Carles Puyol, Bek Legendaris Langka yang Pernah Dimiliki Barcelona

Jumat, 31 Desember 2021, 20:05 WIB
56

Barcelona saat ini sedang dalam salah satu fase tersulit mereka sebagai sebuah klub. Banyak masalah yang hinggap di klub mulai dari finansial yang membuat mereka terbelit triliunan hutang. Sampai kepergian Lionel Messi ke Paris Saint-Germain, gara-gara Blaugrana tidak memiliki cash yang cukup untuk menggaji sang super bintang. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya enam tahun ke belakang ini, mereka terbiasa tersingkir begitu cepat di kompetisi paling elit Eropa, Liga Champions. Dari enam tahun terakhir, klub asal Catalan itu hanya mampu menembus babak semifinal sekali saja, sebuah rekor memalukan untuk klub sebesar mereka.

Itu terjadi pada babak semifinal Liga Champions 2018/2019, di mana terdapat kekalahan begitu menyakitkan dari wakil Inggris, Liverpool. Bahkan satu dunia ini dibuat terkejut karena kekalahan Barcelona di Anfield Stadium. Mereka datang ke Anfield untuk leg kedua usai memenangkan leg pertama di Camp Nou dengan skor telak 3-0. Namun para pemain bertahan yang dimainkan saat itu, benar-benar memalukan, mereka membiarkan para pemain Liverpool mengacak-acak dan mencetak tiga gol  dalam 56 menit pertama.

Sorotan mengarah kepada permainan cerdas dari Trent Alexander-Arnold saat dia mengeksekusi tendangan sudut ke kotak penalti Barca menit ke-79, yang menjadi awal dari kejadian memalukan untuk klub tamu yang memakai jersey kuning-kuning tersebut. Saat bola sudah terlambung di atas kotak penalti, Divock Origi menyambutnya dengan tendangan mengarah ke sudut atas, dan dalam sekejap striker asal Belgia itu merayakan golnya ke gawang Andre Ter Stegen di pojok lapangan. Yang membuat saya geram ketika menuliskan artikel ini adalah ‘Hal-hal memalukan seperti itu tidak akan terjadi jika Puyol masih bermain’.

Beberapa kutipan dari mantan rekannya di pos bek tengah, Gerard Piqué – yang bermain pada kekalahan memalukan itu – mendukung pemikiran saya ini. Pada 2011, Pique mengatakan pada Guardian: “Saya tidak bisa membayangkan tim Barcelona tanpa dia. Dia membuatku lelah. Saya ingat hari dia kembali setelah cedera. Di tengah permainan saya berkata: ‘Puyi, saya sangat merindukanmu.’ Dia menyuruh saya untuk diam dan berkonsentrasi. Saya tidak pernah berhenti mengenang momen itu.”

Dia melanjutkannya dengan contoh lain: “Suatu kali, permainan dihentikan, seseorang berada di atas tandu dan dia meneriaki saya untuk bergegas kembali ke posisi. Saya berkata kepadanya: ‘Tenang, kita sudah unggul 4-0 kok, dan pertandingan tinggal tiga menit lagi.’ Anda tahu apa yang dia katakana pada saya? Dia berkata: ‘Terus kenapa? Kita harus selalu fokus, saya tahu Anda mulai berpikir santai. ‘Saya memang orang yang tidak bisa terlalu serius, dan keberadaan Puyol membuat saya harus waspada setiap saat di barisan pertahanan.”

Mustahil untuk membayangkan bagaimana reaksi Puyol terhadap hilangnya konsentrasi dari rekan satu timnya saat kalah 4-0 di leg kedua semifinal Liga Champions kontra Liverpool. Apalagi ketika tim berlaga di panggung sebesar Liga Champions, dia mungkin tidak akan membiarkan rekan-rekannya menarik nafas sedetik pun karena penampilan memalukan itu.

Apalagi jika kita membicarakan musim 2021/2022 ini, di mana Barcelona sedang terpuruk dari segi manapun. Yang paling mengagetkan adalah mereka gagal lolos ke fase gugur dan harus lengser ke Liga Europa setelah hanya finish di urutan ketiga klasemen akhir Grup E. Mereka hanya mengantongi tujuh poin dari enam pertandingan, dua kemenangan, sekali imbang dan tiga kali kalah. Terjun payung ke Liga Europa merupakan salah satu kenyataan buruk yang harus diterima oleh para fans. Terlebih lagi, terakhir kali Barcelona tampil di Liga Europa adalah pada musim 2003/2004, 17 tahun silam.

 

Puyol adalah Dasar dari Kejayaan Barcelona

Kejayaan Barcelona yang selalu dikenang karena permainan cepat, cerdas juga pintar, selalu dikaitkan karena keberadaan para pelatih hebat yang pernah singgah. Faktor lainnya yang menyenangkan adalah hadirnya seorang pemain top seperti Ronaldinho, dan promosinya Lionel Messi dari La Masia – akademik terkenal mereka. Yang kemudian La Pulga menjadi tak tertandingi dan memimpin Blaugrana meraih berbagai trofi yang ada. Namun kita semua seringkali lupa bahwa dasar dari semua itu adalah Puyol, prajurit asli kelahiran Catalan dengan rambut keriting gondrong, yang menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam permainan mereka. Dia juga menjadi salah satu bek terbaik yang pernah disaksikan oleh para penggemar sepak bola dunia.

Intensitas yang dipertontonkan Puyol membuat dirinya jarang mendapatkan persaingan dari bek-bek lain yang seangkatan dengannya. Kegigihannya jugalah yang membuatnya bisa bertahan di puncak perform akelas dunia selama satu dekade, hanya beberapa cedera ringan yang menghampiri dirinya. Selain itu, control pada bola yang luar biasa, juga tekel yang akurat, sering kali menjadikannya seorang bek tengah yang mampu mengatur tempo permainan dengan umpan-umpan panjang langsung meluncur ke lini depan. Saat menulis ini, saya mencoba sebisa mungkin untuk menyederhanakan kualitas dari permainan seorang Puyol, tapi tidak bisa. Kecerdasannya berada di level tertinggi seorang bek tengah, sangat pantas untuk diagungkan bahkan dipuja bak dewa.

Yang paling bisa kita tonton lagi mungkin saat pertandingan paling bersejarah, di mana Luis Figo dilempari kepala babi oleh seorang penggemar Barcelona. Figo saat itu membelot dari skuat Blaugrana untuk gabung ke skuat Los Galacticos milik Real Madrid. Terlepas dari tindakan pengkhianatan tersebut, sebenarnya Puyol muda mungkin menjadi masalah terberat yang menghadang performa terbaik dari seorang Figo. Para penggemar boleh saja mengejeknya selama pertandingan, tapi Puyol-lah yang ada di lapangan selama 90 menit dan mampu mengimbangi kecepatan lari Figo di setiap kali serangan Real Madrid.

Dia tidak hanya penting untuk Barcelona, tapi juga untuk negara yang dibelanya, yakni Spanyol. Puyol mencatat 100 caps bersama Timnas Spanyol senior. Dia menjadi tokoh sentral dalam tahapan awal dominasi El Matador di panggung internasional. Dia memimpin pertahanan La Roja yang menjaga clean sheet di final Euro 2008. Yang membuat gol tunggal Fernando Torres di final sudah cukup untuk Spanyol mengangkat trofi pertama mereka dalam 44 tahun terakhir.

Tim Spanyol tersebut kemudian akan selalu dikenang karena talenta lini depan yang dimiliki. Sebut saja para pemain seperti David Villa, Andres Iniesta dan Cesc Fabregas yang menyita perhatian di sepanjang Euro 2008 silam. Padahal sebenarnya pertahanan Spanyol-lah yang paling menonjol dalam kesuksesan besar itu. Dalam tiga pertandingan yang dihelat selama sistem gugur, gawang Iker Casillas benar-benar tidak tersentuh satu bola pun.

Penghargaan individual pun terbukti tidak selalu menjadi tujuan akhir para pemain. Melihat pencapaian Puyol yang luar biasa dari tahun 2000 sampai 2009, menunjukkan seberapa luar biasanya kualitas dirinya dan juga tim yang dibela. Selama kurun waktu tersebut, selain Euro 2008 bersama Timnas Spanyol, karirnya makin gemilang dengan torehan dua trofi Liga Champions, empat gelar juara Liga Spanyol, satu Copa del Rey, lima Super Copa Spanyol, dan dua kali menang Piala Super Eropa.

Lalu masih ada lagi tambahan satu trofi Piala Dunia, satu lagi Liga Champions, dua gelar Liga Spanyol lagi, dan sekali juara Copa del Rey, tiga Super Copa lagi, dilengkapi dengan dua kali juara Piala Dunia Antarklub. Yang paling membanggakan dari semua pencapaian Spanyol dan Barcelona itu adalah Puyol selalu menjadi bagian integral di masing-masing trofi.

 

Kerja Keras, Itulah yang Selalu Diterapkan Puyol

“Saya tidak memiliki Teknik tinggi seperti Romario (legenda Brasil), kecepatan (Marc) Overmars atau kekuatan fisik seperti (Patrick) Kluivert. Tapi saya bekerja lebih keras daripada yang lain. Saya seperti siswa yang tidak pintar tapi terus memperbaiki nilai demi nilai guna naik kelas di setiap tahunnya,” kata Puyol dikutip dari Sports Illustrated.

Dengan kata lain Puyol mengakui bahwa seorang bocah pada akhirnya bisa melakukan dengan baik jika berusaha keras. Membuat kita sekilas berpikir dirinya baru saja meremehkan semua pencapaian luar biasa dalam karirnya sendiri. Tapi tidak, kerendahan hatilah yang membuat bek berambut gondrong itu bisa mengatakan hal tersebut.

Kerendahan hati adalah salah satu atribut penting, di luar bakat dan pengaruhnya, yang membuat dia menjadi pemain yang dipuja banyak orang. Ada juga kesetiaannya terhadap Barcelona, yang menjadikan klub tersebut menjadi satu-satunya sepanjang karir profesionalnya. Ketika dia pensiun, dia seharusnya bisa pindah ke klub lain untuk memperpanjang karirnya satu atau dua tahun, seperti yang dilakukan banyak legenda sepak bola. Tapi seperti yang selalu dia lakukan sejak masih bocah hingga usianya uzur, dia tidak pernah mau bermain sepak bola, selain di Camp Nou.

Dengan pertimbangan tersebut, tentunya kita tidak berpikir bahwa dia menemui kesulitan berarti untuk bisa promosi ke skuat senior Barcelona. Padahal yang terjadi adalah dia menemui jalan terjal saat usianya mencukupi untuk masuk skuat senior. Setelah dia menyelesaikan pendidikannya di La Masia yang terkenal itu, yang saat itu diasuh oleh Frank de Boer, sosok yang terkesan menghalang-halangi jalan Puyol ke skuat senior.

Oleh karena itu, manajer tim senior, Louis van Gaal pun menerima tawaran peminjaman dari Malaga. Tapi sekali lagi, kesetiaan di atas segalanya, Puyol berusaha keras untuk menolaknya, apalagi melihat rekan satu angkatannya di La Masia, Xavi Hernandez baru promosi ke skuat senior. Dengan sikap tersebut, inilah karakter yang kuat dari seorang pemain yang masih begitu muda, menunjukkan klub seberapa ingin dirinya bertahan, tapi juga membuktikan kualitas dan ketegasannya di atas lapangan yang akhirnya membuahkan hasil.

“Saya tiba di sini sebagai bocah laki-laki dan pergi dengan seluruh keluarga saya,” inilah yang dikatakan Puyol ketika dia mengumumkan pensiun pada tahun 2014 lalu.

Meskipun hubungannya dengan orang-orang di klub menjadi salah satu hal yang paling dihargai sepanjang karirnya, dia sendiri juga sudah memenangkan banyak penghargaan penting lainnya. Bagaimana tidak, 26 trofi yang mencengangkan, membuatnya menjadi anak lokal paling berprestasi di Catalan. Belum lagi kenangan luar biasa dan warisan abadi yang menjadikannya dikenal sebagai salah satu bek terbaik Barcelona yang mengukir namanya sendiri dalam sejarah sepak bola dunia. Sangat langka, entah kapan Barca bisa memiliki bek tengah seperti Puyol.