Cerita Menarik dari Ching Shih, Pelacur yang Jadi Bajak Laut Terkenal

Selasa, 28 September 2021, 15:38 WIB
130

Saat membahas bajak laut, sebagian besar orang membayangkan sosok laki-laki dengan badan mirip raksasa yang mengerikan, bernama Blackbeard atau Long John Silver. Sebagian besar bajak laut memang lelaki, tetapi salah satu bajak laut paling terkenal dan paling ditakuti sepanjang sejarah adalah Ching Shih.

Dia perempuan muda berdarah Kanton, yang menjadi pemimpin salah satu armada kapal terbesar sepanjang masa. Dia juga pemimpin kerajaan kriminal lautan, yang saking berkuasanya, bahkan tidak bisa dihentikan militer Tiongkok.

Gates Of Olympus

Tidak banyak data tentang kehidupan awalnya, kecuali fakta ia sempat bekerja di sebuah bordil di Kanton. Pada 1801, Ching Shih menikahi komandan bajak laut bernama Ching Yih dan memerintah bersama sang suami saat memperluas wilayah kekuasaannya. Saat suaminya tiba-tiba meninggal pada 1807, Ching Shih sudah tahu apa yang harus ia lakukan: Mengambil kendali dan mengklaim kepemimpinan atas armada yang diperkuat antara 40.000 hingga 60.000 kapal.

Dihormatinya Ching Shih oleh para bajak laut lelaki, bahkan mereka tak segan mengangkatnya sebagai komandan, membuktikan keterampilan politiknya dan kehormatan yang ia dapatkan dari seluruh awak kapal.

Tak lama kemudian, ia menunjuk putra adopsinya, Chang Pao, menjadi komandan armada paling kuat, lalu menikahinya. Memang agak aneh sih, tapi keduanya menjadi duet hebat yang manuvernya ditakuti di seluruh kawasan Laut Cina Selatan.

Pakar sejarah tidak tahu penampilan Ching seperti apa, walau beberapa sejarawan berasumsi dia menarik perhatian mendiang suaminya karena cantik, bukan karena kecerdasannya.

Ada beberapa penulis Barat yang menceritakan fisik Ching secara meragukan dan berlebihan, seakan-akan dia seorang “dewi” cantik berbekal pedang dan berpakaian baja mengkilap bermotif naga emas.

Rise of Olympus

Teks sejarah yang dapat diandalkan lebih menggambarkan Ching Shih sebagai “ahl strategi perang ulung”, “penegak disiplin yang bengis,” dan “pengusaha luar biasa.”

Melihat catatan kiprahnya dalam sejarah, pujian-pujian dalam serat klasik Tiongkok itu lebih bisa dipercaya karena tidak berlebihan.

Mengatur Anak Buah Kapal

Mistress Ching Retires Rich: 1810 - Top 10 Audacious Acts of Piracy - TIME

Dengan bantuan kode etik yang ditulis Chang Pao, ia menentukan peraturan jelas setiap perilaku awak kapal, pengelolaan keuangan, dan struktur kekuasaan di armada, serta hukuman kejam bagi yang berani mencuranginya atau tidak menaatinya. Kepemimpinan Ching Shih yang amat keras tidak terbatas pada korban perampokan anak buahnya, tetapi juga anggota armadanya yang berani membangkang.

Salah satu peraturan yang diterapkan Ching Shih adalah semua jarahan wajib didaftar dulu. Lalu 80 persen hasil rampokan harus masuk ke dalam dana umum. Ironisnya, mencuri harta dari dana tersebut merupakan salah satu kesalahan terbesar yang bisa dibuat seorang bajak laut; pelakunya bakal dihukum mati.

Seperti yang diingat seorang sejrawan, reaksi Ching Shih yang kejam dan kadang mematikan terhadap kesalahan kecil memaksa krunya bersikap jujur. Para bajak laut di bawah komandonya “selalu berhati-hati dan berperilaku dengan baik.”

Berkat kemampuan mengurus armadanya secara cermat dan kejam, Ching Shih mengubah manajemen pembajakan yang semrawut, menjadi semacam perusahaan yang sangat terorganisir, yang membuat Ching Shih menjadi perempuan kaya raya.

Tentu, seperti kebanyakan pemimpin laki-laki dan jenderal sepanjang sejarah, kesuksesan Ching Shih diraih dengan cara mengorbankan kehidupan orang tak bersalah. Dia bukan malaikat. Ceritanya yang luar biasa mengingatkan kita semua bahwa perempuan bisa melakukan apapun yang dilakukan laki-laki. Perempuan bisa brutal, berani, kejam, berkuasa, sekaligus mematikan.

Kekaisaran Tiongkok selama Abad 19 mencurahkan upaya signifikan untuk menumpas para bajak laut. Berkat kemampuan taktis Ching Shih, armadanya menjadi sangat berkuasa, sehingga pemerintah Tiongkok berhenti berusaha membasmi armadanya, dan alih-alih, memilih bernegosiasi dengannya.

Ching Shih ternyata sadar bila merompak kapal bukanlah karir yang dapat dijalankan pada jangka panjang, terutama karena lambat laun risiko terus menjalankan karir macam itu adalah kematian—oleh musuh, atau karena tertangkap pemerintah. Jadi, pada 1810, ia turun dari kapal bersama kru bajak lautnya, berjalan tanpa senjata ke kantor gubernur-jenderal setempat, lalu meminta amnesti.

Dengan dukungan pasukannya yang bikin nyali siapapun ciut, Ching Shih berhasil meneken kesepakatan yang sangat menguntungkan. Ching Shih dan banyak perompak lainnya tak hanya mendapatkan pengampunan atas segala kejahatan yang mereka lakukan, tapi juga berhak atas segala jarahan mereka.

Saat meninggal pada 1844 di usia 69 tahun, Ching Shih berhasil mengubah dirinya dari perempuan muda tak berdaya, yang terpaksa bekerja di rumah bordil, menjadi bajak laut perempuan paling berkuasa dalam sejarah manusia. Torehan Ching Shin lainnya: dia adalah satu-satunya bajak laut yang mati di usia tua, karena sebab alamiah. Tak banyak bajak laut lelaki bisa menyamai prestasi tersebut.

Antara Ching Shih dan Blackbeard

Kisah Ching Shih, Mantan PSK Jadi Bajak Laut Tersukses Pemimpin 80.000  Perompak | kumparan.com

Blackbeard merupakan tokoh paling terkenal pada masa keemasan bajak laut pada akhir 1600-an hingga pertengahan 1720-an. Riwayatnya populer karena penjarahan kapal sampai memblokade kota Charleston selama hampir satu minggu.

Namun, cerita yang paling ikonik dalam kehidupan Blackbeard justru pada kematianya pada 22 November. Disinilah Blackbeard atau Edward Teach (nama aslinya) menemui ajal yang mengerikan di tangan pimpinan Letnan Angkatan Laut Inggris bernama Robert Maynard.

Gubernur Virginia, Alexander Spotswood memerintahkan Maynard untuk melacak Blackbeard dan anak buahnya di Pulau Ocracoke Carolina Utara.

Armada Maynard berlayar dari Williamsburg pada 17 November 1718 menyusuri Sungai James. Maynard berlayar dengan dua kapal sekoci bernama Ranger dan Jane yang bisa bernavigasi di perairan dangkal Pamlico Sound.

Kapal Ranger berkapasitas 25 orang dan Jane 35 orang. Kapal-kapal itu melaju tanpa meriam sehingga pasukan Maynard harus bergantung pada senjata pribadi mereka untuk menghadapi kapal musuh dengan bersenjatakan meriam lengkap yang siap digunakan.

Menjelang sore pada 21 November, kapal Maynard telah sampai pada ujung selatan Ocracoke. Mereka segera memata-matai dua kapal jangkar kecil milik Blackbeard yang tengah menghadap Pamflico Sound. Menjelang malam, Maynard menjangkarkan Ranger dan Jane untuk bermalam.

Blackbeard tidak menyadari bahwa ia sedang diintai oleh armada angkatan laut. Bersama 20 anak buahnya, ia menghabiskan waktu untuk minum-minum dan berpesta pora bersama pedagang lokal bernama Samuel Odell.

Pagi berikutnya, lautan sangat tenang dan angin berhembus kencang. Satu-satunya suara yang terdengar adalah burung-burung yang menerbangi lautan. Pada pukul sembilan, Maynard memerintahkan Ranger untuk membuka jalan menghampiri dua kapal Blackbeard.

Kemudian Jane mengikutinya dari belakang dan melempari muatan yang berat ke lautan untuk meringankan beban. Kedua kapal itu segera mengepung armada Blackbeard. Namun serangan kejutan itu gagal.

Walau dengan kondisi mabuk, anak buah Blackbeard menyadari keributan di sekitarnya. Karena tahu akan diserang, Blackbeard memerintahkan anak buahnya untuk segera berlayar. Para perompak itu mulai menembaki kapal yang mendekat untuk mengintimidasi mereka.

Tampaknya rencana Blackbeard ialah untuk keluar dari area yang baru saja dimasuki oleh pasukan angkatan laut. Pertempuran di perairan pun tak terelakan.

Kapal Jane tepat berada di belakang Blackbeard. Ketika posisinya berada di dekatnya ada percakapan singkat antara Maynard dan Blackbeard pada catatan koran lama Boston News-Letter di halaman Time.

“Pada salam pembuka kami,” tulis Maynard, “Blackbeard mengutuku dan orang-orangku, yang ia namakan anak-anak anjing yang menangis tersedu-sedu,” catatan Maynard di halaman Time.

Begitu pembicaraan selesai, Blackbeard melepaskan meriam yang menewaskan komandan kapal Ranger dan melukai lima orang lainya. Memaksa Ranger untuk mundur dari pertempuran.

Tembakan bom itu juga mengenai Jane namun mereka tidak mudah menyerah. Mereka memotong tali layar dan bersembunyi di bawah geladak. Maynard tidak hanya mundur untuk keluar dari bahaya. Tapi juga mempersiapkan jebakan.

Sebelum bersembunyi di kabin buritan kapal, Maynard memerintahkan nahkodanya untuk tetap mengawasi pergerakan Blackbeard. Jika rencana ini berhasil, maka para bajak laut itu akan mendatangi kapalnya dan masuk dalam perangkap.

Melihat geladak kapal Jane tidak ada orang, Blackbeard berpikir bahwa meriamnya telah mematikan mereka. Artinya, pertempuran dimenangkan oleh Blackbeard.

Segera, Blackbeard melemparkan tali dari kapalnya ke kapal Jane untuk menyambungkanya. Setelah Blackbeard berada di atas kapal Jane, nahkoda langsung memberi isyarat pada Maynard dan pergi ke geladak utama. Seketika, pertempuran berlangsung.

Selama enam menit terjadi huru-hara. Mereka saling menebas, mendorong, dan menembak satu sama lain dari jarak dekat. Dengusan dan jeritan, berbaur dengan suara baja yang saling beradu dan bubuk mesiu yang meledak.

Ketika asap menghilang, Blackbeard yang hebat pun terbaring mati dan sisa anak buahnya di kapal Jane tewas dan terluka parah. Pada waktu yang hampir bersamaan Ranger tiba dan menaiki kapal Blackbeard untuk menghantam sisa-sisa anak buahnya.

Bajak laut yang kehilangan keberanianya lompat ke lautan. Mereka tidak bertarung sampai akhir dan ditembaki dalam air saat mencoba melarikan diri. Tak ada satupun yang selamat.

Menurut Maynard, tidak ada anak buahnya yang “mati sebagai pahlawan”. Banyak dari mereka terpotong-potong dan hancur berantakan.

Secara keseluruhan, sekitar sepuluh prajurit angkatan laut tewas. Demikian juga hampir seluruh anggota Blackbeard tewas. Walaupun tidak ada kesepakatan jumlah korban tewas yang pasti dalam beberapa catatan sejarah.

Maynard mengambil sembilan tahanan bajak laut, tiga diantaranya berkulit putih dan sisanya berkulit hitam.

Salah satu yang terluka adalah pedagang Odell yang mengunjungi Blackbeard untuk berpesta dan terjebak dalam pertempuran. Meskipun Odell bertempur dipihak bajak laut, Maynard berhutang budi padanya. Karena ia yakin kalau bukan karena Odell, akan lebih banyak anak buahnya yang tumbang.

Sebelum pertempuran dimulai, Blackbeard menginstruksikan salah satu krunya, seorang kulit hitam bernama Caesar untuk meledakan kapal jika bajak lautnya dikalahkan. Caesar saat itu sudah siap menyalakan api. Namun Odell dan salah satu seorang awaknya justru merebut api dari tanganya.

BERITA TERKAIT