Hantu-hantu Jahat yang Menjadi Cerita Masyarakat Minangkabau

Kamis, 30 September 2021, 21:56 WIB
29

Minang sebagai suatu kesatuan etnik memiliki sejumlah nilai budaya yang khas yang menjadi identitasnya, antara lain nilai budaya terkait merantau dan religi. Mengenai religi, Minang memiliki keterkaitan yang amat erat dengan Islam.

Islam sebagai suatu agama telah masuk ke dalam kebudayaan Minang, bahkan termanifestasi dalam filosofi dasar orang Minang, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang berarti adat bersendikan hukum dan hukum bersendikan kitabullah.

Filosofi ini merupakan bukti nyata bahwa orang Minang memiliki hubungan yang erat dengan Islam, bahkan Islam telah menjadi dasar kebudayaan mereka. Setidaknya begitu pada tataran idealnya.

Kepercayaan Minang terhadap makhluk halus tetap ada. Pemaknaan orang Minang terhadap kepercayaan mereka mengenai makhluk halus menyebabkan adanya tindakan-tindakan sosial yang mereka lakukan.

Bunian, Sang Penculik Selepas Senja

Malam-Malam Lewat Kuburan, Ketemu Makhluk Diduga Orang Bunian | Dream.co.id

Mengacu pada beberapa informan, bunian adalah makhluk halus yang berasal dari kepercayaan Minang. Bunian berbentuk layaknya manusia biasa yang berjeniskelamin perempuan. Ia memiliki organ tubuh lengkap seperti manusia. Bunian juga berpakaian lengkap seperti manusia biasa. Jadi, cukup sulit untuk mengidentifikasi bunian apabila ia berada di dunia manusia.

Bunian biasanya tinggal di daerah yang sepi dari manusia seperti perkampungan sepi, rumah yang tidak lagi ditinggali, atau pinggir hutan. Bunian biasanya datang ke pemukiman manusia pada saat senja turun. Bunian akan menculik orang yang masih berkeliaran di luar rumah saat senja turun, misalnya anak-anak yang masih bermain atau pemuda-pemudi yang masih bercumbu. Orang yang diculik oleh bunian akan dibawa ke alam bunian yang terletak di dimensi yang berbeda.

Meski dibawa ke alam bunian, bukan berarti orang yang diculik dibawa ke tempat tinggal bunian (perkampungan sepi, rumah kosong, atau pinggir hutan). Alam bunian merupakan alam yang berada di dimensi yang berbeda, berbentuk seperti hutan yang berisi pohon-pohon lebat dan rimbun.

Di alam tersebut, terdapat rumah bunian. Orang yang diculik akan dibawa ke rumah tersebut dan mendapat jamuan dari bunian. Jamuan dari bunian umumnya berupa mie dan bubur yang ternyata ialah cacing dan makanan busuk.

Terdapat beberapa varian folklore pada bagian ini, ada informan yang menyatakan bahwa orang yang diculik tidak tahu bahwa yang ia makan merupakan cacing dan makanan busuk. Di sisi lain, terdapat pula informan yang menyatakan bahwa orang yang diculik tahu bahwa yang ia makan ialah cacing dan makanan busuk namun ia tidak memiliki kuasa untuk menolak memakan makanan tersebut.

Ketika berada di alam bunian, orang yang diculik dapat melihat apabila ada orang yang mencarinya. Pada sejumlah kasus, dinyatakan bahwa orang yang diculik dapat melihat para pencarinya memanggil-manggilnya. Akan tetapi, orang yang diculik tidak dapat mengeluarkan suara atau suara yang ia keluarkan tidak terdengar oleh para pencarinya. Para pencarinya, nantinya, juga akan mengatakan bahwa mereka tidak mendengar suara panggilan.

Setelah bunian merasa cukup, orang yang diculik akan dikembalikan lagi ke alam manusia. Biasanya, orang yang diculik dapat ditemukan di tempat-tempat yang sebenarnya mudah terlihat seperti di bawah meja atau di atas pohon.

Palasik, Sang Penghisap Darah Bayi

Misteri Palasik Kuduang, Sang Pemakan Bayi dari Ranah Minang - Regional  Liputan6.com

Palasik adalah makhluk halus yang dapat dikategorikan sebagai bilih atau setan dalam kepercayaan rakyat Minangkabau. Palasik ialah perempuan yang mempelajari ilmu hitam dan harus menghisap darah bayi agar kemampuan ilmu hitamnya dapat mencapai tingkat tinggi. Terdapat ragam varian folklore mengenai bentuk palasik.

Ada informan yang menyatakan bahwa palasik hanya berupa kepala yang melayang-layang. Di sisi lain, terdapat pula informan yang menyatakan bahwa palasik berbentuk seperti manusia biasa. Ia dapat merupa wujud ibu-ibu pada umumnya. Akan tetapi, di balik pakaiannya hanya ada usus yang menjuntai.

Yang diincar oleh palasik biasanya bayi atau balita. Palasik biasanya mendatangi rumah korbannya dan dapat dilihat oleh orang lain. Palasik dapat menghisap darah dengan beberapa cara, yaitu: (1)Menghisap darah bayi atau balita dari ubun-ubunnya.

Dengan cara ini, darah bayi atau balita tersebut akan mengalir dari kepala dan dapat langsung ditelan oleh palasik; (2)Mencucuk bayi di bagian leher atau lengannya. Dengan cara ini, darah bayi atau balita akan mengalir melalui lubang gigitan; atau (3)Menghisap janin bayi dari vagina perempuan yang sedang hamil tua.

Ada cara yang dapat dilakukan orang Minang untuk menangkal palasik. Cara ini biasanya digunakan oleh ibu-ibu untuk melindungi anak-anak mereka dari palasik. Penangkalan ini dilakukan dengan memasang kalung beruntai kantung dari kain hitam. Kantung dari kain hitam ini berisi beberapa benda yang diyakini dapat menolak palasik. Contoh dari benda yang biasa digunakan ialah ayat Quran yang ditulis di sehelai kertas dan bawang putih.

Selanjutnya, apabila palasik telah datang dan ditemukan sedang mencoba menghampiri bayi atau balita, atau sedang menghisap darah bayi, ada cara yang dapat digunakan untuk melawan palasik tersebut. Cara yang dapat digunakan ialah menusuk palasik menggunakan benda tajam, biasanya pisau atau gunting. Dengan cara itu, palasik akan mati dan musnah sendirinya.

Inyiak Harimau, Sang Pelindung

Inyiak Rimbo Rao - PARIAMAN TODAY

Berbeda dengan dua makhluk halus sebelumnya yang bersifat destruktif, inyiak harimau memiliki fungsi manifes yang memang positif bagi orang Minang. Inyiak harimau dapat diartikan menjadi dua definisi.

Pertama ialah inyiak harimau sebagai penjaga hutan yang memiliki beberapa fungsi sosial, kultural, dan ekologi. Kedua ialah inyiak harimau sebagai pelindung orang Minang yang sedang merantau.

Sebagai penjaga hutan, inyiak harimau adalah makhluk setengah manusia setengah harimau. Ada beberapa varian folklore mengenai identitas inyiak harimau ini.

Ada informan yang menyatakan bahwa inyiak harimau merupakan manusia yang mempelajari magi putih sehingga dapat bertransformasi menjadi harimau. Di sisi lain, ada informan lain yang menyatakan bahwa sejak awal inyiak harimau memang siluman harimau yang dapat berubah menjadi manusia, harimau, atau manusia harimau.

Inyiak harimau sebagai makhluk yang dapat berkomunikasi dengan kedua makhluk pada suatu masa di masa lampau pernah menjembatani kontrak sosial antara manusia dan harimau untuk tidak saling menyerang satu sama lain.

Inyiak harimau merupakan sosok yang tepat untuk menjembatani kontrak tersebut karena ia dapat berdialog baik dengan manusia ataupun dengan harimau. Identitas diri yang cair ini menyebabkan inyiak harimau dapat diterima di dua kelompok yang berbeda tersebut.

Inyiak harimau juga kerapkali digambarkan sebagai harimau jadi-jadian yang menjaga hutan. Inyiak tinggal di hutan dan menjaga keseimbangan hutan tersebut agar tidak diganggu oleh manusia. Banyak orang Minang yang percaya bahwa inyiak harimau gemar memakan durian. Oleh karena itu, apabila terdapat durian yang jatuh di hutan, durian tersebut tidak boleh disentuh karena durian tersebut ialah jatah inyiak harimau.

Menurut beberapa informan, inyiak harimau dapat mengontrol perubahan dirinya kecuali pada saat tertentu, yaitu ketika ia sedang berada di dekat sungai atau perairan terbuka. Saat berada di dekat sungai atau perairan terbuka, inyiak harimau akan menjelma kembali menjadi harimau.

Akan tetapi, selain itu inyiak harimau dapat mengontrol perubahan dirinya. Saat menjadi manusia, ada tanda-tanda inyiak harimau yang dapat dilihat, yakni panjang tangannya melebihi panjang tangan manusia biasa dan di antara hidung dan mulutnya tidak ada cekungan yang terdapat pada manusia biasa. Jadi, apabila seseorang memiliki panjang tangan yang tidak normal dan tidak memiliki cekungan di antara hidung dan mulutnya, maka ia dapat dikira sebagai inyiak harimau.

Definisi inyiak harimau yang kedua ialah penjaga orang Minang yang sedang merantau. Apabila seorang Minang sedang merantau dan sedang berada di daerah rantau, akan dilindungi oleh inyiaknya. Tiap orang Minang sebenarnya memiliki inyiak yang menjaganya, namun tidak setiap orang Minang memiliki kemampuan untuk melihat dan mengenali inyiaknya. Hanya sejumlah orang Minang yang dapat melihat dan mengenali inyiaknya karena telah diajarkan oleh keluarganya.

Inyiak dapat melindungi seseorang dengan beberapa cara, di antaranya ialah memberi dorongan spiritual agar orang tersebut dapat menjalani tugas-tugas kesehariannya dengan baik. Selain itu, orang Minang yang telah dapat melihat dan mengenali inyiaknya biasanya dapat masuk ke kondisi trance sehingga sang inyiak masuk ke dalam tubuhnya. Saat sang inyiak masuk ke dalam tubuh seseorang, tubuh orang tersebut akan dapat digerakkan oleh inyiaknya. Jadi, ketika menghadapi bahaya dan ancaman fisik, inyiak dapat mengambilalih tubuh dan melindungi sang pemilik tubuh tersebut.

Mitos Hantu Siampa

Genderuwo hingga Pocong, Begini Asal 5 Hantu Mengerikan Indonesia -  Citizen6 Liputan6.com

Siampa, sebutan cerita urban legend di Ranah Minang, diidentikan dengan hantu, biasa bersemayam pada bangunan tua yang sudah lama tidak dihuni dan pohon-pohon besar yang terlihat lebih mencolok dari pada pohon-pohon lain di sekitarnya. Siampa ini bersosok hitam tinggi besar dan memiliki dua mata yang berwarna merah.

Siampa bermiripan secara forensik dengan Gunderuwo hanya beda fisik dan kebiasaan. Siampa adalah makhluk yang sangat senang jika ada majikannya, jika siampa yang tidak ada majikannya biasanya akan sering bermunculan di sore hari dan juga sekitar jam 03.00 dini hari, kebiasaan jeleknya berada tempat kumuh contoh rumah yang tidak terurus lagi ataupun tempat dukun yang kotor.

Dahulu, beberapa masyarakat di Ranah Minang memelihara Siampa untuk menjaga benda, hewan ternak, kebun dan sebagainya. Siampa tidak minta nyawa sebagai tumbalnya tapi sesuatu yang jorok, contohnya mengusili majikannya. Kebiasaan lainnya kerap menangis di malam hari jika majikannya meninggal dan suara tangisan menyerupai suara seorang gadis.

Menurut ceritanya, hantu ini suka mengganggu manusia dengan mencekik atau menindih pada saat sedang tidur. Banyak kejadian dimana ada orang-orang yang sedang tidur, lalu terbangun secara tiba-tiba tapi tidak bisa bicara apa-apa dan menatap dengan mata yang menggambarkan sedang kesakitan layaknya ditindih atau dicekik sesuatu sampai sesak napas.

Siampa sebagai hantu yang kerap mengganggu manusia dengan cara menindih atau mencekiknya ketika tengah tidur. Oleh karena itu, masyarakat ranah minang kalau ada orang yang merasa ketindihan ketika tidur, maka orang tersebut telah diganggu oleh Siampa.