Cerita Oktoberfest di Jerman

Minggu, 21 November 2021, 15:25 WIB
121

Oktoberfest biasa juga disebut dengan “Wies’n“ yang diambil dari lokasi festival tersebut diadakan, yaitu Theresienwiese, yang juga merupakan tempat di mana dilaksanakannya pernikahan Pangeran Ludwig dengan Puteri Therese dari Sachsen-Hildburghausen pada tanggal 12 Oktober 1810.

Acara pernikahan tersebut menjadi sebuah kebanggan bagi warga München dan dirayakan selama kurang lebih 16 hari. Di sana disediakan tempat khusus bagi warga yang datang untuk menikmati bir. Ketika penutupan, tradisi pacuan kuda ditampilkan dengan pastisipasi dari keluarga kerajaan dan seluruh rakyat München.

Setahun kemudian, tradisi itu masih dilaksanakan untuk mengenang pernikahan Pangeran Ludwig dan Puteri Therese. Bedanya, festival Oktoberfest menambahkan acara pacuan kuda dengan tampilan pameran pertanian dari masyarakat München.

Perayaan ini mendorong peningkatan mutu pertanian di Bayern. Pada 1818, sebuah ayunan dibangun untuk melengkapi festival. Penonton yang hadir juga disuguhkan aneka perlombaan seperti balap karung, mengejar angsa, hingga lomba makan bubur.

Antusiasme masyarakat Jerman terhadap Oktoberfest menjadi sorotan dunia. Banyak yang tertarik dengan kemeriahan festival itu. Bahkan, pada 1908, festival itu menampilkan roller coaster pertama di Jerman. Minuman bir mulai diperkenalkan dengan disponsori oleh pabrik bir lokal. Lebih dari 120.000 liter bir dikonsumsi pada festival itu.

Perayaan ini sempat dihentikan sementara ketika Perang Dunia I berlangsung. Namun, festival tersebut malah dijadikan sebagai propaganda Nazi pada era Adolf Hitler. Nazi kemudian mengubah namanya menjadi Großdeutsches Volksfest, setelah Jerman menguasai Austria dan sebagian Cekoslovakia. Akan tetapi, Perang Dunia II membuat Oktoberfest kembali terkendala dan membuat kota München hanya mengadakan Festival Musim Gugur.

Saat Oktoberfest dilaksakan terdapat sekitar 7.000 orang melakukan parade di jalanan di pusat kota München yang menampilkan keragaman adat istiadat lokal, regional, dan nasional. Mereka menggunakan kostum tradisional dan juga terdapat pawai kuda dan kendaraan hias. Pada minggu kedua, terdapat menampilkan konser band besar di area terbuka yang melibatkan sekitar 400 musisi.

Bir di Oktoberfest sering disebut sebagai Märzen yang memiliki kandungan alkohol hingga 6 persen. Märzen difermentasi selama kurang lebih 30 hari. Seperti semua bir Jerman, bir Oktoberfest disajikan sesuai dengan standar Jerman. Terdapat enam pabrik bir di München yang menyediakan bir pada festival ini, yaitu Augustiner, Hacker-Pschorr, Hofbräu, Löwenbräu, Paulaner, dan Spaten. Di lokasi perayaan terdapat 14 titik yang menjadi lokasi gentong-gentong bir. Kemegahan dari festival ini yang kemudian diadopsi di berbagai negara.

Pada tahun 1960, lomba pacuan kuda dihentikan untuk terakhir kalinya dan pameran pertanian hanya dilakukan setiap empat tahun sekali. Selama dua minggu sebelum pekan pertama bulan Oktober, tempat-tempat pameran ini berubah menjadi kota tenda bir, hiburan, wahana, pemain, dan gerai-gerai vendor yang menjajakan masakan gastronomi dan kue-kue tradisional.

Cerita Rakyat Oktoberfest

Alkisah, pada abad ke-8 dua orang biarawan dari Schäftlarn Cloister berkelana menuju utara. Ketika sampai di wilayah Munich, mereka beristirahat sambil menikmati bekal makanan. Karena kehabisan air minum, mereka akhirnya mengambil air dari sebuah sumber mata air dekat tempat mereka berteduh.

Sambil menenggak air segar, salah seorang berucap, “seandainya air ini lebih manis sedikit, maka akan lebih nikmat lagi.” Sambil merapal doa-doa, mereka akhirnya mendirikan gereja kayu sederhana di wilayah itu. Singkat cerita, di masa berikutnya wilayah sekitar gereja itu dibangun oleh para petinggi dan anggota keluarga Kerajaan Bavaria.

Sesuai pergantian musim, acara minum bir menjadi populer karena rakyat dengan senang hati menghabiskan sisa-sisa Märzen beer untuk menyambut musim fermentasi bir yang akan datang. Menurut tradisi, mengolah bir dimulai dengan memanen bahan-bahannya di masa pergantian musim. Sejak pesta pernikahan Ludwig I, festival itu lebih dikenal di luar Bavaria sebagai pesta perayaan pernikahan.

Karena sambutan rakyat sangat meriah, pesta itu digelar lagi pada tahun 1811. “Penasihat kerajaan membujuk Ludwig I untuk menggelar festival itu lagi setiap bulan Oktober. Akan tetapi karena ada elemen balap kuda, festival itu digelar mirip dengan Pesta Olimpiade tradisional. Ludwig mengikuti saran itu karena ia memang senang dengan tren klasik dan mengemasnya menjadi Olimpiade Oktoberfest,”

Dua puluh tahun sejak festival pertama digelar, arsitek Leo von Klenze mulai membuat desain arena hall of fame bagi para peserta olimpiade. Di sekitarnya terdapat patung Bavaria, patron kerajaan, yang tengah memegang daun oak serta sebilah pedang dan singa di sampingnya.

Hingga kini, makna patung itu masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan akademisi. Patung singa khususnya, bisa diasumsikan sebagai simbol kekuatan militer Bavaria. Selain itu, ada juga yang menduga singa sebagai simbol sportivitas dan dominasi di bidang olahraga.

Namun, anggapan ini terbukti keliru karena klub gymnastic Munich baru didirikan pada 1860, sepuluh tahun setelah patung singa diresmikan Raja Ludwig I. Dari tahun ke tahun, pelbagai atraksi baru terus bermunculan. Pada tahun 1881, lapak penjaja bir yang awalnya kecil dan sederhana mulai dibangun menjadi sebuah gedung yang cukup besar. Para tamu lokal maupun internasional semakin membludak. Hal ini membuat lapak harus cukup untuk menampung lebih banyak bir.

Warsa 1813, tiga tahun sejak gelaran pertama festival, Napoleon menyerang Bavaria. Meski gagal, serangan itu membuat Bavaria kalang kabut. Akibatnya, acara-acara rakyat batal digelar termasuk Oktoberfest. Selain perang dengan Napoleon, ada juga konflik militer 1866 ketika Bavaria terlibat dalam perang Austro-Prusia. Pada 1854, Munich diserang wabah kolera.

Di musim panas tahun itu, jumlah korban meninggal mencapai 7.730 jiwa dari 15.000 kasus kolera yang tercatat. Ratu Therese, istri Raja Ludwig I, ikut terkena wabah kolera hingga meninggal. Tak heran jika Oktoberfest 1854 gagal total. Hal serupa terulang kembali pada 1873 ketika Munich kembali dilanda wabah kolera. Selain itu, hampir seluruh daratan Eropa bergejolak pada Perang Dunia I antara 1914 hingga 1918.

Perang ini berujung pada kesulitan ekonomi besar-besaran pada 1923 ketika pemerintah Bavaria harus mengumpulkan uang untuk membayar utang-utang perang. Perang yang berulang antara tahun 1946 hingga 1948 juga membuat Oktoberfest lagi-lagi terganggu. Meski tak benar-benar batal digelar, kemeriahan acaranya jauh berkurang karena hanya perayaan kecil-kecilan saja.

Kiwari, warga lokal berusaha tetap menjaga kenyamanan para pengunjung dan menghormati nilai luhur festival. Pada 2007 misalnya, mereka pernah menolak Paris Hilton yang datang dengan mengenakan gaun Bavaria secara serampangan. Warga lokal geram karena busana itu sengaja ia kenakan untuk mempromosikan sebuah merek minuman anggur kalengan. Bagi warga lokal, kelakuan Hilton itu menghina dan menjatuhkan nilai luhur Oktoberfest. Kabarnya, sejak itu Paris Hilton dilarang datang ke Oktoberfest secara permanen.

Yang perlu Anda siapkan saat ke Oktoberfest

Oktoberfest diselenggarakan secara gratis tanpa biaya masuk. Namun, beberapa pengeluaran lain seperti akomodasi, makan, hingga tiket pesawat juga harus diperhitungkan. Menghabiskan waktu tiga hari di Oktoberfest dapat memakan biaya sebesar Rp17 juta per orang.

Biaya ini masih bisa berubah dengan beberapa trik, misalnya membeli bir di tenda-tenda kecil yang harganya terhitung lebih murah. Oktoberfest dibuka mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Pada akhir pekan festival kerap dibanjiri oleh pengunjung, sehingga hari kerja merupakan pilihan waktu terbaik untuk mengunjungi Oktoberfest.

Oktoberfest diselenggarakan di Theresienwiese, München. Perjalanan ke sana dapat dengan mudah dicapai menggunakan kereta yang dapat diakses dari semua stasiun utama di Eropa. München juga memiliki bandara internasional besar, sehingga perjalanan udara juga bisa menjadi pilihan. Letak Theresienwiese sendiri berdiri tak jauh dari Stasiun Kereta Hauptbahnhof.

Jika Anda berencana mengunjungi Oktoberfest, sebaiknya memesan akomodasi dari jauh-jauh hari. Beberapa hotel dan penginapan di wilayah Oktoberfest sering kali habis dipesan wisatawan setahun sebelumnya. Namun berbagai pilihan akomodasi yang terletak sedikit jauh dari pusat kota dapat menjadi pilihan jika Anda menginginkan akomodasi yang lebih terjangkau.

Berkunjung ke Oktoberfest tak lazim dilakukan jika tak memakai kostum tradisional Bavaria. Sebelum mengunjungi festival, kostum dapat dengan mudah dipesan online dengan harga mulai dari Rp1,7 juta. Namun jika Anda ingin berhemat, beberapa rental kostum di sekitar area festival bisa menjadi pilihan dengan memakan biaya sekitar Rp700 ribu.

BERITA TERKAIT