Cara Korea Bangkit Setelah Terpuruk Dijajah Jepang

Jumat, 31 Desember 2021, 15:50 WIB
47

 

Edisi Bonanza88, Jakarta – Berakhirnya penjajahan Jepang di tanah Korea yang ditandai dengan kemerdekaan Korea pada tanggal 15 Agustus 1945 menjadi sebuah kebahagiaan sesungguhnya bagi rakyat Korea. Jepang telah mengkolonisasi banyak negara di Asia dan Korea adalah negara yang pertama kali menjadi negara koloninya Jepang.

Pendudukan Jepang di Korea Selatan berlangsung selama 35 tahun. Selama masa penjajahan tersebut, sistem birokrasi, militer, polisi dan badan-badan penting dikontrol oleh Choseon Governor General Office yang didirikan oleh Jepang. Pada zaman itu, seluruh dunia sedang mengalami keruntuhan ekonomi secara besar-besaran, Jepang pun tidak dapat menghindari keruntuhan ekonomi tersebut, maka Jepang mencari jalan pintas yaitu memperbaiki perekonomiannya dengan dibuatnya negara-negara koloni.

Jepang secara resmi menjajah Korea, namun Jepang mengalami kekalahan di PD II (1945). Kekalahan tersebut mengakibatkan semenanjung Korea dapat melepaskan diri dari kekuasaan Jepang sebab pendudukan Jepang di negara-negara koloninya tidak diakui lagi oleh kekuatan dunia termasuk AS, USSR, dll. Hal itu dapat dilihat dari Deklarasi Potsdam pada 26 Juli 1945 yang dihadiri oleh AS, USSR, Inggris, dan Cina.

Deklarasi tersebut memerintahkan Jepang untuk menyerah di perang dunia tersebut. Namun USSR memiliki ambisi yang tersembunyi yaitu menyebarkan ideologi komunisme. Negara adi kuasa ini menganggap kekacauaan di Korea ketika kekuatan Jepang melemah sebagai kesempatan yang baik untuk mencapai kepentingannya, maka Agustus pada tahun 1945, pasukan-pasukan USSR mengangkat Kim Il-Sung untuk memimpin serangan terhadap Jepang, padahal sebenarnya dibalik itu semua, serangan tersebut mengandung tujuan untuk menguasai Korea dengan ideologi komunisme.

AS menyadari ambisi tersembunyi USSR dan Kim Il-Sung, maka AS mencegahnya dengan mengadakan pertemuan yang menghasilkan parallel ke 38. dengan membagi kekuasaan sebab AS pun mengakui bahwa USSR adalah salah satu negara yang memiliki super power. Maka Parallel ke 38 ini menjadi garis demarkasi militer (Military Demarcation Line) antara kedua negara adi kuasa ini saat itu dan mengakibatkan Korea terbagi menjadi dua (Chang, 2011) yaitu Korea Selatan dan Korea Utara sampai saat ini.

Pada tanggal 15 Agustus 1948, dengan dibantu AS, berdirilah pemerintah pertama yang sah bagi seluruh rakyat Korea Selatan yang kemudian dipimpin oleh Rhee Syng-Man, presiden Korea Selatan yang pertama, pada masa pemerintahannya disusun juga undang- undang yang berisi pernyataan kebebasan, aturan-aturan serta hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat.

Salah satu kewajiban yang terkandung adalah dalam pasal 2 tentang kewajiban seluruh rakyat Korea untuk ikut membela negara. Pemerintah mewajibkan warganya menjadi pasukan pembela negara dengan tujuan meningkatkan rasa nasionalisme dan kekuatan militer guna melindungi negara dari ancaman luar karena trauma yang disebabkan oleh penjajahan Jepang dan juga pihak utara yang menjadi ancaman baru.

Undang-undang tersebut lebih dikenal orang-orang dengan sistem wajib militer atau wamil. Sistem tersebut hanya berlaku pada laki-laki yang berusia 19 tahun ke atas dan yang memiliki kesehatan jasmani dan mental untuk melaksanakan kewajiban tersebut selama 1 tahun 9 bulan lamanya.

Pecah Perang Korea

7 Fakta Historis Perang Korea 1950-1953 yang Wajib Diketahui

Pada tanggal 25 Juni 1950 pecahlah peperangan diantara saudara sendiri yang dimulai dengan serangan pertama yang dilancarkan oleh Korea Utara yang didukung oleh USSR, terutama disebabkan oleh perbedaan ideologi dan isu perbatasan. Isu perbatasan menjadi isu sensitif dan penting sebab paralel ke 38 ini tidak dianggap sebagai perbatasan antar negara.

Maka dapat terbayang betapa mudahnya terjadi konflik di pembatas wilayah tersebut. Serangan Korea Utara terhadap Korea Selatan cukup keras sehingga dalam dua hari, mereka berhasil merebut beberapa kota termasuk kota Kaeseong yaitu kota yang terletak di posisi strategis dan penting dan pada hari yang ke tiga ibu kota,

Seoul pun direbut oleh pihak Utara. Serangan tersebut terus berlanjut sampai merebut hampir semua wilayah Korea kecuali Busan yang saat itu menjadi ibu kota sementara. Dalam serangan tersebut, Korea Selatan memperoleh simpati dari PBB, dan juga anggota-anggota PBB yang tidak berkeinginan untuk membiarkan perlakuan pengacau perdamaian dunia yaitu USSR yang berambisi atas ideologinya.

Maka pasukan-pasukan PBB dan AS mendarat di tanah Korea dengan tujuan membantu Korea Selatan dan penyatuan Korea untuk mencabut ideologi komunis dari tanah Korea. Bantuan mereka berhasil merebut kembali Seoul sekaligus hampir semua wilayah Korea namun keadaan tersebut tidak berlangsung lama sebab pihak Cina yang terancam dari serangan AS dan sekutu yang terus-menerus mengarah pada utara, ikut membantu Korea Utara untuk menyerang balik pasukan PBB pada bulan November 1950, dan dalam waktu yang tidak lama, mereka berhasil kembali merebut Seoul.

Pasukan PBB kemudian mengumpulkan kekuatan untuk memukul mundur pasukan-pasukan komunis dan merebut kembali Seoul lagi dan sampai pembatas wilayah paralel ke 38. Pihak PBB tidak ingin skala perang menjadi lebih luas lagi, maka mengadakan perundingan untuk mencari titik penyelesaian perang.

Demikian konflik senjata dan perundingan yang terjadi berulang kali, akhirnya di perundingan dari Panmunjeom pada tanggal 27 Juli 1953 menghasilkan status pemberhentian perang untuk sementara di antara Korea Selatan dan Korea Utara dan antara pihak Sekutu dan AS dengan USSR dan Cina.

Perang yang berlangsung selama 3 tahun ini mengakibatkan korban jiwa sebanyak 180.000 orang dari Korea Selatan termasuk pasukan-pasukan dari PBB dan kehancuran yang meliputi semua aspek seperti politik, ekonomi, keamanan, infrastruktur, bahkan harapan untuk hidup.8 Perang tersebut membawa instabilitas yang sangat luar biasa, income per capita Korea mengalami penurunan, pada tahun 1950 income per capita Korea sebesar USD 876.00 kemudian turun menjadi USD 804.00.

Pertumbuhan ekonomi saat itu relatif lambat, perbaikan infrastruktur negaranyapun bisa dilakukan dengan bantuan PBB. Saat itu, Korea Selatan belum bisa mandiri, diakibatkan kondisi politik yang labil sehingga di Korea Selatan sering kali terjadi kudeta dan pergantian kekuasaan. Sedangkan, di Korea Utara saat itu mendapatkan bantuan finansial dari USSR dan Cina serta bantuan tenaga ahli dari negara- negara komunis di Eropa Timur sehingga Korea Utara mengalami pertumbuhan yang pesat hingga akhir 60-an.

Korea Selatan Bangkit

Mengenang Sejarah Korea saat Dijajah Jepang Zaman Dulu : Okezone Travel

Akhirnya, setelah melewati titik terendah yang gelap gulita, Korea Selatanpun bangkit. Trasformasi dan pertumbuhan ekonomi yang Korea Selatan alami dalam beberapa dekade setelah tahun 1953 merupakan yang terajaib dan tercepat di dunia, sampai-sampai disebutnya ‘Mircale of Han River’.

Permulaan transformasi yang energetik di Korea Selatan yang lebih spesifik dapat dilihat dari munculnya Jenderal Park Chung-hee sebagai presiden di Korsel pada tahun 1962. Presiden Park menjabatnya melalui kudeta, Ia menganggap pemerintah yang dikuasai oleh partai liberal yang sebelumnya adalah pemerintah yang gagal, dan yang membawa kondisi anarki. Setelah Park menjabat, atas nama sistem ‘Yushin’ (Restricted System), ia menaruh semua aspek seperti politik, ekonomi dan sosial di dalam komando militernya.

Sebagai mantan tentara, presiden Park sangat bersemangat untuk membentuk stabilitas negara, meningkatkan kekuatan militer dan ekonomi. Ia yakin bahwa untuk menciptakan stabilitas negara, harus membatasi kebebasan sipil dan kebebasan pers, hal itu bukan berarti ia menyukai sistem komunis, malah membencinya.

Dengan demikian, sistem demokrasi ala presiden Park ini mendorong menstabilkan dan mengembangkan situasi dan kondisi negara. Setelah menciptakan kestabilan dalam negara, Park menaruh semua konsentrasi dalam bidang ekonomi. Upayanya terlihat dalam badan- badan dan program-program yang ia jalankan, ia mendirikan Economic Planning Board (badan perencanaan ekonomi) dan merancang rencana pembangunan lima tahun, dan membuat kebijakan Export-Oriented Industrialization (industrialisasi berorientasi ekspor), Heavy Chemical Industry (industri kimia) serta mengadakan ‘Gerakan Saemaeul’10(Nahm, 1993: 196).

Dalam kebijakan-kebijakannya, yang paling menonjol dan utama adalah target untuk meletakkan Korea Selatan sebagai negara yang kuat di bidang industri yang dapat dibaca dari kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. Asal mula industrialisasi di Korea Selatan sebenarnya dimulai pada masa penjajahan Jepang.

Walaupun dalam tujuan menopang ekonomi mereka, Jepang mewariskan sarana-sarana infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, listrik, saluran irigasi, tenaga terdidik dalam industri dan manajemen, dan menyediakan fondasi industri dalam skala kecil dan terbatas, yaitu pada masa pemerintahan Rhee Syng-Man, Amerika Serikat memelihara situasi dan kondisi Korea Selatan.

Jepang didorong oleh AS untuk menjual pabrik-pabrik dan properti lainnya dengan harga yang relatif rendah kepada pengusaha-pengusaha Korea Selatan dan dengan rasa simpati memberi bantuan dana serta mengimpor barang-barang manufaktur yang dihasilkan dari industri tradisional Korsel.

Gerakan Saemaeul dimulai pada April 1970 dengan slogan ‘rajin, swadaya, dan kerja sama’. Presiden Park meyakini bahwa ketika masyarakat pedesaan memiliki jiwa yang tegas untuk kerja keras, kerja sama dan melindungi regional masing-masing, pasti dapat meningkatkan kualitas hidup baik di desa maupun negara.

15 Hal yang Seharusnya Nggak Kamu Lakukan Saat Nonton Konser Kpop | iniKpop

Gerakan Saemaeul berlaku juga pada perkotaan. Saemaeul versi perkotaan lebih difokuskan pada pabrik. Sebab saat itu, banyak masyarakat yang bekerja di pabrik.

Pemerintah memberikan slogan kpeada masyarakat perkotaan yaitu ‘karyawaan adalah keluarga dan urusan pabarik adalah urusanku’. hal tersebut menjadi pupuk yang baik bagi indutrialisasi di Korsel. Lewat bantuan AS ditambah dengan berbagai bisnis yang dilakukan, beberapa pengusaha-pengusaha Korea saat itu menjadi Chaebol 11 yang menjalankan perusahaan besar termasuk Samsung, LG, Hyundai, Daewoo, Hyosung, dll yang saat ini memiliki teknologi yang sangat canggih dan mendunia dan menaikkan Korea Selatan sebagai negara industri yang besar lewat kerja sama yang dilakukan dengan pemerintah presiden Park.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden Park menjadi starting point dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan. Hal ini terbukti lewat GDP (Gross Domestic Product) terus meningkat.

Pada tahun 2015, Korea Selatan menempati posisi ke 29 di dunia dengan total USD 27.221 per kapita. Selain GDP, HDI atau Human Develop Index juga meningkat.12 Menurut data dari UNDP (United Nation Development Programme), Korea Selatan berhasil menduduki peringkat ke 17 di dunia dengan total HDI 0.898, tiga tingkat di atas Jepang yang berada pada peringkat ke 20. Hal ini tentu saja menunjukkan perubahan dan pertumbuhan ekonomi yang sangat berkembang. Graph di bawah ini menunjukkan peningkatan GDP per kapita di Korea Selatan dari tahun 1960 hingga 2015.

BERITA TERKAIT