Cara Unik Suku Baduy Merawat Alam

Rabu, 29 September 2021, 15:44 WIB
24

Belum lama ini, ramai diperbincangkan mengenai pakaian adat Suku Baduy yang mendadak mencuri perhatian usai dipakai Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Presiden Joko Widodo memakai baju adat Suku Badui di sidang tahunan MPR/DPR dan Pidato Kenegaraan Presiden dalam rangka HUT RI ke-76 di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/8) lalu.

Gates Of Olympus

Khusus untuk Jokowi, pakaian yang dibuat oleh perajin lokal ini disiapkan langsung oleh Jaro Saija, Tetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Banten

Jaro mengungkapkan bahwa pakaian tersebut memiliki makna persatuan dan kesatuan, melalui lomar atau ikat kepala yang digunakan Presiden Jokowi.

“Harapan kami, mudah-mudahan semuanya terikat, tenteram, sejahtera, subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Ikat itu lambang supaya terikat seluruh bangsa dan negara dalam aturan undang-undang,” kata Jaro.

KSP: Pakai Baju Adat, Cara Jokowi Hentikan Stigma Negatif Suku Baduy

Hal tersebut sontak membuat warganet beraksi dimedia sosial melihat pakaian adat Suku Baduy dikenakan oleh orang nomor satu di Indonesia.

Rise of Olympus

Tak ketinggalan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno pun sempat mengatakan bahwa usai dipakai Presiden Jokowi, pakaian adat Suku Baduy laris di pasaran.

Orang Baduy dan Alam

Mengenal Sejarah Suku Baduy, Tempat Tinggal hingga Tradisi - Tribunnews.com  Mobile

Kawasan hutan keramat pada masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Banten Selatan, meru- pakan daerah yang paling disakralkan dan dilindungi oleh orang Baduy. Hal tersebut tidak lepas dari sistem kepercayaan animis- me yang dianut oleh masyarakat Baduy yaitu Sunda Wiwitan.

Inti dari kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak yang disebut juga piku- kuh (peraturan adat) dengan konsep tidak adanya perubahan sedikit pun atau tanpa perubahan apapun yang berbunyi lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungan, yang berarti panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung. Makna pikukuh itu antar lain tidak mengubah sesuatu, atau dapat juga berarti menerima apa yang sudah ada.

Masyarakat Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang sampai sekarang masih mempertahankan nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya, ditengah- tengah kemajuan peradaban di sekitarnya.

Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leu- widamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (dpl) tersebut mempunyai topografi ber- bukit dan bergelombang dengan kemiring-

Dan rata-rata mencapai 45%, yang merupa- kan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah cam- puran (di bagian selatan), suhu udara rata- rata 20°C. Masyarakat Baduy memiliki ta- nah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar, mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik, serta taat pada tradisi dan hukum adat.

Adat, budaya, dan tradisi masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Baduy. Ada tiga hal utama yang mewarnai keseha- rian mereka, yaitu sikap hidup sederhana, bersahabat dengan alam yang alami, dan spirit kemandirian. Sederhana dan kese- derhanaan merupakan titik pesona yang lekat pada masyarakat Baduy.

Rahasianya Suku Baduy Nol Persen Covid-19

Hingga saat ini masyarakat Baduy masih berusaha tetap bertahan pada kesederhanaannya di tengah kuatnya arus modernisasi di segala segi. Bagi mereka kesederhanaan bukanlah kekurangan atau ketidakmampuan, akan tetapi menjadi bagian dari arti kebahagiaan hidup sesungghuhnya.

Di tengah kehidupan modern yang serba nyaman dengan listrik, kendaraan bermo- tor, hiburan televisi serta tempat-tempat hiburan lain yang mewah, masyarakat Baduy masih setia dengan kesederhanaan, hidup menggunakan penerangan lilin atau lampu minyak (lampu teplok). Tidak ada sentuhan modernisasi di sana, segala sesuatunya sederhana dan dihasilkan oleh mereka sendiri, seperti makan, pakaian, alat-alat pertanian, dan sebagainya.

Meskipun anti modernisasi, mereka tetap menghormati kehidupan modern yang ada di sekitarnya. Kesederha- naan dan toleransi terhadap lingkungan di sekitarnya adalah ajaran utama masyarakat Baduy.

Dari kedua unsur tersebut, dengan sendirinya akan muncul rasa gotong royong dalam kehidupan mereka. Tidak ada ke- terpaksaan untuk mengikuti dan menjaga tradisi kehidupan yang damai oleh mereka. Tidak ada rasa iri satu dengan lainnya karena semuanya dilakukan secara ber- sama-sama. Kepentingan sosial selalu dikedepankan sehingga jarang dijumpai kepemilikan individu, tetapi menjunjung tinggi asas demokrasi. Tidak ada kesenjang- an sosial maupun ekonomi antara individu pada Masyarakat Baduy.

Segala hal yang alami, berhubungan de- ngan alam adalah sahabat masyarakat Baduy. Hal itu terlihat dari lokasi di mana mereka tinggal.

Lingkungan tempat tinggal mereka tidak dijangkau oleh transportasi modern, dan terpencil di tengah-tengah bentang alam pegunungan, perbukitan rimbun, serta hu tan, lengkap dengan sungai dan anak sungai, juga hamparan kebun, ladang (huma).

Sebutan ‘Baduy’ sendiri diambil dari sebutan penduduk luar yang berawal dari peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan arti dari masyarakat nomaden.

Jangan Sembarangan Foto di Baduy dan Aturan Adat Lainnya Halaman all -  Kompas.com

Di samping itu sebutan Baduy pun diperkirakan diambil dari nama gunung dan sungai Baduy yang terdapat di wilayah utara. Tapi suku yang masih memegang teguh adat Sunda ini lebih sering disebut sebagai masyarakat Kanekes karena nama desa tempat tinggal mereka yang bernama Kanekes.

Masyarakat Baduy Bertahan dengan Alam

Spirit bertahan hidup dengan kekuatan sendiri diwujudkan dalam gairah dan etos kerja yang tinggi. Berbagai aktivitas kerja khas petani gunung, dari yang ringan hingga yang berat dilakukan dengan ekspresi rela dan gembira.

Di Baduy selalu ada pekerjaan, bagi siapapun, laki-laki, perempuan, tua, muda, remaja, dan anak-anak. Mulai umur sepuluh tahun, anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan wajib belajar dan ber- latih mengerjakan apa saja, membantu dan mencontoh orangtuanya. Bekerja, belajar, dan bermain dilakukan secara bersama- sama. Tempatnya bisa dimana saja; rumah, saung, ladang, atau kebun.

Wow! Setahun Pandemi, Masyarakat Suku Baduy Nol Kasus Covid

Masyarakat Baduy secara umum telah memiliki konsep dan mempraktikkan pencagaran alam (nature conservation). Misalnya mereka sangat memperhatikan keselamatan hutan. Hal ini mereka lakukan karena mereka sangat menyadari bahwa dengan menjaga hutan maka akan menjaga keter- lanjutan ladangnya juga. Lahan hutan yang berada di luar wilayah permukiman, biasa mereka buka setiap tahun secara bergilir untuk dijadikan lahan pertanian.

Interaksi antara manusia dan lingkungannya tidak selalu berdampak positif, adakalanya menimbulkan dampak negatif, yakni menimbulkan bencana, malapetaka, dan kerugian-kerugian lainnya. Pada kondisi seperti itu, kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dapat meminimalkan dampak negatif yang ada.

Demikian pula pada masyarakat Baduy, dengan mengikuti, melaksana- kan, dan meyakini pikukuh dari leluhur yang dilakukan secara turun temurun, secara sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, memiliki peranan yang besar ter- hadap pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, berbagai kearifan budaya, pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan pada masyarakat Baduy menarik untuk dikaji.

Pelestarian lingkungan Baduy yang ter- diri atas lingkungan alam dan sistem sosial budaya tergantung dari beberapa faktor. Faktor tersebut bersifat eksternal (berasal dari luar komunitas) dan internal (berasal dari dalam komunitas). Gangguan yang merupakan faktor eksternal antara lain adalah ancaman terhadap kelestarian hutan dan pelanggaran atas hak ulayat Baduy.

Luas hutan alam yang merupakan leuweng kolot (hutan larangan) terus berkurang. Ancaman tersebut dilakukan oleh penduduk di luar Baduy, antara lain melakukan penebangan hutan, penyerobotan tanah, dan pengam- bilan ikan di sungai dengan menggunakan racun. Sementara itu, gangguan faktor inter- nal terhadap pelestarian lingkungan Baduy, antara lain adalah pertumbuhan penduduk Baduy yang relatif pesat. Pertambahan pen- duduk Baduy adalah sekitar 3,7% per tahun.

Upacara Seba Orang Baduy

Tradisi “Seba Baduy” dan Hukum Adat Leluhur Banten

Makna Seba sebenarnya jero (dalam), nguatkeun duduluran, ngentelkeun barayaan. Dan kadedeuh berarti diterima/disambut/disaksikan secara umum, memperkuat silaturahmi, mengutarakan kebutuhan dan kondisi yang berbeda dari tahun ke tahun.

Bagi masyarakat Baduy kegiatan ini bukan tanpa tujuan, mereka ikhlas melaksanakan ritual tahunan ini sejak masa pemerintah kesultanan hingga sekarang. Berdasarkan penuturan Bapak Mursyid, sebelum melakukan ritual seba ini, masyarakat Baduy menjalani puasa selama 3 bulan, disebut kawalu, kemudian dilanjut ngalaksa.

Untuk selanjutnya puncak ritual Seba akan bertempat di eks Pendopo Gubernur Banten, dihadiri Gubernur Banten dan jajarannya menyambut kehadiran masyarakat Baduy, Puun (Ketua Adat), Jaro Pamarentah, dan para Jaro lainnya.

Isi ritualnya berupa penyerahan hasil pertanian sebagai wujud syukur atas panen yang telah ada dan bentuk silaturahim kepada pamarentah provinsi Banten. Pada ritual ini, masyarakat Baduy membawa hasil panen dan olahan terbaiknya, seperti beras, madu, gula aren, pisang, talas, laksa. Laksa merupakan panganan olahan khas yang menjadi kesukaan masyarakat Baduy dan terkenal enak, jadi mereka senang bisa berbagi hal yang mereka suka juga. Ini bentuk pemberian tulus dari masyarakat Baduy.

Penyampaikan amanat Puun tentang kondisi di wilayah Baduy dan keinginan masyarakat Baduy mencantumkan Sunda Wiwitan pada kolam agama di KTP, pihak pemerintah mendengarkan dan merespon permasalahan demi terciptanya Baduy yang aman tanpa melampaui tatanan adat yang ada.

Tradisi “Seba Baduy” dan Hukum Adat Leluhur Banten

Setelah acara pokok ritual Seba selesai, mulailah hiburan Wayang Golek dengan Dalang Ki Mursidin Ajen dari Padepokan Ucu Ponah Parwa Pujangga Tangerang. Masyarakat Baduy dan masyarakat biasa membaur untuk menyaksikan hiburan Wayang Golek sebelum esok harinya kembali ke Baduy.

Tentunya warisan budaya dan keberadaan kampung adat Baduy menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Sebagai generasi muda Banten wajib meneladani pembelajaran melestarikan alam dan terkesan pada filosofi hidup masyarakat Baduy yang menjalani kehidupan tidak hanya sekedar modernisasi dan mengeruk perut bumi, jangan tanyakan apakah mereka membaca buku mengenai teologi alam, masyarakat Baduy mampu hidup selaras bersama alam, memaknai arti hidup dan kehidupan secara seimbang.

 

BERITA TERKAIT