Deretan Fakta tentang Ivermectin, Obat yang Dianggap Bisa Sembuhkan Covid-19

Jumat, 23 Juli 2021, 10:25 WIB
63

Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan perusahaan farmasi milik pemerintah, PT Indofarma (Persero) Tbk telah mendapatkan izin edar obat terapi Covid-19, Ivermectin, dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun, kabar ini menjadi perbincangan karena Invermectin sesungguhnya bukan obat Covid-19. Bagaimana faktanya?

Gates Of Olympus

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Ivermectin akan diproduksi sebanyak 4 juta per bulan untuk obat terapi Covid-19. “Kita sudah mulai produksi, dan InsyaAllah nantinya dengan kapasitas produksi 4 juta (tablet) per bulan obat ini diharapkan dapat menjadi solusi Covid-19,” kata Erick seperti dikutip Edisi Bonanza88.

Perlu uji klinis

Kepala BPOM, Penny K Lukito menegaskan, butuh dukungan ilmiah lebih lanjut untuk penggunaan Ivermectin sebagai obat terapi Covid-19 di Indonesia. Dukungan ilmiah yang ia maksud adalah uji klinis.

Mengingat, Ivermectin mengandung bahan kimia keras yang bisa menimbulkan beragam efek samping. Meski ditemukan adanya indikasi ini membantu penyembuhan, tetapi Ivermectin belum bisa dikategorikan sebagai obat Covid-19.

“Kalau kita mengatakan suatu produk obat Covid-19 harus melalui uji klinis dulu, namun obat ini tentunya dengan resep dokter bisa saja digunakan sebagai salah satu terapi dalam protokol dari pengobatan Covid-19,” kata Penny.

Rise of Olympus

Wajib anjuran dokter

Ivermectin merupakan obat keras yang penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter. Sementara pemberian Ivermectin pada pasien Covid-19 yang tidak mengikuti uji klinis bisa diberikan atas persetujuan dokter.

“Masyarakat diminta tidak membeli Ivermectin secara ilegal lewat platform e-commerce,” kata Penny.

Obat cacing

Sejauh ini, izin edar penggunaan obat Ivermectin yang beredar hanya untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis). Ivermectin kaplet 12 mg memang terdaftar di BPOM.

Obat ini diberikan dalam dosis tunggal 150-200 mcg/kg Berat Badan dengan pemakaian setahun sekali. Ivermectin pun merupakan obat keras yang pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

Efek samping

Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan beberapa efek samping. Efek samping tersebut, antara lain nyeri otot atau sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.