Brian Flynn, Si Penyelamat Sepak Bola Internasional Wales

Jumat, 31 Desember 2021, 20:38 WIB
51

Dari sebuah negara yang tidak pernah lolos ke turnamen resmi antar-negara sepanjang sejarah sepak bola mereka, Wales kini jadi tim langganan, sebut saja Kejuaraan Eropa atau EURO. Bagaimana sebuah perubahan ini terjadi? Jelas sekali ada sejumlah faktor, namun dalam kisah yang akan kami jelaskan adalah tokoh kunci yang disebut sebagai Si Penyelamat sepak bola Wales, dia adalah Brian Flynn.

Bahkan kita bisa mengatakan bahwa mantan gelandang Burnley dan Leeds United itu mengubah total muka sepak bola Wales di kancah internasional. Pernyataan itu teramat besar dan harusnya menuntut pertanggung-jawaban, tapi mari kita percaya akan hal tersebut, karena kita akan bahas semuanya tentang sosok bernama Brian Flynn.

Mari kita kembali ke tahun 2003. Setelah memenangkan empat pertandingan di kualifikasi Euro 2004 yang merupakan kali pertama untuk mereka, Wales bisa dibilang kambing hitam. Namun, mereka gagal dalam upaya untuk mencapai turnamen putaran final, usai kalah di babak playoff dari tim Rusia yang menampilkan setidaknya satu pemain yang akhirnya terbukti meminum satu pil Bromantan, sebuah obat anti-lelah yang dikembangkan oleh militer Amerika Serikat selama perang dingin.

Di samping taktik oposisi yang dipertanyakan, ini hanyalah awal dari garis panjang kegagalan Wales. Fakta berbicara demikian, hingga 2015, Wales tidak pernah benar-benar lolos langsung ke turnamen bergengsi. Pencapaian tertinggi Bangsa ini hanyalah playoff Piala Dunia 1958 dengan kekalahan dari Israel, yang saat itu pertama kali, diputuskan oleh FIFA harus bermain menghadapi negara dari Eropa, setelah sepanjang kualifikasi bermain di zona Arab-Timur Tengah.

Wales bahkan bukan tim pertama menelan kekalahan dari Israel, ada Belgia – tetapi mereka punya perjalanan luar biasa di kancah Piala Dunia. Sementara Wales? Boro-boro.

 

Kemunculan Brian Flynn sebagai Wonderkid Emas

Mari mundur jauh ke belakang, sebelum nama-nama pemain top dunia mereka seperti Gareth Bale atau Aaron Ramsey, Wales punya satu sosok, mungkin yang pertama di sepak bola mereka. Tahun 1974, gelandang mungil, dengan tinggi mungkin tidak sampai 165 cm dan baru berusia 19 tahun, masuk ke tim nasional Wales.

Ya, namanya Brian Flynn dan sangat mudah untuk mengenalinya saat itu, karena kiprahnya yang membantu negaranya memuncaki grup kualifikasi Euro 1976, mengungguli negara-negara seperti Austria, Hungaria dan Luksemburg. Sebenarnya, saat itu, Wales berbicara banyak, jika saja Euro 1976 dihitung dari babak grup, tapi kenyataannya harus mencapai empat besar terlebih dulu. Pada perempatfinal, alias tiket ke putaran final Euro 1976 di depan mata, Wales harus menelan kekalahan 3-1 secara agregat dalam format dua leg menghadapi Yugoslavia yang memang dihuni para pemain top dunia kala itu.

Jauh sebelum itu, sebenarnya debut penuh selama 90 menit Flynn sudah terjadi di tim senior Wales. Saat mereka melakoni pertandingan persahabatan di Cardiff menghadapi Skotlandia. Gelandang mungil yang saat debutnya belum genap berusia 19 tahun itu menandainya dengan gol pertama yang luar biasa. Dia melakukan satu-dua dengan rekannya di lapangan Cardiff yang penuh lumpur. Gol pertama untuk pemain belia yang sudah membuat dampak nyata di kancah Divisi Satu – sekarang Liga Inggris – bersama Burnley. Flynn juga bisa dibilang beruntung karena Burnley kala itu dilatih oleh manajer visioner bernama Jimmy Adamson, seorang pelatih yang lebih mengedepankan keterampilan dan kecerdasan dibanding fisik semata.

Oleh karena asuhan dari seorang pelatih seperti Adamson, Flynn yang hanya 161 cm bisa menjelma sebagai gelandang yang juga visioner. Dia menjadi gelandang yang rajin memotong umpan lawan dan selalu membuat keputusan tepat saat sedang menguasai bola. Flynn saat itu juga disebut punya insting yang luar biasa tajam dalam mencetak gol, yang terkenal saat dia melakukan gol sundulan ke gawang Brasil di tahun 1983.

‘Keterampilan, sikap kepemimpinan dan kecerdasan’ adalah tiga aspek yang tertanam dalam dirinya sejak masih muda, dia tidak pernah takut memberi kesempatan kepada anak-anak. Banyak bakat mentah diberikan promosi ke skuat senior pada awal karirnya sebagai pelatih di Wrexham dan Swansea City. Sebut saja; Chris Armstrong, Karl Connolly dan Leon Britton.

 

Ditunjuk Melatih Timnas Wales U-21

Hal tersebut pula yang membuat dirinya menjadi pilihan tepat untuk menggantikan peran John Toshack yang meninggalkan kursi pelatih tim senior Wales pada 2010 silam. Sebelum menjadi caretaker di 2010, dia terus-terusan dipercaya melatih tim muda Wales dari berbagai usia, mulai dari 17 tahun, 19 tahun, 21 tahun sejak 2004.

John Toshack sendiri merupakan salah satu dari daftar panjang pemain-pemain hebat Wales yang sialnya terus-terusan melihat negaranya gagal ke turnamen besar. Kita sebut saja John dan Mel Charles, Ivor Allchurch, Jack Kelsey, Cliff Jones, Mike England, Leighton James, Terry Yorath, Neville Southall, Ian Rush, Mark Hughes, Kevin Ratcliffe, Gary Speed, Ryan Giggs, Craig Bellamy, masih banyak lagi nama-nama tenar dari sepak bola Wales. Kenapa saya bilang begitu? Karena itulah yang kita saksikan selama ini, namun ternyata sisi lemah negara tersebut adalah kedalaman skuat.

“Masalah abadi untuk negara kecil seperti Wales, dengan jumlah pemain pro papan atas yang terbatas, adalah keseimbangan yang tepat,” keluh Ian Rush saat melatih Timnas Wales di tahun 1995 silam.

Craig Bellamy juga mengatakannya secara blak-blakan pada tahun 2001 silam: “Selama bertahun-tahun Wales telah mampu menurunkan tim yang kuat jika semua pemain fit tetapi itu tidak pernah terjadi. Jika kami cedera, itulah yang selalu terjadi. Kami tidak pernah ideal untuk menaklukkan negara-negara hebat lainnya.”

Pada tahun 2004, segalanya yang disebutkan Bellamy itu memang kejadian, suram. Absennya beberapa pemain karena cedera dan juga skorsing menjelang akhir musim 2002/03 (termasuk Bellamy, lalu gelandang kunci Simon Davies dan Mark Pembridge di babak playoff) telah merugikan Wales. Sementara momen kelam tersebut, tim U-21 juga saat itu, menjalani lima tahun yang sulit dipercaya – 26 pertandingan antara 1997 sampai 2002 – dengan tanpa satu kemenangan pun.

Kita ke tahun 1999, saat kualifikasi Euro U-21 menghadapi Italia, Wales muda bertekuk lutut dengan skor telak 6-2. Wajar jika para pengamat sepak bola saat itu mengklaim tidak ada satu pun yang layak untuk dipromosikan ke tim senior yang sedang berada di masa kelam (ditinggalkan para pemain karena cedera dan skorsing).

Momen-momen sulit yang dilalui Wales baik di tim senior dan U-21, tepatnya di tahun 2004, datanglah Flynn. Yang dituntut untuk memperkaya komposisi skuat level usia, namun tetap semangat dengan pekerjaan barunya, usai mengesankan bersama Wrexham dan Swansea. Dia langsung menghadiri rata-rata 12 pertandingan liga setiap minggunya, guna menjalin hubungan baik dengan para pelatih klub. Selain itu, juga untuk mengetahui sebanyak mungkin pemain Wales yang layak dan ketekunan ini akhirnya terbayar dengan cara luar biasa.

Kerja keras Flynn itu terbayar ketika kita melihat tiga pencetak gol di malam bersejarah sepak bola Wales, yakni saat melibat Belgia di perempatfinal Euro 2016 lalu. Tiga pencetak gol tersebut adalah Ashley Williams, Hal Robson-Kanu dan Sam Vokes. Ketiganya lahir dan dibesarkan di Inggris dengan darah Wales dari kakek-nenek mereka. Ketiganya dibawa Wales untuk pertama-tama membela tim Wales U-21 asuhan Flynn.

Momentum besar tersebut tentu bisa dibilang merupakan maha karya Flynn yang bisa kita tarik ke belakang, pada tahun 2007. Di musim panas 2007 silam, Wales U-21 asuhan Flynn mengalahkan Swedia dengan skor 4-3 dalam pertandingan persahabatan. Delapan pemain Wales U-21 dari pertandingan ini menghuni tim senior yang berangkat ke Prancis di Euro 2016, hampir satu dekade kemudian. Sembilan pemain itu adalah David Edwards, Sam Vokes, David Cotterill, Simon Church, Neil Taylor, Owain fon Williams dan dua debutan muda di lini tengah, Joe Allen (17) dan Aaron Ramsey (16).

 

Momentum Besar Sepak Bola Wales Bersama Flynn

Membahas Wales U-21 asuhan Flynn yang mengalahkan Swedia pada musim panas 2007, tiga bulan kemudian, mereka menaklukkan tim muda bertabur talenta terbaik Prancis dengan skor 4-2. Sebuah kejut listrik seperti menyengat publik Wales kala itu. Mereka menyadari ada sesuatu yang begitu besar sedang terjadi dalam sepak bola negara tetangga Inggris itu.

Namun sayangnya, meski memuncaki grup kualifikasi Euro U-21 2009, mereka harus menghadapi tetangga sendiri, Inggris yang saat itu sudah terkenal sebagai pabrik wonderkid dan punya pengalaman bermain di level tertinggi Liga Inggris di babak play-off. Seperti James Milner dan Mark Noble, yang juga mencetak gol ke gawang Wales di babak play-off. Wales U-21 lagi-lagi gagal ke turnamen final Euro U-21 2009.

Edisi berikutnya, masih di babak kualifikasi menuju Euro U-21 2011, Flynn masih optimis setelah kegagalan menembus final 2009. Mereka lagi-lagi mengesankan namun harus kembali gagal karena aturan head-to-head dari Italia, dengan sama-sama memuncaki grup mengantongi 16 poin.

Kegagalan dua edisi berturut-turut ke turnamen final Euro U-21 pada 2009 dan 2011 ternyata tidak melunturkan semangat Flynn. Karena dalam pandangannya ada tujuan yang lebih besar, tentunya membantu tim senior untuk bisa menembus turnamen final bergengsi. Seperti Toshack, dia memang pelatih yang bijaksana dan berpengalaman dengan prinsip yang penting adalah bibit yang ditabur, ketimbang bunga yang bisa dilihat secara instan.

Berbicara tentang era dirinya yang gagal melulu membawa tim U-21 menembus Euro level usia dan sudah mendapat pujian, dibantah langsung oleh Flynn.

“Pujian bahwa delapan tahun saya melatih U-21 dipuji akan berdampak besar untuk Wales hanya 15 tahun saja. Tapi itu tidak benar, jika berkata seperti itu, Anda punya mental pecundang. Delapan tahun perjalanan saya di tim U-21 akan membuat Wales senior bertahan lebih lama sebagai tim yang mampu berbicara banyak di turnamen final bergengsi. Karena yang kita ubah adalah pola piker dalam membina para talenta muda,” jelas Flynn dalam sebuah program televisi olahraga.

Benar saja, ketekunan dan kerja keras Brian Flynn terbukti berdampak besar, namun bukan hanya cukup, tapi juga membuat sepak bola Wales terus melahirkan para pemain muda berbakat nan gemilang. Fenomena ini masih terus terjadi, dan semua rasa terima kasih masyarakat Wales pantas ditujukan kepada satu tokoh, Brian Flynn.