Cerita Amazon Dahomey, Pasukan Wanita Pemburu Manusia

Jumat, 31 Desember 2021, 21:12 WIB
46

Edisi Bonanza88, Jakarta – Benin adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di pesisir Afrika Barat. Negara ini berbatasan dengan Nigeria di sebelah timur, Niger di sebelah utara, Teluk Guinea di sebelah selatan, serta Burkina Faso & Togo di sebelah barat.

Di negara ini pulalah, Kerajaan Dahomey bentukan etnis Fon pernah berdiri dari abad ke-17 hingga abad ke-19. Di kalangan para penjelajah Eropa pada masa itu, Dahomey menyita perhatian mereka berkat keberadaan pasukan khasnya yang bernama Amazon Dahomey.

Nama “Amazon Dahomey” diberikan oleh para penjelajah Eropa karena terinspirasi dari Amazon, bangsa wanita dari mitologi Yunani yang terkenal mahir berperang. Kebetulan seluruh personil Amazon Dahomey memiliki jenis kelamin perempuan.

Masyarakat Dahomey sendiri menyebut pasukan wanitanya dengan nama “N’Nonmiton”. Istilah dalam bahasa Fon yang dterjemahkan berarti “Ibu Kami”. Selain Amazon Dahomey, Dahomey juga memiliki pasukan yang komposisi keanggotaannya diisi personil pria.

Sejarah Amazon Dahomey

Meet the most feared women in African history - The Dahomey Amazons. |  Hadithi Africa

Menurut Stalney Alpern, Amazon Dahomey pertama kali dibentuk oleh raja Dako pada tahun 1625. Lalu secara berangsur-angsur, Amazon Dahomey memiliki peran yang kian penting dalam militer Dahomey. Teori Alpern tersebut didukung oleh pedagang budak asal Perancis bernama Jean Pierre Thibault yang mengaku kalau pada tahun 1725, ia sempat melihat sejumlah wanita lokal yang dilengkapi dengan tombak bertindak sebagai penjaga keamanan di kota pelabuhan Ouidah.

Dahomey menjadikan sektor perdagangan budak sebagai sumber pendapatan utamanya. Pasukan Amazon Dahomey menjadi andalan pihak kerajaan untuk keperluan tersebut. Sesudah melakukan serangan ke kampung-kampung pada dini hari, mereka akan pulang sambil membawa budak-budak yang berada dalam kondisi terikat.

Budak-budak tersebut selanjutnya dijual ke pedagang budak Eropa supaya uang hasil penjualannya bisa digunakan untuk membeli senjata api & komoditas lainnya. Jika yang dilawan Amazon Dahomey adalah sesama prajurit profesional, prajurit Amazon Dahomey akan memenggal leher lawannya & kemudian menyimpan kepalanya sebagai trofi.

Sebelum abad ke-19, Amazon Dahomey hanya beranggotakan ratusan personil. Namun di masa pemerintahan raja Gezo (1818 – 1858), jumlah personil Amazon Dahomey membengkak menjadi 3.000 orang. Menurut cerita turun-temurun penduduk setempat, alasan Gezo menambah jumlah personil Amazon Dahomey adalah karena pada tahun 1844, wilayahnya diserbu oleh pasukan Kerajaan Oyo bentukan etnis Yoruba yang bertempat di wilayah modern Nigeria barat.

Dokter bedah angkatan laut (AL) Perancis yang bernama Repin memberikan kesaksian menarik pada periode yang hampir bersamaan. Pada dekade 1850-an, sekelompok kecil wanita pemburu yang berjumlah 20 orang menyerang kawanan gajah yang jumlahnya 2 kali lipat lebih banyak.

Hasilnya, mereka berhasil membunuh 3 ekor gajah, namun sebagian dari kawanan pemburu tadi juga harus tewas akibat tertusuk gading & terinjak-injak. Raja Gezo yang kebetulan sedang berada di lokasi kejadian merasa terkesan dengan keberanian mereka sehingga ia pun kemudian merekrut kelompok pemburu tadi ke dalam militer kerajaannya.

Menyusul kian menguatnya gerakan anti perbudakan di Eropa & daerah-daerah seberang lautannya, Kerajaan Dahomey berhenti mengekspor budak sejak tahun 1852 atas tekanan Inggris. Namun praktik perbudakan sendiri masih tetap berlanjut di wilayah Dahomey karena budak-budak yang ditangkap oleh Amazon Dahomey kini diberdayakan sebagai pekerja di kebun-kebun kelapa sawit milik pihak kerajaan. Dampak lain dari terhentinya perdagangan budak lintas benua adalah dipangkasnya jumlah Amazon Dahomey. Pada dekade 1870-an, jumlah personil Amazon Dahomey dilaporkan berkurang menjadi tinggal 1.500 orang.

Berkurangnya kekuatan Amazon Dahomey tidak mengurangi agresifitas Kerajaan Dahomey. Kerajaan yang bersangkutan tetap giat melakukan penyerangan ke wilayah sekitarnya. Namun upaya Dahomey memperluas pengaruhnya kini harus menemui batu sandungan baru dalam wujud munculnya koloni-koloni milik negara Eropa di Afrika. Tahun 1890, perang antara Dahomey & Perancis akhirnya pecah setelah di tahun sebelumnya pasukan Amazon Dahomey nekat menyerang daerah pesisir Cotonou yang berstatus sebagai koloni Perancis.

Pasukan Amazon Dahomey menunjukkan keperkasaannya di medan perang dengan mengungguli pasukan Perancis dalam pertarungan jarak dekat. Namun lebih superiornya kualitas persenjataan militer Perancis membuat Dahomey harus mengakui kekalahannya.

Periode damai antara Dahomey & Perancis sendiri tidak berlangsung lama setelah pada tahun 1892, perang antara Dahomey & Perancis kembali pecah. Perang ini sekaligus menjadi paku kematian bagi Kerajaan Dahomey karena seusai perang, raja Behanzin dibuang keluar negeri & Kerajaan Dahomey dijadikan negara bawahan Perancis.

The legend of Benin's fearless female warriors - BBC Travel

Kendati Amazon Dahomey secara resmi tidak lagi aktif, sejumlah bekas personil Amazon Dahomey masih tetap melanjutkan perjuangan melawan Perancis dengan cara mereka sendiri. Dengan berpura-pura menawarkan diri untuk tidur dengan tentara Perancis, mereka berhasil masuk ke pemukiman milik tentara Perancis & kemudian membunuh mereka ketika sedang tidur.

Mereka yang pasrah dengan pembubaran Kerajaan Dahomey di lain pihak memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan damai. Menurut sejarawan negara Benin, bekas personil terakhir Amazon Dahomey bernama Nawi & ia meninggal pada tahun 1979 dalam usia 100 tahun.

Sepak Terjang Amazon Dahomey

Menurut sejarawan Robin Law, alasan mengapa raja-raja Dahomey menerjunkan personil wanita sedikit banyak karena faktor keterpaksaan. Karena etnis Fon selaku etnis dominan Kerajaan Dahomey bukanlah etnis dengan populasi yang melimpah, Dahomey pun terpaksa harus turut mengandalkan tenaga wanita supaya bisa menerjunkan prajurit sebanyak mungkin.

Setiap personil Amazon Dahomey diharuskan menikah dengan raja. Namun tujuan pernikahan itu sendiri lebih sebagai formalitas untuk menjamin kesetiaan mereka pada raja. Jika ada prajurit Amazon Dahomey yang ketahuan hamil, sang prajurit bisa menghadapi ancaman hukuman penjara & bahkan eksekusi mati. Amazon Dahomey juga memiliki hak-hak istimewa yang tidak dimiliki prajurit Dahomey pria, misalnya hak tetap berada di istana saat matahari terbenam.

African Diaspora - The Dahomey Amazons In Greek Myth, the Amazons were a  terrifying group of women. As a matriarchal society, the women governed and  fought, whilst the men performed household tasks

Keanggotaan Amazon Dahomey awalnya hanya diisi oleh perempuan etnis Fon. Namun seiring dengan semakin tingginya jumlah prajurit yang dibutuhkan, gadis-gadis dari luar etnis Fon juga turut direkrut. Di masa pemerintahan raja Glele (1858 – 1889), perekrutan paksa dilakukan di desa-desa kekuasaan Dahomey setiap tahunnya. Mereka yang menjadi sasaran perekrutan adalah anak-anak perempuan berusia antara 12 – 15 tahun & memiliki fisik yang terlihat kuat.

Amazon Dahomey memiliki metode latihan yang bisa dikatakan brutal, bahkan untuk standar pria. Calon anggota Amazon Dahomey diharuskan memanjat tumbuhan berduri untuk menguji batas ketahanan mereka akan rasa sakit. Lalu untuk melatih kemampuan adaptasi mereka, calon anggota Amazon Dahomey akan dikirim ke hutan selama 9 hari dengan perbekalan minim.

Anggota AL Perancis Jean Bayol yang sempat mengunjungi Abomey – ibukota Kerajaan Dahomey – pada tahun 1889 juga mengaku kalau ia pernah melihat calon anggota Dahomey Amazon memotong-motong tahanan perang memakai pedang sebelum kemudian meminum darah yang menempel pada pedangnya.

Sejak abad ke-19, Amazon Dahomey terbagi ke dalam 5 resimen berbeda yang dikelompokkan berdasarkan persenjataannya. Kelima resimen tersebut adalah Gbeto (pemburu), Gulohento (prajurit senapan), Gohento (pemanah), Nyekplohento (penebas), & Agbarya (pasukan meriam). Gbeto ditugaskan memburu hewan-hewan liar setempat & merupakan resimen tertua dalam struktur militer Amazon Dahomey yang digunakan sejak abad ke-19.

Gulohento merupakan resimen dengan jumlah personil terbanyak. Selain menggunakan senapan tipe flintlock, para anggotanya juga dilengkapi dengan pedang pendek & tombak. Gohento menggunakan panah beracun & belati sebagai persenjataan utamanya. Ketika peran Gulohento kian dominan, Gohento kian jarang terlibat secara langsung di medan perang & perannya bergeser menjadi pembawa perbekalan & pengumpul mayat.

Nyekplohento hanya berjumlah sedikit, namun memiliki reputasi yang sangat ditakuti. Setiap personil Nyekplohento dilengkapi dengan sebilah pedang yang konon cukup kuat untuk membelah tubuh korbannya menjadi 2 hanya dengan sekali sabetan! Resimen Agbarya pada dasarnya merupakan pasukan artileri Dahomey. Namun karena mereka hanya dilengkapi dengan meriam generasi lawas yang jarak tembaknya masih pendek, mereka lebih sering dimanfaatkan untuk menakut-nakuti.

Dianggap sebagai Terminator

Yoair Blog - Publikasi blog antropologi dunia.

Menjadi pasukan wanita garis depan yang terdokumentasi dalam sejarah peperangan modern, inilah mereka: anak perempuan menjadi tentara dan para istri yang dipersenjatai.

Sekelompok wanita yang dijuluki terminator sub-sahara ini meninggalkan penjajah Eropa dengan gemetar pada sepatu bot mereka. Pengamat asing menamai kelompok mereka dengan Dahomey Amazons, sementara mereka menyebut diri sebagai N’Nonmiton, yang berarti ‘ibu kami’.

Melindungi raja mereka di medan perang paling berdarah, mereka muncul sebagai kekuatan tempur elit di Kerajaan Dahomey di, Republik Benin saat ini.  Digambarkan sebagai tak tersentuh, disumpah sebagai perawan, pemenggalan kepala dengan cepat adalah ciri khas mereka.

Kisah di atas bukanlah karakter dalam sebuah kepercayaan atau  mitos, melansir dari messynessychic. Amazon Dahomey terakhir yang masih hidup meninggal pada usia 100 tahun 1979, seorang wanita bernama Nawi yang ditemukan tinggal di desa terpencil.

Pada ketinggian mereka, mereka membentuk sekitar sepertiga dari seluruh pasukan Dahomey; 6.000 orang kuat. Tetapi menurut catatan Eropa, mereka secara konsisten dinilai lebih unggul daripada tentara pria dalam hal efektivitas dan keberanian.

Sejarah keberadaan mereka ditelusuri hingga abad ke-17, yang menunjukkan bahwa mereka memulai sebagai korps pemburu gajah. Korps ini mengesankan Raja Dahomey dengan keterampilan mereka saat suami mereka pergi berperang dengan suku lain.

Sebuah teori lain menyatakan bahwa karena wanita adalah satu-satunya orang yang diizinkan berada di istana Raja bersamanya setelah gelap, mereka secara alami menjadi pengawal Raja.

Yang jelas, hanya wanita terkuat, paling sehat, dan paling berani yang direkrut mengikuti pelatihan cermat yang mengubah mereka menjadi mesin pembunuh yang haus pertempuran.

Mereka ditakuti di seluruh Afrika selama lebih dari dua abad. Mereka dipersenjatai dengan senapan dan parang Belanda. Pada awal abad ke-19, mereka menjadi semakin militeristik dan sangat setia kepada Raja mereka.

Gadis-gadis direkrut dan diberi senjata mulai umur delapan tahun. Sementara beberapa wanita menjadi tentara secara sukarela, yang lain juga didaftarkan oleh suami yang mengeluhkan istrinya nakal yang tidak dapat mereka kendalikan.

Sejak awal, mereka dilatih untuk menjadi kuat, cepat, kejam dan mampu menahan rasa sakit yang hebat. Latihan yang menyerupai senam ini antara lain melompati tembok yang ditumbuhi ranting pohon akasia berduri.

Dikirim pada ekspedisi panjang 10 hari “Hunger Games” di hutan tanpa perbekalan, hanya parang, mereka menjadi fanatik tentang pertempuran. Untuk membuktikan diri, mereka harus dua kali lebih tangguh dari para pria.

Sering dilihat sebagai dua pria terakhir yang berdiri dalam pertempuran, kecuali diperintahkan secara tegas untuk mundur oleh Raja mereka, wanita Dahomey bertempur sampai mati,  kekalahan tidak pernah menjadi pilihan.

Wanita N’Nonmiton tidak diizinkan untuk menikah atau memiliki anak saat bertugas sebagai tentara. Mereka dianggap menikah dengan Raja dalam sumpah kesucian, hanya berfokus pada status semi-sakral mereka sebagai pejuang elit.

Bahkan Raja tidak berani melanggar sumpah selibat mereka, dan jika Anda bukan Raja, menyentuh wanita-wanita ini berarti kematian. Pada musim semi tahun 1863, penjelajah Inggris Richard Burton tiba di negara pesisir Afrika Barat Dahomey dalam misi untuk pemerintah Inggris, mencoba berdamai dengan orang-orang Dahomey.

Dahomey adalah negara yang berperang yang secara aktif berpartisipasi dalam perdagangan budak, mengubahnya menjadi keuntungan mereka saat mereka menangkap dan menjual musuh mereka.

Satu upacara perekrutan melibatkan pengujian apakah calon tentara cukup kejam untuk melemparkan tawanan perang dari ketinggian hingga berakhir kematian. Delegasi Prancis yang mengunjungi Dahomey pada tahun 1880-an melaporkan menyaksikan seorang gadis Amazon berusia sekitar enam belas tahun selama pelatihan.

Dalam sebuah catatanan, gadis itu mengambil tiga ayunan parang sebelum benar-benar memenggal kepala seorang tawanan. Gadis itu kemudian menyeka darah dari pedangnya dan menelannya. Rekan-rekan Amazon-nya berteriak tanda setuju.

Itu adalah kebiasaan di wilayah tersebut pada saat itu, sebagai pejuang untuk pulang dengan kepala dan alat kelamin lawan. Terlepas dari pelatihan brutal yang harus mereka tanggung sebagai tentara Raja, bagi banyak wanita, ini adalah kesempatan untuk melarikan diri dari kehidupan rumah tangga yang membosankan.

Melayani di N’Nonmiton menawarkan wanita kesempatan  untuk “naik ke posisi komando dan pengaruh”, mengambil peran penting dalam Dewan Agung, memperdebatkan kebijakan kerajaan.

Mereka bahkan bisa menjadi kaya sebagai wanita mandiri lajang, tentu saja tinggal di kompleks Raja tetapi dikelilingi dengan persediaan, tembakau, dan alkohol yang mereka miliki.

Stanley Alpern, penulis satu-satunya studi bahasa Inggris lengkap tentang mereka, menulis “ketika orang Amazon keluar dari istana, mereka didahului oleh seorang gadis budak yang membawa lonceng. Suara itu memberitahu setiap pria untuk menyingkir dari jalur mereka, mundur dalam jarak tertentu, dan melihat ke arah lain.”

Bahkan setelah ekspansi Prancis di Afrika pada tahun 1890-an yang menaklukkan orang-orang Dahomey, pemerintahan ketakutan mereka terus berlanjut. Tentara Prancis berseragam yang membawa wanita Dahomey ke tempat tidur sering ditemukan tewas di pagi hari, dengan tenggorokan mereka terbuka.

Selama Perang Prancis-Dahomean, banyak tentara Prancis yang bertempur di Dahomey ragu-ragu sebelum menembak atau menusuk N’Nonmiton. Meremehkan lawan perempuan mereka menyebabkan banyak korban Prancis karena unit khusus perempuan Amazon ditugaskan secara khusus untuk menargetkan perwira Prancis.

Pada akhir Perang Prancis-Dahomean Kedua, Prancis menang, tetapi hanya setelah membawa masuk Legiun Asing, yang dipersenjatai dengan senapan mesin.

BERITA TERKAIT