Ganti Pelatih di Tengah Musim, 5 Klub Ini Malah Sukses Juara Liga Champions

Selasa, 14 Desember 2021, 01:12 WIB
104

Bagi banyak klub, keputusan mengganti pelatih di tengah musim merupakan hal yang amat berat buat dilakukan. Risikonya cukup besar, terutama perihal adaptasi taktik pelatih anyar dengan komposisi pemain yang sudah ada.

Namun tidak semua keputusan pergantian pelatih di tengah musim menghasilkan dampak buruk. Contohnya seperti yang dialami beberapa klub berikut.

Mereka malah mampu menutup musim dengan raihan gelar juara Liga Champions. Artinya, keputusan ganti pelatih tengah musim yang mereka ambil membuahkan prestasi manis.

Lantas, siapa saja klub-klub yang dimaksudkan itu? Penasaran? Ayo simak rangkuman singkat Edisi Bonanza88 di bawah ini!

1. Real Madrid (2000)

Mantan pemain Wales, John Toshack, ditunjuk sebagai pelatih interim Real Madrid pada Februari 1999 usai dipecatnya Guus Hiddink. Sayangnya, kariernya pun tidak berjalan mulus. Di bawah asuhannya, Real Madrid gagal meraih kemenangan dalam delapan laga LaLiga beruntun. Ia pun digantikan pada November oleh legenda klub, Vicente Del Bosque.

Di bawah asuhnnya, performa Real Madrid di LaLiga tidak begitu mengesankan. Real Madrid finis di peringkat ke-5 pada akhir musim. Namun, performa mereka di Liga Champions sangatlah luar biasa. Mereka mengalahkan Manchester United dan Bayern Munchen sebelum keluar sebagai juara Liga Champions usai mengalahkan Valencia 3-0 di musim itu.

2. Chelsea (2012)

Pelatih muda Andre Villas-Boas dijuluki “Mourinho baru” ketika ia ditunjuk sebagai manajer Chelsea pada musim panas 2011. Itu tak lepas dari prestasinya mempersembahkan empat gelar bagi Porto, termasuk Liga Europa. Namun, Villas-Boas gagal mengangkat performa Chelsea dan dipecat setelah sembilan bulan bertugas. Musim itu, Chelsea pun berada diujung tanduk usai kalah 3-1 dari Napoli pada leg pertama babak perempat final.

Asisten manajer, Roberto Di Matteo, ditunjuk sebagai caretaker dan hebatnya melakukan comeback dengan skor 4-1 melawan Napoli di leg kedua. Setelahnya, Chelsea semakin beringas dengan mengalahkan Barcelona di semifinal dan keluar sebagai juara usai menundukkan Bayern Munchen. Ini menjadi trofi UCL pertama sepanjang sejarah klub.

3. Real Madrid (2016)

Pada musim 2015/16 Real Madrid menunjuk Rafael Benitez sebagai pelatih anyar Real Madrid menggantikan Carlo Ancelotti. Di awal masa tugasnya, ia sukses memuncaki LaLiga dan tak terkalahkan di fase grup Liga Champions dengan koleksi 16 poin. Namun, kekalahan 4-0 dari Barcelona di Santiago Bernabeu menjadi noda hitam. Gaya kepelatihannya pun dikabarkan tidak disukai para pemain sehingga menimbulkan konflik internal.

Benitez kemudian dipecat pada Januari 2016 meski memiliki catatan impresif dengan 17 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 3 kali kalah. Ia digantikan sang asisten, Zinedine Zidane. Itu menjadi tugas pertama Zidane sebagai pelatih tim utama. Hebatnya, di musim perdananya itu ia berhasil membawa Real Madrid meraih juara Liga Champions dan runner up di LaLiga. Tidak hanya sekali, Zidane kemudian sukses pertahankan gelar UCL dua musim berikutnya.

4. Bayern Munchen (2020)

Niko Kovac ditunjuk menjadi suksesor Jupp Heynckess usai sang pelatih memutuskan pensiun setelah meraih treble winner. Di musim pertamanya, Kovac cukup sukses dengan meraih gelar Bundesliga dan DFB Pokal. Namun, musim keduanya tidak berjalan mulus karena kualitas penampilan tim yang tidak meyakinkan. Padahal, saat itu klub masih bertahan di papan atas.

Ia kemudian digantikan oleh Hansi Flick sebagai pelatih sementara. Hebatnya, Bayern ala Hansi Flick adalah mesin pembunuh yang mematikan. Di musim perdananya sebagai manajer klub itu, Flick sukses meraih treble winner, termasuk Liga Champions usai mengalahkan PSG di final. Selama masa jabatannya, Flick sukses mempersembahkan dua gelar Bundesliga sebelum memutuskan pergi demi menangani Timnas Jerman.

5. Chelsea (2021)

Pada musim lalu Chelsea mengalami de javu seperti di era Roberto Di Matteo. Musim itu Chelsea memecat legenda mereka, Frank Lampard, usai tampil tak sesuai harapan pada musim keduanya. Padahal, klub sudah menggelontorkan dana besar demi mengangkat trofi. Chelsea kemudian menunjuk Thomas Tuchel sebagai penggantinya. Penunjukan ini sempat menuai kritik fans karena ia dinilai bukan sosok yang tepat.

Namun, Tuchel membuktikan kapasitasnya dengan gaya permainan menyerang yang lebih meyakinkan. Di bawah asuhannya, pemain terpinggirkan seperti Rudiger dan Jorginho justru menemukan performa terbaiknya. Chelsea kemudian dibawanya menjuarai Liga Champions usai kalahkan Manchester City dan finis di peringkat ke-4 Premier League 2020/21.