Estetika Gunung Semeru Bersama Petualangan Para Penyair Sajak: Dari Soe Hok Gie Hingga Saykoji

Jumat, 10 Desember 2021, 13:59 WIB
81

Bagi kalangan para pecinta alam, gunung selalu menjadi destinasi favorit untuk melepas penat. Mereka tak akan sungkan menyediakan waktu, tenaga, hingga dana, demi bisa melaksanakan pendakian gunung yang sebenarnya bukan perkara mudah. Rute yang perlu ditempuh agar sampai ke puncak gunung sering menimbulkan kerumitan, bahkan cenderung ekstrem.

Namun kecintaan terkait pesona pemandangan alam di gunung membuat segala rintangan yang berpotensi menghadang jadi urusan nomor dua. Paling utama tentu kepuasan hati yang terpenuhi oleh megahnya serta sejuknya panorama khas area pegunungan. Gunung ibarat sebuah sumber yang kaya akan unsur estetika alami.

Gunung Semeru pun lantas mencuat sebagai salah satu gunung yang mahsyur di antara para pendaki. Daya tarik termudah yang menyelimuti Gunung Semeru terletak pada ketinggian puncaknya, Puncak Mahameru. Memiliki ketinggian sekitar 3.676 mdpl, Puncak Mahameru merupakan puncak gunung tertinggi yang ada di seantero Pulau Jawa.

Pesona Gunung Semeru jelas bukan hanya dari faktor ketinggian puncaknya saja. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kepuasan batin dengan menaklukan puncak tertinggi di Pulau Jawa sangatlah luar biasa. Tapi sejatinya masih ada banyak lagi keindahan yang dapat dirasakan dan dilihat langsung oleh para pendaki ketika menjelajahi petualangan alam Gunung Semeru.

10 Foto Pemandangan Gunung Semeru Yang Menakjubkan - WisataBaru.Com

Pertama, ada keindahan yang disajikan oleh kawasan Desa Ranu Pani. Konon, desa ini merupakan desa tertinggi di Indonesia. Lokasi persisnya saja berada di ketinggian sekitar 2.100 mdpl.

Semua pendaki Gunung Semeru tahu jika kaki mereka sudah menginjak di tanah Desa Ranu Pani, mereka akan segera tiba di puncak Gunung Semeru. Desa Ranu Pani adalah desa terakhir yang bisa ditemui para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Puncak Mahameru. Menariknya, Desa Ranu Pani masih dihuni penduduk lokal yang tenar dengan sebutan masyarakat Suku Tengger.

Keramahan warga Suku Tengger siap menyapa para pendaki yang melintas di Desa Ranu Pani. Sekedar catatan, Suku Tengger amatlah penting dalam cakupan sejarah bangsa. Warga Suku Tengger bisa dibilang masih keturunan langsung dari pribumi pulau Jawa yang memiliki leluhur pada periode Kerajaan Majapahit silam.

Beranjak naik sedikit dari Desa Ranu Pani, ada keindahan lain yang jadi pesona paling mahsyur dari Gunung Semeru, yakni Ranu Kumbolo. Buat yang belum tahu, Ranu Kumbolo merupakan danau air tawar yang airnya sungguh jernih dan di sekitarnya dihiasi pemandangan alam begitu asri. Letak kawasan Ranu Kumbolo kira-kira ada di ketinggian 2.400 mdpl.

Banyak pendaki yang sering mendirikan tenda mereka untuk bermalam di area Ranu Kumbolo. Hal ini biasanya sengaja dilakukan demi bisa menikmati keindahan pemandangan Ranu Kumbolo secara puas. Saking indahnya pemandangan di sana, tak jarang para pendaki yang memilih Ranu Kumbolo sebagai tujuan utama pendakian, bukan Puncak Mahameru.

Desa Ranu Pani dan Danau Ranu Kumbolo hanyalah segelintir keindahan alam yang dimiliki Gunung Semeru. Melalui artikel kali ini, kami hendak mengapresiasi beragam bentuk pesona Gunung Semeru dengan cara yang berbeda. Bila menengok ke belakang, Gunung Semeru selaku sumber estetika alami tercatat pernah dijelajahi oleh sumber estetika manusiawi yang mahir merangkai sajak-sajak.

Setidaknya ada dua tokoh besar penyair sajak yang kebetulan akhiran namanya berima, yakni Soe Hok Gie dan Saykoji. Soe Hok Gie merupakan aktivis di masa lampau yang kini karya-karya puisinya jadi primadona pecinta seni. Sementara Saykoji, merupakan musisi atau rapper top Tanah Air yang tentu piawai membuat lagu-lagu dengan lirik berima.

Gimbal Alas Pasang Prasasti Soe Hok Gie–Idhan Lubis di Puncak Mahameru -  Kedai Pena

Soe Hok Gie yang Abadi Bersama Gunung Semeru

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah..

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza..

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu, sayangku…

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu..

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi..

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau..

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra..

Tapi aku ingin mati di sisi mu, Manis ku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya..

Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu..

Mari sini sayang ku…

Kalian yang pernah mesra,

Yang pernah baik dan simpati pada ku..

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…

Kita tak pernah menanamkan apa-apa..

Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa..

Begitulah salah satu puisi yang pernah dibuat Soe Hok Gie semasa hidupnya. Puisi yang ditulisnya pada 11 November 1969 ini menjadi karya terakhirnya sebelum meregang nyawa sebulan kemudian. Di sana tertulis diksi “Lembah Mandala Wangi” (pesona alam Gunung Pangrango) yang jadi bukti bahwa Soe Hok Gie mencintai kegiatan bernada alam, termasuk mendaki gunung.

Soe Hok Gie Mati Muda di Gunung Semeru

Saking cintanya terhadap gunung, momen wafatnya Soe Hok Gie pada 16 Desember 1969 terjadi di puncak sebuah gunung, yakni Gunung Semeru. Ia meninggal dunia akibat tak sengaja menghirup gas beracun yang kala itu menghampiri Puncak Mahameru. Mirisnya, Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhirnya hanya beberapa jam sebelum dirinya genap berulang tahun yang ke-27.

Kisah pendakian Gunung Semeru yang berujung petaka bagi Soe Hok Gie bermula pada hari Jumat tanggal 12 Desember 1946. Ia berangkat dari Jakarta, tepatnya Stasiun Gambir, mulai pukul 06.00 pagi, bersama rombongan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI. Total ada delapan orang yang berangkat, termasuk Soe Hok Gie.

Sebenarnya Soe Hok Gie adalah ‘pentolan’ Mapala UI yang juga salah satu pendiri organisasi tersebut. Namun dalam rombongan pendakian Gunung Semeru itu, orang yang memimpin perjalanan bukanlah Soe Hok Gie, melainkan rekannya, Herman Onesimus Lantang. Kondisi demikian lantas kerap menimbulkan perdebatan sengit antara Gie dan Herman.

Keduanya punya pandangan dan pendapat masing-masing soal rute pendakian. Solusi pun diambil yaitu rombongan pendakian tetap berangkat bersama, tapi terbagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok dipimpin Herman, sementara kelompok lainnya dipimpin Gie.

Pemicu perdebatan lantaran Gie ingin rombongan pendakian melewati jalur baru. Gie enggan hanya berjalan melalui rute yang sebelumnya sudah ditemukan lebih dulu oleh pendakian mahasiswa UI lainnya pada 1968. Memanfaatkan peta dari riset pemerintah Belanda keluaran 1928, Gie coba mengajak rekan-rekannya membuka jalur pendakian anyar.

Meski debat-debat panas berulang kali terjadi, Gie dan Herman tetap akrab dalam candaan rombongan. Mereka kerap berbincang-bincang yang mengundang gelak tawa. Salah satunya membahas harapan Gie yang berencana merayakan hari ulang tahunnya pada 17 Desember di puncak Gunung Semeru.

3 Tokoh Dunia Meninggal Saat Mendaki, Soe Hok Gie di Gunung Semeru

Tanggal 16 Desember, perjalanan menuju Puncak Mahameru hampir tercapai. Gie dkk. beristirahat sebentar di daratan datar terakhir dengan ketinggian 3.300 mdpl sebelum puncak Gunung Semeru. Sembari beristirahat, mereka merundingkan pembagian kelompok untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung.

Hasil perundingannya begini; Gie dan rombongan pimpinannya berangkat lebih dulu menuju puncak, baru kemudian disusul rombongan herman yang diisi Idhan Lubis. Rombongan Gie pun akhirnya ada di Puncak Mahameru. Gie memilih berdiam lebih lama di puncak karena menunggu rombongan Herman yang sedang berjalan mendaki.

Sembari menunggu Herman, Gie mendapati cuaca di puncak Gunung Semeru sedang kacau-kacaunya. Selain hujan gerimis, langit juga begitu gelap. Belum lagi, ada hujan-hujan pasir yang sesekali mengenai badan Gie.

Kawan-kawan yang ada di rombongan Gie memilih turun lebih dulu mengingat memburuknya cuaca. Alhasil Gie tinggal sendirian di puncak sambil duduk dengan menopang dagu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya rombongan Herman dan Idhan Lubis tiba ke puncak.

Namun momen muncak Gunung Semeru justru jadi mengerikan. Herman melihat Lubis dan Gie tiba-tiba lemas, hingga terkapar di tanah. Herman coba mengecek denyut nadi keduanya, dan sial, Gie dan Lubis sudah meregang nyawa. Setelahnya diketahui kalau Gie dan Lubis mendadak meninggal dunia akibat tak sengaja menghirup gas beracun yang disemburkan kawah Jonggring Seloko di Puncak Gunung Semeru.

Tukang Rap on Twitter: "Selamat pagi Indonesia! Dapat salam dari puncak  Mahameru #5cm http://t.co/NKZ1VVQf" / Twitter

Saykoji yang Menaklukan Gunung Semeru dalam Film

Siang malam ku selalu

Menatap layar terpaku

Untuk online online

Online online…

Begitulah bunyi penggalan lirik karya Saykoji berjudul “Online” yang mahsyur. Nama Saykoji tenar berkat karya-karyanya sebagai musisi musik rap alias rapper. Dia sampai sekarang masih aktif berkarya dan masuk jajaran rapper top Indonesia.

Namun karier Saykoji di industri hiburan bukan hanya terpampang di belantika musik. Saykoji pernah pula menjajal ranah akting dengan membintangi film layar lebar. Salah satu akting terbaik Saykoji tertuang dalam film bertajuk “5 cm” yang dirilis pada tahun 2012.

Film tersebut mengisahkan sekelompok sahabat yang merencanakan perjalanan liburan. Saykoji memainkan karakter Ian yang termasuk dalam kelompok sahabat tersebut. Rencana liburan ternyata menjatuhkan Gunung Semeru sebagai destinasi.

Inti cerita film lantas mengisahkan perjuangan 5 orang kelompok sahabat dalam menjalani pendakian Gunung Semeru. Saykoji pun otomatis harus melakukan syuting dengan mendaki Gunung Semeru. Setelah proses syuting selesai, Saykoji mendapati pujian-pujian akan film 5 cm. Tapi Saykoji agak merasa kapok naik gunung, lantaran baginya sangat melelahkan.

Sinopsis Film 5 cm, Kisah Persahabatan 5 Anak Muda Daki Gunung Tertinggi di  Jawa, Tonton di Netflix - Tribunnewssultra.com

“Kalau saya sih kapok ya naik gunung, kemarin itu capek banget. 17 hari syuting di gunung pas sampai rumah badan rasanya mau rontok,” kata Saykoji yang bernama asli Igor.

Saykoji menceritakan sempat ingin menyerah di tengah perjalanan mendaki. Dia ditawari oleh tim produksi untuk mendapatkan alat bantu spesial saat mendaki. Namun Saykoji memilih mendaki sampai ke puncak seperti pendakian biasa.

“Jam 1 pagi  kami masih di bawah, di kaki gunung. Saya ditanyain mau nggak ditarik. Lalu saya dibungkus kayak apem. Begitu dicoba nggak ada yang bisa narik. Akhirnya diputuskan untuk mendaki seperti biasa. Jam berapa pun sampai di atas, nggak apa-apa. Yang penting sampai atas. Akhirnya 10 jam sampai di atas,” katanya.

“Gue bareng istri ke atas, bisa nikmatin momen sama istri. Begitu letih, saya suruh nyalain lampu 3 kali, dan semangat gue naik lagi. Waktu sampai di atas, seluruh pemain merasakan energi sesuai karakter yang kita bawain,” ujarnya.