Fenomena Hewan Bunuh Diri dan Misteri Jembatan Overtoun Skotlandia yang Picu Anjing Akhiri Nyawa

Rabu, 06 Oktober 2021, 01:10 WIB
31

Terhitung sudah 600-an anjing yang mencoba “bunuh diri” di jembatan keramat Overtoun di Dunbartonshire, Skotlandia. Dari sekian banyak itu, 50 ekor di antaranya berakhir dengan meninggal dunia.

Banyak kalangan mencoba memecahkan misteri 600 anjing yang bunuh diri di jembatan angker Overtoun itu. Mulai dari sudut mistik hingga ilmiahnya. Seperti disebut di awal, dalam lima dekade terakhir, terdapat 600 anjing yang mencoba bunuh diri di jembatan kuno itu.

Gates Of Olympus

50 anjing meninggal dunia. Sebagian lain selamat. Cassie, anjing berusia 3 tahun, menjadi salah satu yang berhasil lolos dari maut jembatan Onvertoun.

“Kami baru saja keluar dari mobil dan Cassie segera berjalan ke jembatan. Dia menoleh, melihat ke atas, dan meloncat. Saya sangat ingat bagaimana ia menjerit saat melompat,” ujar Alice Treverrow, pemilik Cassie, kepada Daily Record.

Tapi itu tidak dialami oleh Ben, anjing jenis collie kepunyaan Donna Cooper. Donna melihat dengan matanya sendiri bagaimana Ben meloncat, dan akhirnya tewas.

Mengutip laporan Daily Mail, selama satu periode enam bulan 2015 lalu, lima anjing dikabarkan tewas setelah meloncat dari jembatan. Uniknya, semua kematian terjadi di posisi yang hampir sama: antara dua sandaran yang ada di sisi kanan jembatan; dan semuanya terjadi di hari dengan cuaca yang begitu cerah.

Selain itu, seluruh anjing yang meninggal seluruhnya adalah anjing dengan jenis berhidung panjang: labrador, collie, dan retriever. Dorren Graham dari Scottish Society for the Preventing of Cruelty to Animals menyebut ini sebagai fenomena yang “heartbreaking mystery”, misteri yang memilukan.

Rise of Olympus

Jembatan Overtoun di Skotlandia Jadi Lokasi Favorit Anjing untuk Bunuh Diri | Kabar6.com

Jembatan ini dibangun oleh Lord Overtoun pada 1895. Bagunan melengkung bergaya Victoria dengan tinggi 50 kaki it dialiri Overtoun Burn di bawahnya. Terkait fenomena ini, para pencinta anjing di dunia kemudian ramai-ramai bertanya: “Bisakan anjing melakukan bunuh diri, dan jika bisa, kenapa?” Beragam rumor berhembus.

Mulai dari asumsi tentang angkernya jembatan itu hingga anjing yang depresi, semuanya mengemuka. Tapi tak satu pun yang bisa menjawab misteri itu. Hingga akhirnya, muncul upaya terakhir dari psikolog anjing Dr David Sands.

Ia dikirim ke tempat itu untuk melihat kondisi jembatan—dan sensasi yang ditimbulkan—tentu saja dari sudut pandang hewan. Percobaan pertama adalah dengan menyebrangi jembatan itu bersama anjing yang pernah selamat dari percobaan bunuh diri, namanya Hendrix, untuk melihat bagaimana ia bereaksi.

Mula-mula Hendrix cukup tenang, tapi ekspresinya berubah saat melewati sisi kanan yang disebutkan di awal. Hendrix terlihat memperhatikan sesuatu. Dr Sands menyimpulkan, salah satu dari tiga indera utamanya—penglihatan, pendengaran, dan bau—pasti sangat terangsang. Sands memfokuskan pada faktor penciuman.

Ini dibuktikan dengan ditemukannya banyak cerpelai di semak-semak di sisi jembatan yang kerap dijadikan tempat melompat anjing-anjing naas itu. Keberadaan cerpelai juga diakui oleh seorang naturalis yang melihat kotoran binatang itu di bawah jembatan.

Kisah Jembatan Overtoun yang 'Angker': Tempat 600 Anjing Bunuh Diri - Semua Halaman - Intisari

Sands menyebut, aroma khas cerpelai menarik perhatian anjing-anjing itu untuk melompat. Sand mencoba melepas 10 anjing di sekitar jembatan. Mayoritas anjing tersebut langsung menuju sisi jembatan yang tercium aroma cerpelai. Hanya dua yang tidak bereaksi dan tidak tertarik.

Apa yang dikemukakan oleh Sands, hingga saat ini dianggap yang paling ilmiah. Meski demikian, banyak orang yang masih bertanya-tanya perihal fenomena aneh ini. Bahkan masih banyak yang percaya, ini adalah persoalan supranatural yang melingkupi jembatan itu.

Bisakah Anjing Bunuh Diri?

The Mystery of the 'Dog Suicide' Bridge

Pada tahun 1845 sebuah cerita aneh muncul di Illustrated London News. Seekor anjing hitam dilaporkan menceburkan diri ke dalam air yang diduga sebagai percobaan untuk mengakhiri hidup. Lebih mengenaskan lagi, setelah anjing terseret ke tepian, lagi-lagi hewan bergegas ke air dan mencoba untuk tenggelam. Cerita berujung duka ketika anjing berhasil melakukan misinya dan kemudian mati.

Berdasarkan laporan dari BBC Earth, anjing malang itu bukanlah satu-satunya. Tak lama kemudian, dua kasus lain muncul di media populer. Bebek dengan sengaja menenggelamkan diri dan seekor kucing diketahui gantung diri di dahan setelah anaknya mati. Tetapi, apakah insiden ini merupakan sebuah kebenaran dan kesengajaan?

Sama seperti manusia, hewan diduga dapat terserang gangguan mental yang mengakibatkan stres dan depresi. Perilaku yang dulunya dikira hanya terjadi pada manusia, kini ditemukan pada hewan. Pertanyaannya di sini adalah, apakah hewan dengan sengaja mencoba bunuh diri?

Pada zaman Yunani kuno sekitar 2.000 tahun yang lalu, Aristoteles menyebut seekor kuda jantan terjun ke dalam jurang. Pada abad ke-2 M, seorang ilmuwan Yunani, Claudius Aelian mengutip 21 kasus bunuh diri pada hewan, termasuk lumba-lumba yang membiarkan dirinya ditangkap. Selain itu, ada anjing mati kelaparan setelah ditinggal wafat pemiliknya, dan seekor elang yang mengorbankan dirinya sendiri terbakar pada tumpukan kayu milik majikannya yang telah mati.

Gagasan bunuh diri hewan tetap menjadi topik populer pada kalangan orang Victoria di Inggris pada abad ke-19. Seorang psikiater, William Lauder Lindsay, mengaitkan melankolia bunuh diri dengan hewan. Lindsay juga menggambarkan bagaimana hewan secara harfiah terpancing ke dalam amarah sebelum bunuh diri.

Pada saat itu, kelompok hak asasi hewan, seperti Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA) yang berbasis di Inggris, berusaha memanusiakan emosi hewan. Dalam jurnal RSPCA Animal World edisi 1875, sampulnya menggambarkan rusa jantan yang melompat untuk bunuh diri.

Beached whales in New Zealand: Do animals commit suicide?

Namun, seiring dengan kemajuan teknologi pada bidang pengobatan di abad ke-10, sikap manusia terhadap bunuh diri menjadi lebih klinis. Sementara, cerita hewan yang mencoba bunuh diri mulai terlupakan.

Menurut Antonio Preti, seorang psikiater University of Cagliari di Italia, cerita bunuh diri hewan seharusnya tidak membodohi manusia. Preti melihat sekitar 1.000 penelitian terkait yang diterbitkan selama 40 tahun tidak menemukan bukti adanya hewan yang sengaja bunuh diri di alam liar.

Kawanan lemming yang menjadi legenda terjun ke jurang dalam jumlah besar bukan melakukan bunuh diri. Makhluk itu ternyata sedang bermigrasi untuk mengurangi membludaknya populasi di wilayah yang sama. Sehingga, kelompok lemming tersebar merata di beberapa daerah untuk menghindari persaingan memperebutkan makanan di satu area.

Preti menambahkan kasus hewan peliharaan yang ikut mati setelah ditinggalkan mendiang pemiliknya bukanlah sebuah kesengajaan untuk mengakhiri hidup. Sebaliknya, hewan tersebut sudah begitu terbiasa dengan tuannya, sehingga tidak lagi menerima makanan dari orang lain.

Sementara, sebuah video menjadi viral tentang lumba-lumba yang lahir lalu diduga mencoba bunuh diri di sebuah Sea World. Seperti yang diketahui, lumba-lumba berperilaku berbeda di penangkaran dan di alam liar. Lingkungan yang tidak alami diketahui dapat membuat hewan menjadi stres dan memicu perilaku berulang, seperti menggosok sisi tangki dan membuat gigi menjadi gemetar.

Image Teddy Bear Committing Suicide By Stock Photo (Edit Now) 280644815

Barbara King dari College of William & Mary di Virginia, Amerika Serikat, memberikan pendapat, sebagian besar kasus hewan yang diduga bunuh diri akibat campur tangan manusia, baik karena perburuan atau pengurungan. Ini dapat memicu hewan yang dipelihara terjebak dalam kondisi traumatis dan mengalami stres pasca trauma (PTSD), bahkan hingga depresi.

Seekor beruang penangkaran di peternakan beruang Tiongkok dilaporkan telah mencekik putranya dan kemudian bunuh diri. Anak beruang diketahui diberikan suntikan ke perutnya untuk mengeluarkan empedu yang digunakan sebagai pengobatan. Tak terima melihat putranya disiksa, induk kemudian membunuh anaknya kemudian diikuti dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Hewan lain yang sering disebut mencoba bunuh diri adalah paus yang terdampar ke daratan. Masih belum jelas mengapa paus terdampar. Salah satu gagasannya, paus yang sedang sakit mencari perairan lebih dangkal yang nyaman.

Paus memang dikenal sebagai makhluk sosial. Jadi, ketika paus pemimpin sakit dan beralih ke perairan dangkal, anggota koloni otomatis akan mengikuti. Fenomena ini tidak dianggap sebagai percobaan bunuh diri.

Spesies lain yang bertindak aneh adalah induk laba-laba yang membiarkan keturunan untuk memakannya. Meskipun para ibu mati, pengorbanan ini bukanlah bunuh diri, melainkan tindakan pengasuhan orang tua yang terbilang ekstrem.

Induk laba-laba menyediakan tubuhnya sendiri sebagai makanan bergizi penting untuk memastikan kelangsungan hidup bagi keturunannya. Hal ini memunculkan gagasan mengapa induk laba-laba menjadi salah satu ibu panutan bagi dunia hewan atas dedikasi kepada anaknya, walaupun berujung tragis.

Para ilmuwan modern menyarankan untuk berpikir rasional tentang kejadian bunuh diri pada hewan. Jika hewan dengan sengaja bunuh diri seperti beberapa manusia, maka zebra mungkin dengan sengaja merumput di dekat singa. Atau, ikan berenang bersama buaya, dan tikus menantang mata ular dalam jarak dekat.

Kasus Anjing Bunuh Diri karena Majikan

Can Dogs Commit Suicide? | Petslady.com

Jangankan manusia, anjing pun akan berbuat sesuatu kalau harga dirinya terusik. Ini terjadi pada seekor anjing mastiff Tibet yang bunuh diri setelah dipermalukan majikannya. Insiden memilukan ini terjadi di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang.

Anjing itu menggigit lidahnya sendiri dan menemui ajak setelah dipukuli majikannya. Si pemilik yang hanya disebut nama keluarganya, Pan, mengaku memukuli anjingnya karena berkelahi dengan anjing tetangga. Maksudnya untuk memberi pelajaran pada si anjing.

“Saya merasa sangat menyesal,” kata Pan setelah kejadian itu. “Teman saya yang telah memelihara anjing mastiff Tibet selama 20 tahun memberitahu saya bahwa hewan tersebut adalah rajanya semua anjing dan memiliki rasa kebanggaan diri yang sangat kuat,” katanya.

“Jika Anda memukuli anjing mastiff di hadapan anjing lain, hewan itu merasa malu dan akan bunuh diri untuk mempertahankan martabatnya,” katanya. Luar biasa.

Memilih Mati Dibanding Hidup Sengsara

Standing suicide dog with a stone and a pistol near his head. Vinyl-ready EPS Illustration Stock Vector Image & Art - Alamy

Di lebih dari 40 tahun yang lalu, seorang pelatih lumba-lumba bernama Richard O’Barry mengaku bahwa ia melihat lumba-lumba bernama Kathy, melakukan bunuh diri. Kathy adalah seekor lumba-lumba terkenal yang muncul di acara televisi tahun 60an, Flipper.

O’Barry menyatakan bahwa Kathy sangat depresi, mungkin karena tidak beradanya dia di alam bebas seperti seharusnya, bahkan harus berlatih untuk menghibur manusia.

Lumba-lumba serta ikan paus sebenarnya bukan penghirup udara seperti kita manusia. Mereka punya kemampuan untuk tidak bernapas dalam beberapa lama namun untuk satu kali bernapas, butuh upaya yang sangat tinggi. Jadi, mereka sebenarnya bisa dengan mudah untuk mengakhiri hidupnya.

Dalam kasus Kathy, Kathy berenang ke arah O’Barry dan melihat O’Barry untuk terakhir kalinya, mengambil satu napas, lalu ia berhenti bernapas dan seketika tenggelam.

Hal tersebut menjadikannya aktivis kehidupan binatang dan menjadi bintang di dokumenter pemenang Oscar berjudul “The Cove” tentang hal tersebut.

In 2005 in Turkey, a suicide sheep jumped off a cliff and 1500 sheep followed the first one - Factual Facts

Pada 2005, dilaporkan bahwa ada hampir 1500 domba lompat dari tebing di Turki. Para gembala domba mereka terkaget karena kebiasaan mereka adalah merumput, dan tiba-tiba mereka memutuskan jatuh ke jurang bersama.

Untungnya dari banyaknya kawanan tersebut, yang berhasil melompat hanya tak sampai kesemuanya, namun tetap memakan korban sebanyak 450 domba. Sisanya berhasil dicegah hingga tidak sampai melompat.

Hal ini sama sekali tidak diketahui penyebabnya, dan ini mungkin satu-satunya kasus di dunia.

Di 1845 silam, Illustrated London News melaporkan kasus bunuh diri dari seekor anjing hitam dan tampan dari jenis Newfoundland. Sebelum memutuskan bunuh diri, anjing tersebut kurang bergairah dan tidak terlihat bersemangat. Lalu akhirnya dia menenggelamkan diri di kolam.

Ia akhirnya berhasil ditolong dan diangkat. Namun sesegera mungkin, ketika lepas pengawasan, dia lagi-lagi ingin menenggelamkan diri. Hal ini terjadi beberapa kali sampai akhirnya dia diangkat dalam keadaan meninggal.

Ilmuwan sempat meneliti hal ini, namun tak menemukan konklusi apa-apa selain berasumsi bahwa sang anjing depresi, gila, atau bahkan ingin menunjukkan kecintaan atau loyalitas kepada majikannya.