Bermain Bola Glundung, Judi Tradisional di Bojonegoro

Selasa, 28 September 2021, 17:07 WIB
138

Banyak sekali macam-macam jenis perjudian baik tradisional maupun modern, antara lain:dadu, kartu, dindong, togel, bola glundung dan lain-lain. Sekarang ini yang semarak dan digemari banyak masyarakat khususnya di kota Bojonegoro.

Yaitu bola glundung(jiki), dengan memasang uang ke nomor 1 sampai 12, apabila salah satu nomor yang di pasang berketepatan dengan jatuhnya/berhentinya bola tersebut, maka itu yang menang, uang yang di taruh tersebut berlipat ganda, dari 5 ribu menjadi 50 ribu, 10 rb -100 rb, 100 rb – 1 juta, dan seterusnya. Selain itu, permainan bola glundung (jiki) yang sangat mudah dilakukan oleh semua golongan.

Gates Of Olympus

Fenomena ini nampak dilematis dimana keberadaan bola glundung (jiki) sebagai sumber permasalahan, permasalahan itu adalah perjudian, perdukunan, yang dianggap bertentangan dengan norma agama. Namun sebagian menganggapnya hiburan semata, walaupun di antara mereka ada yang ikut main dan sebagian dari mereka sudah merasa bosan dan tidak ikut main tetapi juga tetap melihat perjudian tersebut.

Dalam perjudian jiki, hanya di gelar pada saat ada acara tayuban dan wayang kulit. Perjudian bola glundung dilakukan pada malam hari sebelum acara, pada saat acara tayuban dan wayang kulit berlangsung, Judi jiki di mulai pada pukul 10 malam sampai pagi.

Permainan bola glundung (jiki) ini bebas untuk segala aturan main, yaitu seperti untuk yang menang atau yang kalah, tidak ada penghambatan untuk meninggalkan perjudian tersebut, dan untuk penaruhan uang yaitu tidak terbatas, berapapun nominal uang yang di pasang. Dan mereka mempunyai semboyan “masang akeh entok akeh”, artinya bagi yang memasang taruhan yang banyak maka akan memperoleh hasil yang banyak pula.

Praktek perjudian tersebut sudah menjadi kebiasaan dalam perayaan adat di Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Nilai kebudayaan yang berkembang di masyarakat merupakan suatu hal yang bersifat principil untuk menjalankan kebiasaan adat setempat.

Nilai-nilai kebudayaan yang tetap bertahan dalam arus modernisasi tersebut merupakan suatu kebudayaan, adat istiadat ataupun kebiasaan yang memang benar-benar di pegang teguh oleh masyarakat itu sendiri secara turun temurun, misalnya kebudayaan masyarakat Kabupaten Bojonegoro tepatnya Kecamatan Baureno.

Rise of Olympus

Adapun salah satu bentuk kebudayaan masyarakat yang tetap eksis dan marak sampai sekarang adalah “Permainan Judi Bola Glundung atau Cap Jiki” dalam perayaan aktifitas masyarakat.

Beberapa orang (pemain judi) ternyata dapat mendorong terjadinya interaksi sosial dan cara baru memandang dunia. Untuk menjelaskan tempat fisik di luar rumah dan tempat kerja yang digunakan orang untuk interaksi sosial secara informal.

Selain sebagai tempat untuk interaksi sosial antara orang dengan kegemaran yang sama, judi juga dapat menjadi jembatan komunikasi untuk berbagi pandangan mengenai dunia dari orang yang berbeda pandangan dengan diri pribadi.

Proses pelaku judi bola glundung (cap jiki) mengenal judi bola glundung (cap jiki) itu sendiri berawal dari sebuah lingkungan subkultur menyimpang. Para pelaku tidak belajar secara otodidak tetapi mereka belajar kepada teman mereka yang memahami bagaimana bermain judi bola glundung (cap jiki) ini karena teman mereka berasal dari sebuah subkultur menyimpang. Dalam proses tersebut tidak terjadi secara rumit dan terlihat cukup sederhana.

Seorang pemain judi cap jiki dapat menghabiskan uang jutaannya dalam waktu semalam, begitu pula sebaliknya, para pemain judi cap jiki bisa lebih cepat memperoleh kelipatan uangnya dalam waktu hitungan jam. waktu untuk memulai permainan sekitar jam 9 malam atau lebih.

Hal tersebut, jika dibandingkan dengan hasil bekerja sangat jauh, namun jika beruntung atau bernasib baik, jika kalah banyak dalam waktu semalam maka mereka akan sangat menyesal kerena kekalahanya sebanding dengan sebuah motor jika uang tersebut tidak di pakai untuk berjudi.

Pemain cap jiki selalu datang di setiap acara judi tersebut di gelar, walaupun pada saat itu mereka tidak mempunyai uang sama sekali dan demi judi cap jiki mereka dapat melakukan setiap cara untuk mendapatkan uang sebagai taruhan judi. Bisa dikatakan merka kecanduan yang berlebih dimana mereka mengalami gangguan atau tidak normal.

Tidak jarang aktifitas mereka banyak digunakan untuk melamun (selalu menantikan permainan judi cap jiki). Sehingga membuat mereka menjadi sangat terikat dengan adanya judi cap jiki didalam kehidupan mereka.

Perjudian Tradisional di Tanah Jawa

5 Permainan Judi Melanggar Hukum yang Banyak Digemari Orang Indonesia! -  Boombastis

Di belakang tembok Pasar Kutocilik ada satu bangunan seperti rumah kediaman yang dimanfaatkan untuk usaha perjudian. Meja-meja lapak pedagang pasar juga merupakan tempat berjudi yang digunakan jika pasar mulai sepi.

Bermacam-macam jenis perjudian bisa digelar di tempat ini mulai dari sabung ayam (adu jago), rolet/sintir (menebak angka di papan kayu berputar), koprok (tebak dadu), unclang (melempar gelang rotan ke sebuah botol), gangsing (tebak gambar binatang), dan kocok rokok (tebak gambar kartu remi berhadiah rokok).

Arena perjudian digelar hampir setiap hari. Tapi, arena tersebut biasanya ramai saat hari pasaran Pasar Kutocilik, yaitu Selasa dan Jumat. Secara umum setiap permainan judi memiliki dua jenis pelaku yang terlibat di dalamnya, yakni bandar dan gentho (petaruh).

Bandar adalah orang yang mengendalikan permainan judi. Mereka membayar pemenang dan menarik uang taruhan pemain lainnya yang kalah. Peran ini bisa dilakukan oleh satu orang maupun beberapa orang.

Dari keenam jenis permainan judi di Pasar Kutocilik tersebut dapat disimpulkan bahwa semuanya adalah judi taruhan. Artinya pemain bertaruh sejumlah tertentu uang atas angka, gambar, atau hewan aduan. Bila taruhannya menang, maka dia akan memperoleh hadiah atau uang yang berlipat kali uang taruhannya. Kelipatan uang bergantung kesepakatan antara petaruh dan bandar judinya.

Di Wetankali, pada dasarnya semua kegiatan yang mengandung permainan atau pertandingan bisa dijudikan. Penduduk desa bisa berjudi dengan permainan kartu sampai berjudi atas pertandingan sepak bola yang diselenggarakan di lapangan desa.

Bahkan, rangkaian kegiatan pemilihan kepala desa merupakan salah satu ajang perjudian besar-besaran yang menyertakan peredaran uang ratusan juta rupiah. Pokoknya, segala hal yang mengandung unsur pertandingan menang-kalah bisa dijudikan.

Berbagai bentuk perjudian yang ada paling tidak bisa digolongkan menjadi tiga ragam pokok, yaitu judi undian, judi taruhan, dan judi permainan-bertanding. Pemilahan ini sebenarnya tidak bisa diterapkan secara tegas karena seringkali ada semacam tumpang tindih antarberbagai ragam perjudian di dalam satu kegiatan judi. Pemilahan ini sekadar memudahkan pengelompokan.

Yang termasuk judi undian adalah berbagai jenis lotre. Pada pertengahan 1990-an, penduduk ingat hingar-bingarnya Porkas, sebuah praktik judi undian yang didukung negara. Konon hampir setiap Rabu sore hingga tengah malamnya, tidak sedikit penduduk yang silih berganti mendatangi bandar porkas dan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) di tepi Jalan Raya Kutocilik untuk membeli atau menukar kupon undian.

Sekarang, undian porkas dan SDSB sudah tidak ada lagi, tapi praktik judi undian masih dilakukan untuk beberapa jenis lotre. Di Wetankali, ada berbagai jenis lotre mulai dari yang dianggap kecil-kecilan dan dimainkan anak-anak usia sekolah dasar berhadiah telur asin (lotre endog asin) hingga lotre berhadiah motor atau televisi berwarna.

Dalam judi taruhan, pelaku judi tidak mesti terjun langsung ke dalam permainan atau pertandingan. Permainan atau pertandingan yang menjadi sarana taruhan juga tidak harus berada secara langsung di hadapan penjudi.

Dalam bahasa setempat, orang-orang yang mendukung salah satu pihak yang sedang bertanding disebut botoh. Perjudian bisa dilakukan antar-botoh atau antara botoh dan bandar judi. Seperti halnya judi undian, dalam judi taruhan ada unsur tebak-tebakan. Penjudi memilih pihak di antara dua (atau lebih) yang sedang bertanding. Bila pilihannya memenangkan pertandingan, maka dia akan menang.

Apa pun jenis olahraga yang dipertandingkan, judi taruhan bisa diterapkan. Di Wetankali ada tiga jenis olahraga yang populer yaitu sepakbola, sepak takraw, dan bulu tangkis. Dua pertandingan pertama umumnya dilakukan oleh golongan muda dari lapisan sosial menengah ke bawah. Sedangkan bulu tangkis biasanya dilakukan golongan lapisan yang tak lagi muda dari lapisan elit-elit desa.

Ada satu lapangan sepak bola yang juga berfungsi sebagai lapangan upacara dalam agustusan, tempat pemilihan kepala desa, atau tempat diadakannya seni pertunjukan. Dalam beberapa waktu sekali diadakan kompetisi sepakbola antardesa atau antarperkumpulan dari berbagai tempat di sekitaran Wetankali.

Pada Agustus-September 2007 diadakan kompetisi sepakbola antarperkumpulan dari berbagai kota kecamatan di Banyumas selatan, Kebumen, dan Cilacap. Ada sekitar 16 perkumpulan yang ikut serta. Acara ini diadakan oleh Paguyuban Wong Kutocilik yang menurut pandangan sebagian orang adalah perkumpulan para pemuda-pemuda bengal dan preman pasar. Konon, diadakannya kegiatan ini pertama-tama adalah sebagai ajang perjudian.

Sampai akhir 1990-an Wetankali terkenal memiliki usaha penangkaran merpati balap yang paling hebat seantero Kutocilik.  Usaha itu dijalankan keluarga Cina terkaya yang menjalankan usaha merpati balap sebagai sampingan di antara penghidupan sebagai pedagang penampung hasil bumi.

Sekarang usaha peternakan merpati balap yang telurnya saja dihargai 25 ribu rupiah itu bangkrut karena bangkrutnya usaha dagang keluarga tersebut. Meski demikian usaha-usaha serupa yang dijalankan beberapa keluarga Jawa masih bertahan sampai sekarang.

Pada musim kemarau akan banyak ditemui orang menggendong sangkar merpati di punggungnya dan mengayuh sepeda ke tanah lapang atau persawahan untuk kemudian melepaskan merpati dari sangkarnya. Taruhan atas merpati balap bisa dilakukan antarpemilik burung atau antar-botoh yang mendukung merpati tertentu yang sedang diadu.

Judi Balap Merpati

Balap Merpati Rawan Judi

Di Wetankali adu balap merpati disebut omprang atau tomprang. Merpati yang diadu haruslah setara kelasnya. Ada dua kelas merpati, yaitu balap dan lokal. Merpati balap biasanya bertubuh lebih besar dan ringan. Selain itu merpati balap bisa terbang rendah dengan kecepatan tinggi. Dua jenis permainan adu balap merpati didasarkan pada jenis merpatinya, yaitu balapan merpati balap dan balapan merpati lokal.

Balapan merpati balap biasanya dilakukan di tanah lapang yang datar seperti daerah persawahan setelah panen sadhon, lapangan sepak bola, padang gembalaan, dan jalan desa yang sepi lalu-lalang. Tempat-tempat tersebut dipilih karena merpati balap akan terbang rendah (kira-kira 30 cm dari permukaan tanah).

Merpati yang mampu terbang di bawah ketinggian rata-rata dianggap lebih istimewa karena bisa lebih cepat mencapai garis akhir lomba. Bila dibandingkan dengan jenis atletik, maka balapan merpati balap adalah jenis sprinternya.

Pada umumnya jarak dari garis start ke garis finish sekitar 500 m atau kurang. Peserta adu balap biasanya berpasangan. Satu orang memegang merpati jantan di garis start atau yang akan diterbangkan dan satu orang lagi di garis finish memegangi merpati betina. Ketika perlombaan dimulai, merpati jantan dilepas disertai teriakan-teriakan dan tepuk tangan orang yang berada di garis start.

Pada saat yang sama, merpati betina tetap dipegang sambil dikepak-kepakkan sayapnya (diklepek) sebagai  pemancing merpati jantan agar terbang dengan cepat menuju garis finish. Balapan merpati balap jarang diadakan di Wetankali karena tidak mempunyai arena. Penduduk yang ingin mengikutinya harus pergi ke Kulonkali.

BERITA TERKAIT