Deretan Fakta Varian Corona Delta yang Wajib Anda Ketahui

Minggu, 18 Juli 2021, 22:24 WIB
57

Varian Covid-19 Delta kini mendominasi dunia. Hal ini dibarengi dengan lonjakan kematian di seluruh Amerika Serikat. Kesemuanya hampir berasal dari kalangan orang yang tidak divaksin, kata pejabat Amerika Serikat.

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Rochelle Walensky, saat acara jumpa pers mengungkapkan bahwa kasus Covid-19 di Amerika Serikat meningkat 70 persen selama sepekan sebelumnya dan kematian naik 26 persen. “Wabah terjadi di sebagian wilayah dengan tingkat vaksinasi yang rendah,” kata CDC seperti dikutip Edisi Bonanza88.

Gates Of Olympus

Berdasarkan data CDC, jumlah rata-rata sepekan terkait infeksi harian kini lebih dari 26 ribu kasus, jauh lebih tinggi dari sekitar 11 ribu kasus pada Juni.

“Ini menjadi pandemi bagi mereka yang tidak divaksin,” katanya. Dia menambahkan bahwa 97 persen orang yang masuk rumah sakit karena Covid-19 adalah mereka yang belum divaksin.

Mantan Direktur WHO SEARO, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkap beberapa hal terkait varian Delta, mulai dari tingkat penularan hingga dampaknya terhadap vaksin.

Pertama ditemukan di India

Rise of Olympus

Virus corona varian Delta (B.1.617.2) yang pertama kali ditemukan di India diduga telah mengalami mutasi. Varian yang dinamakan Delta Plus (AY.1 dan AY.2) itu diperkirakan telah menyebar ke sejumlah negara. Delta Plus (AY.1) pertama kali teridentifikasi di Eropa. Varian baru ini membawa mutasi protein spike yang disebut K417N. Unsur tersebut juga terdeteksi dalam varian Beta (B.1.351) yang pertama kali tercatat di Afrika Selatan.

“Mutasi K417N telah menjadi perhatian karena keberadaannya dalam varian Beta (garis keturunan B.1.351), yang dilaporkan dapat menghindari imun kekebalan,” sebut Kementerian Kesehatan India dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Aljazeera.

Lebih Menular

Varian Delta telah terbukti meningkatkan risiko penularan. Di Inggris, ada lebih dari 42 ribu kasus varian Delta, naik 70 persen dari minggu sebelumnya atau naik 29 ribu kasus dalam waktu sepekan.

“Juga, Public Health England (PHE) melaporkan bahwa varian Delta ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa. Juga waktu penggandaannya (doubling time) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari,” jelas Prof Tjandra.

Keparahan penyakit

Meski varian Delta belum terkonfirmasi membuat infeksi lebih berat atau menyebabkan kematian yang lebih tinggi, ada laporan peningkatan kasus rawat inap akibat varian ini.

“Di sisi lain, memang ada beberapa laporan yang membahas tentang kemungkinan lebih beratnya penyakit yang ditimbulkan varian ini,” papar Prof Tjandra.

Kebal terhadap vaksin?

Prof Tjandra mengungkapkan laporan awal dari Inggris menunjukkan ada sedikit penurunan efektivitas vaksin Pfizer dan AstraZeneca-Vaxzevria terhadap varian Delta, dibandingkan dengan varian Alpha.

Selain itu, dari penelitian lain di jurnal internasional Lancet menemukan adanya penurunan netralisasi pada varian Delta yang diberi vaksin Pfizer. Penurunan netralisasi itu lebih tinggi dibandingkan pada varian Alpha dan Beta.

“Dari berbagai data yang ada maka secara umum pemberian vaksin Pfizer dan AstraZeneca dua dosis masih dapat melindungi terhadap varian Delta, tetapi memang harus dua kali dan jangan hanya satu kali,” pungkasnya.

Gejala

Berdasarkan beberapa penelitian, gejala dari varian Delta dapat berbeda dari varian Covid-19 pada biasanya. Dilansir dari laporan CNBC, berbeda dengan berbagai laporan pada varian virus biasa, pada varian Delta gejala yang sering dilaporkan adalah yang berhubungan dengan gejala pilek.

Namun, berbeda dengan laporan sebelumnya, pada laporan saat ini gejala pilek semakin berkurang dan hilangnya indera penciuman yang sebelumnya paling dominan mengalami penurunan. Faktor virus juga tergantung pada infeksi virus yang bergantung pada dua faktor.

Faktor pertama berkaitan dengan faktor virus dan yang kedua melibatkan faktor inang. Faktor virus berkaitan dengan tingkat infeksi, kecepatan replikasi, cara penularan, dan banyak lagi. Di lain sisi, dalam faktor inang mempertimbangkan usia, jenis kelamin, obat-obatan, diet, olahraga, kesehatan, dan stres.

Perubahan gejala

Perubahan gejala pada varian Delta dapat terjadi karena evolusi virus. Hal ini mengingat karakteristik atau faktor virus yang berbeda dari varian Delta. Belum juga terdapat bukti kuat yang menunjukkan hal yang sama.