Eksistensi Yakuza Menggarap Bisnis Perjudian di Jepang

Jumat, 31 Desember 2021, 13:33 WIB
40

Edisi Bonanza88, Jakarta – Pada awalnya Yakuza hanya melakukan aktivitas bisnis di wilayah Kansai tepatnya di Osaka dan Kyoto. Pada tahun 1960-an Yakuza mulai mengembangkan bisnisnya ke wilayah Kanto hingga membuka kantor cabang di Hokkaido. Anggota Yakuza yang bertugas di daerah Kobe memulai bisnisnya di daerah pelabuhan menguasai segala aktivitas seperti pembersihan kapal, distributor penjualan ikan, memegang kendali tenaga kerja kuli angkut, hingga menguasai daerah hiburan dan klub-klub malam di Kobe.

Akan tetapi, sebuah perusahaan besar yang menyewa alat angkut barang untuk menggantikan fungsi kuli angkut memasuki wilayah pelabuhan, megakibatkan Yakuza kehilangan salah satu sumber pendapatan.

Pemerintah Jepang telah melegalkan perjudian kasino pada Desember 2016 dan berencana akan mulai dibuka pada tahun 2020. Yakuza sangat antusias dengan hal tersebut. Mereka berpendapat bahwa dengan dilegalkannya kasino, lebih banyak orang akan ketagihan dan Yakuza dapat dengan mudah mengeksploitasi dengan meminjamkan uang secara ilegal dan bunga yang tinggi. Perjudian merupakan sumber pendapatan besar bagi Yakuza dan hasil dari kejahatan tersebut dapat dengan mudah dicuci di kasino.

Saat ini diketahui pendapatan Yakuza dari bisnis perjudian mencapai triliunan Yen pertahun. Tidak hanya Yakuza yang mampu meraup keuntungan besar dari bisnis perjudian, pemerintahan Jepang juga ikut mendapatkan keuntungan dari bisnis judi yang mampu dijaga keberadaannya oleh Yakuza.

Selain perjudian, narkotika juga menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar Yakuza. Jenis narkoba yang paling banyak diperjualbelikan adalah amfetamin dan heroin. Pada tahun 1970 sampai tahun 1980 Yakuza mulai memperdagangkan amfetamin pertama kali di daerah Osaka. Para pekerja acara Osaka Expo World Fair menggunakan amfetamin untuk mendapatkan tenaga dan energi yang kuat.

Setalah acara tersebut berakhir, para pekerja kembali ke daerah masing-masing dengan membawa kebiasaan untuk mengonsumsi amfetamin, sehingga penjualan amfetamin terus meningkat. Pada awalnya Yakuza memproduksi dan mendistribusi metamfetamin (turunan dari amfetamin) di laboratorium mereka sendiri. Tetapi, karena aturan tegas dari pemerintah mengenai pembuatan obat-obatan di Jepang, Yakuza memindahkan tempat produksinya ke Korea.

Eksistensi Yakuza sebagai sindikat kriminal telah banyak menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya masyarakat Jepang tetapi masyarakat luar Jepang juga tidak asing lagi bila mendengar istilah Yakuza. Banyak media online yang peneliti gunakan sebagai sumber data penelitian. Finance.detik.com merupakan media yang membahas mengenai perekonomian dan keuangan turut mengangkat tema Yakuza dalam beritanya.

Media online lainnya seperti tribunnews.com, nationalgeographic.co.id, dunia.news.viva.co.id, dan voaindonesia.com adalah media online Indonesia  yang mengangkat pembahasan menegenai Yakuza baik dari segi kehidupan kelompok, perkembangan, hingga bisnis yang dijalankan.

Terjepit Ekonomi, Yakuza Jepang Alih Profesi Jadi Pencuri Melon - Global  Liputan6.com

Tidak hanya media di Indonesia, media online dunia seperti cnn.com dan asahi.com yang merupakan situs online dari surat kabar Jepang ‘Asahi Shinbun’ juga membahas mengenai keberadaan Yakuza. Badan intelejen Amerika, CIA (Central Intelligence Agency) bahkan turut membahas mengenai Yakuza dan perekonomian Jepang dalam CIA The World Factbook, yaitu kumpulan fakta-fakta dan kejadian yang ada dari berbagai negara di dunia. Yakuza mampu mempertahankan eksistensinya dalam bisnis ilegal perjudian dan narkotika di Jepang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eksistensi adalah keberadaan, kehadiran yang mengandung unsur bertahan. Yakuza tetap menjalankan aktivitas bisnis ilegalnya secara terang-terangan maupun terselubung.

Pada tahun 2015, kepolisian Jepang berhasil membongkar perjudian online yang diorganisir dan dioperasikan oleh Yakuza. penyergapan tersebut dilakukan oleh 50 aparat kepolisian Jepang, di markas Yakuza di Osaka pada 20 November 2015 dan berhasil menyita seluruh dokumen penting terkait perjudian Yakuza (tribunnews.com). Meski demikian, Yakuza tidak menghentikan bisnisnya begitu saja. Yakuza telah memperluas jaringan bisnisnya ke negara-negara Asia, Amerika, bahkan Eropa. Yakuza telah terlibat kerjasama dengan sindikat kriminal Amerika dalam bidang perdagangan narkoba dan pencucian uang.

Agar dapat mempertahankan eksistensi, suatu organisasi atau perusahaan memerlukan suatu manajemen strategi dalam berbagai tingkatan yaitu, strategi tingkat korporasi, tingkat bidang satuan bisnis, dan strategi tingkat fungsional. Selain itu, struktur organisasi yang kokoh juga menjadi salah satu faktor untuk bertahan dan berkembang dalam bidang yang dijalankan. Keberhasilan Yakuza dalam mempertahankan bisnis ilegalnya secara tidak langsung memberikan dampak terhadap perekonomian Jepang. Jepang sebagai negara yang memperbolehkan beberapa aktivitas perjudian turut mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut. Pada tahun 2010 pemerintah Jepang tercatat mendapatkan penghasilan sedikitnya 4,3 triliun Yen dari aktivitas perjudian.

Eksistensi Yakuza di Perjudian

Fakta di Balik Sosok Yakuza, Mafia Sangar Dari Jepang - Boombastis

Yakuza merupakan organisasi kriminal yang telah masuk ke berbagai aspek kehidupan masyarakat Jepang. Lahirnya Yakuza di Jepang bermula pada tahun 1612 ketika Shogun Tokugawa berhasil menyingkirkan ke-shogun-an sebelumnya, mengakibatkan 500.000 Samurai kehilangan tuan (disebut kaum Ronin). Kaum Ronin yang kehilangan tuan menolak untuk tunduk dan patuh kepada penguasa yang baru dan sering kali menyebabkan keributan di tengah-tengah masyarakat. Untuk melindungi masyarakat dari gangguan kaum Ronin, para pedagang dan masyarakat lainnya membentuk kelompok atau organisasi yang disebut Machi-yakko.

Machi-yakko selalu berhasil dalam menjalankan tugasnya yaitu melindungi masyarakat dari gangguan-gangguan yang disebabkan oleh kaum Ronin sehingga mereka dianggap sebagai pahlawan. Namun, ketika gangguan mulai mereda dan akhirnya menghilang, para Machi-yakko tidak memiliki tugas lagi dan mulai menjadi pengangguran. Sebagian besar dari mereka memilih untuk menjadi pedagang yang licik, preman, bahkan penjudi yang dipelihara oleh Shogun.

Dalam organisasi Yakuza terdapat istilah yang dikenal dengan sebutan ikka (一家). Ikka adalah suatu bentuk keluarga yang anggotanya tidak memiliki hubungan darah satu sama lain. Kata Ikka dapat juga diganti dengan sebutan gumi (組み) atau kai (会) yang berarti asosiasi. Anggota Yakuza bekerja secara terstruktur dan terorganisir. Setiap anggota harus menjunjung tinggi kesetiaan dan hirarki kelompok.

Yakuza terdiri dari dua kaum yaitu kaum bakuto dan tekiya. Bakuto adalah sebutan untuk kelompok penjudi dan tekiya merupakan sekelompok orang yang melakukan aktivitas dagang tetapi dengan cara yang licik. Pada awalnya, bakuto berjudi atas permintaan Shogun untuk mengalahkan para pegawai konstruksi dan irigasi. Hal tersebut bertujuan agar para pegawai menghabiskan gajinya di meja judi, sehingga mereka dapat dibayar dengan upah yang murah. Para bakuto berjudi menggunakan kartu Hanafuda yang sistem permainannya sama seperti permainan Black Jack.

Permainan inilah yang menjadi asal-usul kaum machi-yakko mulai dikenal dengan istilah Yakuza. Dalam permainan tersebut terdapat kartu yang dinamakan “kartu sial” jika menunjukkan kombinasi angka 8-9-3 yang berjumlah 20. Istilah Yakuza merujuk pada angka-angka dari kartu tersebut (8-9-3) yang dalam Bahasa Jepang dapat diucapkan Ya-Ku-Za.

Dulu Berkuasa, Kini Mantan Anggota Yakuza Jepang Dikucilkan dan Hidup  Melarat - Semua Halaman - Intisari

Yakuza yang pada awalnya merupakan kelompok penjudi dan pedagang bertransformasi menjadi kelompok kejahatan terorganisir yang menguasai berbagai aspek kehidupan masyarakat Jepang. Yakuza di awal kemunculannya melakukan bisnis dengan cara-cara tradisional seperti berdagang di acara festival sekitar kuil, menjajakan barang-barang palsu atau berkualitas rendah. Pasca Perang Dunia II Yakuza bekerjasama dengan pemerintah dan mendapat dukungan resmi. Yakuza masuk ke dalam dunia politik Jepang dengan mendekati para pejabat pemerintahan. Upaya tersebut berhasil menjadikan Yakuza sebagai sindikat yang memiliki kebebasan untuk terlibat langsung dalam aspek politik dan bisnis Jepang.

Kebebasan yang didapatkan oleh Yakuza menjadi titik awal untuk memperluas aktivitas bisnisnya. Yakuza tidak lagi berbisnis dengan cara-cara tradisional. Umumnya Yakuza melakukan kegiatan bisnis ilegal seperti penyelundupan senjata, bisnis klub-klub malam, perdagangan perempuan dan prostitusi, perjudian, narkoba, pencucian uang, dan lain-lain.

Awalnya Yakuza membatasi bisnisnya hanya pada wilayah Kansai, yaitu Osaka dan Kyoto. Melihat keberhasilan yang diraih, Yakuza tidak hanya beroperasi di wilayah Kansai, namun diperluas hingga ke luar Kansai. Pada tahun 1960-an Yakuza memperluas kekuasaan dan kegiatan bisnisnya ke negara-negara lain seperti China, Korea, Philipina, Hawaii dan masih banyak lagi negara lainnya. William Sessions dalam jurnal “Yakuza: The Warlords of Japanese Organized Crime” mengatakan bahwa: “Pada tahun 1991, Yakuza menguasai 90% perdagangan metamfetamin di Hawaii”. Saat ini pendapatan terbesar Yakuza berasal dari bisnis perdagangan narkotika dan perjudian ilegal.

Organisasi Yakuza terus berkembang dengan pesat meskipun sempat mengalami masa keterpurukan ketika Jepang melakukan penyerangan ke Pearl Harbour dan pasukan Militer Jepang berhasil mengambil alih pemerintahan. Di masa kejayaannya dengan solidaritas yang kokoh antar sesama anggota, Yakuza yang awalnya hanya penjudi dan pedagang mulai memasuki berbagai aspek kehidupan masyarakat Jepang khusunya bidang bisnis.

Perjudian adalah hal yang ilegal di Jepang. Pada awal tahun 1970-an pemerintah semakin bertindak tegas dengan memperketat aturan mengenai perjudian di Jepang. Namun, ada dua jenis perjudian yang diperbolehkan yaitu takarakuji dan balapan. Berdasarkan Criminal Code Chapter 23 tentang perjudian dan lotere ( 第二十三章 賭博及び富くじに関する罪), perjudian dilarang keras di Jepang kecuali empat hal ini, yaitu Takarakuji (undian berhadiah), lomba balapan kuda, motorboat, dan balapan sepeda yang diadakan di bawah aturan hukum Jepang untuk meningkatkan pendapatan dan sebagai ajang hiburan bagi masyarakat.

Jenis perjudian yang dilakukan Yakuza umumnya adalah permainan kartu, dadu, permainan roulette, dan pachinko. Ada dua kategori dalam penyelenggaraan judi oleh Yakuza yaitu mewah dan sederhana. Kategori mewah diikuti oleh orang- orang kaya raya yang tergolong kelas eksekutif. Jika permainan dilakukan di luar Jepang, Yakuza memberikan fasilitas pendukung seperti transportasi, penginapan, bahkan wanita penghibur. Sementara itu, kategori sederhana hanya dilakukan di sebuah apartemen tanpa adanya fasilitas yang disediakan. Di awal permainan, Yakuza membiarkan kliennya untuk menang, setelah beberapa putaran, Yakuza mulai memutar alur permainan menggunakan trik-trik curang agar kliennya kalah dan uang mereka terkuras.

Saat ini, kasino bisa dikatakan sebagai “calon” lahan baru bagi Yakuza. Pemerintah Jepang telah melegalkan perjudian dalam bentuk kasino dan berencana akan memulai pada tahun 2020. Segala bentuk perjudian yang ada di Jepang, meski tidak dijalankan oleh Yakuza secara langsung, dapat dipastikan selalu ada campur tangan Yakuza dalam menjalankannya. 30% pendapatan Yakuza bersumber dari bisnis perjudian. Walaupun bisnis judi yang dijalankan adalah ilegal, namun Yakuza selalu memiliki cara sehingga mereka bisa memperoleh penghasilan miliaran Yen per tahun dari perjudian.

Yakuza dan Narkotika

Nasib Geng Yakuza Jepang yang Dulu Sadis Kini Jadi Pencuri Sayur dan  Buah-buahan - Harian Inhua Online

Penjualan narkotika merupakan sumber pendapatan utama lainnya dari kelompok Yakuza. Amfetamin dan turunannya metamfetamin adalah yang paling banyak diperjualbelikan. Pada awalnya produksi amfetamin dilakukan di Jepang, namun karena ketatnya peraturan yang dibuat oleh pemerintah mengenai obat-obatan terlarang, Yakuza memindahkan tempat produksi mereka ke Korea. Setelah berhasil melakukan produksi dan distribusi di Korea, Yakuza memperluas jaringannya ke negara Asia lainnya seperti Thailand, Hongkong, dan Taiwan. Karena produksi di Korea mulai menurun, saat ini Taiwan adalah pemasok utama metamfetamin untuk Yakuza.

Di Jepang pada tahun 1980-an, sebanyak lima ratus ribu jiwa merupakan pengguna metamfeamin. Oleh karena itu, Jepang dijuluki sebagai “ibukota metamfetamin dunia”. Masyarakat Jepang adalah masyarakat dengan tipe pekerja keras sehingga mereka beranggapan bahwa mereka membutuhkan metemfetaminuntuk menjaga stamina dan energi agar tetap dapat beraktvitas seperti biasa. Penjualan narkotika jenis metamfetamin atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai shabu merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi Yakuza.

Selain amfetamin dan metamfetamin, jenis narkotika yang dibisniskan oleh Yakuza adalah heroin. Yakuza bekerjasama dengan sindikat kriminal Triad China. Berbeda dengan narkotika yang lain, heroin tidak diperjual belikan oleh Yakuza di Jepang. Jepang menjadi negara transit saat China mengekspor heroin ke negara- negara Eropa dan Amerika. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Yakuza untuk mendapatkan komisi.

Pada tahun 2013, Yakuza menyeludupkan narkoba senilai 16,4 miliar yen melalui pelabuhan Yokohama. Kepolisian Jepang memperkirakan bahwa kejadian tersebut merupakan hasil kerjasama komplotan Yakuza dan sindikat kriminal Triad dari China. Selain bekerjasama dengan Triad untuk menyeludupkan narkoba, Yakuza juga menggunakan “perusahaan boneka” mereka untuk menyeludupkan narkoba. Tahun 2012 perusahaan kontraktor menjadi kedok Yakuza untuk menyeludupkan narkotika senilai 3,5 miliar yen dengan berat 44 kilogram melalui pelabuhan di Shinagawa. 44 kilogram narkotika tersebut dipecah menjadi tujuh bungkasan plastik yang dimasukkan ke dalam mesin penarik alat berat sepanjang 1,5 meter.

Tidak hanya bekerjasama dengan sindikat kriminal di luar Jepang, Yakuza juga melakukan penjualan narkotika di dunia maya. Sindikat ini memanfaatkan kemajuan teknologi internet untuk mendapatkan pembeli. Generasi muda Yakuza lebih banyak berperan dalam penjualan narkotika online. Semakin mudahnya akses penjualan narkotika menyebabkan pelaku narkoba di Jepang meningkat drastis. Tahun 2012 sebanyak 241 orang pelaku transaksi narkoba berhasil ditangkap oleh kepolisian Jepang. 113 di antaranya merupakan anggota dari sindikat Yakuza bidang narkotika. Katsumata salah seorang anggota Yakuza yang menjalankan bisnis narkotika mengaku mendapat keuntungan 15 juta Yen dari 100 pelanggan.

 

Tags:

BERITA TERKAIT