Ghislaine Maxwell, Mantan Sosialita Inggris yang Jadi Pelaku Kejahatan Seks dan Perdagangan Gadis di Bawah Umur

Minggu, 31 Oktober 2021, 23:38 WIB
40

Ghislaine Maxwell lahir dalam ketenaran dan kekayaan. Sedari bayi hingga tumbuh dewasa, Ghislaine tak pernah mengalami sedikitpun kekurangan uang karena ayahnya yang super tajir. Gaya hidup penuh hedonisme sepertinya memang cocok untuknya.

Ia sangat sering hadir sebagai tamu undangan dalam acara yang didatangi banyak orang penting dan ternama. Sosialita glamor itu bahkan selalu muncul di barisan tokoh-tokoh besar dan akrab berbaur dengan sejumlah kepala negara. Namun kehidupan serba ada, serba nyaman, dan serba mewah yang didapat Ghislaine sejak kecil, ternyata tak bisa abadi bertahan selamanya.

Power of Thor Megaways

Takdirnya berbalik 180 derajat menuju kesengsaraan dan penderitaan. Momen ini terjadi setelah ayah tercintanya yang merupakan raja pebisnis media wafat. Kematian sang ayah meninggalkan duka mendalam sekaligus kesulitan bertubi.

Ghislaine melanjutkan hidup dengan eksistensinya di perusahaan yang dimiliki pengusaha kaya raya, Jeffrey Epstein. Hubungan Ghislaine dan Epstein tergolong sangat dekat. Awalnya mereka terlibat dalam relasi romansa dan saling jatuh hati. Tetapi lama-kelamaan gelora asmara di antara mereka luntur.

Tak lagi terlibat hubungan asmara, Ghislaine dan Epstein tetap akrab sebagai sepasang sahabat dan mitra bisnis. Bahkan keduanya menjalankan kegiatan bersama yang dipenuhi skandal nan kontroversial. Ghislaine entah bagaimana prosesnya, rela dan mau membantu Epstein untuk bisa leluasa melakukan aksi keji, yakni pelecehan seksual terhadap banyak wanita muda.

Epstein sekarang telah mati bunuh diri usai dia ditangkap polisi akibat dugaan terlibat dalam kasus perdagangan seks. Sementara Ghislaine menunggu persidangannya di penjara New York karena diduga menjadi pelaku atau pembujuk anak-anak di bawah umur agar bersedia melakukan perjalanan bersamanya dan terjun ke aktivitas seksual yang melanggar hukum. Adapun Ghislaine sendiri secara tegas di depan meja pemeriksaan aparat berwajib menolak semua tuduhan tersebut.

Edisi Bonanza88 lantas coba mengulas kehidupan Ghislaine yang benar-benar mirip rollercoaster; dari yang awalnya berstatus sosialita hidup serba enak dan makmur, tiba-tiba terperangkap ke kasus kriminal tingkat tinggi. Bagaimana kisahnya? Apa saja faktor yang menyebabkan hal demikian bisa terjadi? Ayo disimak bersama ulasannya berikut!

Chronicles of Olympus X Up

 

Masa Kecil Ghislaine

Ghislaine Maxwell adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara, lahir pada Hari Natal tahun 1961. Beberapa hari setelah kelahirannya, kakak tertuanya Michael Maxwell, terluka parah dalam kecelakaan mobil dan koma selama tujuh tahun.

“Seluruh keluarga benar-benar hancur. Michael dalam banyak hal perannya mirip pemimpin suku dan dia dipercayai oleh orang tua saya untuk mengurus kami para adik-adiknya,” ucap saudara kandung Ghislaine yang lainnya, Ian Maxwell.

“Kecelakaan Michael akhirnya membuat Ghislaine, sampai batas tertentu benar-benar diabaikan keluarga kami,” tambahnya.

Ayah Ghislaine, Robert Maxwell, adalah seorang miliarder flamboyan. Robert merupakan ikon Inggris baik secara lokal maupun internasional. Ia juga berstatus sebagai taipan media yang begitu sukses dan berjaya pada medio 1970-an hingga 1980-an.

“Ayah kami punya watak yang keras, sering menuntut kami banyak hal,” kata Ian Maxwell.

“Anak-anak cenderung tidak terlalu dekat dengannya, kalau bisa kami harus benar-benar menghindarinya,” lanjutnya.

Intinya, Ghislaine Maxwell dilahirkan dalam kekayaan luar biasa berkat kekayaan ayahnya. Tetapi ayah Ghislaine tidak memulainya secara otomatis, dia perlu melewati proses panjang untuk mendapatkan semua kekayaannya. Robert dilahirkan dengan nama asli Jan Ludvik Hoch dari keluarga Yahudi yang miskin di Cekoslowakia. Banyak anggota keluarga Robert terbunuh dalam tragedi Holocaust (pembantain jutaan ras Yahudi yang dilakukan oleh Nazi) yang memang sungguh mengerikan.

Robert punya delapan orang saudara kandung. Semasa kecilnya, Robert hidup sangat miskin sehingga dia dan saudara-saudarinya harus saling meminjamkan sepatu secara bergiliran. Untuk urusan beristirahat saja, Robert dengan jumlah saudaranya yang tergolong banyak harus berdesak-desakan tidur di kamar yang sama.

Pada saat Robert Maxwell berusia 23 tahun, dia telah mengubah namanya empat kali. Dia mendapatkan medali dalam Perang Dunia II, di mana dia mulai bergaul dengan tentara Inggris kelas atas. Tak heran jika akhirnya cara bicara Robert memiliki dipenuhi aksen Inggris yang umumnya dipunyai kalangan elite.

Robert dan istrinya memang sempat mengabaikan Ghislaine yang masih bayi selama beberapa tahun. Namun Robert akhirnya tersadar dan mengubah cara asuhnya. Dia bersama istrinya tiba-tiba menjadikan Ghislaine sebagai anak yang paling dimanja.

“Saya pikir saya bisa mengerti mengapa orang tua saya akhirnya memanjakan dia (Ghislaine). Mungkin orang tua saya merasa bersalah karena mereka telah sangat mengabaikan Ghislaine selama beberapa tahun pertama hidupnya,” kata Ian Maxwell.

 

Bekerja di Perusahaan Ayahnya

Melihat Ghislaine Maxwell telah tumbuh menjadi wanita dewasa, Robert Maxwell menempatkan putrinya untuk mengambil pekerjaan di salah satu tim sepak bola yang dimilikinya, Oxford United. Pada usia 22, Ghislaine tiba-tiba masuk ke jajaran para eksekutif klub. Ghislaine bahkan juga dipercaya melakukan berbagai pekerjaan untuk surat kabar Mirror Group yang memang dimiliki ayahnya.

Seiring berjalannya waktu, Ghislaine diberi pekerjaan di koran yang lain yang masih naungan manajemen ayahnya, “The European”. Saat bekerja di sana, Ghislaine memiliki ambisi untuk memperluas pasar ke luar Eropa. Daerah yang disasar Ghislaaine adalah Amerika Serikat.

Pada Mei 1991, Robert membantu mewujudkan misi Ghislaine dengan mengucurkan uang membeli New York Daily News. Setelah New York Daily News diakuisisi, Robert mengajak Ghislaine pergi bersamanya ke Amerika Serikat. Robert kembali mempercayakan jabatan penting kepada Ghislaine dalam manajemen New York Daily News.

Robert menyerahkan jabatan brand ambassador sekaligus public relation New York Daily News kepada wanita bernama Carolyn Hinsey. Ketika menjalankan tugasnya, Hinsey mendapati Ghislaine ikut berperan dalam mengambil beberapa kebijakan penting perusahaan. Salah satunya kebijakan pemindahan gedung kantor supaya memilki fasilitas lebih mewah.

“Ketika dia (Ghislaine) menyadari bahwa Daily News tidak memiliki dapur sendiri, dia memindahkan kami ke Waldorf yang disewa menggunakan uang ayahnya seharga $4.000 per malam, ke ruangan bertipe suite berukuran super besar di mana dia bisa memiliki banyak kamar dan kami bisa memiliki kantor,” kata Hinsey.

“Dia punya dapur, ruang makan dan pelayan khusus yang bisa memenuhi segala kebutuhannya secara spesial di sana,” lanjutnya.

 

Kematian Ayahnya

Sembilan bulan setelah Robert Maxwell membeli New York Daily News, dia membawa kapal pesiarnya, yang dia beri nama Lady Ghislaine, pergi liburan ke kepulauan Spanyol di Kepulauan Canary, lepas pantai Maroko. Pada pagi hari tanggal 5 November 1991, anak buahnya tidak dapat menemukan keberadaan Robert. Mereka menyadari bahwa bosnya telah pergi ke laut pada malam hari.

Tak mau ambil risiko, para anak buah Robert menghubungi aparat berwajib. Proses pencarian kemudian digelar intensif. Miris, pihak berwenang berhasil menemukan Robert tapi dengan kondisi tidak bernyawa dan tubuhnya mengambang di air.

Teori berputar-putar tentang penyebab kematian Robert. Ada tiga dugaan paling kuat, apakah itu serangan jantung, kecelakaan, atau bunuh diri. Sementara penyebab resmi kematian yang dirilis aparat berwajib pada tahun 1991 adalah serangan jantung yang dikombinasikan dengan tenggelam.

“Ghislaine selalu mengira ayah kami dibunuh. Kami sekeluarga percaya dengan hasil pemeriksaan polisi. Tapi Ghislaine sendirian menentangnya,” kata Ian Maxwell.

Tak lama setelah kematian Robert Maxwell, terungkap skandal mencengangkan. Sebelum wafat, Robert diketahui menggelapkan serta menjarah ratusan juta dolar dari dana pensiun karyawannya di Inggris untuk menopang kerajaan bisnisnya yang runtuh. Kedua putra Robert, Kevin dan Ian Maxwell, juga diadili karena penipuan sehubungan dengan uang pensiun, tetapi akhirnya dibebaskan dari tuntutan apa pun.

Kerajaan bisnis Robert Maxwell pun runtuh. Keluarganya yang masih berduka mau tak mau harus meninggalkan rumah mewah mereka di Oxford, Inggris. Seluruh harta peninggalan Robert raib tak bersisa, dilelang guna menebus skandal penggelapan dana yang dulu dilakukannya.

Kurang dari setahun setelah kematian ayahnya, Ghislaine kedapatan sedang bersama Jeffrey Epstein di Bandara Heathrow di London. Epstein adalah penduduk asli Brooklyn yang sebelumnya mengajar matematika di sekolah swasta di New York City. Dia pindah ke dunia perbankan dan naik pangkat, akhirnya membuka perusahaan konsultannya sendiri, yang dia klaim hanya melayani miliarder. Pada akhir 1980-an, ia membantu mengelola keuangan miliarder Leslie Wexner, pendiri L Brands, yang mencakup Victoria’s Secret dan Bath and Body Works.

Ghislaine Maxwell pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Epstein pada tahun 1991 melalui seorang temannya. Ian Maxwell sempat pula jumpa Epstein saat mengunjungi Ghislaine. Namun Ian tak banyak berbincang, sehingga kurang mengetahui siapa atau bagaimana latar belakang Epstein.

 

Perdagangan Wanita dan Kejahatan Seks

Ghislaine Maxwell pertama kali membantu dalam eksploitasi seksual gadis di bawah umur oleh Epstein pada tahun 1994. Annie Farmer secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai salah satu korban kejahatan Ghislaine dan Epstein. Pada tahun 1995, Maria Farmer bekerja untuk Jeffrey Epstein sebagai resepsionis di hotelnyanya di New York City. Di situlah Maria mengatakan bahwa dia untuk pertama kali mengenal Ghislaine.

Ketika Ghislaine bertanya tentang latar belakang keluarga, Maria menceritakan adik perempuannya Annie, yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan akan segera melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Maria mendapatkan saran dari Ghislaine supaya dia berbicara dengan Epstein tentang hal itu supaya diberi bantuan dana.

Tak ada pikiran negatif, Maria tentu mengikuti saran Ghislaine. Dia bertemu Epstein dan betul ucapan Ghislaine, dia mendapatkan bantuan. Epstein dengan senang hati berjanji membantu adik Maria, Annie, untuk mendapatkan perguruan tinggi terbaik.

Epstein menelepon ibu Maria dan Annie untuk memberitahukan tentang program beasiswa perguruan tinggi untuk 20 hingga 25 siswa dari seluruh AS. Epstein turut menginformasikan kalau Ghislaine akan menjadi pendamping Annie selama menjalani proses seleksi beawiswa. Percaya tawaran itu sah, Annie, adik Maria, akhirnya pergi ke kediaman Epstein di New Mexico.

Setibanya Annie, dia kaget tidak melihat ada siswa lain di sana dan tampaknya tidak ada program seleksi beasiswa sama sekali. Annie berdiri sendirian dengan ditemani Epstein dan Ghislaine. Annie melihat perlakuan Ghislaine Maxwell sangat baik, asyik diajak berbicara, cerdas, dan membuatnya merasa cepat nyaman. Hingga akhirnya Annie terbuai rayuan Ghislaine yang memintanya untuk ‘melayani’ Epstein.

“Saya ingat berada di area ruang tamu bersama Epstein dan Ghislaine. Ketika berbincang, Ghislaine memberi tahu saya bahwa Epstein sangat suka digosok bagian kakinya, dan itu akan menjadi ide yang baik jika saya mau belajar cara memijat kaki Epstein,” kata Annie Farmer.

“Saya pikir jika Epstein yang langsung meminta saya, pasti saya akan tegas menolak. Tetapi yang menyarankan saya ialah Ghislaine, saya entah kenapa lebih terbuka. Mereka benar-benar pandai mencari cara untuk menembus batas sehingga saya takut mengatakan tidak,” tambah Annie.

Setelah Annie, ada banyak wanita muda lain yang menjadi korban kelicikan Ghislaine dan kebejatan Epstein. Kurang lebih metode kejahatan yang mereka perbuat mirip-mirip. Gadis-gadis muda diberi iming-iming yang menggiurkan. Ghislaine sebagai tokoh yang kemudian mempengaruhi para gadis muda agar mau melayani nafsu birahi Epstein.

Kasus  ini akhirnya terbongkar. Aparat kepolisian menciduk kedua pelaku guna diproses secara hukum. Epstein yang tak kuat akan tekanan kasusnya, akhirnya mengambil nyawanya sendiri pada Agustus 2019. Sedangkan Ghislaine sampai sekarang masih mendekam di penjara menjalani proses penyelidikan.