sepeda yang dibuat oleh Karl Drais sendiri diberi nama Draisienne, namun sayangnya popolaritasi Karl Drais tidak berlangsung lama. Munculnya sepeda dengan merk-merk terbaru dengan keunggulan masing-masing menggeser Karl Drais.

Munculnya sepeda pada zaman dahulu seperti mobil pada zaman sekarang, yang hanya orang-orang tertentu yang dapat membelinya. Seperti bangsawan dan para penguasa yang dapat menikmati alat transportasi ini.

Pada tahun 1960-an, seiring dengan perkembangan zaman. Sepeda tergeser dari tahtanya sebagai alat transportasi. Munculnya kendaraan bermotor seperti sepeda motor dan mobil menggeser popularitas sepeda.

Surga Sepeda di Eropa

Sepeda Pertama di Dunia dan Versi Antik Lainnya

Pengendara sepeda bisa dilihat di kota-kota besar Eropa di musim apapun. Tapi ketika cahaya pertama matahari musim semi menembus awan, mengowes sepeda lebih menyenangkan lagi. Amsterdam di Belanda, dianggap ibukotanya para pengendara sepeda. Diperkirakan, di sini ada lebih banyak sepeda daripada penduduk.

Ibukota Denmark, Kopenhagen juga siap menyambut para pesepeda. Penopang kaki sudah disediakan jika harus menunggu, juga tempat sampah spesial.

Kota Münster di Jerman bahkan menyediakan jalur bebas hambatan bagi pesepeda. Di jalan ini sekitar 20.000 pesepeda lalu lalang setiap harinya.

Sementara di London, walikota Boris Johnson menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama, sesuai dengan tren terakhir. Di sini jumlah sepeda dua kali lebih banyak daripada sepuluh tahun lalu.

Salah satu tren utama tahun ini adalah e-bikes. Masanya sudah lewat, ketika sepeda dengan motor elektronik dipandang hanya sebagai sepeda bagi orang lanjut usia.

Toko sepeda “Wingwheels” didirikan Matthias Lingner dua tahun lalu. Di sini cuma dijual e-bikes. Sekarang sepeda-sepeda ini juga tampak keren dan respresentatif bagi gaya hidup tertentu.

Motor penggeraknya jadi lebih kecil, dan baterainya tersembunyi di dalam rangka apik. Matthias Lingner, pendiri “Wingwheels” menjelaskan, “Sekarang kita punya teknologi baru, dan elektromobilitas baru makin kuat dayanya. Ada e-bikes yang sangat cantik, dan menarik dari segi desain dan punya kemampuan besar. Sepeda ini bisa melaju hingga 45 km per jam dan disebut S-Pedelec.” E-Bikes ada dalam berbagai variasi. Misalnya sebagai sepeda untuk perkotaan.

Atau juga model sepeda gunung. Pada sepeda ini, tempat baterai sangat kreatif. Sepeda elektrik termodernbisa dihubungkan dengan ponsel pintar. Karena kemampuan konektivitas adalah hal penting di bidang e-bike. Dengan cara itu Matthias Lingner bisa melacak posisi sepedanya, menguncinya, juga melihat secepat apa sepeda melaju, dan masih sepenuh apa baterai.

Tahun 2015 di Jerman lebih dari setengah juta e-bikes terjual.

Terutama dibeli oleh pegawai yang tidak ingin tiba di kantor dengan berkeringat. Tapi sepeda biasapun semakin trendi di kawasan perkotaan. Keunggulannya diungkap Matthias Lingner: “Dengan sepeda dan dengan e-bike orang bisa bergerak lincah, bisa ke mana-mana, bisa berhenti, dan lewat semua jalan sempit.”

Gaya hidup dan simbol gengsi

Alasan Kenapa Anda Harus Menjadikan Bersepeda Sebagai Gaya Hidup

Sebuah pameran tentang sepeda sebagai obyek gaya hidup adalah bagian dari Berlin Bicycle Week, atau pekan sepeda Berlin. Organisatornya Fares Gabriel Hadid juga pesepeda antusias. Baginya sepeda bukan hanya alat transportasi atau alat olah raga. Sepeda sudah jadi simbol status.

Fares Gabriel Hadid, direktur Berlin Bicycle Week mengatakan basis dari gagasannya: “Saya pikir, di masyarakat sudah meluas kesadaran baru tentang jiwa dan raga, dan sepeda termasuk di antaranya. Orang menemukan makna sepeda untuk dirinya sendiri.”

Cargo bikes semacam ini jadi pengganti praktis mobil. Celah pasar lainnya, adalah sepeda modern yang banyak menggunakan materi dari alam, seperti kayu. Rangka yang inovatif, model menarik dan sadel yang kadang kurang nyaman. Desain adalah segalanya. Demikian halnya bagi asesorisnya.

“Terutama di bidang helm banyak perubahan. Pada dasarnya pada asesoris tambahan, seperti pelindung ponsel atau Bikeapps. Tren lain adalah, gerakan meninggalkan minimalisme dan kembali ke warna-warni, yang dilecehkan di awal tahun 2000-an. Tampak jelas, trennya menuju ke warna”, ujar Fares Gabriel Hadid. Baik di atas sepeda balap atau menggunakan gandengan, yang jelas warga Berlin dan warga Eropa pada umumnya siap masuk musim baru bersepeda.

Awal Munculnya Sepeda di Indonesia dan Jadi Pro Kontra

Ingatkan Ancaman Pidana, Polisi Sebut Banyak Pesepeda Langgar Aturan

Awal mula sepeda diciptakan berawal dari masalah yang dihadapi oleh Karl Drais kemudian popularitas sepeda menjadi ramai dan berkembang diberbagai Negara. Di Indonesia sendiri, popularitas sepeda dikenalkan pertama kali dimasa kolonial Belanda. Orang Belanda membawa sepeda buatan Eropa sebagai alat transportasi saat melakukan penjajahan di Indonesia.

Namun tidak semua orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi ini, menggunakan sepeda hanya untuk orang-orang tertentu saja, seperti para penguasa dan bangsawan.

Pernah mendengar tentang sepeda jengki? Sebenarnya nama aslinya adalah “yankee”. Sebutan ini diperuntukkan oleh orang Amerika. Istilah ini muncul ketika orang Amerika pada tahun 1960-an dapat menginvasi Indocina.

Jika anda mengenal produk bermerk legenda ini seperti Butterfly dan Phoenix, produk sepeda ini merupakan sepeda buatan Tiongkok. Kedua sepeda ini sempat ramai dikarenakan Presiden Soekarno melarang masuknya segala produk buatan Barat, termasuk buatan Belanda dan Eropa Barat tidak dapat masuk ke Indonesia.

Jika dilihat, rangka sepeda buatan China jauh lebih ringan dan ukurannya lebih kecil sehingga pas untuk ukuran masyarakat yang tinggal di Asia. Dari situlah sepeda jengki menjadi istilah popular terkait sepeda antik, sebutan lain dari sepeda ini yaitu sepeda kumbang dan sepeda sundung.

Selain sepeda jengki ada juga sepeda balap, sebelum adanya perang dunia ke II, beberapa pembalap sepeda professional dari Indonesia yang dibiayai perusahaan seperti Mansonia, Triumph, dam Hima.

Awal mula balap sepeda berada dikota Semarang. Sempat didirikan velodrome yaitu tempat penyelenggaraan cabang balap sepeda yang dirancang oleh arsitek Ooiman serta Leeuwen. Namun kegiatan balap sepeda ini sempat terhenti pada masas penjajahan Jepang. Lalu kegiatan balap sepeda kembali dilakukan lagi setelah Indonesia merdeka.

Pekan Olahraga Nasional ke-2 tahun 1951, balap sepeda menjadi cabang olahraga resmi yang diperlombakan. Kemudian beberapa daerah membentuk komunitas-komunitas untuk perkumpulan balap sepeda, dan akhirnya berdiri Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) pada tanggal 20 Mei 2956 di Semarang.

Kemunculan sepeda-sepeda modern yang dimulai pada tahun 1980-an di Indonesia seperti sepeda gunung (Mountain Bike), sepeda perkotaan (Road Bike), sepeda anak dan sepeda lipat (Folding bike). Mountain bike merupakan sepeda modern yang banyak diminati masyarakat Indonesia sampai saat ini, seepda ini pertama kali diperkenalkan oleh Joe Breeze.

Joe Breeze adalah pembuat dan perancang sepeda gunung yang berasal dari California, Amerika Serikat pada tahun 1977 dan beberapa tim pembuat mountain bike lainnya.

Selain Mountain Bike dan sepeda lipat, terdapat juga sepeda BMX yang berukuran mini yang dapat meningkatkan adernalin ketika berkendara. Biasanya diminati oleh para anak muda di Indonesia, dengan cara melakukan atraksi menggunakan sepeda.

Beberapa hari lalu, jalur sepeda di Jalan Sudirman-Thamrin yang panjangnya 11,2 KM itu sempat disinggung dalam rapat Komisi III di DPR. Ahmad Sahroni, salah satu wakil ketua Komisi III di DPR minta Kapolri mengevaluasi, bila perlu membongkar jalur itu (16/6). Alasannya: ada diskriminasi.

Publik kaget. Kok langsung main bongkar. Padahal, jalur sepeda sudah digunakan, dan selama ini relatif tidak ada masalah. Apalagi, urusan jalur sepeda bukan masuk wilayah garapan komisi III.

Namanya juga usulan. Meski berasal dari komisi yang tidak membidangi perhubungan, ada baiknya tetap didengar. Setidaknya, ada kepedulian dan niat baik. Berpikir positif seperti ini yang harus terus ditumbuhkan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sangat bijak. Didengar dan dicatat semua masukan itu, dan tentu akan diteruskan untuk menjadi pembahasan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan.

Yang seringkali terlupa bahwa setiap keputusan dan kebijakan, tentu didahului dengan kajian. Dengar pendapat dengan berbagai pihak yang kompeten. Terkait jalan raya, Polri adalah mitra yang punya cukup data, pengalaman, dan ketepatan dalam perhitungan.

Kolaborasi dengan pihak institusi perhubungan dan kepolisian merupakan kebutuhan niscaya sebelum keputusan membangun jalur sepeda dilakukan. Hasil kajian ini perlu dibuka oleh Gubernur Anies Baswedan untuk memberi penjelasan detilnya. Sehingga bisa menjadi bahan diskusi dan evaluasi.

Setidaknya, ada beberapa manfaat mengapa jalur sepeda di Jakarta dibangun. Terutama untuk jangka panjang.

Pertama, mengurangi tingkat kemacetan. Selain MRT/LRT, sistem ganjil genap, dan perluasan jalur trotoar untuk pejalan kaki, jalur sepeda diharapkan juga ikut mengurangi tingkat kemacetan di ibukota.

Memang, tidak drastis untuk satu-dua tahun. Butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mau mengubah pola bertransportasi. Ketika jalan kaki dan bersepeda terasa nyaman dan mulai banyak yang memanfaatkan, maka ke depan akan mendorong semakin banyak orang melakukannya. Di sini perlu terobosan-terobosan kreatif agar semakin banyak yang menggunakan jalur sepeda sebagai pilihan transportasi.

Fakta bahwa kemacetan di Jakarta turun. Tentu, semua kebijakan terkait transportasi mempunyai kontribusinya, meskipun tidak sama ukurannya.

Tahun 2017, tingkat kemacetan Jakarta di urutan ke-4 (61%) dari 164 negara. Tahun 2018 di urutan ke-7 (53%). Tahun 2019 di urutan ke-10 (53%). Dan tahun 2020 di urutan ke-31 (36%). Ada penurunan yang konsisten dan signifikan. Atas penurunan ini Anies mendapat julukan sebagai pahlawan transportasi (21Heroes2021) dari Transformative Urban Mobility Inisiative (TUMI)

Kedua, sepeda itu alat transportasi yang ramah lingkungan. Semakin banyak yang menggunakan transportasi umum dan bersepeda, polusi udara Jakarta otomatis berangsur-angsur akan turun.

Selain memperbanyak RPTRA (296 lokasi) sebagai taman kota dan penghijauan, serta rencana membangun sejumlah waduk, ikhtiar mengubah pola bertransportasi dari kendaraan mesin ke sepeda diharapkan dapat mengurangi tingkat pencemaran udara Jakarta.

Hasil survei: usia warga Jakarta rata-rata lebih pendek dari warga Bandung dan Jogja. Dua faktor utamanya adalah stres (di antaranya karena macet) dan polusi udara. Dua hal inilah yang berupaya diatasi oleh Gubernur Anies.

Gagasan Gubernur DKI di forum “Dialogue beetween C40 mayors and UN Secretary General” tanggal 16 April lalu tentang pentingnya mengurangi emisi carbon di antaranya dengan strategi transportasi telah mendapatkan apresiasi positif dari Sekjen PBB. Menurut Anies, gagasan ini sudah dijalankan secara konsisten di Jakarta.

Belakangan ini, kualitas udara di Jakarta makin bagus. Dari laporan Air Visual, Air Quality Index (AQI) di Jakarta semula sebesar 155, turun 144,3, turun jadi 96, turun lagi jadi 60, dan turun lagi sebesar 57 dengan 15 ug/m3. Ini tergolong moderat. Sehat kalau 10 ug/m3. Mesti serius ditargetkan.

Di berbagai kota besar di Amerika, Eropa, Australia, Jepang, dan Korea, jalur sepeda sudah lama dibangun. Untuk sampai pada kesadaran masyarakat, memang butuh waktu. Ini proyek jangka panjang.

Jalur sepeda di kota-kota besar itu tidak pernah dianggap sebagai kebijakan diskriminatif. Justru sebaliknya, jalur sepeda memberi ruang kepada mereka yang peduli dan sadar akan kebutuhan terhadap udara bersih dan sehat.

Coba bayangkan, jika satu juta warga Jakarta memilih transportasi sepeda, tentu ini akan membuat udara Jakarta semakin bersih, segar dan sehat.

Baik sekiranya satu gerbong setiap kereta disiapkan khusus untuk sepeda. Ini sebagai contoh saja. Sehingga, para pekerja yang berasal dari sekitar wilayah Cibubur, Bekasi, Bogor, Tangerang, yang naik KRL/MRT/LRT, bisa menggunakan sepeda sebagai pilihan alat transportasi mereka.

Dari rumah naik sepeda, lalu sepedanya masuk gerbong khusus, turun di Cawang, Sudirman, Thamrin, Kuningan, Tanah Abang, Senen, Tebet, Manggarai, mereka naik sepeda lagi ke kantor. Lebih ekonomis, sehat, dan ramah lingkungan. Diperlukan terobosan yang kreatif dan masif.

Tags:

BERITA TERKAIT