Cerita Kejayaan Masa Lalu Persik Kediri yang Pernah Kejutkan Pentas Asia

Rabu, 01 Desember 2021, 14:56 WIB
100

Selalu asyik apabila mengulik sejarah atau kisah klub sepak bola legendaris Indonesia. Karena, selalu saja ada jatuh bangun yang mengiringinya Salah satu kisah bak roda berputar itu ada dalam masa lalu Persik Kediri.

Persik menjadi klub kebanggaan kota Kediri dan telah berdiri sejak tahun19 Mei 1950. Klub yang mendapat julukan Macan Putih ini bermarkas di Stadion Brawijaya yang berkapasitas sebanyak 20 ribu orang.

Ketika debut pertama kali berpartisipasi dalam kancah persepak bolaan nasional, Persik Kediri ditangani oleh sosok legendaris di Timnas Indonesia, yakni Sinyo Aliandoe.

Seiring waktu berjalan, banyak kejutan yang diberikan oleh Persik Kediri. Berikut ini kisah tersebut akan diuraikan lebih jauh.

 

Dua Kali Juara Liga Indonesia

Prestasi Persik Kediri melesat menjelang memasuki milenium baru atau tepatnya pada musim 1999/2000. Kala itu, tim menajemen dikepalai oleh Iwan Budianto, sosok yang sudah berpengalaman dalam menangani Arema. Mereka pun meraih gelar juara Divisi Dua atau kompetisi kasta keempat dalam piramida sepak bola Indonesia tersebut.

Singkat saja, Iwan Budianto kala itu menjadi manajer Persik setelah diminta oleh sang pemilik Persik sekaligus mertuanya, yakni HA Maschut. Apalagi, Iwan Budianto pun membajak beberapa bintang Arema seperti Johan Prasetyo, Aris Susanto, hingga Wawan Widiantoro. Tak ayal, label pengkhianat disematkan oleh Aremania kepada sosok yang kerap disapa IB tersebut.

Gelar juara tersebut pun membawa Persik promosi ke Divisi Satu. Cukup dua tahun bagi Persik Kediri berada di kompetisi kasta ketiga tersebut. Sebab pada tahun 2002, mereka menjadi juara dan mendapatkan kesempatan untuk promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia 2003.

Di kompetisi itulah Persik Kediri mengejutkan public sepak bola tanah air. Berstatus sebagai tim promosi, mereka berhasil meraih gelar juara di akhir musim. Pada saat itu, kompetisi bernama Liga Bank Mandiri.

Kalender kompetisi kala itu berlangsung mulai 12 Januari 2003 hingga 15 September 2003. Format kompetisi berubah tidak lagi menggunakan sistem pembagian wilayah. Melainkan, tim yang terus berada di puncak klasemen hingga akhir musimlah yang menjadi juaranya.

Meraih gelar juara untuk pertama kalinya di level tinggi sepak bola Indonesia menjadi sebuah pencapaian yang tidak pernah diduga-duga. Termasuk sang pelatih yang kala itu menahkodai Persik, yakni Jaya Hartono.

“Kami ini tim kampung, bukan saingan buat tim besar seperti Persija, PSM, Persita,” tutur mantan pelatih kelahiran Medan, 20 Oktober 1963 tersebut.

Total 67 poin berhasil mereka kumpulkan dan hanya berselisih lima poin dari “Pasukan Ramang” PSM Makassar di tangga kedua. 67 poin itu didapatkan oleh tim Macan Putih hasil dari 18 kali menang dan 13 kali imbang.

Persik meraih gelar juara dengan predikat tim paling subur, yakni dengan mencetak gol sebanyak 72 kali. Selain itu, mereka juga menjadi tim yang paling sedikit kebobolan, yakni hanya 32 kali. Hal ini tidak lepas dari kolaborasi Siswantoro, Juan Carlos, Aris Susanto di lini pertahanan.

Sedangkan sang striker, yakni Musikan, diberikan predikat sebagai pemain terbaik. Bukan cuma itu, dia juga menjadi striker local paling subur dengan catatan 21 gol. Torehannya ini sepuluh gol lebih sedikit ketimbang Oscar Aravena yang kala itu berseragam PSM Makassar dan menjadi top skor.

Tiga tahun kemudian atau pada Liga Indonesia 2006 (Liga Djarum), gelar juara kembali diraih oleh Persik Kediri di kasta teratas sepak bola Indonesia.

Pada saat itu, format kompetisi menggunakan pembagian wilayah berdasarkan letak geografisnya dan diikuti oleh 28 tim.

Tergabung ke dalam Wilayah Dua, Persik Kediri mengakhiri babak regular dengan menenmpati posisi kedua berada di bawah Persemin Minahasa. Langkah mereka pun berlanjut ke posisi 8 besar bersama tiga tim lain dari Wilayah Dua dan empat tim Wilayah Satu.

Di babak 8 besar kembali dibagi ke dalam dua grup. Persik Kediri memuncaki klasemen Grup Barat dengan raihan tujuh poin hasil dari dua kali menang dan sekali imbang.

Persik pun berhak tampil di semifinal yang mana bertemu Persemin Minahasa. Dalam perebutan tiket ke babak final ini, Persik menang dengan skor 3-1. Gol-gol Persik dicetak oleh Cristian Gonzales, Khusunul Yuli, dan Theofilus Sukore.

Persik berjumpa dengan PSIS Semarang dalam perebutan gelar juara. Laga pun berlangsung sengit. Selama 90 menit waktu normal, tidak ada gol yang tercipta sehingga laga pun dilanjut ke perpanjangan waktu.

Dalam laga yang berlangsung di Stadion Manahan itu, Cristiano Gonzales memastikan trofi juara terbang ke kota Kediri setelah gol semata wayangnya di menit 109’ memenangkan Persik.

Striker kelahiran Uruguay itu sendiri menggondol gelar top skor berkat koleksi 29 gol yang dibukukannya.

 

Kiprah Macan Putih di Pentas Asia

Dua kali berhasil menjadi kampiun Liga Indonesia, dua kali pula membuat Persik Kediri berkesempatan untuk tampil di Liga Champions Asia. Ya, Persik tampil di kompetisi kontinental itu pada 2004 dan 2007.

Sayangnya, ketika tampil merepresentasikan Indonesia di kompetisi paling bergengsi antarklub di Benua Asia itu, Macan Putih tak mampu untuk mengaum keras. Sebab, penampilan mereka mentok hanya di fase grup dan tak mampu lolos ke fase berikutnya.

Pada Liga Champions Asia 2004, tim yang identik dengan warna ungu ini tergabung di dalam Grup G bersama Seongnam Ilhwa (Korea Selatan), Yokohama Marinos (Jepang), dan Binh Dinh (Vietnam). Persik gagal lolos ke fase gugur setelah hanya mampu duduk di peringkat ketiga, hasil dari satu kali menang, sekali imbang, dan empat sisanya kalah.

Kemenangan mereka dapatkan ketika menundukkan Binh Dinh 1-0 di Stadion Brawijaya pada 21 April 2004. Sedangkan hasil imbang diraih saat pertemuan kedua dengan Binh Dinh dengan skor 2-2 di Vietnam.

Inilah yang memalukan. Persik juga mencatatkan salah satu kekalahan terbesar dalam kompetisi. Bermain melawan Seongnam di Tancheon Sports Complex, Persik dibantai 15-0. Bahkan ketika jeda babak pertama, kipper Persik Wawan Widiantoro sudah dipaksa memungut bola sebanyak tujuh kali dari gawangnya sendiri.

Pada kesempatan keduanya tampil di Liga Champions Asia, tepatnya pada 2007, penampilan Persik juga tidak berbeda jauh. Namun, mereka sempat menunjukkan satu hasil mengejutkan kala itu.

Saat itu, Persik tergabung ke dalam Grup E bersama Sydney FC (Australia), Shanghai Shenhua (China), dan Urawa Reds Diamonds (Jepang).

Kejutan itu dihadirkan Persik dalam pertemuan kedua melawan Urawa Reds yang terjadi di Stadion Manahan, 9 Mei 2007 silam. Dalam laga yang dihadiri oleh 10 ribu penonton itu, Persik memberikan perlawanan.

Mereka kebobolan sejak menit ke-9, tapi mereka menyamakan kedudukan berkat gol yang dicetak oleh Cristian Gonzales di menit 23. Bahkan, striker berjuluk El Loco itu kembali membawa Persik yang kala itu ditangani oleh Alfiat, membalikkan keadaan jadi 2-1.

Namun, Urawa Reds mencetak dua gol tambahan di menit 50’ atas nama Robson Ponte serta Yuki Abe di menit 62’. Skor pun untuk sementara berubah jadi 2-3.

Budi Sudarsono menjadi penyelamat Persik Kediri dan memaksa pertandingan berakhir imbang menjadi 3-3 berkat golnya di menit 83’.

Pada akrhinya, Persik memang gagal lolos dari fase penyisihan setelah hanya menempati posisi ketiga. Mereka hanya mengumpulkan 7 poin hasil dari dua kali menang dan sekali imbang.

Urawa Reds sendiri menjadi juara grup dan mampu melanjutkan langkahnya hingga menjadi kampiun setelah pada babak final sukses mengalahkan wakil Iran, Sepahan 2-0.

 

Terdegradasi Setelah Ditinggal Iwan Budianto

Pada 2007, Iwan Budianto ditarik untuk menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI. Selain itu, dia maju dalam bursa Calon Walikota Kediri periode 2009-2014, tapi kalah. HIngga akhirnya, dia pun memutuskan mundur dari posisi manajer Persik, posisi yang sudah diembannya sejak 2002.

Kepemimpinan beralih ke tangan Samshul Ashar. Namun, ini menjadi awal mundurnya prestasi Persik di kancah sepak bola nasional. Mereka pun terdegradasi di akhir kompetisi Liga Super Indonesia 2009/10. Mereka baru bisa mentas di Liga Super Indonesia pada 2014.

Kisah miris lainnya dari Persik terjadi pada 2015, di mana keikutsertaannya di Liga Super Indonesia kala itu didiskualifikasi karena tidak memenuhi persyaratan dari segi finansial serta infrastruktur.

Kini Persik sudah kembali bermain di kompetisi kasta teratas Liga Indonesia atau Liga 1 sejak 2020. Hal ini terjadi setelah pada 2019 mereka berhasil menjadi juara di Liga 2.