Boneka Barbie yang Penuh Kontroversi

Kamis, 30 September 2021, 15:59 WIB
28

Pada awal kemunculannya, penjualan Barbie mencapai jumlah 1 juta setiap bulannya. Boneka yang cantik dan sangat menawan tersebut hadir dengan menawarkan berbagai aksesoris yang melekat pada tubuhnya.

Dari segi kecantikan, Barbie memang sangat sesuai dengan penggambaran seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang sempurna. Boneka keluaran Mattel Inc yang memulai debutnya pada tahun 1959 ini telah berhasil menjadi boneka yang tidak diragukan lagi ketenarannya.

Segala sesuatu yang ada pada Barbie seperti menggambarkan kategori wanita yang ideal. Kaki yang panjang, pinggul yang kecil, hidung mancung, bibir tipis dan kulit yang putih. Hal itu mampu membuat Barbie menjadi ikon kecantikan terutama bagi wanita masa kini yang sangat peduli dengan penampilan fisik.

Barbie yang pertama kali diciptakan dengan maksud untuk menjadi mainan anak kecil, kini juga disukai oleh wanita dewasa. Wanita dewasa memiliki koleksi Barbie yang lebih banyak dibandingkan dengan anak kecil, karena mereka dapat membeli boneka Barbie dengan pendapatan yang mereka miliki.

Menurut Jennifer Fulkerson, ia melaporkan bahwa 75% kolektor Barbie adalah wanita berusia 35-64 tahun. 16% diantaranya adalah lulusan universitas, 55% sempat mengenyam pendidikan universitas, 12% mendapatkan pendidikan universitas.

Dengan demikian hanya 17% yang tidak mengenyam pendidikan universitas. Fulkerson juga menemukan bahwa kira-kira separuh dari para kolektor Barbie memiliki penghasilan pertahun sekurang-kurangya $45.000 yang berada di atas rata-rata penghasilan kalangan menengah Amerika. Merujuk pada harga boneka Barbie yang tidak bisa dianggap murah, para kolektor seperti tidak ragu untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk boneka Barbie.

Awalnya Barbie diciptakan untuk mempresentasikan cantik menurut orang Amerika. Tanpa disangka Barbie tidak hanya terkenal di Amerika saja namun juga diseluruh dunia. Karena itulah kini hampir setiap negara mempunyai standar kecantikan yang sama yaitu kaki yang panjang, tubuh yang langsing, hidung mancung dan kulit yang putih. Sebenarnya cantik tidak hanya dilihat dari segi fisik saja.

Cantik yang sesungguhnya dapat berasal dari dalam diri seorang wanita. Wanita yang pintar, cerdas dan selalu berpikir positif akan memancarkan kecantikan. Namun dengan kehadiran Barbie, sebagian wanita seperti mempunyai kategori cantik yang merujuk pada boneka Barbie terutama bagi pecinta Barbie.

Penggambaran Barbie seperti Barbie yang menawan hati, mempesona, memikat, jelita, lembut dan indah adalah kata-kata yang biasa digunakan oleh anak- anak muda dan orang dewasa untuk menggambarkannya.

Tidak perlu diragukan, kata- kata ini adalah kata-kata feminitas kelas menengah modern. Kata sifat ini juga menggambarkan femininitas anak muda dan femininitas heteroseksual. Lebih dari semuanya, tampaknya, Barbie adalah ikon femininitas dalam hubungan dengan kelompok menengah masyarakat barat dewasa ini

Barbie yang identik dengan pakaian yang terlihat manis seperti gaun atau pernak-pernik yang berwarna merah jambu, warna yang tepat untuk menggambarkan seorang wanita. Terlepas dari peran yang dimainkan oleh Barbie dalam sebuah film, Barbie tetap tampil feminin dan konsekuen dengan penampilannya disetiap saat.

Reputasi boneka Barbie tidak bisa disepelekan. Selain sekedar mengkoleksi boneka Barbie dan aksesorisnya, para pecinta Barbie juga melakukan berbagai cara agar mereka terlihat cantik seperti idolanya. Dimulai dari cara yang ekstrim yaitu operasi plastik hingga dengan cara yang paling mudah yaitu, make up.

Make up pun tidak sembarangan, namun harus dengan teknik tertentu. Sama seperti yang biasa dilakukan oleh Kota Koti, Venus Palermo dan sebagian wanita lainnya demi terlihat seperti boneka Barbie.

Kota Koti adalah seorang gadis asal Amerika, lahir pada tahun 1995 yang saat ini tinggal di Jepang melakukan sejajaran make up agar terlihat seperti idola nya, Barbie. Kota Koti juga memberikan tutorial make up di akun youtube nya kepada 50.000 pengikutnya yang takjub dengan perubahan yang dilakukan oleh gadis tersebut.

Rambut lurus, pirang, hidung mancung dan mata yang biru terlihat persis dengan boneka Barbie dan sengaja ia lakukan karena ia begitu terobsesi dengan boneka Barbie yang terlihat cantik.

Selain diluar negeri, reputasi Barbie di Indonesia juga cukup baik yang mana pecinta Barbie menjadi addictive dan mengkoleksi boneka Barbie dalam jumlah yang cukup banyak. Happy Novana Sari, wanita yang berusia 26 tahun ini merupakan kolektor Barbie terbanyak di Indonesia.

Ia tidak mempermasalahkan dari segi harga nya yang cukup mahal. Ini membuktikan bahwa wanita dewasa pun masih menggemari boneka Barbie dan memiliki koleksi yang lebih banyak daripada anak kecil. Para pecinta Barbie di Indonesia terkesan royal dengan koleksi boneka Barbie yang harga nya relatif mahal dan mereka adalah kelompok wanita dewasa.

Boneka Barbie Pertama Diperkenalkan

Boneka Barbie pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959 dan telah menghibur anak-anak di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Lebih dari 1 miliar boneka Barbie telah terjual sejak pertama kali diluncurkan. Gagasan tentang boneka dengan pakaian modis muncul dari Ruth Handler, salah satu pendiri Mattel Toys. Ruth Handler, istri Elliot Handler, sering mengamati putri kecilnya bermain dengan boneka kertas dua dimensi.

Sampai sekitar tahun 1950-an, boneka yang tersedia di toko-toko merupakan boneka replika bayi. Kondisi ini memicu ide Ruth untuk memproduksi boneka yang tidak hanya berbentuk bayi, melainkan berbentuk figur remaja dengan pakaian modis.

Ruth merencakan bonekanya berbentuk tiga dimensi dengan bentuk tubuh remaja, bukan bayi. Ketika Ruth membawa ide ini ke suaminya dan direksi Mattel, tanggapan mereka tidak sesuai dengan keinginan Ruth.

Mereka berpendapat memproduksi boneka membutuhkan biaya besar dengan prospek jangka panjang yang tidak terlalu baik. Namun Ruth tidak surut dan tetap teguh dengan idenya. Tekad Ruth semakin kuat saat dia mengunjungi Swiss pada pertengahan tahun 1950-an.

Di sana, Ruth melihat sebuah boneka Jerman bernama Lilli, yang berbentuk gadis cantik dan terbuat dari plastik keras dengan sepatu indah dan anting-anting serta rambut yang diikat ekor kuda.

Lilli dirancang berdasarkan karakter kartun terkenal Jerman, Bild, dan tersedia dalam ukuran tinggi 11 ½ inci dan 7 inci.

Setelah melihat Lilli, konsep Barbie menjadi semakin jelas dalam pikiran Ruth. Dia lantas kembali ke Amerika dan terus membujuk dan meyakinkan suaminya dan direksi Mattel untuk mewujudkan idenya.

Berkat kesabaran dan keteguhan Ruth, Barbie akhirnya mulai dirancang oleh teknisi dan insinyur di Mattel. Rancangan Barbie berbentuk seorang gadis muda cantik dengan kaki panjang dan memiliki tinggi 11,5 inci.

Ruth menyewa perancang busana Charlotte Johnson untuk membuat berbagai busana Barbie. Pada tahun 1958, Barbie memperoleh paten dan setelah itu popularitasnya tak terbendung lagi.

Nama Barbie diambil dari putri Ruth yang bernama Barbara. Boneka ini pertama kali diluncurkan pada tanggal 9 Maret 1959 di American Toy Fair di New York City.

Saat diluncrkan, Barbie mengenakan kostum baju renang bergaris seperti zebra yang dijahit tangan oleh pekerja rumahan Jepang.

Saat di pameran, Barbie menghadapi skeptisisme dari para pembuat mainan yang baru pertama kali melihat boneka dengan ukuran begitu kecil dan berbeda dengan boneka lain yang telah ada di pasaran.

Tentu saja Ruth Handler tidak menyerah. Dalam benaknya, Ruth sudah tahu apa yang harus dilakukan selenjutnya.

Dia perlu untuk memperkenalkan Barbie kepada seluruh anak di Amerika. Untuk itu, dia membuat iklan televisi menarik untuk memperkenalkan Barbie.

Strategi pemasaran yang tepat segera membuat penjualan Barbie melonjak pesat. Boneka Barbie edisi pertama dijual seharga 3 dollar dan terjual 350.000 buah pada tahun pertama.

Pada tahun 1964, Mattel memperoleh hak untuk boneka Lilli dan produksi boneka Lilli lantas dihentikan.

Kata Psikolog Soal Boneka Barbie

Sebuah penelitian mengemukakan boneka Barbie membangun persepsi tentang tubuh yang salah bagi anak perempuan. Dalam jurnal Body Image, seorang seorang profesor psikologi di Universitas Flinders Australia, Marika Tiggemann mengemukakan hasil pengamatannya terhadap 160 anak berusia 5-8 tahun.

Penelitian itu menunjukkan bahwa bermain boneka Barbie -walau hanya sekali, membuat anak melihat persepsi citra tubuh yang nyaris sempurna, yakni kurus tinggi dan berambut panjang. Persepsi ini yang membuat anak berpikir mereka harus tampil seperti Barbie juga.

“Boneka Barbie bisa menjadi gambaran bahwa badan kurus lebih baik dibandingkan yang gemuk,” ujar Tiggemann seperti dikutip dari Herald Sun. Sebab itu, dia menyarankan agar orang tua tidak membiarkan anak bermain boneka tersebut sampai berusia 8 tahun.

Kalaupun anak perempuan sudah punya boneka Barbie, maka sebaiknya orang tua memberitahu kalau penampilan fisik bukan satu-satunya model untuk terlihat cantik. “Ada hal lain yang membuat seseorang tampil cantik dan menarik,” kata Tiggemann.

Ini bukan penelitian pertama yang menyimpulkan kalau boneka Barbie mempengaruhi persepsi tubuh pada anak perempuan. Pennsylvania State University juga pernah melakukan penelitian dengan hasil serupa, yakni boneka Barbie memberikan persepsi pada anak bahwa tubuh langsing itu lebih baik.

Mattel selaku produsen pembuat mainan boneka Barbie menolak penelitian yang menyatakan boneka Barbie mempengaruhi persepsi citra tubuh anak perempuan. Namun demikian, pihak Mattel tidak gusar dengan hasil penelitian tersebut. Sebab, mereka biasa melakukan komunikasi dengan orang tua dan anak-anak dari seluruh dunia mengenai produk ikonik mereka.

Michael Shore dari Mattel mengatakan kepada Herald Sun bahwa para orang tua merasakan dampak positif dari boneka Barbie pada anak perempuan mereka. “Mainan ini memicu imajinasi dan kreativitas,” ujarnya. Barbie yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun juga memiliki penampilan dan tipe tubuh yang lebih variatif.

BERITA TERKAIT