Cerita Di Balik Layar dalam Keberhasilan Konsorium Arab Saudi Mengakuisisi Newcastle United

Jumat, 29 Oktober 2021, 15:02 WIB
40

Sepak bola dan uang adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Perkembangan sepak bola era modern banyak dipengaruhi oleh perputaran uang. Tak heran jika kemudian kabar klub Liga Inggris, Newcastle United yang dibeli konsorium Arab Saudi menjadi begitu heboh.

Derajat Newcastle United secara finansial kini berubah drastis. Sebelumnya The Magpies bukanlah termasuk kategori tim sepak bola kaya raya. Namun sejak kursi presiden klub diambilalih taipan Arab Saudi, kekayaan Newcastle United patut diperhitungkan di jajaran teratas.

Power of Thor Megaways

Tepat tanggal 7 Oktober 2021 lalu, sejarah besar tercipta bagi Newcastle United. Status kepemilikan klub telah resmi dibeli sekaligus diakuisisi oleh konsorium Arab Saudi, Public Investment Fund (PIF). Dana sebesar 305 juta pound sterling atau setara Rp 5,9 triliun lebih, digelontorkan PIF untuk membeli Newcastle United dari pengusaha asal Inggris, Mike Ashley.

Patut dicatat, Mike Ashley sudah menjadi pemilik Newcastle United selama kurang lebih 14 tahun. PIF tentu membuat masa kepemimpinan belasan tahun Mike Ashley berakhir. Seluruh pendukung Newcastle United pun menyambut gembira kedatangan PIF lantaran muncul harapan baru yang amat menjanjikan.

Pertama, PIF yang menjalankan investasi jangka panjang di Newcastle United, berjanji bakal menyulap prestasi klub. PIF sangat ingin klub timur laut tersebut bisa berbicara banyak di megahnya pentas Liga Inggris. Minimal, PIF menargetkan Newcastle United segera membawa pulang gelar juara ajang domestik, entah Piala FA atau Carabao Cup.

Kedua, PIF punya modal yang lebih dari cukup guna mewujudkan misinya. Bagaimana tidak, total kekayaan PIF mencapai angka 250 miliar pound sterling. Aset PIF bahkan berkali-kali lipat lebih kaya dibanding Manchester City yang dimiliki Sheikh Mansour.

Edisi Bonanza88 kali ini hendak membedah rangkuman perjalanan Newcastle United hingga akhirnya dibeli PIF. Kami juga bakal menjabarkan perkiraan nasib Newcastle United ke depannya setelah menjadi klub super tajir. Bagi yang penasaran, ayo silahkan disimak ulasan kami berikut!

Chronicles of Olympus X Up

 

Proses Pembelian yang Berliku

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “proses tidak akan mengkhianati hasil”. Pepatah demikian rasanya cocok untuk menggambarkan perjalanan PIF untuk resmi membeli klub Liga Inggris, Newcastle United. Proses yang perlu dilalui PIF tampak begitu panjang dan mungkin layak disebut amat ruwet.

Sejak 9 April 2020, PIF yang merupakan perusahaan pimpinan Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, sudah memulai langkahnya mendekati pemilik Newcastle United, Mike Ashley. Pembicaraan awal kedua belah pihak berjalan mulus. Mike Ashley tak sungkan membuka diri mendengar penawaran PIF.

Setelah negosiasi perdana yang mulus, PIF bersama Newcastle United mengurus administrasi pemindahan kekuasaan. Mereka tentu menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan kepada operator Liga Inggris, Premier League. Namun di titik ini, muncul kendala yang membuat proses PIF mengakusisi Newcastle United terhalang ‘batu besar’.

Premier League ogah memberikan restu lantaran ada jejak masa lalu kurang mengenakan dengan Arab Saudi. Sementara PIF seperti yang tadi sudah kita sebutkan, dipimpin langsung oleh orang penting Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Inti permasalahannya adalah Premier League enggan mengambil risiko atas pembajakan siaran-siaran pertandingan Liga Inggris yang sebelumnya marak dilakukan di Arab Saudi sana.

Perang kepentingan antara beberapa pihak tak terhindarkan. Hak siar pertandingan Liga Inggris di kawasan Timur Tengah dikuasai oleh beIN Sports, perusahaan penyedia layanan siaran olahraga asal Qatar. Sementara layanan beIN Sports ternyata diketahui mendapat larangan untuk menjalankan operasionalnya di Arab Saudi.

Bahkan Arab Saudi sebenarnya berstatus musuh lama Premier League. Entah bagaimana caranya, siaran pertandingan Liga Inggris selalu bisa tayang di Arab Saudi walau tanpa ada perjanjian hak siar. Adanya dugaan pencurian hak siar, Premier League sempat beberapa kali mengajukan tuntutan hukum kepada Arab Saudi, tapi tuntutan selalu saja tidak membuahkan hasil.

Kendala yang dihadapi PIF bukan cuma soal kisruh hak siak Liga Inggris. Isu di luar urusan sepak bola juga terseret dalam pusaran upaya PIF membeli Newcastle United. Pemicu utamanya adalah status Kerajaan Arab Saudi yang berada di belakang operasional PIF.

Kerajaan Arab Saudi diduga memiliki agenda politik terselubung. Beberapa pengamat meyakini Kerajaan Arab Saudi ingin membersihkan nama mereka dari citra buruk yang belakangan menghinggapi mereka. Maklum, Kerajaan Arab Saudi beberapa kali dikaitkan dengan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Amnesty Internasional jadi pihak yang paling lantang menyurakan penentangan atas rencana PIF membeli Newcastle United. Analisis Amnesty Internasional mencium gelagat Kerajaan Arab Saudi yang hendak mengeksploitasi sepak bola dan Newcastle United untuk tujuan politik. Tak heran kalau Amnesty Internasional sampai mendesak Premier League agar tidak mengeluarkan izin kepada PIF mengakuisisi Newcastle United.

Seiring berjalannya waktu, segala kendala dapat diselesaikan PIF satu per satu. Perkara hak siar, Arab Saudi memperbolehkan kembali beIN Sports beroperasi di negaranya. Kebijakan demikian memang akhirnya mempercepat proses PIF mendapatkan restu dari Premier League.

Sedangkan perkara campur tangan Kerajaan Arab Saudi, Premier League sudah mendapatkan sebuah jaminan. PIF berani berjanji secara legal di mata hukum bahwa Kerajaan Arab Saudi tidak akan turut terlibat mengurus kepemimpinan manajemen Newcastle United. Premier League ingin benar-benar menjaga semangat sportivitas sepak bola yang haram disisipi kepentingan politik.

Berbagai sengketa yang menghadang pun tuntas dibereskan. PIF kemudian mendapat restu Premier League untuk mengakuisisi Newcastle United. Para suporter The Magpies langsung menyambut kabar ini dengan gemuruh semangat suka cita.

 

Pemilik Baru, Harapan Baru

Bagi para suporter Newcastle United, hadirnya pemilik baru membuat mereka berani memunculkan harapan baru. Mayoritas fans The Magpies memang sudah lelah melihat tim kesayangannya terus-menerus terpuruk di bawah presiden sebelumnya, Mike Ashley. Sebelum PIF datang mengakuisisi Newcastle United, para suporter berulang kali menyuarakan harapan agar Mike Ashley ditendang dari kursi presiden klub.

Newcastle United Supporters’ Trust (NUST) beberapa waktu lalu menggelar survei untuk mengetahui seberapa besar dukungan para suporter tentang niat PIF membeli Newcastle United. Hasil survei menunjukkan angka 93,8 persen suporter Newcastle United setuju bila klub diambilalih oleh konsorium Arab Saudi. Bahkan, survei turut menunjukkan fakta kalau sebanyak 94 persen suporter Newcastle United ingin pelatih Steve Bruce didepak dan diganti oleh juru taktik berkualitas wahid.

Sebenarnya tampak wajar bila fans Newcastle United menyimpan hasrat demikian. Awal musim Liga Inggris 2021/22, Newcastle United benar-benar terpuruk, tidak pernah menang sekalipun, dan terdampar di peringkat 19 alias zona degradasi. Kinerja kepemimpinan Mike Ashley dan Steve Bruce dinilai gagal total mengangkat prestasi tim.

Di sisi lain, PIF selaku pemilik baru, mengusung visi dan misi yang sesuai dengan suara para fans. PIF berjanji bakal segera memperbaiki habis-habisan segala elemen di klub yang mempengaruhi tujuan menggapai prestasi. Namun PIF meminta agar para suporter bersabar karena prosesnya dipastikan butuh waktu yang tak sebentar.

Kebetulan, PIF punya role model sekaligus panutan dalam usaha menaikkan prestasi Newcastle United. Para petinggi PIF mengaggumi cara kerja taipan Abu Dhabi, Sheikh Mansour, yang sukses besar menyulap prestasi Manchester City. Artinya, target Newcastle United bisa dibilang akan meniru cara kerja Manchester City yang dulunya tim pesakitan, kini jadi salah satu raksasa penguasa Liga Inggris maupun Eropa.

 

Super Kaya, Bisa Datangkan Siapa Saja

Satu catatan penting yang perlu digarisbawahi, kedatangan PIF sebagai pemilik baru membuat Newcastle United kini menjadi klub yang super kaya. Jumlah aset harta PIF yang dipimpin Pangeran Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, diperkirakan menyentuh angka 320 miliar pound sterling atau lebih dari Rp 6.000 triliun. Nominal segitu berkali-kali lipat jauh di atas kekayaan tim super tajir Eropa sebelumnya, Manchester City dan Paris Saint-Germain (PSG).

Sheikh Mansour selaku pemilik Manchester City, total kekayaannya saat ini sebesar 23 miliar pound sterling atau Rp 444 triliun. Sementara PSG yang dimiliki taipan Qatar, Nasser Al-Khelaifi, jumlah kekayaannya sekitar 6,5 miliar pound sterling atau Rp 125 triliun. Artinya, Newcastle United hampir empat kali lipat lebih kaya dibanding Man City; serta hampir 10 kali lipat lebih kaya daripada PSG.

Para penggila sepak bola tahu betul kalau kekayaan Man City dan PSG membuat mereka sering mendatangkan pemain-pemain bintang dengan harga transfer maupun gaji mahal. Prestasi keduanya juga jadi melejit. Walau di Liga Champions paling mentok hanya sampai final, Man City dan PSG kini sama-sama menjadi salah satu raja di pentas domestiknya masing-masing.

Newcastle United yang kekayaannya jauh lebih tinggi, tentu bukan mustahil melakukan hal yang sama seperti Man City dan PSG. Duit PIF yang melimpah jelas sangat mudah untuk mendatangkan siapapun bintang dan pelatih top. Paling dekat, Newcastle United mengusung agenda mencari pelatih berkualitas wahid yang dapat menggantikan peran Steve Bruce.

Nama juru taktik terdepan yang diburu Newcastle United adalah Antonio Conte. Newcastle United begitu naksir dengan eputasi Conte yang selalu berhasil mengantarkan para mantan klubnya merajai liga domestik. Namun selain Conte, ada sejumlah pelatih hebat lainnya yang masuk radar incaran, seperti Lucien Favre, Brendan Rodgers, dan Steven Gerrard.

Urusan pemain bintang, sejauh ini isunya masih simpang siur. Mungkin kalau pembelian pemain bintang akan kita ketahui saat nanti Newcastle United sudah punya pelatih anyar. Hal yang pasti, uang tak berseri pemilik Newcastle United bisa dengan mudah merekrut bintang-bintang terbaik.

Tapi ada pendapat lain yang menyebut kalau kekuataan uang konsorium Arab Saudi belum sepenuhnya menjamin Newcastle United mudah mendatangkan pemain bintang. Faktor geografis kota Newcastle yang ada di daerah Timur Laut Inggris jadi penyebab utamanya. Butuh lebih dari sekedar iming-iming uang agar pemain bintang mau berkarier dan tinggal di kawasan Timur Laut Inggris.

“Membawa pemain ternama ke timur laut Inggris (lokasi kota Newcastle upon Tyne) saja sudah menjadi persoalan tersendiri,” ujar eks pemain Chelsea yang kini menjadi pundit ESPN, Craig Burley.

“Tanpa bermaksud tidak sopan, tapi London sudah lama menjadi pusat daya tarik. Klub-klub Manchester juga bisa memikat para pemain top, tapi membawa pemain dari ingar-bingar London ke ujung timur laut Inggris terbilang sulit.”