Cengkeh, Rempah Sakti yang Bikin Ngiler Orang Eropa

Kamis, 30 September 2021, 16:07 WIB
46

Cengkeh (Syzygium aromaticum) bersama pala (Myristica fragrans), adalah dua tanaman asli Kepulauan Maluku. Cengkeh dikenal dan diakui berasal dari ‘Empat Pulau Gunung Maluku’ (Maloko Kie Raha): Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.

Adapun pala, berasal dari empat pulau kecil lainnya di tengah Laut Banda: Lonthor, Neira, Rhun, dan Ai. Pada penjelasan peta abad-16 oleh penjelajah dari Semenanjung Iberia, Fransisco Rodriguez, tertulis: “Estas quatro Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo” (Adalah empat pulau berwarna biru [dalam peta] yang disebut sebagai Kepulauan Maluku di mana rempah-rempah berasal).

Power of Thor Megaways

Sejak beberapa abad sebelum Masehi, adalah para saudagar Arab –melalui Samudera Hindia melintasi Iskandariyah dan Laut Tengah serta para pedagang Cina melalui jalur ‘Jalan Sutra’ melintasi Asia Tengah dan Asia Baratyang membawa dan memperkenalkannya ke daratan Eropa.

Bandar-bandar besar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia menjadi pelabuhan utama rempah-rempah Maluku memasuki kehidupan dan peradaban Eropa. Selain sebagai bumbu masakan, rempah obat, dan ramuan wewangian, cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan.

Inilah yang membuat orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Bukan hanya membuat perekonomian dan perdagangan serta ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, cengkeh dan pala bahkan adalah faktor yang paling menentukan dalam kemunculan satu babakan paling mengenaskan dalam sejarah politik dunia, yakni zaman penjajahan (kolonialisme) Eropa, terutama atas-atas negerinegeri Asia Selatan, Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia.

Tergerak oleh sahwat menguasai rempah-rempah yang menggiurkan itu, bangsa-bangsa Eropa –terutama Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda– pun menggelar ekspedisi-ekspedisi besar untuk menemukan cengkeh dan pala langsung di tanah asalnya. Ketika armada-armada mereka akhirnya mencapai perairan Kepulauan Maluku, pada abad-16, perang pun tak terhindarkan. Mereka silih berganti saling mengalahkan, tetapi pemenang terakhir adalah Belanda.

Chronicles of Olympus X Up

Melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) yang dibentuk pada awal abad-17 (tepatnya tahun 1609), Belanda melancarkan ekspedisi Pelayaran Hongi (Hongie Tochten), untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, lalu membatasi ketat penanamnya hanya di Pulau-pulau Ambon dan Lease –yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia.

Praktis, sejak akhir abad-16, Belanda pun menguasai penuh perdagangan rempah-rempah Maluku dengan jumlah produksi rerata 2.500 sampai 4.500 ton per tahun.

Masa Suram dan Kegunaan Lain Cengkeh

Masa suram cengkeh dan pala terus berlangsung sampai pertengahan abad-20. Rempah eksotika yang pernah membuat tergila-gila para saudagar Arab, pedagang Cina, serta kaum ningrat Eropa itu, tergantikan perannya oleh penemuan teknologi mesin pendingin berkat Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada pertengahan
abad-18.

Pasaran cengkeh di Eropa pun merosot tajam. Nasibnya terselamatkan berkat penemuan oleh seorang Haji Djamhari di Kudus, Jawa Tengah. Pada akhir tahun 1880-an, Haji Djamhari menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Lahirlah satu produk baru yang unik, khas dan asli Indonesia: kretek.

Setelah seperempat abad hanya berkembang dalam skala kecil usaha rumah tangga, produksi kretek akhirnya menjelma menjadi industri besar sejak awal abad-20 yang dirintis oleh Haji Nitisemito (pendiri pabrik ‘Jambu Bol’) di Kudus dan Liem Seng Tee (pendiri pabrik ‘Dji Sam Soe’ dan ‘Sampoerna’) di Surabaya.

Puncaknya adalah pada pertengahan tahun 1950-an, ketika produksi kretek mulai berkembang pesat menjadi industri raksasa modern dengan munculnya beberapa pabrik baru, antara lain, yang terkemuka, oleh Oei Wei Gwan (pendiri pabrik ‘Djarum’) di Kudus dan Tjou Ing Hwie (pendiri pabrik ‘Gudang Garam’) di Kediri.

Cengkeh, bahan baku paling esensial dari kretek –selain tembakau, tentu saja– pun kembali berjaya. Bahkan, sejak dasawarsa 1970an, telah menjadi salah satu penyumbang terbesar keuangan negara
Republik Indonesia.

Pada tahun 2012 dan 2013, pemasukan cukai dari industri kretek mencatat 95,5% dari seluruh pemasukan cukai ke kas negara. Nilainya tak tanggung-tanggung: Rp 87 triliun.

Nilai ekonomisnya yang sangat besar sempat menggoda penguasa otoriter rezim Presiden Soeharto, pada 1990-an, memberlakukan satu kebijakan ‘Hongi Gaya Baru’: monopoli perdagangan cengkeh dalam negeri melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang sangat merugikan petani.

Harga cengkeh di tingkat petani penghasil anjlok sampai hanya Rp 2.000 – 3.000 per kilogram, lebih murah dari harga sebungkus kretek yang dihasilkan darinya.

Akibatnya, ratusan ribu pohon cengkeh di daerah-daerah penghasil utama –Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan– ditebangi atau dibiarkan terlantar tak terurus.

Cengkeh di Halmahera Barat

Kampung Bukubualawa terletak di Jailolo, Halmahera Barat. Kampung ini dinamai Bukubualawa lantaran di bukit-bukitnya terdapat pohon cengkeh yang selamat dari pemusnahan besar-besaran oleh Belanda pada abad ke-16 dan 17.

Setelah sekian abad pemusnahan pohon cengkeh oleh Belanda, tak ada orang di kampung yang mengetahui bila di bukit itu masih terdapat pohon cengkeh. Warga Bukubualawa juga kehilangan ingatan akan tanaman yang diburu berbagai suku bangsa itu.

Sampai pada 1960-an, seorang pedagang dari Ternate datang ke kampung mereka. Pedagang inilah yang membuktikan di bukit itu terdapat pohon cengkeh. Kebetulan harga cengkeh saat itu sedang melambung.

Hud Sulaiman (50 tahun) seorang penjaga ‘Cengkeh Apo’ –pohon cengkeh tertua di dunia– di Ternate yang sempat melakukan survey bukit-bukit di Jailolo.

Seluruhnya ada 12 bukit yang menyembunyikan pohon cengkeh. Pohon-pohon ini diyakini oleh warga setempat sebagai jenis yang sama dengan jenis yang kemudian disebut cengkeh Zanzibar yang terkenal lebih pedas dibanding cengkeh lokal.

Bahkan bila melakukan bapatah (memisahkan bunga atau buah cengkeh dari tangkainya), lama-kelamaan tangan terasa panas karena rasa pedasnya.

Sejak saat itu penduduk Bukubualawa secara berkala pergi kembali ke hutan untuk memanen cengkeh. Pohon-pohon cengkeh tua itu tak ada yang memiliki.

Dengan sedikit kerja keras melakukan perjalanan darat sekitar dua sampai tiga jam dari kampung, mereka akan tiba di bukit cengkeh. Orang yang bersedia memetik, dengan sendirinya menjadi pemilik pohon cengkeh tersebut. Tak ada surat resmi kepemilikan.

Namun, setiap warga bisa mengenali siapa pemilik pohon cengkeh yang ada di sana, Mereka saling mengenal baik satu sama lain. Setiap musim panen berlangsung, orang-orang Bukubualawa banyak yang pergi ke Ternate. Mereka menyerahkan cengkeh hasil panen ke pedagang dari Ternate tersebut. Pedagang itu juga mempunyai gedung bioskop.

Selain menyetorkan cengkeh, penduduk Bukubualawa mendapatkan bonus menonton bioskop secara cuma-cuma Sampai dasawarsa 1950-an sampai 1960-an saat ditemukannya kembali cengkeh di Bukubualawa, jarang ada orang yang membudidayakan cengkeh di sana.

Menurut cerita warga setempat, pohon cengkeh mereka telah dibeli semua oleh para pedagang sejak zaman Belanda. Awalnya hanya buahnya, lalu kulitnya, sampai akhirnya juga pohonnya. Pohon-pohon cengkeh pun sulit ditemui sejak saat itu. Ini adalah versi lain kisah pemusnahan cengkeh oleh Belanda.

Pada tahun 1599, harga cengkeh masih 35 real per bahar (550 pon), naik menjadi 50 real pada 1610, dan 70 real pada 1620. Harga per pon cengkeh tersebut setara dengan 7 gram emas. Tingginya harga cengkeh membuat Belanda bersikap protektif bagi sumber kas kerajaan dan para pemegang saham VOC itu.

Dengan segera Belanda menyerang dan menguasai pelabuhan Makassar di mana Inggris, Portugis, Spanyol, dan para pedagang China selama ini mendapatkan cengkeh dengan harga yang lebih murah. Kesepakatan dengan penguasa lokal pun dibuat yang mengharuskan mereka menyerahkan seluruh hasil cengkeh hanya pada VOC.

Imbalannya, Belanda memberikan perlindungan militer dari serangan pihak lain. Tindakan penguasaan itu termasuk pemusatan produksi cengkeh hanya di pulau-pulau Ambon dan Lease. Armada laut diperkuat,
patroli rutin dilakukan.

Dengan kapal kora-kora, pasukan Kompeni berpatroli ke pulau-pulau menjaga komiditas utama ini tak diselundupkan. Meriam ditembakkan, penduduk setempat melarikan diri ke pedalaman, kemudian kebun-kebun cengkeh dibakar habis.

Sampai abad ke-18 monopoli atas cengkeh dan pala di Kepulauan Rempah-Rempah sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Sampai, akhirnya, seorang berkebangsaan Prancis, Pierre Poivre, dibantu oleh juru tulisnya, M. Provost, berhasil menembus blockade pertahanan Belanda.

Pada 6 April 1770, Provost mendarat di Pulau Gebe. Dia berhasil memikat hati kepala suku setempat yang memerintahkan warganya mendatangkan bibit cengkeh dan pala dari daerah Patani di daratan besar Halmahaera.

Bibit cengkeh curian itu diselundupkan, kemudian ditanam dan berkembang biak dengan baik di koloni-koloni Perancis di Zanzibar, Madagaskar, dan Martinique. Adapun bibit pala curian Provost berhasil ditanam dan berbuah pula di Granada. Sejak saat itu, cengkeh dan pala tidak lagi menjadi milik eksklusif Belanda.

Cengkeh di Bumi Kapiten Patimura

Cengkeh dan pala adalah dua hasil bumi utama di Saparua. Pala menjadi andalan orang Saparua ketika harga cengkeh menurun, terutama pada tahun 1992. Ketika harga cengkeh perlahan menanjak, warga kembali membersihkan pohon cengkeh mereka, setelah lama membiarkannya dijalari semak.

Cengkeh dan pala bisa kita temui di warung Om Gwan, seorang pedagang Tionghoa yang bermukim di Saparua sejak dua generasi. Pada September 2013, Saparua baru memasuki tahap awal memanen cengkeh, antara lain sekitaran Siri Sori Islam. Beberapa warga memperkirakan, pada kisaran Oktober, baru memasuki puncak panen.

Memanen cengkeh di Saparua sebagaimana di kawasan Maluku dan sekitarnya menggunakan alat bantu antara lain: [1] tali plastic seukuran besi 12 inci dengan panjang sekira 30 meter.

Ukuran ini ukuran sedang yang mudah untuk diikat dan dilepaskan di batang dan dahan cengkeh; [2] baju longgar agar leluasa memasukkan cengkeh hasil petikan, terutama bila pohonnya masih berukuran 10 meter; dan [3] karung yang digunakan untuk mengumpulkan dan membawa hasil panen.

Mungkin hanya bentuk takaran ukuran cupa yang berbeda, yakni bekas kaleng daging, sedang di tempat lain ukuran kaleng susu kental. Harga cengkeh memakai kedua takaran itu sama saja.

Cengkeh menjadi bagian dalam kehidupan warga pulau ini, terutama untuk dunia kesehatan, dengan memasukkan daun cengkeh sebagai salah satu ramuannya. Konon, ketika teh dan gula belum masuk di Saparua, orang-orang tua di pulau ini kerap memasak daun kuning dan kering cengkeh sebagai minuman mereka.

Panen cengkeh di Saparua banyak memunculkan cerita. Ketika terpal plastik belum dikenal, alas jemur yang dipakai warga setempat merupakan produk yang dibawa orang-orang Buton yang berlayar mengarungi Laut Banda dari Sulawesi Tenggara untuk menjual tikar daun pandan.

Orang Saparua, kalau sudah panen tidak minum sopi (arak lokal yang disuling dari nira kelapa), tapi mereka membeli dan menenggak berbotol-botol bir.

Sopi merupakan minuman beralkohol hasil penyulingan sadapan rambu (jantung) pohon mayang (palem nira). Minuman itu kini dihargai mahal, dikirim sampai ke Papua. Tak mengherankan jika minuman tersebut kemudian menjadi komoditas baru yang pelanpelan menggantikan gula merah.

Membuat sopi mudah dan dan harga jualnya lebih mahal ketimbang gula aren, karena dapat dibuat dalam waktu lebih singkat (sehari saja) dan bahan produksi (kayu bakar) jauh lebih sedikit.

BERITA TERKAIT