Cerita Menarik tentang Bekasi Tempo Dulu Sebelum Jadi Kota Berkembang

Jumat, 31 Desember 2021, 15:59 WIB
47

Edisi Bonanza88, Jakarta – Pada awalnya Kota bekasi  merupakah hanya sebuah kecamatan dari Kabupaten Bekasi. Kemudian tahun 1982 kecamatan bekasi dinaikkn statusnya menjadi Kota Administratif Bekasi yang pada masa itu hanya terdiri empat kecamatan yaitu kecamatan Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Bekasi Timur, dan Bekasi Utara, serta meliputi 18 kelurahan dan 8 desa.

Dan pada 1996 Kota Administratif Bekasi dinaikkan lagi statusnya menjadi Kotamadya dan sekarang dikenal dengan nama Kota Bekasi. seiring perkembangannya, saat ini kota bekasi menjadi wilayah industri dan wiayah tinggal kaum urban. Kota yang lokasinya berada dalam lingkungan megapolitan ini, adalah salah satu kota besar yang menempati posisi keempat di Indonesia yang ada di provinsi Jawa Barat.

Masyarakat Bekasi memiliki jati diri kuat, peradaban unggul dan sejarah yang panjang. Para ilmuwan hingga pujangga mencatat betapa nama Bekasi telah termasyhur sampai penjuru Nusantara dan mancanegara sejak ribuan tahun silam.

Ahli filologi Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka mentahbiskan nama Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, nama sungai yang dibangun pada abad ke-5 Masehi oleh salah seorang Raja Tarumanagara bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti “bulan” dan Bhaga yang berarti “bahagia”.

Kata Chandra dalam bahasa Sanskerta sama dengan kata Sasi dalam bahasa Jawa kuno, sehingga nama Candrabhaga identik dengan kata Sasibhaga, yang apabila diterjemahkan secara terbalik menjadi Bhagasasi.

Pada perkembangannya, pelafalan kata Bhagasasi mengalami perubahan. Berbagai sumber tertulis abad ke-18 sampai abad ke-21 menerakan nama Bekasi dengan tulisanBakasie, Bekasjie, Bekasie, Bekassi, dan terakhir Bekasi.

Bekasi juga dikenal sebagai Kota Patriot, karena dari masa ke masa, terutama pada masa penyerangan tentara Mataram terhadap VOC di Batavia pada 1628-1629 sampai perang kemerdekaan 1945-1949, wilayah Bekasi merupakan front terdepan bagi para patriot pejuang Indonesia untuk menghalau Belanda yang berada di Jakarta.

Asal Usul Nama Bekasi, Berasal dari Kata Baghasasi di Prasasti Tugu Halaman  all - Kompas.com

Patriotisme dan perjuangan yang dilakukan para pejuang, termasuk Pahlawan Nasional KH Noer Alie, mengilhami banyak orang untuk berkarya. Seperti Chairil Anwar melalui sajak monumental “Krawang-Bekasi,” wartawan Darmawijaya dalam puisi “Kami Membangun, Pembakaran Bekasi,” pencita lagu dan aranser Ismail Marzuki melalui lagu “Melati di Tapal Batas,” budayawan Pramoedya Ananta Toer dalam roman sejarah Di Tepi Kali Bekasi, serta sejarawan Bekasi Ali Anwar dalam buku Sejarah Bekasi Sejak Purnawarman sampai Orde Baru, Cuplikan Sejarah Patriotik di Bekasi, KH Noer Alie Ulama Pejuang dan Bekasi Dibom Sekutu.

Kini, di usianya yang ke-58, Kabupaten Bekasi tetap termasyhur. Sepertiga produk ekspor Indonesia berasal dari Bekasi. Belakangan bumi Bekasi mengandung minyak dan gas melimpah yang menyumbangkan devisi besar bagi negara. Bahkan Kepolisian Republik Indonesia dan kepolisian Jepang menetapkan Kepolisian Resort Bekasi sebagai kepolisian percontohan dengan konsep polisi komunitas (community police)model koban dalam bentuk pospol-pospol.

Asal nama kota Bekasi

Kilas Balik Sejarah Patung Lele Bekasi - Info Bekasi

Secara filosofis asal usul nama Bekasi berasal dari kata baghasasi dan candrabagha yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini.

Menurut Poerbatjaraka, seorang ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, Chandra berarti “bulan” (dalam bahasa Jawa Kuno, sama dengan kata Sasi) dan Bhaga berarti “bagian”. Jadi, secara etimologis kata Chandrabhaga berarti bagian dari bulan

Dilansir laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kata Chandrabhaga berubah menjadi Bhagasasi yang pengucapannya sering disingkat menjadi Bhagasi.

Kata Bhagasi ini dalam pelafalan bahasa Belanda seringkali ditulis “Bacassie” kemudian berubah menjadi Bekasi hingga kini. Dilansir laman resmi Kota Bekasi, sebutan Bekasi tempo dulu adalah Dayeuh Sunda sembawa atau Jayagiri yang dikenal sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda KElapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu.

Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang. Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir.

Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya 4 prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jaya Dewa) yang ditulis dalam 5 lembar lempeng tembaga.

Sejak abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, abad ke-8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis yakni sebagai penghubung antara Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

Bekasi juga dikenal sebagai “Bumi Patriot”, yang berarti sebuah daerah yang dijaga oleh para pembela tanah air. Mereka berjuang disini sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan negeri tercinta dan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Hal tersebut tertulis dengan jelas dalam setiap bait guratan puisi yang terkenal dari seorang Pujangga Besar Chairil Anwar yang berjudul “Krawang – Bekasi”.

Rakyat Bekasi Angkat Senjata

Pemerintah Kota Bekasi - ribuan masyarakat lintas agama silaturahmi di  monumen perjuangan rakyat bekasi.

Ensiklopedia itu mencatat pada 1869 terjadi pemberontakan rakyat Bekasi di Tambun. Insiden itu menewaskan Asisten Residen Meester Cornelis, CE Kuyper. Meski daerah Bekasi kecil, ia punya pengadilan negeri pada 1890. “Bekasi merupakan titik-titik penggunaan Bataviaschen Oosterfoorweg atau jalan kereta api sebelah timur Betawi yang dibuka secara resmi sebagai lalu-lintas umum sejak 1887.”

Citra Daerah Kabupaten Bekasi dalam Arsip 1900-1945 (2014) mencatat setidaknya sejak 1883, terdapat empat distrik yang dipimpin seorang demang, yakni Kebayoran (Jakarta Selatan), Meester Cornelis (Jatinegara sekarang), Cabangboengin, dan Bekasi. Distrik Cabangboengin sekarang adalah Cikarang. Nama itu berganti pada 1911.

Di tahun yang sama pula istilah pemimpin distrik berubah, dari Demang menjadi Wedana. Orang-orang yang pernah menjadi Wedana atau Demang di Bekasi antara lain: Achmat Mantor Abdoel Rachiem (1881-1885), Mochamad Ali (1885-1894), Moedjimi (1894-1903), Achmad Solihoen (1903-1908), Raden Bachram (1908-1917), Mohamad Samik (1917-1919), Moedjitaba (1919-1924), Rade Kartasoemitra (1924-1927), Raden Achamad Djajadiningrat (1927-1931), Raden Hasan Madiadipoera (1931-1937), Raden Hardjadiparta (1937-1940). Wedana di zaman Jepang pun ada Soehardjo Soeriasapoetra.

Berdasarkan arsip-arsip yang terkumpul dalam buku Citra Daerah Kabupaten Bekasi Dalam Arsip 1800-1900, Bekasi di akhir abad ke-19 dipenuhi tanah-tanah partikelir. Misalnya di Cikarang, Ujung Menteng, atau Tambun. Artinya ada tuan tanah dengan tanah luas di sana. Staatdblad van Nederlandsch-Indie 1836 nomor 19 soal Reglement Omtrent de Particuliere Landerijen, Gelegen ten Westen der Rivier Tjimanoek alias peraturan tentang tanah partikelir di sebelah barat Sungai Cimanuk, mengatur bagaimana soal sewa, jual-beli, dan pengelolaan tanah. Termasuk di Bekasi.

Dalam aturan itu, tuan tanah diberi keistimewaan mengatur para tenaga kerjanya. Di era merajalelanya kuasa tuan tanah ini, lahir pula garong dan pencuri dadakan karena kemiskinan. Pasukan Marsose pun dikerahkan. Salah satu prajurit Marsose yang dikirim sekitar 1937 ke sekitar Bekasi adalah Gatot Subroto, yang belakangan jadi pejabat tinggi TNI dan Pahlawan Nasional.

Gatot begitu iba pada keluarga miskin yang anak atau ayahnya harus dipenjara karena menggarong atau mencuri karena dimiskinkan para tuan tanah yang disayang priyayi lokal. “Sebagian gajinya diberikan kepada beberapa keluarga yang sangat menderita itu,” tulis Moh Oemar dalam biografi Jenderal Gatot Subroto (1976).

Setelah masuknya Jepang, afdeling atau kabupaten Meester Cornelis berubah menjadi Jatinegara Ken. Wilayah yang meliputi kecamatan atau kewedanaan kemudian memakai istilah “Gun”: Cikarang Gun, Cawang-Jatinegara Gun, dan Bekasi Gun. Di bawah Bekasi Gun ada desa-desa yang disebut Son seperti Cilincing Son, Cibitung Son, dan Bekasi Son. Sejak awal revolusi kemerdekaaan, Bekasi sudah panas.

Bupati Janjikan Wisata Gratis untuk Pelajar - Radarbekasi.id

Buku Citra Daerah Kabupaten Bekasi Dalam Arsip 1900-1945 (2014) mencatat, ”ketika pesawat Dakota Sekutu Inggris melakukan pendaratan darurat akibat kerusakan mesin di Rawa Gatel, Cakung, Kewedanaan Bekasi, pada 23 November 1945, seluruh tentara Inggris yang berjumlah 26 orang ditawan di tangsi Polisi Bekasi.” Para pejuang itu terbakar semangat revolusi hingga segala hal yang menghalangi eksistensi Republik akan mereka habisi.

Tuntutan Komandan Tentara Sekutu di Jakarta, agar para tawanan itu dibebaskan, tak diindahkan. Bahkan semua disembelih dan dikubur di belakang tangsi polisi. Tentu saja pihak Inggris marah. Dengan kekuatan satu batalyon infanteri bersenjata lengkap dengan kawalan baterai Artileri dan puluhan panser, pada 24 November 1945 esoknya, Bekasi disatroni Tentara Sekutu. Pembakaran pemukiman penduduk sekitar Tambun, Cikarang, Lemah Abang, hingga Karawang pun terjadi. Nama Bekasi tercatat heroik dalam sejarah perjuangan (revolusi) Indonesia. Bahkan Bekasi dijuluki Kota Patriot.

Chairil Anwar, seperti diajarkan lewat pelajaran Bahasa Indonesia, menulis salah satu puisi legendarisnya yang bernapas revolusi: Karawang-Bekasi. Bekasi tak kalah revolusioner dibanding Jakarta. Bekasi memang sempat menjadi pengunduran milisi pro-Republik yang terdesak dari Jakarta akibat makin kuatnya tentara Belanda di Jakarta.

Setelahnya, Bekasi pun akhirnya menjadi daerah pendudukan Tentara Belanda juga. Sebelum pendudukan, Republik Indonesia mengangkat Bapak Rubaya Suryanaatamirharja sebagai Bupati Jatinegara. Status Bekasi adalah Kewedanaan, yang masuk dalam wilayah Batavia En Omelanden. Berdasar Staatsblad Van Nederlandsch Indie 1948 No. 178, sebagian Bekasi pernah menjadi daerah Negara Pasundan.

Meski telah menjadi daerah pendudukan Belanda, banyak rakyat Bekasi maupun rakyat daerah pendudukan lain yang setia pada Republik. Di tahun 1950, Hatta setuju menjadi Bekasi sebagai Kabupaten. Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950, Kabupaten Bekasi terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Cibarusah) dan 95 desa. Hingga 1960, kantor Kabupaten Bekasi masih di Jatinegara. Belakangan, Bekasi pun menjadi kawasan pemukiman penting bagi perkembangan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Banyak pekerja Jakarta yang berumah di Bekasi, karena makin sempit dan mahalnya hunian di Jakarta.

Bekasi menjadi Kota Metropolitan

Metropolitan Mall Bekasi - Dunia Belanja dan Rekreasi

Bekasi harus menjadi tujuan akhir, bukan lagi sebagai tempat melepas kepenatan dari rutinitas kesibukan kota Jakarta. Dan saat ini, saatnya Bekasi bertransformasi jadi kota metropolitan.

Selama ini dinamika kota Bekasi sudah semakin terpengaruh oleh hiru-pikuk kepadatan kota Jakarta. Dinamika di Bekasi pun saat ini baru mulai direncanakan dengan baik. Motivasi untuk membangun kota Bekasi kian matang.

Hal tersebut dinyatakan oleh pengamat perkotaan yang juga akademisi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna. ‎Kota ini nantinya bisa menjadi satu destinasi menarik bila semua infrastrukturnya sudah jadi, terutama bila pembangunan double track KRL sudah mulai dioperasikan, dan Bekasi akan mudah dijangkau ‎dan banyak pembangunan baru.

“Sebagai kawasan yang terkena dampak dinamika Jakarta yang tidak terencana, Bekasi harus segera bebenah diri,” tambahnya saat di temui dalam diskusi ‘LRT dan Masa Depan Bekasi’ di Universitas Islam 45 Bekasi, Selasa 5 Desember 2017.

Nantinya, bila sudah berubah sebagai kota metropolitan baru, pihak pengelolanya juga harus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan di daerah tersebut. Jangan sampai, para pengelola mempertahankan etos kerja yang sekarang.

Dikatakan Yayat, Bekasi sejatinya memiliki tanah berkualitas baik dan karakter dataran rendah yang mendukung. Itulah mengapa, sejak awal Bekasi direncanakan sebagai lumbung padi nasional. Hingga kini, kita pun masih bisa menemukan bekas saluran irigasi yang kemudian justru digunakan sebagai saluran drainase seiring dengan pertumbuhan jumlah pemukiman.

Karena tidak terencana itulah kemudian pertumbuhan Bekasi lebih mengarah kepada dormitory town atau kota asrama. Penduduknya hanya berada di kawasan ini untuk beristirahat, sementara kegiatan dan orientasi hariannya berpusat di Jakarta.

“Perkembangan Bekasi sangat pesat, seluruh kawasan telah berubah menjadi hunian, menggerus ruang terbuka hijau. Akhirnya, Bekasi berkembang tanpa kendali. Tata ruang tidak jelas, pembangunan terjadi mengikuti tren dan arah investasi pengembang serta pemilik modal. Semua berlomba membangun di mulut pintu tol yang menyebabkan kemacetan kian menjadi,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana membuat Bekasi menjadi metropolitan baru namun tidak mengcopy paste Jakarta? Menurut Yayat, wilayah timur Jakarta kini sudah mengalami kesulitan, masalah klasik yang harus mereka selesaikan pasti berhubungan dengan kepadatan penduduk, bencana banjir, dan kemacetan. Jika ingin menata Bekasi, mau tidak mau harus membangun secara vertikal, kemudian membangun pula sistem transportasinya.

“Uniknya di Bekasi letak stasiun tidak berada pada jalur utama. Penataan stasiun di Bekasi harus terintegrasi dengan angkutan umumnya. Di Jakarta sendiri hal ini sudah mulai di terapkan,” ujar Yayat.

Selama ini, pengaturan transportasi umum justru lebih mengarahkan penduduk pada penggunaan kendaraan pribadi dan jalan tol.

Khusus tentang Light Rail Transit (LRT), diperkirakan akan menjadi moda transportasi primadona yang banyak digunakan oleh warga Bekasi. Untuk saat ini pemerintah telah bekerja sama dengan pihak swasta untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur penggunaannya, termasuk didalamnya konstruksi jalur layang, stasiun, dan fasilitas operasi.

“Kami membangun LRT, dengan sebuah kebanggan, bahwa proyek ini dibangun untuk kepentingan masyarakat. Tahap pertama nantinya LRT akan menghubungkan dari titik paling timur yaitu Bekasi Timur menuju Cawang dan Duku Atas, serta Cibubur – Cawang – Duku Atas. Rencananya, di Bekasi Timur selain dibangun stasiun, juga akan dibangun Depo untuk pemeliharaan,” kata Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementrian Perhubungan, Jumardi.

 

 

Tags: