Gendut Doni, Striker Unik Nan Legendaris Timnas Indonesia yang Pernah Jadi Topskor Piala AFF

Kamis, 02 Desember 2021, 01:01 WIB
108

Gendut Doni Christiawan, striker unik legendaris Timnas Indonesia yang menjadi topskor Piala AFF. Siapa yang tidak kenal dia? Salah satu striker unik, namun punya ketajaman yang mampu membawa Skuat Merah Putih tampil garang setiap kali mentas di ajang internasional di awal tahun 2000an silam.

Pada tanggal 07 Desember 1978 di salah satu kota Jawa Tengah, Salatiga, yang akhirnya terkenal sebagai kota kelahiran para pemain sepak bola ternaha Tanah Air, terdengar tangisan bayi yang cukup keras. Ya, bayi itu bernama Doni Christiawan, sosok yang saat beranjak dewasa, menjadi sosok besar dan legendaris dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Lantas, dari mana nama ‘Gendut’ yang kini banyak dikenal orang sebagai namanya, ‘Gendut Doni’. Padahal saat masih aktif bermain, dirinya tidak gempal sama sekali, bahkan badannya termasuk proporsional untuk striker Tanah Air pada masa keemasannya. Kita akan bahas dalam artikel ini untuk kalian semua.

Nama ‘Gendut’ diberikan oleh kakeknya untuk ditaruh sebelum nama aslinya, Doni Christiawan. Momen penambahan nama tersebut dikarenakan dirinya sering sakit-sakitan saat masih berusia balita.

“Saya lebih dikenal dengan nama Gendut Doni, dengan panggilan Gendut dan tidak ada lagi sakit-sakitan,” kata striker yang pernah membela Persija Jakarta itu menyoal nama Gendut sebelum dua penggal nama aslinya.

Gendut jika ditelisik lebih jauh dari KBBI artinya melambangkan kesehatan dan subur. Sebuah harapan dari keluarganya agar Gendut Doni terus semakin sehat saat masih anak-anak. Dan ternyata doa dan penambahan nama itu terbukti sukses saat dirinya menasbihkan diri sebagai salah satu striker legendaris Timnas Indonesia.

 

Bakat sebagai Striker Tajam Sudah Tercium sejak Dini

Berbicara bakat dan talenta yang dimiliki memang sangat besar dan bahkan sudah tercium sejak dini. Dirinya bahkan sudah memperkuat Timnas Pelajar Indonesia alias U-18 yang mampu meraih trofi juara Piala Asia 1996 silam. Tidak hanya mengantarkan Timnas U-18 juara, dia juga menyabet penghargaan individu sebagai pemain terbaik di kompetisi itu.

Masih berusia 20 tahun, dia juga berhasil mendapat pemanggilan untuk masuk skuat Timnas Indonesia U-23 yang mengikuti pra-Olimpiade 2000. Selain itu, dia juga berhasil masuk dan menjadi langganan pelatih untuk masuk skuat senior Timnas Indonesia yang berlaga di Thailand, untuk turnamen antar-negara Asia Tenggara, Piala Tiger 2000.

Pada saat Piala Tiger 2000 hendak digelar, skuat Timnas Indonesia sendiri punya komposisi yang sangat mentereng. Mulai dari penjaga gawang, lini pertahanan, lini tengah, hingga barisan penyerang, semuanya punya nama besar di masing-masing era kejayaannya sebagai pesepakbola. Namun terdapat satu nama yang cukup belia, yakni Gendut Doni.

Namun ada kisah unik di balik pemanggilan dirinya ke skuat Timnas Indonesia untuk Piala Tiger 2000 tersebut. Pada saat itu, Skuat Garuda memanggil cukup banyak penyerang, termasuk Gendut, ada empat nama mentereng lainnya. Yakni Seto Nurdiantoro, Kurniawan Dwi Yulianto, Rochy Putiray dan Mirobaldo Bento.

“Banyak cerita unik di belakang Piala Tiger 2000 itu. Awalnya saya bisa dibilang cuma penyerang back-up. Dipanggil dengan urutannya mulai dari Kurniawan, Seto, Mirobaldo, lalu Bepe (Bambang Pamungkas),” cerita Gendut Doni, dikutip dari Kumparan.

Bambang Pamungkas yang pada tahun tersebut sedang berkarir di Belanda, sempat tidak diizinkan oleh klubnya untuk pulang membela Timnas Indonesia di Piala Tiger 2000. Alhasil, Gendut yang sudah dicoret, dipanggil kembali ke skuat Timnas, namun dirinya mengaku sempat malas-malasan dengan pemanggilan tersebut. Bahkan dirinya sempat ingin cuekin saja pemanggilan dari Timnas Indonesia saat itu.

“Sempat malas-malasan saat itu, bayangin aja, sempat dicoret, kok dipanggil kembali,” ceritanya mengenang tahun 2000 silam.

Namun dirinya mengaku bahwa orang tuanya mendukung dan membuatnya mau kembali ke Timnas Indonesia. And the rest is history, kata orang-orang keren zaman sekarang. Ya, dalam sejarah tertulis, Gendut – pemain yang sempat dicoret, lalu dipanggil kembali, malah berhasil menjadi top skor Piala AFF dengan torehan lima gol. Alias penyerang yang paling subur dari lima nama beken yang sudah disebutkan di atas.

 

Perjalanan Gendut Doni dan Timnas Indonesia di Piala Tiger 2000

Tidak lengkap memang jika kita hanya menyebutkan prestasi dan jumlah gol yang dicetak oleh Gendut Doni bersama Timnas Indonesia di Piala Tiger 2000. Ada baiknya jika kita kembali mengenang perjalanan Gendut di turnamen antar-negara Asia Tenggara itu.

Timnas Indonesia tergabung di Grup A Piala Tiger 2000 bersama tuan rumah Thailand, Filipina dan Myanmar. Dua negara terakhir menjadi bulan-bulanan Timnas Indonesia, partai perdana, kita langsung menghadapi Filipina.

Pada laga tersebut, Gendut Doni hanya menjadi pemain pengganti yang masuk menit ke-65 menggantikan Miro Baldo Bento. Bermain sekitar 25 menit saja, Gendut tidak mampu mencetak gol dalam partai perdana di Piala Tiger 2000.

Barulah pada pertandingan kedua, menghadapi tuan rumah Thailand, akhirnya dia starter alias bermain sejak menit pertama. Gendut Doni dan Kurniawan Dwi Yulianto menjadi duet striker di laga tersebut, yang nantinya menjadi permanen di sisa kompetisi Piala Tiger 2000 sampai final. Benar saja, diberikan kepercayaan sejak menit pertama, Gendut berhasil mencetak gol ke gawang Thailand, sayang, kita kalah 1-4 di partai kedua Grup A ini.

Duet Kurniawan D.Y dan Gendut Doni kembali dipasang untuk partai terakhir, alias pertandingan penentu lolos ke semifinal menghadapi Myanmar. Gendut langsung mengamuk dengan torehan dua gol, jumlah gol yang sama juga dilesakkan oleh seniornya, Kurniawan Dwi Yulianto. Timnas Indonesia menang dengan skor telak 5-0.

Pada semifinal Piala Tiger 2000, kita berhadapan dengan Vietnam yang ternyata mampu memberi perlawanan serius sejak awal pertandingan. Gendut Doni lagi-lagi mencetak gol yang membawa Indonesia unggul 1-0 atas Vietnam menit ke-39. Namun jelang turun minum, Vietnam menyamakan skor lewat gol Hong Son di menit ke-45.

Seto Nurdiantoro yang berposisi sebagai gelandang serang membawa Indonesia kembali unggul 2-1 lewat golnya menit ke-75. Namun, sayang sekali, gawang Indonesia yang saat itu dijaga oleh Komang Putra Adnyana harus kembali kemasukan menit ke-90, yang memaksa laga berakhir 2-2 dalam 90 menit waktu normal. Pertandingan harus lanjut ke babak perpanjangan waktu.

Memakai sistem golden goal, Gendut Doni berhasil memenangkan Indonesia dan mengantarkan ke partai final lewat golnya tepat menit ke-120. Sebuah gol yang sangat berarti dan diakui sang pemain sebagai momen paling dikenang dalam karir sepak bolanya. Meski pada partai final menghadapi Thailand, dirinya tidak mampu mencetak gol dan Timnas Indonesia gagal juara Piala Tiger 2000.

 

Uniknya Gendut Doni: Membela Persija, Persib, Arema dan Persebaya

Dirinya kini dicap sebagai salah satu topskor Piala AFF dari Timnas Indonesia. Namun kita coba sedikit mengulas karirnya di level klub. Yang cukup unik, di mana Gendut Doni ternyata pernah membela klub-klub yang punya rivalitas kuat satu sama lain.

Ya, dirinya saat aktif sebagai pemain, pernah membela Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Arema Malang, lalu Persib Bandung secara berurutan. Masih banyak lagi klub Liga Indonesia yang dia bela, lebih dari 10 klub, bayangkan saja.

“Tim pertama saya bela professional dan salah satunya juara adalah Persija Jakarta di musim 2001, juara Liga Bank Mandiri saat itu,” kata Doni.

“Sempat di Persikota Tangerang setengah musim, lalu ke Persebaya yang juga berhasil juara saat itu. Pelatih kepala saat itu Jacksen F Tiago, lalu asisten pelatihnya, Teco,” lanjut Doni cerita tentang karirnya.

Pada tahun 2005, dirinya bergabung dengan rival Persebaya, yakni Arema Malang. Di sana dirinya menyumbangkan gelar juara Piala Indonesia. Lalu setahun berikutnya, gabung rival Persija, yakni Persib Bandung. Meski tidak berhasil memberikan gelar juara, tentu saja kepindahan ke Persib membuat publik sepak bola terkejut kala itu.

Usai membela Maung Bandung, Gendut Doni terus berpindah-pindah klub dengan durasi kontrak yang sangat sebentar. Mulai dari Persitara Jakarta Utara, Pelita Jaya Bandung, Persiba Balikpapan, Persijap Jepara dan Persikota Tangerang hingga pensiun pada tahun 2012 silam.

Setelah pensiun dari lapangan hijau, dirinya mengaku sempat menjadi pelatih tim muda Persikota Tangerang. Namun sekarang, dirinya lebih memilih jalur karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditawari oleh Pemkot Tangsel di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).