Cerita Kejahatan Serdadu Belanda di Indonesia Tersadis dalam Sejarah Penjajahan

Sabtu, 24 Juli 2021, 14:17 WIB
61

Perang menjajah Indonesia dan melawan Jepang di Nusantara tentu saja tidak dituliskan dengan rasa bangga dalam buku tahunan sejarah nasional Belanda.

Wajar, karena perang itu berakhir dengan kegagalan total, terutama pada revolusi fisik di akhir era 50-an.

Gates Of Olympus

Dalam buku ‘Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950’angkatan pertama militer mendaftarkan diri secara sukarela untuk mengusir si ‘musuh Jepang’ dari ‘negeri Hindia kami’, tapi rupanya di sana tidak ada pertempuran melawan Jepang.

Orang Jepang sudah berkapitulasi sebelum pasukan pertama Belanda menjejakkan kaki di bumi Hindia.

Pada awalnya aksi militer Belanda terbatas terhadap para pemberontak terhadap kedaulatan Indonesia, akhirnya menjadi perang betulan, suatu gerilya dan kontragerilya dengan ukuran besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah penjajahan Belanda.

Ketika Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945 dan dua hari kemudian Republik Indonesia diproklamasikan, tidak ada tentara Belanda di Jawa dan Sumatra. Ketertiban itu harus dijaga oleh koalisi yang agak ganjil yang terdiri dari pasukan Inggris – bagian dari South East Asia Command (Komando Sekutu Asia Tenggara) – yang mendarat pada bulan September dan tentara Jepang yang telah dikalahkan.

Pimpinan militer Inggris di Asia Tenggara di bawah komando Lord Louis Mountbatten menyadari bahwa ada perlawanan kuat di wilayah-wilayah Indonesia terhadap pemulihan tatanan kolonial, dan juga menyadari bahwa kekuatan militer mereka jauh dari memadai.

Rise of Olympus

Oleh karena itu, yang dijadikan pegangan mereka adalah pengendalian diri agar tidak membangkitkan agresi Indonesia dan menjaga jarak dengan pemerintah Hindia-Belanda yang ingin dengan segera tanah jajahan tersebut berada di bawah kontrol mereka lagi.

Kejadian Rawagede

Pembantaian Rawagede merupakan salah satu episode terparah kekerasan Belanda di Indonesia pada revolusi fisik 1945-1950.
Kejadian yang berawal dari Agresi Militer I Belanda ini membantai rakyat di Sungai Rawagede Karawang pada 19 Desember 1947.

Tercatat 431 warga tewas akibat kebrutalan pasukan Koninlijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

KNIL adalah angkatan perang Belanda yang pasukannya juga banyak berasal dari pribumi Hindia Belanda, orang-orang Afrika dari Guinea

Belanda (Belanda Hitam), dan orang-orang Indo-Belanda.
Dilansir Edisi Bonanza88 dari Detik, aksi brutal tentara Belanda dilakukan terhadap warga Rawagede setelah mendengar Kapten Lukas Kustario (Komandan Divisi Siliwangi Wilayah Karawang-Bekasi) berada di desa itu.

Lukas, yang meninggal pada 8 Januari 1997, saat itu menjadi momok bagi militer Belanda. Soalnya, Lukas adalah salah seorang pejuang yang membajak kereta api yang membawa senjata dan amunisi milik pasukan Belanda pada awal 1947.

Kereta yang bergerak dari Surabaya menuju Jakarta itu dicegat Lukas dan pasukannya di wilayah Cikampek. Dari pembajakan tersebut, pasukan Lukas merampas ratusan pucuk senjata dan ribuan butir peluru. Sejak saat itu Lukas menjadi orang yang paling dicari pasukan Belanda.

Dari informasi intel Belanda, Minggu, 7 Desember 1947, diketahui Lukas sedang berada di Rawagede bersama ratusan personel pasukannya. Namun, karena pasukan Belanda yang bermarkas di Karawang tidak berani masuk ke desa itu, mereka akhirnya minta bantuan dari Jakarta.

Seorang saksi hidup, Sa’ih, saksi hidup menceritakan bahwa Belanda saat itu yakin Lukas dan pasukannya bersembunyi di Rawagede. Suminta selaku Lurah Rawamerta lalu memberitahukan rencana penyerbuan itu kepada seluruh warga desa.

Warga kemudian memblokade jalan desa dengan pohon. Jembatan-jembatan pun dirusak. Meski saat diwawancarai usia Sa’ih sudah uzur, yakni berusia 88 tahun, ia ingat betul, pada malam pengepungan, hujan turun lebat di Rawagede.

Namun upaya warga memblokade jalan desa sia-sia karena pasukan Belanda menggunakan tank, yang dengan mudah melumat rintangan yang dibuat warga. Selepas subuh, suara dentuman meriam memecah keheningan. Warga kocar-kacir dibuatnya.

Apalagi para pejuang yang tersisa di Rawagede tinggal 30 orang. Mereka dalam posisi kelelahan dan tanpa senjata. Sementara itu, ratusan pejuang yang dua hari sebelumnya singgah sudah bergerak ke Bekasi dan Jakarta untuk menyerang pos militer Belanda.

Sa’ih, yang saat itu masih berusia 25 tahun, dan puluhan temannya bersembunyi di Sungai Rawagede. Mereka menenggelamkan diri di pinggiran sungai yang cukup dalam setelah diguyur hujan semalaman. Hanya kepala mereka yang muncul untuk bernapas.

Upaya mereka hampir berhasil hingga sekitar pukul 11.00 WIB Belanda tidak menemukan mereka. Sialnya, salah satu kaki seorang pejuang yang bersembunyi di pinggir sungai terlihat Belanda. Tanpa ampun, pasukan KNIL dan Belanda langsung menembaki pinggiran sungai sambil memerintahkan Sa’ih dan pemuda desa lainnya keluar dari sungai.

Semua berjumlah 12 orang, yang kemudian dijajarkan tiga baris, masing-masing empat orang, dalam posisi jongkok. Satu per satu dari mereka ditanyai tentang keberadaan Kapten Lukas. Namun, karena tidak ada satu pun warga yang buka mulut, senjata pasukan Belanda pun menyalak.

Satu per satu roboh ke tanah. Sa’ih, yang berada di barisan paling depan, cukup beruntung, peluru hanya menyerempet punggungnya. Namun ia pura-pura roboh seolah tak bernyawa.

Sekitar 15 menit setelah aksi sadis itu, pasukan Belanda meninggalkan desa. Dalam kondisi mengalami luka tembak, Sa’ih bangkit dan berusaha pergi dari desa dengan melewati sungai yang sudah dipenuhi mayat yang bergelimpangan. Sa’ih berhasil lolos dari kematian dan bersembunyi di desa tetangga untuk penyembuhan.

Namun kejadian tersebut menyisakan luka, hampir seluruh pria berusia 15-60 tahun tewas dibunuh tanpa perlawanan.Total 431 warga tewas dan Sungai Rawagede berubah menjadi merah.

Pada monumen Nasional Hindia-Belanda di Roermond jumlah korbannya tertera 6.226 jiwa. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah korban di pihak Indonesia, yang biasanya diperkirakan sekitar 100.000 jiwa, yang hampir setengahnya tewas setelah aksi polisional kedua.

Namun, jumlah tersebut tetap merupakan perkiraan kasar saja. Perlu dicatat bahwa pada perkiraan korban perang Indonesia ada banyak sekali korban mati yang bukan disebabkan oleh kekerasan Belanda, tetapi oleh karena tewas dalam pertempuran antar berbagai pihak Indonesia sendiri yang saling bertikai.

Pembantaian Westerling

Kapten Raymond Westerling yang disebut terlibat dalam pembantaian di Sulawesi Selatan dan membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang menyerang Bandung pada 1950.

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Korps Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).
Maarten Hidskes, anak seorang pasukan Belanda dalam kejadian tersebut menceritakan tentang kejadian tersebut dalam bukunya,

Ia menuliskan kekejaman Belanda dalam buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947

Maarten menceritakan Westerling memulai operasinya pada 11 Desember 1946. Sesampai di Makassar, ia membangun kamp di Mattoangin.

Pagi pagi hari, dari kamp, mereka bergerak ke kampung Batua. Warga dari kampung sekitar yakni Borong, Patunuang, Parang, dan Baray juga dibariskan di lapangan rumput. Westerling mencari para pendukung kemerdekaan yang melawan Belanda.

Ia menanyakan siapa saja yang ikut Wolter Monginsidi memberontak. Di hadapan penduduk, mereka yang dicurigai dan dituduh, ditembak mati di tempat.

Kekejaman itu mengawali operasi Westerling selama tiga bulan ke depan. Para pria dan pemuda diminta mengakui keterlibatan mereka dalam perlawanan terhadap Belanda.

Di depan keluarga, mereka disiksa sebelum akhirnya ditembaki. Rumah-rumah dibakar dan diledakkan dengan granat.

“Engkau sekalian sekarang sudah melihat apa yang terjadi jika mendukung para teroris dan pengacau. Harap ini dicamkan benar-benar,” ancam Westerling kepada mereka yang masih hidup.

Operasi Westerling berlangsung selama lebih dari tiga bulan, dari 5 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947. Sedikitnya 40.000 orang tewas dibantai Westerling dan pasukannya.

Pengadilan yang Sumir

Monumen korban 40.000 jiwa di Galung lombok Tinambung Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Lewat persidangan, atas aksi kejinya ini selama agresi militer, pemerintah Belanda sudah dijatuhi sanksi karena sedadunya melakukan penembakan massal oleh Westerling di Sulawesi dalam aksi polisionil 1946 – 1949.

Penembakan itu dilakukan di hadapan mata istri dan anak-anak korban. Lebih puluhan ribu orang diduga tewas dalam pembunuhan massal di Rawagede dan Sulawesi Selatan.

Lebih 20 anggota keluarga korban kemudian mengajukan gugatan terhadap Kerajaan Belanda dan militernya. Pemerintah Belanda ketika itu juga menolak gugatan dengan argumen bahwa kasusnya sudah kadaluwarsa. Namun pengadilan menolak argumen itu.

Pada 2011, pengadilan sipil di Den Haag memenangkan gugatan janda-janda korban Rawagede yang difasilitasi Komite Utang Kehormatan Belanda. Pemerintah Belanda diperintahkan meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada janda-janda korban Rawagede itu masing-masing sebesar 20 ribu euro.

Pengadilan Belanda memenangkan gugatan seorang perempuan Indonesia yang diperkosa serdadu Belanda tahun 1949. Pemerintah Belanda diharuskan membayar ganti rugi kepada korban.
Perempuan Indonesia yang ketika peristiwa itu terjadi berusia 18 tahun, menggugat Kerajaan Belanda karena ia diperkosa oleh beberapa serdadu Belanda bulan Februari 1949.

Pengadilan Den Haag menjatuhkan sanksi pembayaran ganti rugi senilai 7.500 Euro. Pengacara penggugat tadinya menuntut ganti rugi senilai 50.000 Euro.

Putusan Rawagede turut memantik desakan kepada Belanda untuk meneliti kembali agresinya di Indonesia. Dan Rawagede disebut-sebut bakal menjadi objek penelitian berbiaya Rp 61 miliar, yang oleh sebagian pihak di Belanda maupun Indonesia dinilai bias kepentingan politik.

“Mereka melakukan penelitian itu hanya untuk mencari kambing hitam saja supaya tidak disalahkan kalau mereka melakukan kejahatan perang. Kemerdekaan Indonesia itu tidak diakui sampai KMB, Konferensi Meja Bundar, tanggal 27 Desember 1949. Perlu diingat kalau itu berarti Hindia Belanda bukan Indonesia. Itu kalau Belanda mengakui, Belanda itu mematikan dirinya sendiri,” kata Jeffry Pondaag, Ketua KUKB.

Aksii kejam ini masih membawa luka. Sehingga berimbas pada rencana Kedatangan Raja dan Ratu Belanda ke Indonesia pada Maret 2020 lalu juga mendapat penolakan dari sejumlah pihak terutama keluarga korban pembantaian Westerling.