Fenomena Bioskop dan Konser Musik Drive-in di Indonesia: Dipelopori Ciputra, Hingga Kembali Tenar Berkat Virus Corona

Senin, 20 Desember 2021, 14:20 WIB
78

Pandemi Covid-19 yang menyerang masyarakat internasional dalam periode dua tahun terakhir, memang secara signifikan mengubah kehidupan peradaban manusia. Perubahan yang terlihat paling mencolok tentu soal penggunaan masker. Ketika berpergian ke luar rumah, orang-orang telah terbiasa mengenakan masker untuk menutup area hidung dan mulutnya supaya terhindar dari penularan virus.

Selain perkara masker, masih ada banyak perubahan lain yang dirasakan penduduk dunia. Tiap negara, tiap daerah, memiliki perubahan cara hidup yang berbeda-beda, tergantung kondisi sosial serta budaya masyarakatnya. Namun pada intinya, ada perubahan yang terjadi, yang mana dewasa ini biasa disebut dengan istilah new normal.

Pengartian sederhana new normal adalah cara-cara baru yang dilakukan masyarakat agar bisa tetap melakukan kebiasaan lama di tengah masa pandemi virus corona. Tema besar kegiatannya sama-sama saja, hanya metode pelaksanaannya yang mendapat sentuhan modifikasi. Penerapan modifikasi sendiri jadi sistem adaptasi manusia guna melanjutkan kehidupan.

Ranah pertunjukkan seni tak kalah terkena dampak pandemi virus corona yang begitu mengerikan. Kala penyebaran virus masih parah-parahnya sekitar awal tahun 2020 lalu, berbagai bisnis pertunjukkan seni, baik musik maupun film, mati total. Para pekerja seni akhirnya terpaksa memilih rehat dari kariernya; minimal, mencoba terus berkarya dari rumah memanfaatkan kecanggihan teknologi media sosial.

Ketika kondisi penyebaran virus corona perlahan mulai dapat ditangani, harapan para pekerja seni untuk bisa eksis kembali, akhirnya muncul. Konser musik dan penayangan film dapat diselenggarakan lagi, tapi dengan kaidah yang menaati aturan protokol kesehatan pencegahan penularan virus corona. Singkatnya, acara-acara pertunjukkan seni turut menjalankan prinsip new normal; menerapkan cara-cara baru penyelenggaraan yang ‘aman’.

Pola new normal yang ditunjukkan para pegiat konser musik dan penayangan film pun sempat berada di satu garis. Keduanya diketahui sama-sama menerapkan metode penyelenggaraan acara secara drive-in. Format demikian laris-manis dipraktikan, bahkan masih terus dijalankan bagi acara-acara konser musik.

MLDSPOT | Konser Drive-In akan Hadir di Jakarta

Penggambaran kasarnya, menonton konser musik atau film secara drive-in kurang lebih prinsipnya mirip-mirip seperti cara memesan makanan di restoran cepat saji. Bila restoran cepat saji memiliki konsep drive-thru yang mana para pengunjung bisa membeli makanan dari dalam mobil, acara konser musik dan penayangan film memunculkan metode drive-in supaya para penontonnya dapat menyaksikan hiburan dari dalam mobil sekaligus menghindari kerumunan.

Mungkin kamu akan bertanya-tanya, apakah suara penyanyi atau sound film yang ditonton jadi kurang terdengar jelas karena terhalang pintu dan kaca mobil? Para penonton drive-in tidak perlu khawatir akan hal ini. Panitia penyelenggara pasti bakal memandu setiap penonton atau setiap mobil, untuk menyambungkan radio mobilnya ke sistem audio yang dipakai acara.

Memang harus diakui, menonton konser musik atau film secara drive-in mengurangi esensi tingkat keseruan atmosfer. Contohnya saat menonton konser musik, serunya menikmati alunan lagu sembari joget-joget, lompat-lompat, mustahil dilakukan lagi. Namun cara ini setidaknya dapat mengobati kerinduan para penikmat konser musik atau film yang sudah lama tidak bisa menonton secara langsung.

Toh, menonton dari dalam mobil rasanya sangat aman di situasi pandemi virus corona. Drive-in tidak menimbulkan kerumunan yang berisiko tinggi menularkan virus. Terlebih, panita penyelenggara pasti melakukan protokol kesehatan lainnya, seperti pengecekan suhu, dsb. Lebih baik aman dibanding seru tapi malah mengundang bahaya, bukan?

Indonesia mungkin termasuk negara yang terlambat perihal menjalankan acara konser musik atau nonton film drive-in, dibandingkan negara-negara Eropa ataupun Amerika Serikat. Faktor yang mempengaruhi kertelambatan adalah kondisi penyebaran virus corona di Indonesia. Penyebaran virus sempat amat parah kondisinya sehingga pemerintah belum bisa melonggarkan peraturan serta memberikan izin acara.

Tapi kalau kamu berpikir keterlambatan konser atau penayangan film drive-in menandakan bahwa Indonesia terlalu ketinggalan zaman, itu salah besar. Jauh sebelum pandemi virus corona menyerang, konsep drive-in dalam acara-acara pertunjukkan seni sejatinya sudah jadi pemandangan biasa. Sekitar era 1970-an silam, Ancol selaku pusat hiburan di Jakarta, tampak gemar hingga mau berulang kali menerapkan metode drive-in saat menyelenggarakan konser musik atau penayangan film.

Konser Musik Digelar Drive-in Demi Hindari Penularan Covid-19

Wahana Pertunjukkan Drive-in Milik Ciputra

Pelopor konsep drive-in yang dahulu biasa digelar di Ancol ialah Ciputra. Bagi yang belum tahu, Ciputra merupakan konglomerat kawakan Tanah Air dengan fokus bisnis di bidang properti dan konstruksi. Beliau sudah meninggal dunia pada 27 November 2019 lalu. Warisan yang ia tinggalkan lebih dari sekedar harta melimpah. Ia juga banyak terlibat dalam bangunan-bangunan megah di kota-kota besar, termasuk Ancol beserta budaya pertunjukkan seni drive-in.

Tahun 1970 silam, tepatnya tanggal 1 April, Ciputra bersama perusahaan pimpinannya, PT Pembangunan Jaya, dipercaya menangani proyek pembangunan Ancol. Kawan Ancol yang tadinya hanya berupa hutan belantara, hendak disulap Ciputra menjadi pusat rekreasi masyarakat. Bahkan Ciputra berani berambisi mendirikan perumahan elite di area yang sejatinya masih banyak ditinggali hewan-hewan liar.

Sekilas cerita di balik proses pembangunan Ancol, pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sempat mengalami kerumitan luar biasa. Buktinya, ide atau gagasan membangun Ancol sudah muncul sejak 1962. Tapi 18 tahun kemudian saat PT Pembangunan Jaya memberanikan diri mengajukan proposal, barulah pembangunannya dapat terealisasi.

PT Pembangunan Jaya, khususnya Ciputra, terbilang lumayan nekat mengambil proyek pembangunan Ancol. Ciputra memaparkan janjinya kepada pemerintah DKI Jakarta bahwa bila nantinya Ancol mengalami kerugian, semua derita sepenuhnya akan ditanggung PT Pembangunan Jaya. Sementara jika Ancol berhasil menuai untung besar, porsinya bakal dibagi secara adil untuk PT Pembangunan Jaya dan pemerintah DKI Jakarta.

Konser Drive-in Pertama di Jakarta Digelar Agustus Mendatang -  WinNetNews.com

Singkat cerita, Ciputra merancang konsep yang zaman itu dianggap sinting, mengingat sulitnya medan kawasan Ancol. Bayangkan saja, Ciputra tampak muluk-muluk mengusung target kalau nantinya Ancol akan memiliki pantai yang jadi lumbung emas. Sarana hiburan keluarga ada di mana-mana yang membuat masyarakat terus berdatangan sekaligus mendatangkan keuntungan.

Awalnya pembangunan Ancol cuma merenovasi bagian pantainya. Sampai pada titik ini, PT Pembangunan Jaya bisa meraup pendapatan dari biaya tiket masuk yang diminta kepada setiap pengunjung. Sesuai konsep Ciputra, pembangunan masih terus dilanjutkan dengan mendirikan wahana-wahana wisata lain.

Ciputra lebih lanjut memunculkan inovasi segar yang belum pernah ada di Indonesia. Ia ingin menciptakan pertunjukkan seni berbasis drive-in, yang mana para penontonnya bisa menikmati pertunjukkan dari dalam mobil. Sederhananya, Ciputra layak disebut sebagai tokoh yang membawa masuk pertama kali konsep pertunjukkan seni drive-in ke Indonesia.

Berdasarkan rekam jejak sejarah, pertunjukkan seni drive-in aslinya berasal dari Amerika Serikat sana. Acara seni drive-in perdana di dunia yang dipertontonkan Negeri Paman Sam terselenggara pada 1933 dengan menyuguhkan pertunjukkan teater. Penemu konsep pertunjukkan seni drive-in ialah pria bernama Richard Hollingshead.

Pemicu Richard Hollingshead memprakarsai pertunjukkan seni drive-in disebabkan faktor keresahan ibunya. Richard sering mendengar keluhan ibunya yang kurang nyaman menonton film di gedung bioskop. Pada 6 Juni 1933, Richard lantas menggelar acara semacam menonton film ala bioskop, tapi di ruang terbuka. Acara garapan Richard mempersilahkan para penontonnya untuk menyasikan film dari dalam mobil supaya tetap nyaman.

Bioskop drive-in buatan Richard ternyata mendapat sambutan positif khalayak. Banyak warga Amerika Serikat yang ketagihan menikmati suasana menonton film dari dalam mobil di ruang terbuka. Tahun 1949, Richard meresmikan hak paten konsep pertunjukkan drive-in. Setelah hak paten dipunyai, Richard bisa menggelar acara pertunjukkan drive-in yang lebih besar.

Ciputra sendiri memang terinspirasi oleh budaya Amerika Serikat tersebut, setelah dia melihat langsung fenomena pertunjukkan seni drive-in di kota New York. Naluri bisnis Ciputra berkeyakinan kuat kalau Indonesia memiliki kalangan masyarakat yang cocok menjadi target market pertunjukkan drive-in. Terlebih, kondisi Indonesia pada periode awal 1970-an memang sedang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi signifikan dan berpengaruh kepada banyaknya jumlah masyarakat yang mampu membeli mobil.

“Hal ini didorong dengan pembukaan beberapa perusahaan asembling mobil di sekitar Jakarta, terutama merek Jepang seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Mazda, dan Subaru yang merajai jalanan di 1970-an, di samping mobil merek Amerika dan Eropa yang jumlahnya lebih sedikit,” catat Firman Lubis dalam Jakarta 1970-an.

Area Ancol yang dipakai Ciputra untuk membangun wahan pertunjukkan drive-in total luasnya sekitar lima hektar. Daya tampung lahan seluas itu dinilai Ciputra bakal sanggup disesaki maksimal 800 buah mobil. Fasilitas wahan pertunjukkan seni drive-in turut dipermanis sebuah layar raksasa berukuran panjang 40 meter, lebar 19 meter, dan tinggi 27 meter.

Ciputra berusaha semaksimal mungkin membangun wahana pertunjukkan drive-in yang ketika sudah rampung menjadi terbesar di Asia Tenggara. Para pekerja yang ditugaskan tentu dipastikan mereka yang memiliki keahlian terbaik soal konstruksi bangunan. Bukti keseriusan Ciputra lainnya tertuang dalam anggaran yang ia kucurkan hanya untuk wahana pertunjukkan drive-in, yakni sebesar Rp 260 juta (jika dihitung menggunakan nilai mata uang sekarang kira-kira setara Rp 10,4 miliar.

Pembangunan wahana pertunjukkan drive-in akhirnya selesai pada bulan Juni 1970. Acara peresmian wahana ini dilangsungkan sebulan kemudian pada 11 Juli 1970. Ketika momen peresmian berlangsung, wahana dipadati ratusan mobil serta diisi oleh pidato dari Gubernur DKI Jakarta yang kala itu menjabat, Ali Sadikin.

Promotor Musik Sebut Drive-In Concert Masih Alternatif Terbaik di 2021

Sejak dibuka, Ciputra memasang harga tiket wahana pertunjukkan drive-in dengan angka yang cukup mahal. Maklum, target market Ciputra memang menyasar kalangan borjuis. Datang ke sini saja syarat utamanya harus memiliki mobil. Sementara orang yang sudah punya mobil pasti jumlah kekayaannya masuk kategori menengah ke atas.

Film-film yang ditampilkan di wahana pertunjukkan drive-in selalu saja ramai pengunjung. Mayoritas konsumennya adalah penduduk usia-usia remaja yang sengaja datang untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Setiap harinya, wahana pertunjukkan drive-in di Ancol beroperasi hingga film terakhir yang rampung di jam-jam tengah malam.

Meski animo masyarakat terbilang tinggi, Ciputra merasa belum puas melihat jumlah pendapatan yang diperoleh dari wahana pertunjukkan drive-in. Ciputra kembali berinovasi, menambah fungsi wahana pertunjukkan drive-in sebagai tempat yang tidak hanya memutar film, tapi juga mampu menggelar konser megah. Salah satu musisi ternama yang pernah mengadakan konsernya di wahana pertunjukkan drive-in milik Ciputra adalah Stevie Wonder. Konser sang musisi tunanetra diselenggarakan pada 21 Mei 1988 yang didatangi sekitar 20 ribu penonton.

Waktu terus berjalan, Ciputra tak melihat pertumbuhan signifikan dari bisnis wahana pertunjukkan drive-in. Ciputra akhirnya resmi menutup wahananya itu pada awal 1990-an. Area wahana kemudian direnovasi ulang dan disulap ciputra menjadi bangunan pusat perbelanjaan.