Cerita Legenda Manusia Harimau yang Sangat Dihormati Masyarakat Sumatera

Kamis, 30 September 2021, 21:38 WIB
32

Sebelum ada manusia, harimau merupakan satwa pemuncak di hutan. Para leluhur manusia di Sumatera memandang harimau sebagai “wong tuo” yang harus dihormati. Sikap ini yang kemudian melahirkan tradisi atau budaya yang intinya tetap menjaga keberadaan harimau di hutan rimba.

Jika di wilayah pegunungan Sumatera Selatan, seperti di Pasemah harimau disebut “nenek” dan di pesisir dipanggil “puyang”. Di Aceh diyakini adanya harimau hitam dan putih, yang fungsinya menjaga makam-makam keramat. Termasuk adanya harimau [rimueng] yang menjaga makam Teuku Cot Bada di Pidie.

Gates Of Olympus

Di Sumatera Utara, harimau dipanggil “ompung” [kakek], di Sumatera Barat dipanggil “datuk” [kakek] atau “inyiak” [nenek], di Kerinci “hangtuo” [orang tua].

Bahkan kelompok masyarakat mengenal adanya manusia harimau atau siluman. Baik di Sumut, Sumbar, Kerinci, Bengkulu, Kerinci, dan Sumsel. Manusia harimau di Sumsel, tepatnya di Pasemah [Pagaralam, Lahat dan Muaraenim] yang disebut sumai, dan di Kerinci disebut cindaku. “Di Jawa Barat, Prabu Siliwangi pun memiliki ilmu siluman harimau,” katanya.

Salah satu legenda hubungan manusia dengan harimau yakni kisah “Tujuh Manusia Harimau”. Kisahnya pernah ditulis [novel] oleh Motinggo Busye, sastrawan kelahiran Bandar Lampung, Lampung, yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama.

Jika Motinggo Busye menulis berdasarkan cerita rakyat mengenai tujuh manusia harimau yang hidup di Bukit Sarang Macan, Desa Ladang Palembang, Kabupaten Lebong, Bengkulu, maka bagi masyarakat Pasemah, tempat berkumpul tujuh manusia harimau ini berada di sebuah wilayah di Desa Tunggul Bute, Kabupaten Muaraenim, Sumsel. Lokasinya tak jauh dari hutan lindung tempat terjadinya Mustadi [52] yang tewas diterkam harimau beberapa hari lalu.

Legenda manusia harimau di Bengkulu ini juga disinggung Willian Marsden dalam bukunya “The History of Sumatra” yang terbit kali pertama 1984.

Rise of Olympus

“Bayangkan, jika kawanan harimau tersebut pergi, entah itu musnah karena dibunuh atau dipindahkan, maka tradisi atau budaya itu akan lenyap,” katanya.

“Cukup sudah yang dialami masyarakat Jawa dan Bali. Memang tradisi itu masih ada, tapi karena harimaunya sudah punah, kemungkinan besar tradisi tersebut akan hilang di masa mendatang,” ujar Husni.

Harimau dan Budaya Suku Kluet di Aceh

Kisah Legenda Manusia Harimau Pelindung Warga Bengkulu - Regional  Liputan6.com

Penghormatan terhadap harimau adalah salah budaya yang dilahirkan dari interaksi masa lalu nenek moyang orang Kluet, moyang mereka tidak menjadikan harimau sebagai hewan peliharaan semata, tetapi lebih kepada hubungan sebagai seorang sahabat yang diwariskan. Yang menimbulkan apa yang ahli biologi sebut simbiosis mututalisme.

Pengetahuan orang Kluet tetang waktu harimau akan kawin dan melahirkan, yakni pada musim legu (kemarau), biasanya harimau jantan akan pindah ke lokasi lain yang ada harimau betinanya. Ketika berhadapan dengan sang betina, harimau jantan akan memperlihatkan kekuasaannya untuk menarik perhatian betina, saat itu tiba jantan dan betina akan kawin.

Cerita Begu Jadian di Suku Kluet

Home for All: Manusia Harus Berbagi Ruang Hidup dengan Harimau Sumatera -  Mongabay.co.id : Mongabay.co.id

Harimau dayo atau harimau daya adalah seseorang yang telah menjelma menjadi seekor harimau yang memiliki ilmu kebatinan yang tinggi, cerita ini hidup di tengah orang Kluet. Dari cerita ini orang-orang percaya bahwa tidak boleh keluar rumah saat magrib tiba dan tidak boleh menyinggung perasaan orang lain. Harimau daya ini ada pada masyarakat Kluet pada masa penjajahan Belanda yakni sekitar tahun lima puluhan ke bawah.

Di Kluet Tengah misalnya, pada masa itu ada satu keluarga yang merupakan keturunan dari harimau daya ini dan apabila dia mati kemudian dimandikan menggunakan jeruk purut. Kulitnya akan berubah menjadi harimau.

Begitulah kepercayaan mereka tentang harimau daya. Dari kisah yang pernah diceritakan oleh orang tua mereka, telah menjadi pelajaran bagi hidup orang Kluet. Mereka tidak boleh sembarangan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Terutama dalam hal berhubungan dengan harimau, orang Kluet masa lalu sangat menghormati keberadaan si “Muan” sebagai penjaga hutan.

Ada dua jenis harimau yang umumnya diketahui oleh orang Kluet, yaitu harimau aulia dan harimau siluman (daya). Dua hal ini sangat jelas terlihat berbeda dari kedua cerita di atas. Harimau aulia disebut sebagai harimau yang baik dan suci, yang suka membantu manusia dan akrab dengan manusia.

Sementara harimau siluman merupakan manifestasi dari seorang manusia yang memiliki hati yang buruk, dibenci oleh manusia dan suka menganggu manusia.

Eksotisme Harimau dalam Budaya Kluet - PDF Free Download

Salah satu budaya yang kini telah lama dilupakan oleh sebagian orang Kluet yang berhubungan dengan harimau adalah tarian Landok Begu. Sebuah tarian yang merepresentasikan hubungan manusia dengan hewan yang dikenal buas ini.

Pada masyarakat, tarian ini merupakan sebuah tarian yang memiliki kesakralan yang cukup tinggi. dari pengaruh cerita-cerita rakyat sehingga terbentuklah sebuah edukasi untuk mengusir harimau. Landok berarti tarian sedangkan Begu berarti harimau yang bahwa Landok Begu adalah Tarian Harimau.

Masyarakat Kluet yang kita pahami sekarang adalah masyarakat Kluet yang memiliki hutan lindung yang cukup luas, namun lebih daripada itu, beberapa kebudayaan nampaknya jarang disoroti, sehingga tak banyak yang mengetahui.

Lahirnya Landok Begu adalah upaya masyarakat untuk menghindari terhadap serangan harimau. Serangan dari harimau dianggap sebagai bala, sehingga tiap setahun sekali saat pelaksanaan upaca Tulak Bala dilakukan pengusiran ini.

Landok Begu pertama kalai dibawakan oleh Enyak Wali dan Abdul Gani antara tahun 1950 an dan tahun 1960. Namun, ketika ada Gerakan Aceh Merdeka tarian ini sempat meredup dan mulai kembali ketika RI dengan Aceh sudah menemukan titik terang.

Pada awal tercipptanya Landok Begu ini dikarenakan pada masyarakat Lawee Sawah dulunya sering bertemu dengan harimau, sehingga mereka mencari cara untuk membela diri ketika berhadapan dengan harimau.

Landok Begu merupakan sebuah tarian yang menirukan gerakan harimau dimana di dalam tarian ini terciptanya suasana yang mencekam karena perselisihan antara manusia dengan harimau. Awalnya tari ini dilakukan ketika musim Tulak Balo (menolak bala), namun seiring berjalannya waktu, Landok Begu digunakan sebagai upacara perayaan kelahiran (turun bo lawei) atau acara pernikahan adat. Landok begu ditarikan dengan harapan bahwa harimau tidak akan mengganggu ketentraman masyarakat setempat.

Tari ini menceritakan tentang gambaran zaman dulu yang mana masyarakat mencari nafkah di dalam hutan dan sering bertemu dengan harimau, sehingga dalam tari ini juga menggunakan gerak silat untuk melindungi diri mereka yang disebut silet begu.

Citra Si Raja Rimba dalam Adat Sumatra Utara

Kisah Babiat Sitelpang, Legenda Harimau yang Menjadi Ompung Bagi Orang Batak

Di Sumatra Utara, terdapat legenda Batak “Babiat Setelpang” tentang harimau pincang yang menjaga ibu serta seorang anak yang diasingkan ke dalam hutan. Selain itu, masyarakat Batak Mandailing di sana juga percaya bahwa bila ada harimau memasuki pemukiman, itu artinya ada orang di pemukiman tersebut yang melakukan hal yang dilarang.

Lain lagi kisahnya di Minangkabau, di sana harimau dipercaya sebagai roh leluhur mereka dan menjadi inspirasi aliran ilmu bela diri di sana, yakni silek (silat) harimau. Bela diri tersebut menggunakan senjata yang disebut kurambik, sejenis pisau kecil yang merepresentasikan cakar harimau.

Terdapat pula mitos yang mengatakan bahwa pesilat yang menguasai silek harimau dapat berubah wujud menjadi harimau.

Berbagai kepercayaan di Sumatera tersebut secara tidak langsung melahirkan tradisi atau budaya untuk menjaga keberadaan harimau.

Orang dulu berkeyakinan bahwa pantang bagi siapa pun menyebut “harimau”. Mereka harus menyebutnya dengan panggilan yang dituakan dalam bahasa setempat karena harimau dianggap makhluk yang telah lebih dulu menempati pulau ini jauh sebelum kedatangan manusia.

Di Tapanuli, Harimau Sumatera dipanggil “Ompung” yang berarti kakek atau buyut. Menurut Budayawan Tapanuli Selatan, Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam, asal muasalnya dapat ditelusuri dalam legenda Batak “Babiat Setelpang”.

Legenda ini mengisahkan harimau pincang yang menjaga Boru Pareme serta anaknya, yang diasingkan ke dalam hutan. Buah dari persahabatan tersebut, terdapat semacam kesepakatan bahwa harimau tidak akan memakan keturunan Boru Pareme. Anak dari Boru Pareme, yaitu Raja Lontung, kelak memiliki sembilan orang anak yang menjadi marga besar suku Batak.

“Zaman dulu kalau orang Batak ketemu harimau, cukup dengan mengatakan, Lontung do au Ompung! (Aku ini Lontung Kakek), maka harimau tidak akan menyerang kita,” jelas Sutan Barani. Masyarakat Batak Mandailing juga percaya bahwa bila ada harimau memasuki pemukiman, itu artinya ada larangan adat dan hukum moral yang dilanggar di pemukiman tersebut. Legenda ini lalu mewujud menjadi nilai-nilai sosial, budaya, dan kearifan lokal yang penting dalam pelestarian harimau sumatera.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Hotmauli Siregar juga mengakui perlunya kearifan lokal ini digalakkan kembali. Alih-alih dihormati, kini harimau justru menjadi ancaman.

Konflik manusia dan harimau semakin marak terdengar, yang memakan korban dari kedua belah pihak.  “Jumlah populasi harimau Sumatra saat ini semakin sedikit dan terancam punah. Menurut data BBKSDA Sumut, ada 400-600 ekor harimau yang berada di beberapa habitat di Sumatra. Sedangkan untuk di Sumut, jumlahnya diperkirakan tinggal 33 ekor yang tersebar di beberapa habitat,” papar Hotmauli.

Lanskap Batangtoru juga merupakan habitat Harimau Sumatra, Sobat SMILE. Tentunya kita tidak mau Harimau Sumatera hanya tinggal legenda saja. Dengan melestarikan Harimau Sumatera dari kepunahan berarti kita telah turut menjaga warisan nenek moyang, menjaga satwa kebanggaan negara kita, dan menjaga identitas budaya kita. Yuk, kita mulai dengan menjaga ekosistem batangtoru tetap lestari sebagai rumah ‘ompung’ kita!