Fenomena Teknik Throw In Jarak Jauh dalam Sepak Bola: Pelatih Liverpool, Legenda Stoke City, Hingga Bintang Timnas Indonesia

Jumat, 31 Desember 2021, 10:22 WIB
71

Para pesepak bola profesional pasti setuju bila menyebut bahwa bagian kaki dari tubuh mereka menjadi senjata utama dalam menekuni karier. Sepak bola secara umum memang merupakan olahraga yang menuntut setiap pelakunya memiliki kaki dengan keterampilan cakap mengolah bola. Bahkan seorang kiper yang tugas utamanya mengawal gawang dari kebobolan dan boleh menggunakan tangannya, juga wajib berlatih rutin mengasah kemampuan kakinya.

Mayoritas teknik-teknik dasar di sepak bola, cara melakukannya bertumpu kepada kekuatan kaki. Mulai dari teknik mengoper, menendang, mengontrol, hingga menggocek, semuanya dominan menggunakan kaki yang mana harus dilatih terus-menerus secara rutin agar benar-benar lihai. Tidak mengherankan jika beberapa pemain, misalnya Cristiano Ronaldo yang berposisi sebagai penyerang, amat obsesif menempa otot kakinya demi bisa menghasilkan sepakan keras dan banyak menghasilkan gol.

Meski demikian, sepak bola sejatinya juga memerlukan keterampilan di bagian tubuh lainnya. Bagi pemain yang menempati posisi tertentu, kekuatan dan kelihaian penggunaan otot tangan perlu pula diperhatikan secara spesial. Kiper misalnya, dalam tugas menjaga gawang, mereka wajib melatih kelincahan reflek tangan mereka. Tujuannya jelas supaya para kiper nantinya sigap menepis atau menangkap setiap bola yang datang mengancam gawang mereka.

Bukan hanya kiper, outfielder player seperti pemain-pemain yang berposisi sebagai bek sayap, dituntut untuk menggunakan tangannya dalam skema lemparan ke dalam alias throw in. Ketika bola keluar (out) melewati garis samping lapangan, tim yang ditunjuk wasit berhak mendapatkan bola harus melakukan throw in dan penerapannya menggunakan tangan. Ada aturan khusus yang mengatur tentang tata cara melempar throw in. Minimal pemain yang sering mengambil tugas lemparan ke dalam, harus mengetahui serta menguasainya.

Mungkin penerapan throw in sepintas terkesan menjadi hal yang begitu sepele. Cara melakukannya terbilang mudah, terutama jika ada rekan setim yang membuka ruang di jarak dekat. Toh, pengaruh lemparan ke dalam terhadap garis besar pertandingan amat minim sekali terjadi. Sederhananya, skema throw in dipandang satu level lebih rendah dibanding skema-skema set piece seperti tendangan bebas dan sepak pojok.

Namun perkembangan sepak bola membuat penilaian akan skema throw in yang dulunya dianggap sepele, kini meningkat derajatnya. Sepak bola modern cukup memperhatikan intens betapa pentingnya skema throw in ke strategi tim. Khususnya membicarakan teknik lemparan ke dalam jarak jauh yang termasuk teknik sulit dan tak biasa dikuasai banyak pesepak bola.

Liverpool dan Pelatih Throw In

Throw In Sepak Bola & Cara Melakukan Lemparan Ke dalam yang Benar

Bukti paling nyata yang paling gampang terlihat adalah mulai bermunculan profesi pelatih throw in. Seorang pelatih kepala umumnya menugaskan staf-staf pelatih khusus untuk menangani perihal teknik-teknik detail untuk anak asuhnya. Pelatih kepala hanya bertugas dalam kepentingan strategi garis besar, sementara urusan perintilan ditangani staf-staf pelatih.

Profesi pelatih throw in tentunya membawahi kewajiban tentang memoles kemampuan pemain-pemain tertentu di tim supaya efektif dalam melakukan lemparan ke dalam. Klub raksasa Liga Inggris, Liverpool, sudah memperkerjakan pelatih throw in bernama Thomas Gronnemark, terhitung sejak tahun 2018 lalu. Gronnemark terus bekerja melatih agar bek-bek sayap The Reds menguasai teknik lemparan ke dalam jarak jauh alias long throw in.

Harus diakui, penggunaan pelatih throw in belumlah benar-benar umum dilakukan tim-tim sepak bola profesional. Ulasan media BBC saat mengetahui Liverpool menunjuk Gronnemark sebagai pelatih throw in amatlah disertai pendapat negatif. BBC berani menyebut profesi yang ditekuni Gronnemark merupakan profesi paling aneh di sepanjang sejarah sepak bola.

Jurgen Klopp, selaku manajer sekaligus pelatih kepala Liverpool, membeberkan alasannya tentang penunjukkan Gronnemark. Menurut Klopp, sepak bola telah berkembang amat pesat dan menunjukkan banyak perbedaan ketimbang era terdahulu. Termasuk penerapan teknik lemparan ke dalam jarak jauh yang sungguh tidak dikuasai Klopp, sehingga ia membutuhkan bantuan staf pelatih seperti Gronnemark.

“Sejujurnya, saya belum pernah mendengar profesi pelatih lemparan ke dalam. Bagaimanapun sebagai seorang manajer sepak bola, saya tahu banyak hal yang berbeda-beda,” komentar Jurgen Klopp atas penunjukan Gronnemark.

“Saya pemain sepak bola, saya sudah menjadi pelatih sejak sekitar 18 tahun yang lalu atau lebih   ? tetapi itu tidak membuat saya menjadi seorang spesialis kiper dan saya jelas bukan seorang spesialis lemparan ke dalam,” lanjutnya.

Gronnemark sendiri tidak memiliki rekam jejak profesional di bidang sepak bola. Pria berkebangsaan Denmark ini aslinya fokus menekuni cabang olahraga lari cepat. Tapi Gronnemark secara khusus punya minat di sepak bola sehingga kerap turun memeriahkan pentas lapangan hijau di sejumlah kompetisi level amatir.

Sepanjang menekuni hobi sepak bola, Gronnemark punya perhatian spesial kepada teknik lemparan ke dalam. Hebatnya, nama Gronnemark pernah tercatat sebagai orang yang memecahkan rekor lemparan ke dalam terjauh di Guiness World Record. Gronnemark memecahkan rekornya itu menggunakan teknik lemparan salto yang mampu menjangkau jarak sejauh 51,33 meter. Fantastis bukan?

Keahlian Gronnemark lantas coba diturunkan kepada orang-orang lain yang secara profesional menjadi pesepak bola. Sebelum gabung Liverpool, Gronnemark pernah sukses bekerja di sejumlah klub-klub top Eropa, seperti  Viborg, FC Midtjylland, Silkeborg, AC Horsens, dan Ajax. Kinerja Gronnemark bukan sembarangan. Dia ternyata benar-benar efektif meningkatkan kemampuan pemain bek sayap agar memiliki lemparan ke dalam yang amat jauh.

Salah satu mantan anak didik Gronnemark, yakni Andreas Poulsen, merasakan adanya peningkatan penguasaan teknik long throw in. Poulsen dilatih Gronnemark semasa keduanya bekerja di klub Liga Denmark, FC Midtjylland. Sebelum Gronnemark datang, Poulsen sudah memiliki keahlian long throw in; tapi paling jauh hanya 25 meter saja. Begitu ditangani Gronnemark, rata-rata lemparan ke dalam Poulsen mampu di atas 25 meter, bahkan paling jauh pernah menyentuh angka 37,9 meter.

Rory Delap yang Begitu Populer

Lemparan Panjang Rory Delap - Ligalaga

Gronnemark mulai bertugas menjadi pelatih long throw in di klub Liga Inggris, Liverpool, sejak tahun 2018. Namun sedekade sebelum Gronnemark eksis, Liga Inggris sudah lebih dulu dihiasi fenomena mengesankan lemparan ke dalam jarak jauh. Pelaku utamanya ialah legenda Stoke City, Rory Delap, yang tenar dengan kemampuannya melakukan long throw in.

Berposisi sebagai gelandang, Delap tidak sehebat Steven Gerrard atau Frank Lampard yang satu era dengannya. Meski begitu, karier Delap tetaplah mencolok berkat keahlian spesialnya tadi. Tak heran jika masa-masa jaya Delap, timnya, Stoke City, cukup ditakuti para lawan setiap kali kesempatan throw in datang.

Delap ternyata sudah punya kekuatan otot tangan untuk melempar jarak jauh sejak dirinya masih mengenyam pendidikan sekolah dasar. Ia rutin mewakili sekolahnya di kejuaraan lempar lembing dan menghasilkan cukup banyak prestasi. Begitu dewasa dan beralih menekuni sepak bola profesional, Delap mengadaptasi keahlian lamanya di lempar lembing menuju skema-skema lemparan ke dalam.

Rata-rata lemparan ke dalam yang dilakukan Delap mampu menyentuh angka 40 meter jauhnya. Kualitas throw in yang dimilik Delap tidak hanya mengedepankan unsur jauhnya jarak. Lebih spesial lagi, bola yang dilempar Delap mampu melaju amat cepat. Rata-rata kencangnya lemparan ke dalam dari tangan Delap sekitar 60 km/jam. Wow!

Pelatih Stoke City yang kala itu mengasuh Delap, Tony Pulis, tentu memanfaatkan betul kemampuan ini. Pulis sering kali mendapatkan keuntungan berkat kualitas lemparan ke dalam yang dilancarkan Delap. Banyak pemain bertahan lawan yang kesulitan mengantisipasi datangnya lemparan ke dalam Delap karena laju bola sungguhlah unik.

“Itu menyebabkan begitu banyak masalah di antara pertahanan lawan. Bola hasil lemparan Delap tidak melayang ke udara. Laju bola justru cukup datar dan sangat cepat,” kata Pulis.

Bintang Timnas Indonesia Tak Mau Ketinggalan

Kisah Bintang Timnas Indonesia Pratama Arhan, Pernah Pakai Sepatu Rp25 Ribu  yang Sekali Dipakai Langsung Jebol : Okezone Bola

Pratama Arhan, namanya kini menjadi perbincangan pecinta sepak bola Indonesia. Dia tampil membela Skuat Garuda di ajang Piala AFF 2020. Aksi-aksinya amat mengesankan dalam mengisi posisi wing back kiri dalam tim asuhan pelatih Shin Tae-yong. Tak hanya piawai bertahan ataupun maju membantu serangan. Keahlian Arhan yang patut dipuji adalah soal kemampuannya melakukan lemparan ke dalam jarak jauh.

Bakat spesial Arhan tentu banyak dimanfaatkan Shin Tae-yong sebagai alternatif pola serangan yang menghasilkan peluang bagi Timnas Indonesia. Namun, bagaimanakah kisahnya hingga pemain PSIS Semarang ini sungguh menguasai teknik tersebut? Jawabannya diungkapkan langsung oleh Asisten Pelatih PSIS Semarang Imran Nahumarury.

Menurut Imran, kemampuan Arhan di ranah long throw in tercipta secara alamiah. Sejak pertama kali menangani Arhan, Imran sudah melihat bakat spesial pemainnya itu. Imran terkesan karena Arhan terus memoles kemampuan lemparan ke dalam jarak jauh di setiap momen latihan.

“Lemparan dia memang lemparan seperti itu. Itu bakat yang terus diasah sama dia. Kalau bakat tapi tidak diasah percuma juga. Setiap habis latihan dia latihan sendiri lemparan,” kata Imran.

Memang kiprahnya di Timnas Indonesia sepanjang Piala AFF 2020 belum menghasilkan assist dari skema lemparan ke dalam. Namun kalau berkaca periode ketika Arhan tampil bersama Timnas Indonesia U-19 pada 2020, dia pernah melakukan hal luar biasa. Laga melawan Qatar U-19 pada 21 September 2020, penyerang Timnas Indonesia U-19, Saddam Gaffar, bisa mencetak gol melalui sundulan kepala setelah menerima umpan lemparan ke dalam jarak jauh dari tangan Arhan.

BERITA TERKAIT