Cara Licik Jepang Menjajah Indonesia Lewat Film

Minggu, 24 Oktober 2021, 04:21 WIB
51

Kedatangan orang-orang Jepang ke Hindia Belanda sebenarnya sudah berlangsung sebelum depresi ekonomi tahun 1929. Pada abad ke-17 di Batavia sudah terdapat 30 orang Jepang yang terlibat dalam perniagaan bahari. Kelompok ini semakin menjadi khusus dengan adanya kebijakan politik pintu tertutup Jepang dari hubungan luar negerinya yang dilakukan oleh Shogun Tokugawa pada tahun 1632 yang berakibat bahwa komunitas Jepang tersebut tidak lagi mempunyai kaitan dengan tanah airnya. Selain itu, tidak banyak yang diketahui tentang komunitas Jepang di Batavia dan Jawa pada abad ke-18 sampai paruh kedua abad ke-19.

Emigran Jepang ke Hindia Belanda sendiri mulai kembali marak pada awal Restorasi Meiji sampai akhir tahun 1930-an. Perubahan yang dialami Jepang setelah Restorasi Meiji yang didasarkan oleh kebijakan nasional yang kuat dengan bertumpu pada slogan Fukoku Kyohei (Negara Kaya,militer kuat) yang untuk mewujudkan cita-cita itu diperlukan adanya tatanan politik, sosial, ekonomi, dan industri yang mendukung kebijakan tersebut. Jepang menginginkan agar mereka sejajar dan dapat diterima sebagai Negara modern, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa Barat yang sudah maju.

Power of Thor Megaways

Salah satu dampak dari Restorasi Meiji ini adalah terjadinya kemiskinan keluarga petani Jepang. Hal ini disebabkan industrialisasi merupakan kebijakan utama Jepang pada masa itu. Untuk mempertahankan hidup mereka, banyak di antara anak laki-laki Jepang dari keluarga petani tersebut mencari daerah baru guna memperbaiki kehidupan perekonomian keluarganya. Dalam tradisi budaya Jepang, anak laki-laki mempunyai tanggung jawab terhadap keluarganya. Tanggung jawab ini sudah dipikul anak laki-laki Jepang sejak usia sangat muda yang bukan merupakan pewaris keluarga.

Selain sulitnya perekonomian Jepang, motivasi imigran Jepang ke Hindia Belanda juga didasari oleh berita keberhasilan orang-orang Jepang yang berniaga di Jawa yang dimuat dalam majalah Shin Sheinen (Pemuda Baru) dan lagu-lagu seperti “Bandit Berkuda” dan “Perantau” yang sangat menarik perhatian dan simpati terutama pemuda Jepang yang belum dapat menikmati hasil modernisasi di Jepang.

Emigran Jepang di Hindia Belanda pada awalnya adalah Kimin, yaitu orang-orang yang ditelantarkan oleh Negara yang diselundupkan ke luart Jepang tanpa paspor untuk mencari pekerjaan di luar negerinya dan sering ditipu atau diculik, yang akhirnya membawa mereka ke Asia Tenggara.

Imigran Jepang ke Hindia Belanda meningkat pada awal abad ke-20. gelombang kedatangan orang-orang Jepang terbagi dalam dua fase yaitu, awalnya tahun pemerintahan Meiji (tahun 1880-an) sampai akhir tahun 1910-an porstitusi merupakan mayoritas kegiatan orang Jepang terutama di Jawa. Lalu, Awal tahun 1910-an sampai akhir tahun 1930-an. Pemilik toko bebas dan pegawai merupakan mayoritas kegiatan orang Jepang pertama di Jawa.

Jumlah imigran Jepang ke Hindia Belanda setelah Perang Dunia I juga menarik perhatian Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Dapat diperoleh gambaran menarik mengenai kepentingan Jepang di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun 1924 dari laporan konsul Amerika di Surabaya, Rollin R. Winslow, yang dikirim ke Washington D. C. Menurut laporan ini, populasi Jepang sebanyak 627 orang di Surabaya, 135 orang di Keresidenan Pasuruan, dan 23 orang di Malang. Ini merupakan perkembangan terakhir karena sudah terdapat arus masuk orang Jepang ke Hindia selama tahun perang. Mereka membuka toko-toko kecil dan tinggal di sana, dan pada tahun 1920-an tampak peningkatan perhatian pada karet dan perkebunan tebu.

Chronicles of Olympus X Up

Organisasi Semi Militer Jepang Pra Kemerdekaan Ada 5 Organisasi.co.id

Menurut perkiraan sampai tahun 1939 jumlah emigran Jepang di Hindia Belanda berjumlah kira-kira 6.600 orang, sementara 4.000 orang Jepang bermukim di Jawa. Dari yang bermukim di Jawa ini, konsentrasi terbesar ada di Surabaya yaitu berjumlah 1.371 orang. Namun jika melihat pada ketimpangan dibidang perdagangan ekspor impor kekuatan ekonomi Jepang di Hindia Belanda mulai memiliki dominasi di dalam perekonomian Hindia Belanda.

Dibukanya konsulat Jepang di Batavia dan di Surabaya tahun 191941 merupakan institusi perwakilan resmi pemerintah Jepang di Hindia Belanda terutama di Jawa. Tugas pertamanya adalah pendataan terhadap orang-orang Jepang yang berada di daerah konsulatnya.

Perhimpunan orang Jepang (Nihonjinkai) didirikan di Batavia tahun 1913 dan Surabaya tahun 1921. Tujuan perhimpunan ini adalah untuk menggalang “saling persahabatan dan informasi” diantara penduduk Jepang. Pimpinannya biasanya adalah orang-orang terkemuka Jepang diwilayahnya dan biasanya pendatang perintis.

Dengan didirikannya perhimpunan orang Jepang paling tidak orang-orang Jepang yang dating ke Hindia Belanda terutama di Jawa mulai ada ikatan dengan Negara induk mereka. Hal ini dapat dipahami bahwa kehadiran mereka di sini seperti dijelaskan sebelumnya adalah orang-orang yang tidak terkordinasi oleh Negara dan pada umumnya mencari nafkah untuk memperbaiki perekonomian mereka.

Perhatian yang diberikan oleh pemerintah Jepang terhadap masyarakatnya di luar negeri dirasakan sangat membantu kegiatan orang Jepang di Jawa. Sebagai contoh ketika konsulat dan Nihonjinkai belum terbentuk banyak di antara pedagang Jepang melindungi kegiatan dagang mereka sendiri padahal ketika itu (pada awal abad ke-20 trutama sebelum tahun 1912) status social Jepang sudah disamakan dengan orang Jepang.

Saat Jepang Berkuasa dan Mencari Simpati

Big Sale!!) Film-Film Propaganda Jepang Di Indonesia: 1942-1945 | Shopee  Indonesia

Pada masa awal pendudukan Jepang, tidak begitu sukar untuk mendapat simpati rakyat Indonesia, karena propaganda Jepang sudah dimulai sebelum tahun 1942, yaitu dengan kedatangan propagandisnya seperti Ishika Shingo pada tahun 1938. Jepang datang ke Indonesia dengan usaha untuk menarik simpati orang Indonesia. Seperti diundangnya para tokoh pergerakan, baik pergerakan nasional maupun pergerakan Islam ke Jepang, untuk melihat-lihat keberhasilan yang telah dicapai oleh Jepang.

Runtuhnya kekuasaan penjajahan Belanda dalam waktu singkat menimbulkan kekaguman bangsa Indonesia terhadap keperkasaan Jepang. Kejadian ini juga menimbulkan harapan mereka bahwa tidak lama lagi “Indonesia Merdeka” akan menjadi suatu kenyataan. Pemerintah Jepang melalui siaran-siaran radio dari Tokyo, menyatakan bahwa tujuan dari Perang Asia Timur Raya dan pembentukan Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya ialah membina suatu keluarga besar yang terdiri dari Negara-negara merdeka, yaitu Jepang dan Negara-negara seluruh Asia termasuk jajahan Barat, dan Indonesia jelas telah dijanjikan diberi kemerdekaan setelah dibebaskan dari belenggu penjajahan Belanda.

Tujuan Jepang menduduki Jawa adalah memperoleh sumber-sumber ekonomi dan manusia. Untuk mencapai tujuannya, Jepang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung. Kebijakan politik tersebut berdampak pada kebijakan secara ekonomi, karena sasaran utama eksploitasi di Jawa adalah hasil pertanian serta tenaga kerja. Dimana kebijakan tersebut adalah kebijakan yang memeras rakyat. Sehingga rakyat Indonesia mengalami kesulitan hidup, seperti timbulnya kelangkaan beras yang hamper merata di seluruh Jawa.

Dalam menjalankan kebijakan pemerintah, penguasa militer memegang pada tiga prinsif utama, yaitu (1) mengusahakan agar mendapatkan dukungan rakyat untuk memenangkan perang dan mempertahankan ketertiban umum, (2) memanfaatkan sebanyak mungkin struktur pemerintahan telah ada, dan (3) meletakan dasar agar wilayah yang bersangkutan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri untuk menjadikannya pusat persediaan makanan.

Propaganda Jepang dilakukan seiring dengan penaklukan terhadap negeri- negeri yang didudukinya. Keinginan yang besar dalam penaklukan ini bukannlah suatu hal yang baru didalam sejarah Jepang. Anggapan sebagai “bangsa terpilih” menguatkan kepercayaan bangsa ini akan tugas suci Jepang untuk menaklukan dan menguasai negeri lain.

Dengan bantuan para propagandisnya yang bersama- sama datang dengan tentara Jepang, mereka terus giat dengan berbagai semboyan yang muluk-muluk. Propaganda mereka di Indonesia antara lain berbunyi “Nippon-Indonesia sama-sama” dan Asia untuk orang Asia”.

Kesaksian Tjamboek Berdoeri: Dari Muslihat Propaganda Jepang Sampai 'Salam  Djempol' di Jawa - Semua Halaman - National Geographic

Dalam persiapan pelaksanaan Perang Asia Timur Raya, Jepang sebagai negara totaliter menyadari sekali kegunaan propaganda, sehingga sewaktu akan mendarat di bumi Indonesia, mereka telah dilengkapi oleh satu barisan khusus, Barisan Propaganda. Tugas Barisan Propaganda ini adalah mengajak rakyat setempat untuk bersama-sama dengan pasukan Jepang mengadakan perlawanan terhadap pasukan Sekutu.

Pada awal kedatangan Jepang ke Indonesia, propaganda terus dilakukan, dan untuk melaksanakan skema propaganda ini ke dalam operasi, digunakan berbagai media seperti surat kabar, pamphlet, buku, poster, siaran radio, pameran, pidato, drama, seni pertunjukan tradisional, pertunjukan gambar kertas (kamishibai), musik, dan film.

Sebelum kedatangannya ke Indonesia, Radio Angkatan Laut Jepang, selalu memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dimainkan oleh Tokyo Philharmonic Orchestra dalam setiap pembuka acara pada siaran bahasa Indonesia yang mereka lakukan.

Hal-hal tersebut di atas menimbulkan citra lain terhadap bangsa Jepang, disamping sikap-sikap ramah dan bersahabat orang Jepang yang mencari nafkah di Hindia Belanda pada masa sebelum perang, sehingga sewaktu mereka akhirnya mendarat rakyat menyambutnya dengan sangat meriah. Hal itu semua adalah hasil karya propaganda yang pernah dilakukan

Pada bulan Agustus 1942 Pemerintah Militer jepang membentuk sebuah departemen Propaganda (Sendenbu) dengan tujuan untuk mencari dukungan rakyat Indonesia agar mereka ikut bekerja sama berperang melawan Sekutu. Departemen ini terdiri dari Seksi Administrasi, Seksi Berita, Pers, dan seksi Propaganda.

Kebijaksanaan berikutnya adalah membentuk sebuah organisasi resmi pemerintah pada tanggal 8 Januari 1944 yang bernama Djawa Hokokai (kebaktian Rakyat Djawa) yang bertujuan, (1). Mempelopori pengerahan kekuatan perang, baik yang berupa benda maupun yang berupa tenaga manusia; (2). Memimpin rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga berdasarkan semangat persaudaraan; dan (3).

Memelihara semangat berdiri sendiri dan membela tanah air. Berbeda dengan Poetra kepemimpinan dalam Djawa Hokokai di pegang oleh orang-orang Jepang. Sedangkan Soekarno dan K.H. Hasjim Ashari dijadikan penasehat utamanya dan pengelolahannya diserahkan kepada M. Hatta dan K.H. Mas Mansjur.

Dalam bidang media massa, pemerintah menerbitkan surat kabar Djawa Shinbu yang berbahasa Jepang di bawah pimpinan Bunshiro Suzuki. Beberapa surat kabar yang pernah terbit sebelumnya dilarang beredar. Langkah ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga stabilitas dan menghapus pengaruh Barat yang terdapat pada surat kabar sebelumnya.

Kemudian kebijaksanaan pemerintah pendudukan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap masyrakat untuk memasuki masa perang kemerdekaan dan revolusi adalah dibentuknya organisasi Pembela Tanah Air (Peta). Organisasi ini dibentuk berdasarkan atas sebuah peraturan Osamu Seirei No. 44, 3 Oktober 1943. Permohonan pembentukan Peta dilakukan oleh Gatot mangkoepradja.

Dalam sistem pemerintahan Jepang di Indonesia, propaganda merupakan bagian penting dan integral. Suatu indikasi bahwa propaganda tidak terpisahkan dari system pemerintahan Jepang di Indonesia adalah dibentuknya departemen propaganda (Sendenbu) dibawah pemerintahan militer Jepang. Untuk menguasai Jawa, Jepang berpegang pada dua prinsip utama yaitu: bagaimana menarik hati rakyat (minshin ha’aku) dan bagaimana mengindroktinasi dan menjinakkan mereka (senbu kosaku).

Prinsip ini perlu dilaksanakan untuk memobilisasi seluruh rakyat guna mendukung kepentingan perang dan untuk merubah mentalitas mereka secara keseluruhan. Berdasarkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia harus dibawa kepada pola tingkah laku dan berfikir Jepang, propaganda ditujukan untuk mengindoktrinasi bangsa ini agar dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya dalam Lingkunagn Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Alat Propaganda Jepang

Tebuireng di Masa Penjajahan Jepang - Tebuireng Initiatives

Selain lagu/nyanyian, dapat dikemukakan radio sebagai “media suara”. Sejak kedatangan di Jawa, kekurangan peralatan menyusahkan Sendenhan. Sebenarnya ada sebuah mobil khusus serbaguna yang dinamai Sego Sha yang dilengkapi peralatan percetakan, proyeksi, penyiaran, dan radio.

Mobil ini terpaksa ditinggalkan di pelabuhan Takao di Taiwan saat keberangkatan karena tidak termuat dalam kapal Sakuramaru. Yang paling dirugikan oleh tidak adanya mobil ini adalah Bagian Komunikasi Sendenhan. Maka, setelah memasuki Batavia, Kepala Bagian Komunikasi Sendenhan Masato Suemitsu berniat mengambil alih kantor berita Belanda, Aneta.

Pertama-tama, Suemitsu berserta seorang interpreter mencari para anggota Aneta (orang Belanda) yang melarikan diri ke suatu tempat dengan membawa perlatannya setelah Jepang memasuki Bandung.

Akhirnya, Sendenhan berhasil mengambil alih kantor berita tersebut dan mulai menerima berita dari kantor berita Domei dari Jepang. Kemudian, mereka juga menjadikan kantor berita Antara sebagai bagian bahasa Indonesia kantor berita Domei. Kantor cabang Domei dibuka di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Setiap cabang menerbitkan berita berbahas Jepang maupun Indonesia dan menyuplai berita-berita dari setiap propinsi lewat radio.

Jaringan transmisi serta penyiaran di Jawa cukup dibenahi terutama oleh NIROM (Nederlans Indische Radio Omoep Maatschapij: Persatuan Penyiaran Hindia Belanda). Meskipun demikian, persentasi penyebaran alat penerimanya cukup rendah.

Jumlah radio di Hindia Belanda berjumlah sekitar 90.000 buah. Itu pun sebagian besar pemiliknya adalah orang Belanda dan keturunan Tionghoa; 90 persen dari pribumi tidak mempunyai radio. Selain siaran dalam negeri, Jepang juga mengadakan siaran luar negeri dalam pelbagai bahasa yang ditujukan kepada negara-negara musuh.

Film merupakan salah satu media propaganda penting pada masa perang. Sebelum Perang Dunia Kedua, media ini tidak pernah digunakan sebagai alat indoktrinasi pilitik di Indonesia. Jepang merupakan satu-satunya negara yang memanfaatkan media film sebagai alat propaganda di dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan pemutaran film di Jawa masa pendudukan merupakan tiruan yang digunakan di Jepang masa perang melawan Cina tahun 1930-an.

Nokolai Lenin pernah mengumumkan bahwa film adalah senjata politik utama, sedangkan Kepala Kantor Besar Keimin Sochi Oya dalam tulisannya pada tahun 1944, pernah berpendapat, “Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kesusastraan merupakan raja alat propaganda, dalam arti paling berinfiltrasi. Khususnya, kesusastraan paling kuat dari segi idologis.” Film memiliki mobilisasi yang jauh lebih tinggi dari pada sandiwara. Mobilisai sastra melibihi mobilisasi film tersebut.

Sastra lebih portable dan dapat diperbanyak dengan biaya yang jauh lebih murah daripada film atau sandiwara. Berarti, pada saat yang sama, sastra dapat memproleh pembaca yang lebih banyak secara serentak daripada jumlah penonton yang didapatkan jika film atau sandiwara dimainkan. Mungkin tingginya mobilisai sastra ini juga membuat Oya berpendapat seperti dia atas.

Ciri utama propaganda Jepang adalah penggunaan media audiovisual secara positif. Hal ini tidak lain karena mengingat tingginya tingkat buta huruf di Indonesia dan sedikitnya pemukim kota yang terdidik yang mungkin dapat diperdaya dengan media tulis. Dengan demikina, cara yang paling sering digunakan adalah mengirim kelompok-kelompok propagandis yang terdiri dari proyeksi film, aktor, operator kamishibai, dan musisi yang berpindah dari satu desa ke desa lain sambil mengadakan pertunjukan.

Pada bulan Juli 1938 Kementerian Dalam Negeri Pemerintahan Jepang dalam rapat dengan wakil-wakil penulis scenario mengeluarkan perintah mengenai indoktrinasi termuat dalam isi film yang dikehendaki. Kemudian, pada 1 Oktober 1939 pemerintah itu mengeluarkan “Undang- Undang Film (Eiga Ho)” guna menghambakan film kepada Negara.213 Pada tahun 1940, diberikan petunjuk tambahan oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai berikut.

Sejak awal pendudukan memang kontrol sepenuhnya atas dunia perfilman merupakan salah satu tugas yang mendesak bagi pemerintah militer. Segera setelah Angkatan Darat ke-16 menduduki Jawa, staf Barisan Propaganda, yang menyertai operasi militer, menyita seluruh perusahaan film. Pada awal bulan Oktober 1942, sebuah organisasi sementara untuk menjalankan ini disebut Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film Jawa) yang dikepalai oleh Oya Soichi, seorang kritikus Jepang terkemuka yang berkerja sebagai staf Sendenbu.