Diego Simeone, Gelandang Monster yang Pernah Dimiliki Argentina

Jumat, 31 Desember 2021, 20:14 WIB
50

Sebelum dunia mengenal Diego Simeone sebagai pelatih Atletico Madrid yang terkenal dan disegani, dia dulunya seorang pemain. Seorang gelandang yang melambangkan semangat juang Argentina. Gelandang yang agresif, menang dengan segala cara yang diperlukan, bahkan jika harus sampai berdarah-darah. Dengan keberanian dan kekuatan yang tidak ada batasnya, Simeone benar-benar menghadapi semua lawan yang datang ke arahnya.

Lebih dari sekadar keinginan untuk menang, terdapat juga paksaan yang berbatasan pada pujian dan hinaan. Itulah rasanya menjadi seorang pemain yang dipuja-puja para pendukung tim yang dibela, namun satu kesalahan saja bisa membuat Anda dibenci. Berkomitmen, berani dan heroik di mata para penggemar, tapi terlalu bersemangat, kejam dan cenderung kotor bagi kubu lawan. Itu adalah sosok Diego Simeone. El Cholo.

Dengan permainan seperti itu, Anda dengan mudah bisa membayangkan Simeone memakai celana ketat spandex, seperti yang dikenakan para pegulat profesional. Semua trik untuk menjatuhkan lawan, seperti menusuk mata, memberikan serangan di bawah sabuk (yang tidak dibolehkan) saat wasit tidak melihatnya.

Ada banyak cara untuk memaknai gaya permainan seorang Simeone, tapi ada satu hal yang tidak bisa tergantikan adalah gaya militannya. Dan ternyata itu adalah kualitas yang dipupuk sang gelandang sejak dirinya kecil.

Lahir di Buenos Aires pada tahun 1970, sebagai remaja Simeone diberi kesempatan untuk mengejar mimpinya menjadi sepak bola profesional dengan bergabung akademi Velez Sarsfield di Kota Liniers. Di sanalah, Simeone muda belajar di bawah asuhan pelatih Victorio Spinetto, yang memang melatih akademik klub.

Spinetto sendiri dulunya adalah bek tengah yang tidak kenal basa-basi yang membela Timnas Argentina pada pertengahan 1930-an. Dia juga sempat melatih Timnas Argentina dari akhir 1950-an dan awal 1960-an. Dia sempat melatih tim senior Velez juga selama 14 tahun dari tahun 1942 sampai 1956. Namun di tahun 1980-an, ketimbang pensiun, dia memilih peran jadi pelatih akademi di klub yang memang dicintainya.

Seperti dalam karya Jonathan Wilson, ada dua gaya permainan yang menonjol dalam sejarah sepak bola Argentina. Pertama ada La Nuesta, gaya free-flow, short-passing dan dribbling yang muncul pada 1920-an dan berkembang hingga 1950-an. La Nuestra dipandang sebagai sebuah seni yang mementingkan estetika dari permainan tim.

Kemudian usai kekalahan telak 6-1 dari Cekoslovakia di Piala Dunia 1958, angin berhembus kencang dan menggeser gaya bermain sepak bola Argentina. La Nuestra tergantikan karena sudah membuat tim nasional malu di panggung dunia. Kelembutan dan miskin taktis dari La Nuestra dianggap sudah tidak cocok dengan sepak bola modern di seluruh dunia.

Diperlukan sebuah pendekatan baru dan tentunya gaya itu adalah kebalikan dari La Nuestra yang mementingkan estetika. Alias gaya kasar, dan muncullah sosok bernama Spinetto. “Mungkin tidak adil untuk mengatakan Spinetto bukan sosok romantis. Justru romantisme dalam dirinya sungguh berbeda dari para pemain seangkatannya. Dia bermain tidak dengan tujuan menciptakan tontonan menghibur, atau memamerkan seni estetika seperti La Nuestra, yang dia pedulikan hanyalah Velez dan bagaimana caranya untuk menang,” tulis Wilson dalam bukunya.

Di bawah asuhan Spinetto yang sudah uzur, Simeone muda pun terus dicekoki etos pemenang pada akhir pertandingan. Kegagalan adalah kata haram dan perayaan hanya diperbolehkan jika Anda menang. Tidak ada tepuk tangan untuk trik mewah yang mempertontonkan seni estetika, tidak ada tepukan punggung ketika Anda dilewati para pemain lawan. Belum lama ini, Simeone ditanya apa yang diharapkan dirinya dari para pemain asuhannya. “Usaha keras, tidak bisa ditawar,” jawabnya. Sebuah jawaban singkat yang membuat kita paham bahwa kerja keras tim diutamakan ketimbang individu. Sesuatu yang memang dia pelajari dari Spinetto semasa menimba ilmu di akademik Velez.

Ketika dia mulai masuk ke skuat senior Velez, Simeone diberi julukan El Cholo, yang katanya ada kemiripan gaya bermain dengan mantan bek Boca Juniors, Carmelo Simeone (tidak ada hubungan keluarga), terkenal karena kegigihannya dalam bermain.

Tahun-tahun saat Simeone datang dan mulai meninggalkan tanda besar, dianggap sebagai era keemasan bagi sepak bola Argentina. Di mana negara ini akan jadi pemenang di kandang sendiri pada edisi 1978 lalu di Meksiko tahun 1986 – yang tentunya terkenal dengan kisah Tangan Tuhan dari Diego Maradona – yang sungguh inspiratif. Sebagai pemain yang berusia 16 tahun dari Buenos Aires, menyaksikan Maradona dari pinggiran kota yang miskin naik level menjadi pemain terbaik di muka bumi, Simeone jelas termotivasi. Impiannya itu pun kini terasa makin dekat.

Dan kurang dari setahun setelah menyaksikan La Albiceleste mengangkat trofi Piala Dunia di Mexico City, Simeone yang berusia 17 tahun, memainkan debutnya di skuat senior Velez yang harus kalah 2-1 dari Gimnasia. Musim debutnya itu, dia langsung jadi pemain kunci untuk tim berjuluk El Fortin itu, dengan catatan 28 penampilan di Liga Argentina dan mencetak empat gol. Reputasi sang remaja itu awalnya dibangun dengan gaya bermain agresif dan daya juang tinggi, tapi seiring pendewasaan diri, kemampuan teknisnya toh terbukti.

Sebagai gelandang box-to-box yang serba bisa, Simeone terbilang melakukan semuanya: mulai dari menjegal, melewati semua pemain, memecah serangan lawan dan memicu manuver ofensif timnya. Akan mudah untuk menganggapnya sebagai pengganggu bagi lawan, tetapi ada lebih banyak hal dalam permainan Simeone, bahkan pada tahapan awal karirnya ini.

Tiga musimnya sebagai pemain reguler Vélez mencakup debut internasional pada tahun 1988, sebelum perjalanannya ke Eropa pada tahun 1990. Pisa sama sekali bukan klub yang paling menarik di Italia tetapi mereka menawarkan Simeone kesempatan untuk mengadu kemampuannya dengan elit permainan di liga tertinggi, liga yang saat itu paling glamor di dunia, yakni Serie A Italia.

Tetapi beberapa hal tidak berjalan sesuai rencana di Pisa, karena I Torri terdegradasi pada akhir musim pertama Simeone dan tidak dapat memperoleh promosi dari Serie B pada musim berikutnya. El Cholo muda terpaksa menutup sementara mimpinya berkarir di Serie A saat dijual ke Sevilla pada musim panas 1992. Di Sevilla-lah Simeone akan bekerja di bawah salah satu pelatih Argentina berpengaruh yang bertolak belakang dengan gaya La Nuestra, yakni ​​Carlos Bilardo.

Bilardo adalah pemain menonjol dari tim Estudiantes yang hebat dan juga alumnus dari didikan Spinetto pada akhir 1960-an. Gaya kepelatihan Bilardo sendiri dibentuk oleh Zubeldía – dan oleh karena itu secara tidak langsung oleh Spinetto – yang pengaruhnya dapat dilihat dari cara El Narigón (nama panggilan Bilardo, yang berarti ‘Hidung Besar’) mengatur timnya. Bilardo adalah pelatih yang sangat sukses, memimpin Argentina meraih kemenangan Piala Dunia 1986 dan nyaris mempertahankan trofi pada 1990, kalah dari Jerman Barat di final.

Setelah cuti dua tahun setelah kekalahan final Piala Dunia, Bilardo mengambil alih Sevilla pada tahun 1992, dan, setelah memberi Simeone debut internasionalnya empat tahun sebelumnya, pasangan itu bersatu kembali di Estadio Ramón Sánchez Pizjuán, di mana mereka juga akan bergabung dengan legenda bernama Diego Maradona. Bilardo dan Maradona hanya bertahan satu musim di Andalusia tetapi Simeone bertahan selama satu tahun lagi sebelum bergabung dengan Atlético Madrid.

Mungkin ketika berada di Atletico Madrid, Simeone merasakan kecocokan yang selama ini belum pernah benar-benar dia temukan di dua klub sebelumnya di Eropa. Los Colchoneros kala itu terus-menerus dalam bayang-bayang rival sekota mereka, Real Madrid. Terus-menerus dikalahkan oleh kemeja putih berkilau klub tetangga mereka, Atlético selamanya berjuang melawan kekuatan finansial dan politik Los Blancos. Jika pernah ada seorang pemain yang cocok untuk kehidupan perjuangan sepakbola, untuk pertempuran terus-menerus melawan pengganggu seperti itu, untuk menjadi kekuatan tak tertahankan yang menabrak sana-sini, pria itu bernama Diego Simeone.

Puncak Atleti dicapai pada musim 1995/96 ketika Tim Impian Johan Cruyff a.k.a Barcelona memudar, di bawah asuhan pelatih Serbia, Raddy Antic, mereka akhirnya memenangkan La Liga dan Copa del Rey.

Simeone adalah jantung permainan Atleti asuhan Antic, yang terus berdetak dengan intensitas maksimum. Seorang pemimpin bagi orang-orang di sekitarnya meskipun masih berusia 24 tahun, Simeone juga menjadi pahlawan berkat umpan-umpan terobosan khasnya dari lini tengah yang membuat lini serang seringkali dimanjakan. Sering terlihat di area penalti lawan, berlari dengan kecepatan penuh, setelah melakukan tekel yang memenangkan penguasaan bola, Simeone memimpin dan semua orang di Vicente Calderon mengikutinya. Mereka secara implisit percaya bahwa tim mereka akan aman di tangan seorang pria keras seperti Diego Simeone.

Dia akhirnya meninggalkan Atlético untuk bergabung dengan Internazionale pada tahun 1997 tetapi dia akan kembali: pertama, dalam fase akhir karirnya sebagai pemain pada tahun 2003, kemudian sebagai manajer delapan tahun kemudian. Jadi, tujuh tahun setelah dia menutup mimpinya menaklukan Serie A, akhirnya Simeone melanjutkannya. Selama enam tahun di Italia, Simeone terbukti menjadi katalis kesuksesan instan di Inter dan juga kemudian di Lazio.

Di musim pertamanya bersama Nerazzurri, ia berada di bawah komando pelatih Luigi Simoni. Tidak berbeda dengan Spinetto dan Bilardo, Simoni mengatur timnya dengan tujuan mendapatkan hasil. Sebagai pendukung gaya sepak bola Catenaccio, Simoni akan menempatkan tim Inter-nya dengan Salvatore Fresi sebagai penyapu dalam sistemnya yang sangat berhati-hati. Idenya adalah untuk mengisi tim dengan pelari yang disiplin dan mau, yang bertugas menutup lawan dan mengumpankan bola ke Youri Djorkaeff, Iván Zamorano, dan Ronaldo di depan. Dan itu terbukti berhasil, saat Inter memenangkan Piala UEFA pada tahun 1998.

Kembalinya Simeone ke Italia telah menciptakan evolusi dalam permainannya. Simeone 2.0 adalah pemain yang lebih disiplin secara taktis, jarang melakukan jeda ketika menguasai bola.

Pendekatan baru ini adalah faktor pendorong di balik perekrutan Simeone untuk bergabung dengan Lazio pada tahun 2000. Sven-Göran Eriksson telah membangun tim yang penuh dengan bakat menyerang, dengan Pavel Nedvěd, Juan Sebastián Verón dan Hernán Crespo menjadi senjata untuk  ofensif tim asuhan pelatih asal Swedia itu. Tapi itu juga dikarenakan berkat kedatangan Simeone dan yang membantu Lazio mengamankan Scudetto untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka.

Setelah meninggalkan Lazio pada tahun 2003, Simeone mengakhiri karir bermainnya dengan dua musim kembali di Atlético Madrid, sebelum gantung sepatu dengan Racing Club di Argentina dan segera beralih ke dunia pelatih dengan mengasuh tim akademik klub terakhirnya itu.

Dalam 14 tahun karir internasional yang terdiri dari 103 caps – kelima terbanyak dalam sejarah tim nasional Argentina – dengan dua kemenangan Copa América dan Piala Konfederasi FIFA, membuat publik mengingat Simeone dengan jersey Argentina paling identik saat dia membuat Beckham mendapat kartu merah di Piala Dunia 1998 di Prancis.

Setelah menabrak punggung Beckham di awal babak kedua pertandingan babak 16 besar Argentina melawan Inggris di Saint-Étienne, Simeone mengangkat tangannya untuk meminta maaf dengan harapan menghindari kartu kuning untuk pelanggaran kerasnya itu. Saat Simeone mulai menjauh dari tempat kejadian, bintang Inggris yang jatuh itu menendang dan menyerempet bagian belakang betisnya. Simeone jatuh ke tanah secara dramatis, sambil secara bersamaan memberi isyarat kepada wasit saat itu, Kim Milton Neilsen, meyakinkan wasit bahwa pelanggaran itu sangat parah.

Simeone saat menabrak punggung Beckham dia harus mendapat kartu kuning. Namun drama yang dia suguhkan ketika ditendang balik oleh Beckham, membuat bintang yang kala itu bela Manchester United mendapatkan kartu merah dari wasit. Keuntungan yang didapat oleh Argentina. “Saya telah menjegalnya, dan kami berdua jatuh ke tanah. Ketika saya mencoba untuk berdiri, saat itulah dia menendang saya dari belakang. Dan saya mengambil keuntungan dari itu. Dan saya pikir setiap orang akan memanfaatkannya dengan cara yang sama,” kata Simeone kepada The Observer pada tahun 2002 silam.

Drama tersebut tentu saja dianggap licik oleh banyak orang, tapi itu membantu timnya menang (Argentina memenangkan adu penalti setelah pertandingan berakhir 2-2). Tentu, jika diberi pilihan, dia lebih suka mencetak gol dari luar kotak penalti untuk menyelesaikan pertandingan, tetapi sebuah peluang muncul dengan sendirinya dan dia mengambilnya. Kemenangan tim adalah yang terpenting.

Timnas Inggris menjadi salah satu korban paling pesakitan dikarenakan pelanggaran yang diciptakan oleh Simeone, namun lawan terprovokasi dan mendapatkan kartu merah. Pahlawan untuk negaranya, penjahat untuk sang lawan, itulah Diego Simeone. Si El Cholo.