Boneka di Budaya Orang Jepang

Kamis, 30 September 2021, 16:29 WIB
27

Boneka merupakan salah satu mainan tradisional yang paling tua, karena boneka sudah ada pada zaman Yunani, Romawi ataupun Mesir Kuno. Namun fungsi, bentuk, maupun bahan pembuatnya ternyata berbeda sekali antara dulu dengan sekarang.

Boneka berasal dari bahasa Portugis “Boneca” yaitu sejenis mainan yang dapat berbentuk macam-macam, terutama manusia atau hewan, serta tokoh-tokoh fiksi.

Gates Of Olympus

Dalam bahasa Jepang, boneka disebut dengan ningyou yang terdiri atas kanji nin yang berarti orang dan kanji gyou yang berarti bentuk.

Arti kata ningyou juga mencakup boneka hiasan yang berbentuk bayi, orang dewasa, bentuk binatang yang terbuat dari kayu, tanah liat, bahan campuran, dan sebagainya.

Boneka tersebut ada yang dibuat dengan tangan atau alat-alat tradisional yang disebut boneka tradisional dan ada juga yang di buat dengan teknologi canggih.

Boneka-boneka ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat Jepang. Karena bagi masyarakat Jepang boneka tradisional tidak hanya sekedar sesuatu untuk dimainkan oleh anak-anak tetapi juga merupakan hasil seni yang memiliki banyak fungsi dalam kehidupan masyarakat Jepang, khususnya boneka yang digunakan untuk bayi dan anak-anak.

Rise of Olympus

Boneka tersebut disediakan sebelum dan sesudah bayi itu lahir. Bagi masyarakat Jepang, boneka yang digunakan untuk bayi dan anak-anak tidak hanya sebagai mainan anak-anak tetapi juga sebagai jimat, persembahan pengganti diri, perlengkapan festival, dan lain sebagainya.

Boneka pertama sekali ditemukan pada zaman Jomon yang disebut dengan Shakoki Dogu. Boneka ini ada yang berbentuk laki-laki, wanita, hewan, maupun kombinasi dari manusia.

Daruma adalah boneka yang berasal dari Jepang dan merupakan salah satu hasil karya seni masyarakat Jepang yang dipercaya sebagai suatu jimat keberuntungan oleh sebagian besar masyarakat Jepang.

Boneka ini berbentuk bulat pendek tanpa kaki, tangan, dan mata. Boneka ini juga dibuat berat di bawahnya sehingga jika didorong akan kembali ke posisi semula dan tidak akan jatuh.

Boneka daruma ini merupakan perwujudan dari seorang pendeta Budha yang berasal dari India yang bermeditasi selama sembilan tahun hingga ia kehilangan tangan, kaki, juga matanya demi menyelesaikan target meditasi yang ia inginkan.

Jenis Boneka di Jepang

Boneka Jepang memiliki jenis dan fungsi yang beragam pada saat upacara tertentu. Seperti bonek Musha Ningyou (Boneka Musha).

Boneka Musha merupakan boneka prajurit yang biasanya terbuat dari bahan yanng mirip dengan boneka Hina, tetapi dengan konstruksi yang lebih kompleks, karena mewakili laki-laki atau perempuan yang duduk di kursi, berdiri atau menunggangi kuda.

Baju baja, helm, dan senjatanya terbuat dari kertas yang dipernis, biasanya dengan aksen logam. Tidak ada set yang spesifik untuk boneka ini, bisa terdiri dari Kaisar Jimmu, Permaisuri Jingu dengan Perdana Menteri Takenouchi yang membawa Putra Kaisar yang baru lahir, Shoki si penumpas setan, Toyotomi Hideyoshi dan jenderalnya serta Tea-master, dan juga figur dari cerita dongeng seperti Momotaro, Anak Buah Persik atau Kintaro, Anak Emas.

Ichimatsu Ningyou (Boneka Ichimatsu)

Boneka Ichimatsu mewakili anak laki-laki atau anak perempuan yang besarnya proporsional dan dilapisi sewarna dengan warna kulit dan sepasang mata kaca. Awal mulanya, Ichimatsu diberi nama oleh seorang aktor Kabuki setelah abad ke-18, dan mewakili bentuk manusia dewasa, tetapi sejak akhir abad ke-19 istilah ini diberikan ke boneka anak-anak. Boneka anak kecil dengan ekspresi nakal merupakan yang paling populer di akhir abad ke-19 dan di awal abad ke-20.

Tetapi pada tahun 1927 Pertukaran Boneka Persahabatan dilibatkan dalam pembuatan 58 boneka anak perempuan 32 inch yang mengagumkan, untuk diberikan sebagai hadiah dari anak-anak Jepang kepada anak-anak di Amerika Serikat. Dan estetika dari boneka yang mengagumkan ini mempengaruhi para pembuat boneka untuk membuat tipe anak perempuan yang anggun, ramah, lembut dengan balutan kimono.

Hakata Ningyou (Boneka Hakata)

Boneka Hakata adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari tanah lliat yang berasal dari Fukuoka. Boneka Hakata ini berasal dari abad ke-17. Pembuat gerabah Souhiti Masaki membuat boneka tanah liat yang biasanya diberikan sebagai hadiah untuk kuil Budha dan untuk Kuroda Nagamasa, yang saat itu berkuasa atas kota Hakata. Boneka-boneka tersebut disebut juga dengan

Hakata Suyaki Ningyou (Hakata Unglazed Doll). Hakata juga memiliki beberapa festival terkenal yaitu Hakata Gion Yamakasa, yang juga melibatkan pengapungan Ningyou. Pengapungan ini terbuat dari kayu, tapi dipercayai bahwa metode pembuatan pengapungan ini dipengaruhi oleh boneka Hakata. Tetapi bukti arkeologis selama penggallian Hakata, termasuk mainan sederhana dari tanah lliat atau keramik yang dibakar menunjukkan awal muasalnya boneka Hakata adalah dari China.

Pada akhir abad ke-19, boneka Hakata diubah dari bentuk mainan tanah liat atau keramik sederhana yang dibakar ke arah hasil karya seni tinggi. Seniman ahli Rokusaborou Shirouzu mulai mempelajari teori warna, proporsi manusia, dan teori serta teknik artistik modern Itusyo Yada, seorang pelukis cat minyak, yang akhirnya menjadikan pembuatan Hakata yang lebih realistis. Sejak saat itu boneka Hakata pun menjadi lebih terkenal dan mendunia.

Gosho Ningyou (Boneka Gosho)

Boneka Gosho biasanya merupakan boneka bayi yang gemuk dan bahagia dengan model yang kekanakan. Hiasan yang melukiskan helai kain gofun dikenakan di kulit putih sempurna boneka ini.

Wajah boneka ini dilukis minimalis untuk menangkap esensi polos dari anak-anak. Museum Nasional Kyoto menyatakan bahwa figur putih, bulat dan chubby ini mungkin dipengaruhi oleh boneka Saga (Saga Ningyou) yang tanpa busana. Terdapat banyak nama yang berhubungan dengan boneka Gosho, seperti Good Luck Doll, Shira-kiku White Chrysanthemum, Shirajishi Ningyou White

Flesh Doll, Zudai Large Head atau Izukura Ningyou. Istilah Gosho bisa diartikan dari Istana Kaisar karena boneka ini dulunya dibuat oleh pembuat boneka di Kyoto yang diperuntukkan sebagai hadiah dari istana kepada tamu spesialnya. Para penerimanyapun menghargai boneka ini. Para pedagang kemudian mencontoh ritual memberikan hadiah seperti yang dilakukan istana sebagai simbol status. Kemudian praktek pemberian hadiah berupa Gosho ningyou sebagai hadiah spesial yang berarti ini pun menyebar ke seluruh Jepang.

Hina Ningyou (Boneka Hina)

Hina Matsuri adalah perayaan untuk mendo’akan anak perempuan setiap tanggal 3 Maret. Keluarga yang memiliki anak perempuan akan memajang satu set boneka Hina. Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di jepang.

Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena awalnya adalah permainan boneka di kalangan putri bangsawan yanng disebut Hina Asobi (Bermain Boneka Puteri).

Boneka-boneka ini diletakkan di dankazari yakni panggung yang menyerupai tangga. Setiap tingkat diletakkan boneka dengan derajat yang berbeda. Pada tingkat teratas diletakkan boneka kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama). Sedangkan pada tingkat paling rendah adalah para pemain musik.

Setelah perayaan Hina Matsuri selesai, boneka-boneka ini harus segera dimasukkan ke dalam kotak kembali dan disimpan untuk tahun depan. Ada kepercayaan jika terlambat menyimpan boneka Hina maka anak perempuan di keluarga tersebut akan telat menikah.

Teru Teru Bozu Ningyou (Boneka Teru Teru Bozu)

Boneka Teru Teru Bozu adalah boneka yang terbuat dari kain perca yang sering digantungkan di depan rumah orang Jepang. Meskipun penampilannya tidak menarik, tetapi boneka ini dipercaya dapat menangkal hujan.

Teru Teru Bozu hanyalah secarik kain perca putih yang diberi buntalan sehingga membentuk kepala. Kadangkala cukup dari kertas tissu atau secarik saputangan lalu digambari mata dan mulut dengan spidol. Sangat sederhana sekali tetapi memiliki arti.

Boneka ini lebih sering terlihat pada bulan September yaitu musim Aki (gugur) dimana hujan sering turun. Mereka berharap hujan cepat reda dan cuaca kembali cerah. Kebiasaan ini dimulai sejak zaman Edo hingga sekarang.

Begitu pada Tanabata Matsuri, boneka ini sering terlihat ikut tergantung di pohon bambu atau di jendela. Perayaan Tanabata atau festival Bintang diadakan pada malam tanggal 7 bulan 7 setiap tahunnya. Biasanya orang-orang menggantungkan kertas warna-warni yang berisi harapan atau permohonan pada pohon bambu.

Permohonan yang mereka tulis di kertas dipercaya akan terkabul jika tidak turun hujan. Karena jika turun hujan, sungai Ama No Kawa akan meluap sehingga

Orihime dan Kengyuu (sepasang kekasih dalam legenda Tanabata) tidak dapat berjumpa. Sebagai penolak hujan inilah kemudian mereka menggantungkan boneka Teru Teru Bozu.

Kokeshi Ningyou (Boneka Kokeshi)

Kokeshi merupakan boneka Jepang yanng terbuat dari kayu, dengan badan silinder yang sederhana dengan kepala yang lebih besar dari badannya, rambut yang sedikit, dan garis yang digambar membentuk wajah. Biasanya di badannya digambar corak bunga dengan warna merah, hitam, kuning dan dilapisi dengan semacam lilin.

Karakteristik mencolok dari boneka kokeshi adalah tiadanya lengan dan kaki. Biasanya di bagian bawah boneka ini ditandai dengan cap atau stempel pemiliknya. Kokeshi ini telah dibuat selama 150 tahun, dan berasal dari utara pulau Honshu (pulau utama Jepang). Awal mulanya, boneka ini dibuat sebagai mainan anak-anak petani. Dari mainan yanng sederhana ini, sekarang menjadi kerajinan Jepang yangg terkenal dan dijadikan souvenir bagi turis.

Secara formal boneka ini dibuat dengan bentuk anthromorphic (bisa tinggi dan elegan, ataupun bisa pendek dan lucu), yang menunjukkan bakat rakyat Jepang dalam seni dekorasi dan seni pahat dengan bentuk manusia dan semuanya dilakukan dengan alat-alat yang sederhana. Bentuk dan penampilan boneka ini dipadu dengan seni kontemporer. Misalnya boneka Oshin (babysitter), yang menjadikan Kokeshi tidak semata-mata hanya boneka namun juga sebagai sebuah tanda mengenai sejarah yang dialami Jepang.

Amagatsu Ningyou (Boneka Amagatsu)

Boneka Amagatsu merupakan boneka yang terbuat dari kertas. Boneka ini muncul pada zaman Heian dan merupakan perkembangan dari boneka Hitogata. Di zaman Heian boneka Amagatsu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. Fungsi boneka ini sama dengan fungsi Hitogata dan Hina yakni menemani anak- anak dan melindungi anak-anak. Boneka ini juga dianggap sebagai malaikat penjaga untuk melindungi anak-anak dari roh-roh jahat, malapetaka, segala penyakit, dan lain sebagainya.

Boneka Daruma, Pembawa Keuntungan

Boneka Daruma pertama kali dibuat sekitar 300 tahun yang lalu di kota Takasaki di perfektur Gunma. Di sana terdapat sebuah kuil yang bernama Shorinzan, tempat dimana boneka Daruma berasal. Hingga saat ini kota Takasaki merupakan produsen boneka Daruma terbesar.

Boneka daruma ini biasanya dijual di kuil-kuil atau di toko penjual souvenir sepanjang tahun. Saat tahun baru boneka Daruma ini biasanya banyak dicari dan dibeli oleh perorangan maupun perusahaan yang berharap dapat meraih cita-cita maupun tujuan mereka dalam hidup maupun dalam berbisnis.

Saat dijual, boneka Daruma ini belum dilukis pada bagian matanya, bagian mata dibiarkan kosong. Terlihat mengherankan dan ngeri tetapi boneka daruma ini memang sengaja dijual tanpa gambar dibagian mata karena sang pembelilah yang akan menggambar mata pada boneka Daruma tersebut.

Pada saat kita menetapkan suatu tujuan, cita-cita ataupun permohonan, biasanya kita mulai menggambarkan mata boneka Daruma yang sebelah kiri, dan setelah tujuan, cita-cita ataupun permohonan sudah terwujud baru kita menggambarkan mata disisi yang lainnya.

Dan setelah itu biasanya sang pemilik boneka Daruma tersebut membawa boneka Daruma tersebut ke kuil untuk dibakar. Para pelajar di Jepang biasanya membeli boneka daruma ini untuk sebuah permohonan agar mereka bisa lulus ujian atau masuk ke sekolah yang mereka tuju.

Umumnya boneka Daruma berwarna merah, namun ada beberapa warna lagi seperti warna putih, biru, kuning, mas, hitam, dan lain sebagainya yang masing-masing warnanya memiliki makna yang berbeda-beda. Banyak orang di

Jepang yang percaya akan hal tersebut, banyak yang percaya bahwa boneka Daruma ini sebagai pembawa keberuntungan dan sekaligus pemberi semangat.

Tags:

BERITA TERKAIT