Dari Zaman Purba hingga Digital, Sejarah Panjang Geliat Bisnis Seks di Inggris Raya

Selasa, 05 Oktober 2021, 05:38 WIB
47

Di Inggris Raya, pertukaran layanan seksual dengan uang adalah legal. Meskipun undang-undang yang mengatur pekerja seks ada, namun tidak selalu ditegakkan secara ketat, dengan beberapa laporan tentang pasukan polisi yang menutup mata terhadap rumah bordil. Banyak rumah bordil di kota-kota seperti Manchester, London dan Cardiff beroperasi dengan kedok “panti pijat”.

Jumlah total pelacur di Inggris Raya tidak diketahui secara pasti dan sulit untuk dinilai. Pada tahun 2009 pihak berwenang dan LSM memperkirakan bahwa sekitar 100.000 orang di negara ini terlibat dalam prostitusi. Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 72.800 pekerja seks di Inggris; 88% adalah wanita, 6% pria dan 4% transgender.

Gates Of Olympus

Dari semua pelacur di Inggris, 41% adalah orang asing; namun, di London persentase ini mencapai 80%. Jumlah total pelacur migran secara signifikan lebih rendah daripada di negara-negara Barat lainnya (seperti Spanyol dan Italia). Menariknya, Menurut data dari Kantor Statistik Ingris, prostitusi menyumbang £ 5,3 miliar bagi perekonomian Inggris pada tahun 2009.

Prostitusi di Inggris terdapat berbagai jenis, ada prostitusi jalanan hingga tempat yang digunakan termasuk panti pijat, sauna, flat pribadi, dan soho walk-up.

Sejarah Prostitusi di Inggris.

UK govt plots to make prostitution legal | The Asian Age Online, Bangladesh

Salah satu bukti paling awal untuk prostitusi di negara itu diberikan oleh penemuan di tepi Sungai Thames dari Romawi. Spintria, token perunggu kecil yang menggambarkan seorang pria dan wanita yang melakukan tindakan seksual. Beberapa sarjana berpendapat bahwa spintria adalah tanda pelacuran, yang digunakan untuk masuk ke rumah pelacuran atau membayar pelacur.

Rise of Olympus

Banyak rumah bordil Abad Pertengahan London terletak di bagian dari Southwark yang berada di bawah yurisdiksi dari Istana Winchester, kediaman Uskup Winchester.

Pada tahun 1161 sebuah parlemen Henry II memperkenalkan peraturan yang memungkinkan para uskup untuk melisensikan rumah bordil dan pelacur di daerah tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Liberty of the Clink. Akibatnya, rumah bordil berkembang di Bankside bagian dari Liberty. Mereka dikenal sebagai “rumah rebusan” karena banyak juga yang merupakan rumah pemandian berisi uap.

Rumah bordil harus mengizinkan penggeledahan mingguan oleh polisi atau juru sita, dan tidak dapat meminta pelacur lebih dari 14 pence per minggu untuk sebuah kamar. Rumah bordil saat itu tidak diizinkan buka pada hari libur, dan prostitusi paksa dilarang. Pelacur tidak diperbolehkan tinggal di rumah bordil atau menikah, dan mereka diharuskan menghabiskan malam penuh dengan klien mereka.

Ini adalah undang-undang paling awal di Eropa abad pertengahan yang mengatur pelacuran, daripada menekannya dan mereka memberikan penghasilan yang signifikan bagi para Uskup.

BBC - History - British History in depth: The Black Figure in 18th-century  Art

Serangkaian peraturan diikuti yang bertujuan membatasi prostitusi London ke Southwark. Di Kota London pada 1277, pelacur yang bekerja di bordil dilarang tinggal di dalam tembok kota. Meski demikian, terdapat indikasi bahwa prostitusi terjadi di kota di daerah seperti Farringdon dan juga di lingkungan antara gereja St Pancras dengan Soper Lane. Pada 1310 Edward II memerintahkan penghapusan rumah pelacuran di London.

Sebagian besar kota kecil dan kota besar lainnya di Inggris Abad Pertengahan memiliki rumah bordil, dan di beberapa tempat rumah bordil itu dimiliki tokoh publik. Pelacur umumnya hanya diizinkan untuk melakukan perdagangan mereka di jalan-jalan tertentu atau di daerah-daerah tertentu.

Hukum juga mengatur sehingga pelacur harus berpakaian berbeda dari wanita lain yang dianggap “terhormat”. Hukum berbeda di antar kota. Namun prostitusi di tempat tertentu juga diatur, diizinkan de facto jika tidak de jure, atau dilarang. Peraturan prostitusi di Inggris berlangsung hingga 1546.

Ketika ketakutan bahwa pelacuran berkontribusi pada penyebaran sipilis membuat Henry VIII mengeluarkan proklamasi kerajaan. Ia melarang semua rumah bordil di Inggris dan mengakhiri “toleransi” bagi pelacur, yang disebut sebagai “orang yang tidak bermoral dan sengsara”.

Pada paruh kedua abad ke-20 beberapa upaya dilakukan untuk mengurangi prostitusi. Muncul ndang-Undang Pelanggaran Seksual 1956 termasuk tentang rumah bordil. Pembatasan baru untuk mengurangi prostitusi jalanan ditambahkan dengan Undang-Undang Pelanggaran Jalanan 1959, yang menyatakan,

“Merupakan pelanggaran bagi pelacur biasa untuk berkeliaran atau mengumpulkan di jalan atau tempat umum untuk tujuan pelacuran. Akibatnya, banyak pelacur meninggalkan jalan karena takut dipenjara. The Street Offenses Act of 1959 berusaha untuk mencegah gangguan publik dari pelacur di trotoar dan menghilangkan stigma ‘wanita panggilan’.

History of Prostitution: Prostitutes Through the AgesAmsterdam Red Light  District Tours

Peningkatan jumlah pelacur yang berasal dari luar negeri pada abad ke-21 menimbulkan kekhawatiran terkait tuduhan perdagangan manusia dan prostitusi paksa. Muncul Undang-Undang Pelanggaran Seksual 2003 termasuk aturan ketat soal perdagangan seks.

Undang-undang kni berfokus pada program untuk mengalihkan perempuan memasuki prostitusi, dan untuk mereka yang sudah menjadi pelacur dicarikan jalan keluarnya.

SOHO dan Prostitusi

Sex and the City: How to Experience Soho's Sordid History

Gelombang panas properti London tak hanya membuat para investor kegerahan, melainkan juga pelaku profesi tertua (prostitusi) di dunia. Mereka menjalankan profesinya di small office home office (SOHO). Baru-baru ini polisi setempat menggerebek dan menangkap 31 pekerja seks komersial SOHO yang terletak di kawasan pusat kota, Kings Cross.

SOHO sejatinya merupakan jenis properti yang menggabungkan fungsi hunian dan ruang kerja dalam satu bangunan. Di Inggris, SOHO dikenal dan sangat populer sebagai tempat praktik prostitusi.

Saking bekennya SOHO, sampai merebak adagium bahwa jika investor ingin terjun ke bisnis seks, harus membeli SOHO. Pasalnya SOHO bisa mendatangkan banyak uang. Di London, konsentrasi SOHO terdapat di Kings Cross, sebuah kawasan “merah” yang justru dipilih Google Inc sebagai markasnya untuk pasar Inggris.

Sebagian besar bangunan SOHO di kawasan tersebut berisi dua kamar tidur dengan harga lebih tinggi ketimbang hunian biasa. Pada tahun 1980-an saja, harga SOHO di sini mencapai 550.000 dollar AS (Rp 6,5 miliar). Raja SOHO Di Inggris, SOHO modern diperkenalkan oleh Paul Raymond. Saat kematiannya pada usia 82 tahun medio 2008 lalu, koleksi SOHO Raymond mencapai nilai 650 juta poundsterling atau setara Rp 13,1 triliun.

Soho brothels, sex shops and lap dancing clubs raided in crackdown on drugs  and people trafficking | Daily Mail Online

Tak mengherankan bila dia kemudian dijuluki Raja SOHO. Meski menolak mengakui, namun unit-unit SOHO-nya sebagian besar digunakan sebagai tempat praktik prostitusi (rumah bordil). Berhubung bordil merupakan praktik ilegal, berkali-kali SOHO milik Raymond digerebek dan ditutup polisi.

Padahal, seperti dikutip Bloomberg, prostitusi adalah bisnis yang mendatangkan banyak uang, meskipun tidak sebesar properti. Bisnis seks memberikan kontribusi sekitar 5,3 miliar poundsterling (Rp 107,6 triliun) terhadap produk domestik bruto pada tahun 2009.

Sementara transaksi properti senilai 6,2 miliar poundsterling atau Rp 125,8 triliun. Kepemilikan properti SOHO seantero Inggris saat ini setidaknya mencapai nilai 800 juta dollar AS (Rp 16,2 triliun). Raymond dan keluarganya sendiri memiliki aset SOHO tak kurang dari 375 juta poundsterling  (Rp 7,6 triliun) per Maret 2014.

James Raymond, menantu Paul Raymond, berencana menghabiskan 10 juta poundsterling untuk mengubah bar dan bioskop khusus penonton dewasa, apartemen, menjadi restoran dan rumah teater yang akan disewakan dengan tarif 450 poundsterling (Rp 9,1 juta) per minggu. “SOHO merupakan jenis properti yang harus Anda miliki, meski kumuh berwarna warni dan tersembunyi, namun terletak di lokasi yang indah,” ujarnya.

Cerita Memilukan PSK di Red Light Inggris

Hull prostitute Kayleigh jailed in Holbeck in Sex, Drugs & Murder BBC  programme - Hull Live

Ketika berusia remaja, Kayleigh menjadi pencandu narkoba setelah salah satu temannya menyuntikkan heroin ke dalam tubuh gadis itu untuk yang pertama kalinya.

Percobaan itu tidak lagi hanya sekedar coba-coba, seiring dengan berjalannya waktu remaja itu menjadi candu dan nekat mencuri dari keluarganya.

Sekarang, Kayleigh tumbuh menjadi perempuan dewasa, seorang ibu tiga anak. Namun kehidupannya tak seindah yang pernah dibayangkannya ketika kecil.

Akibat kecanduan narkoba, ketiga anak Kayleigh harus tinggal bersama nenek mereka — sang ibu tak bisa mengurusi mereka.

Seperti dikutip dari Mirror.co.uk, ‘kedekatan’ Kayleigh dengan narkoba menghancurkan hidupnya. Selain menjadi pencandu, ibu tiga anak itu juga harus bekerja sebagai PSK demi membeli lintingan ganja.

“Kehidupan yang menyedihkan, aku membenci hidupku, aku marah pada diriku sendiri,” kata Kayleigh.

“Aku memiliki 3 anak yang cantik, tapi mereka terpaksa tinggal dengan ibuku karena aku tak bisa melindungi mereka. Semua ini gara-gara obat-obatan. Aku sangat ketakutan karena aku tahu setiap kali aku bekerja nyawaku dalam bahaya dan hanya narkoba yang membuatku bertahan,” ujar perempuan itu.

Heartbroken prostitute describes pain of losing her three children as a  result of her drug addiction - Mirror Online

Di sinilah kehidupan yang semakin tak ‘bercahaya’ itu dimulai Kayleigh dan seorang temannya, Sammie Jo, zona prostitusi legal Inggris, Holbeck.

“Aku bekerja demi membeli ganja dan heroin. Barang itu pula yang membuatku kembali bekerja,” ujar perempuan itu.

Berbeda dengan cerita Kayleigh yang ‘diracuni’ temannya saat remaja, Sammie Jo mendapatkan perlakuan tak senonoh semasa kecil, sebuah pelecehan seksual.

“Aku dilecehkan ketika kecil dan diambil dari orangtuaku. Gampang saja, aku menganggap diriku sebuah ‘batok’, seorang yang pernah dilecehkan. Jadi mengapa tak membiarkan mereka menikmatiku,” kata Sammie Jo menyalahkan masa lalunya atas kehidupan yang dia jalani sekarang.

Sebagai pekerja seks, Sammie Jo memiliki langganan tetap yang akan membayarnya sebanyak 280 pound sterling atau setara dengan Rp 4,4 juta untuk satu jam.

“Dia akan datang padaku setiap pukul 23.00 dan hanya bermain dengan kakiku seperti memijat kakiku,” terang Sammie Jo.

“Ada satu lagi, yang ini sedikit aneh.. Aku dan Kayleigh menemani pria ini dan yang dia inginkan hanyalah menginjak penisnya. Dia membayar kami sebesar 150 pound sterling atau Rp 2,3 juta. Dia akan senang,” ujar PSK itu.

Kehidupan yang dijalani para PSK Holbeck sangat kejam dan keras. Beberapa dari mereka bahkan menjalani profesi itu lebih lama dari rekan mereka. Kayleigh menjadi PSK di Holbeck sejak 12 tahun yang lalu.

“Awalnya aku hanyalah gadis lugu, pelari tercepat di East Yorkshire selama dua tahun berturut-turut. Aku bahkan melintas alam dan lomba lari 100 meter,” kata perempuan itu mengenang masa mudanya.

“Namun semuanya berubah setelah ‘temanku’ menjerumuskanku. Dia menyuntikku dengan sangat kasar, kini bekas itu tak hilang dari tubuhku. Aku baru berusia 16 tahun, dan aku ingat sekali ibu sering mempertanyakan memar di badanku,” ujar Kayleigh.

Kayleigh kemudian mengatakan dia terpaksa harus mengaku pada ibunya bahwa dia mengonsumsi narkoba. Sang ibu kemudian mengadukan hal tersebut kepada ayahnya, dan membuat sang bapak marah.

“Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ayah menyuruh untuk mempraktikkan suntik. Aku langsung menyuntikkan tiga jarum sekaligus, berharap ayahku berbelas kasihan pada anaknya yang kesakitan,” kata Kayleigh.

Perempuan itu menceritakan setelah mengetahui dia kecanduan orangtuanya tak berpaling, terutama kakaknya. Mereka tetap menyayangi Kayleigh dan tetap membelai rambutnya.

“Kini aku mulai letih dengan kehidupan ini, aku ingin keluar dari lembah hitam ini,” ujar dia.

Prostitusi Online di Inggris

Tell me if you still think prostitution is empowering after hearing what  the buying punters have to say | The Independent | The Independent

Fenomena prostitusi online bertarif mahal tidak hanya heboh di Indonesia. Hal serupa juga terjadi di Inggris, di mana Pekerja Seks Komersial (PSK) bisa dipesan melalui aplikasi ponsel pintar dengan tarif Rp10 juta untuk satu jam kencan.

Media Inggris, Channel 4, melalui program berita bertajuk “High Class Call Girls” semalam melaporkan bahwa para PSK perempuan bisa menghasilan ribuan poundsterling atau ratusan juta rupiah dalam tempo seminggu dengan menjual tubuhnya.

Program itu menayangkan video dokumenter berisi pengakuan para PSK perempuan muda tentang penghasilan mereka. Salah satu dari mereka mengaku memasang tariff 500 poundsterling atau sekitar Rp10 juta untuk kencan satu jam.

Mereka mengakui menikmati pekerjaan itu. Aplikasi di ponsel pintar yang jadi media prostitusi itu dikenal dengan nama “AdultWork”. Melalui aplikasi itu, orang-orang memungkinkan untuk memesan para PSK perempuan dan membayar uang muka untuk tarif kencan.

Beberapa PSK di Inggris itu diwawancarai sebelum dan sesudah melaksanakan “pekerjaan” mereka. Salah satu tayangan wawancara menunjukkan para PSK dikelilingi uang kertas. Para PSK online itu rata-rata berbasis di London.

“Anda bisa menyebut diri saya apa pun yang Anda inginkan pada akhir sebuah hari. Pendamping, gadis panggilan, atau apa pun. Anda lakukan itu ketika Anda ingin melakukannya,” kata salah satu PSK berusia 23 tahun yang muncul dalam wawancara itu.

”Saya suka orang-orang kaya. Saya tidak akan memberitahu saya yang tidur dengan siapa dan saya mengambil uang dari apa yang saya lakukan. Saya menghasilkan uang dengan baikm tapi saya belum kaya. Ini dua jam dari (mencari) uang yang mudah,” lanjut dia.

PSK perempuan lain asal Essex, Inggris, yang mengaku bernama Emily B, 27, juga bersikeras bahwa ia menikmati pekerjaannya itu.

“AdultWork adalah situs untuk pengawalan independen. Anda harus membuat profil, memasang gambar Anda dan memastikan diri Anda diverifikasi. Ini gratis untuk bergabung, tetapi sebagai seorang perempuan untuk mengiklankan diri bahwa Anda tersedia ada biayanya, yaitu 5 poundsterling,” katanya.