Geliat Pelacuran di Gang Mangga Sejak Era Kolonial hingga Heboh Kasus Pembunuhan

Rabu, 29 September 2021, 01:22 WIB
22

Sejak jaman Jakarta, khususnya bagian sekitaran Stasiun Kota Tua terkenal dengan daerah pelacuran. Pada zaman itu, masyarakat asli Jakarta yaitu orang Betawi menyebut pelacur dengan sebutan Cabo. Bahkan, sejak zaman tersebut pelacuran atau prostitusi di Jakarta tak pernah mati.

Kata Cabo berasal dari bahasa China yaitu Caibo atau yang diartikan sebagai wanita malam. Memang awalnya praktik pelacuran di Batavia dilakukan oleh para pendatang dari Tionghoa. Bahkan, lokasi pertama prostitusi adalah bernama Macao Po yang lokasinya berada di dekat Stasiun Kota, Jakarta di mana lokasi tersebut menjadi pusat niaga sekaligus keramaian.

Gates Of Olympus

Lokasi ini menjadi lokalisasi kelas atas bahkan pengunjungnya kebanyakan para pejabat VOC kala itu. Pejabat yang ke sana juga terkenal sebagai pejabat hitam yang gemar bermain wanita dan korupsi.

Para pemuas nafsu yang berada di Macao Po juga bukan penduduk lokal Batavia dan Hindia Belanda. Mereka langsung didatangkan dari Makau.

Untuk kalangan kelas bawah, l okasinya tidak jauh dari Macao Po. Lokalisasi kelas bawah itu berada di Gang Mangga.

Bernas.id | Macao Po Kawasan Bisnis Prostitusi Terpadu Pertama Di Indonesia

Berbeda dengan pelacur di Macao Po yang didatangkan langsung dari luar negeri, lokalisasi Gang Mangga justru kebanyakan wanita yang berasal dari Indo atau pribumi. Walaupun ada sedikit wanita Tionghoa yang dijadikan penjaja seks, namun jumlah mereka tidak banyak. Perempuan Tionghoa yang berada di Gang Mangga adalah wanita buangan yang tidak lagi dipekerjakan di Macao Po.

Rise of Olympus

Saat itu nama gang Mangga popular, jika kena penyakit kelamin disebut ‘sakit mangga’. Kemudian dikenal dengan sebutan raja singa atau sipilis. Di abad ke-19, sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena belum ditemukan antibiotik.

Kompleks pelacuran gang Mangga ini kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordil yang didirikan orang Tionghoa yang disebut soehian. Kompleks pelacuran macam ini kemudian menyebar ke seluruh Batavia.

Cerita Kelam Pembunuhan

Kisah Nestapa Fientje de Fenicks, Si Pelacur Batavia - Lifestyle  Liputan6.com

Waktu itu Batavia sempat gempar, tersiar kabar terbunuhnya pelacur Indo yang tinggal di Kwitang, bernama Fientje de Ferick pada 1919 di soehian Petamburan, hari Jumat, 17 Mei 1912.

Sesosok mayat wanita muda ditemukan membusuk di Pintu Air Kali Baru. Tubuh mayat berada di dalam karung beras yang mengambang. Kedua tangannya terikat. Wanita muda yang cantik itu adalah korban pembunuhan.

Lantas diketahui mayat itu bernama Fientje de Feniks. Seorang wanita Indo berumur sekitar dua puluh tahun yang berprofesi sebagai “nona goela-goela” alias pelacur. Ia tercatat sebagai anggota dari “roemah plesiran” yang dikelola oleh mantan pelacur kelas atas bernama Jeanne Oort.

Setelah dilakukan penyelidikan oleh polisi, pembunuhnya diketahui adalah seorang pria Belanda. Namanya Willem Frederik Gemser Brinkman. Pria ini dikenal sebagai seorang hartawan yang berstatus sebagai pegawai Gouvernement Bedrijven. Ia adalah pelanggan sang pelacur. “Brinkman membunuh Fientje karena cemburu,” ujarnya.

Asal mula permasalahannya muncul, ketika ia menggundik wanita itu dan menyuruhnya untuk tidak melacurkan diri lagi. Namun, Fientje tetap melakukan profesinya. Brinkman lalu memergokinya bersama pria lain. Ia menjadi panas hati dan terjadilah pembunuhan sadis itu.

Fientje adalah indo alias blasteran dari Eropa dan pribumi. Matanya bulat dan hidungnya mancung. Bibirnya sensual dan rambutnya hitam panjang. Menilik kecantikannya, banyak pelanggannya yang berasal dari kaum berpunya.

“Kehebohan segera menjalar di kalangan peduduk Betawi,” tulis Tan Boen Kim dalam buku Fientje de Feniks menggambarkan situasi saat itu. Ini merupakan kali pertama terjadi peristiwa dengan bumbu-bumbu kekerasan dan seks di zaman Hindia Belanda.

Polisi Batavia segera bergerak cepat. Mereka ingin menciptakan kota yang aman bagi setiap kalangan. Komisaris Reumpol pun segera menyelidiki siapa pelaku pembunuhan gadis malang itu. Sebuah kesaksian menunjukkan bahwa seorang pria Belanda bernama Willem Frederick Gemser Brinkman adalah orang yang terakhir kali bersama nona cantik itu.

Gemser Brinkman bukan orang sembarangan. Ia termasuk warga kelas sosial tinggi yang biasa hadir dalam pesta-pesta di Concordia. Pada masa itu, Concordia alias Rumah Bola merupakan tempat bagi warga elite Batavia bersosialisasi sambil menikmati makan ala Hindia Belanda, rijtstafel, yang mewah dan melimpah.

Fientje de Feniks, Pramuria Paling Cantik di Era Kolonial yang Bernasib  Tragis - Dailysia

Gemser Brinkman dengan sigap menangkal tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Ia segera dibawa ke Raad van Justitie (pengadilan) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pada masa itu, seorang Belanda tulen diadili lantaran membunuh seorang indo tentu sangat luar biasa. Mungkin bagi Gemser Brinkman yang totok, nyawa seorang indo tidak ada harganya. Namun, jaksa bersikap lain.

Sejarah mencatat pengadilan terhadap Gemser Brinkman sangat gaduh. Apalagi ia juga dibela pengacara terkenal, Mr Hoorweg.

Kabar lainnya Gemser Brinkman membunuh Fientje de Feniks? Konon lantaran cemburu. Gemser Brinkman rupanya ingin menjadikan Fientje de Feniks sebagai gundiknya. Namun, Fientje menolak dan lebih memilih terus menjalani pekerjaannya sebagai “kupu-kupu malam”. Penolakan gadis ini rupanya membuat Gemser Brinkman gelap mata. Ia lalu mengutus Pak Silun dan dua anak buahnya untuk menghabisi nyawa Fientje de Feniks. Karena itu, Pak Silun juga ikut tertangkap. Ia sangat menyesal, apalagi bayaran yang diterimanya baru persekot.

Keterangan Raonah, seorang pelacur pribumi, turut menguatkan keterlibatan Gemser Brinkman. Raonah mengaku pernah melihat Gemser Brinkman dan Fientje bertengkar. Versi lainnya, Raonah menyatakan bahwa ia melihat Gemser Brinkman mencekik Fientje de Feniks di sela-sela bilik bambu.

Akhirnya setelah proses pengadilan yang panjang, Gemser Brinkman masuk penjara. Awalnya Brinkman sempat sesumbar bahwa rekan-rekannya di Societeit Corcondia bakal membelanya habis-habisan. Namun, anggapannya keliru. Brinkman tetap dihukum. Namun lantaran stres berat, ia mati bunuh diri di selnya sebelum eksekusi dilakukan.

Selain muncul dalam Kesusteraan Melayu Tionghoa, kisah Fientje de Feniks pelacur papan atas tersebut juga diulas Peter van Zonneveld dalam 75 halaman buku De moord op Fientje de Feniks: een Indische Tragedie.

Kasus yang menggemparkan ini terus menjadi pembicaraan masyarakat Batavia . Koran-koran terus memuatnya sebagai berita utama. Raad van Justitie pun mencatat proses persidangannya secara cermat dan teliti.

Berkat data yang begitu berlimpah, tak heran kasus ini menjadi salah satu kejadian yang diceritakan ulang oleh para pengarang keturunan Tionghoa.

Selain Tan Boem Kim yang menulis Fientje de Feniks atawa djadi korban dari tjemboeroean pada 1915, di tahun yang sama, 1915, Drekkerij Tjiong Koen Bie merilis buku 146 halaman dengan judul Nona Fientje de Feniks. Pada 1916 terbit lagi buku setebal 87 halaman bertajuk Sair Nona Fientje de Feniks dan Sakalian Ia Poenja Korban jang Bener Terjadi di Betawi antara taon 1912-1915. Semuanya rata-rata menuliskan “soewatoe kejadian yang betoel terjadi di tanah Betawi.”

Gang Mangga Mulai Sepi

Sejarah Pelacuran di Jakarta, dari Macao Po Hingga Gang Mangga - Suara  Jakarta

Dalam perkembangan selanjutnya, kompleks pelacuran Gang Mangga juga tersaingi rumah-rumah bordil yang didirikan orang Tiongkok yang disebut soehian. Kompleks pelacuran semacam itu kemudian cepat menyebar ke seluruh Jakarta.

Setelah soehian ditutup, sebagai gantinya muncul kompleks pelacuran serupa di Gang Hauber (Petojo) dan Kaligot (Sawah Besar). Sampai awal tahun 1970-an, Gang Hauber masih dihuni para pelacur, sedangkan Kaligot sudah tutup pada akhir 1950-an.

Kondisi perekonomian yang stagnan dan cenderung memburuk pada dasawarsa 1930-an ketika terjadi krisis ekonomi, turut pula memengaruhi seorang perempuan dalam menentukan keputusan untuk terjun ke dunia prostitusi. Kemiskinan adalah kondisi tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia selama masa penjajahan.

Sebagaimana diketahui, memasuki dasawarsa 1930-an, kekuasaan Belanda di Indonesia—dan hampir semua negara di dunia—mulai mengalami tekanan ekonomi, terlebih saat krisis ekonomi melanda dengan dahsyatnya pada tahun 1930. Keberhasilan ekonomi yang dinikmati pemerintah kolonial Belanda berakhir karena depresi ekonomi tahun 1930 itu.

Depresi ekonomi yang mulai terasa pada pertengahan tahun 1920-an di antaranya disebabkan jatuhnya harga-harga komoditas internasional seperti gula dan kopi, sehingga berdampak pada menurunnya aktivitas ekspor dan impor.

Pada akhirnya berpengaruh pada berkurangnya kesempatan kerja. Berkurangnya kesempatan kerja secara otomatis meningkatkan jumlah pengangguran.