Hongkong dari Tanah Jajahan Hingga Jadi Negara Kuat Industri

Kamis, 30 September 2021, 16:21 WIB
19

Pada 1980-an, Inggris dan China mengadakan perundingan rahasia. Perundingan ini menghasilkan Deklarasi Kerja Sama China-Inggris 1984 (Steve Tsang, 2005). Isi pokoknya adalah Inggris akan mengembalikan Hong Kong pada 1997. Hasil pokok perundingan adalah status Hongkong.

China maupun Inggris sepakat bahwa Hongkong akan tetap dijadikan sebagai kota pusat finansial global. Pemahaman tentang Hongkong harus dimulai dengan transformasi kapitalisme. Transformasi ini membuat Hongkong menjadi kota global. Banyak sarjana membahas bangkitnya Hongkong menjadi terkemuka sebagai fenomena pasca Perang Dunia dan menjelaskan keberhasilannya sebagai kemenangan kapitalisme pasar bebas.

Namun, peran Hongkong dalam ekonomi global perlu ditempatkan dalam sejarah. Hongkong harus dipahami secara utuh dalam lintasan kapitalisme Asia abad kesembilan belas.

Hongkong menjadi pusat kapitalisme China. Hongkong memikul peran ini segera setelah pendiriannya pada abad kesembilan belas dan melanjutkan peran ini hingga Perang Dunia Kedua. Kemudian, setelah perang dan Revolusi China, Hongkong menjadi lokasi pertama bangkitnya kapitalisme China meskipun dalam bentuk berbeda.

Pandangan umum menyatakan bahwa kapitalisme Asia, di luar Jepang, baru muncul sesudah Perang Dunia Kedua. Memang, periode ini merupakan era di mana Hongkong, Singapura, dan Taiwan berkembang menjadi negara maju (World Bank, 1993). Namun, penting diingat kapitalisme China telah berkembang sebelum Perang Dunia Kedua.

Pengusaha-pengusaha China bersifat “kapitalistik”, bahwa mereka berorientasi mengejar keuntungan secara agresif, kerja swasta, dan gelora mencari peluang kesempatan menciptakan lebih banyak uang.

Kebanyakan penafsir sejarah Asia melihat tidak adanya perkembangan kapitalisme pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di China. Jepang mengalami industrialisasi pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, sementara China secara ekonomi masih terbelakang.

Kebanyakan sarjana menunjukkan secara sederhana kemampuan awal industrialisasi Jepang, terutama dalam industri berat seperti besi dan baja, dan produk- produk terkait seperti kapal, kereta api, truk, dan mobil dibandingkan dengan industri- industri di China.

Dengan industri tersebut, para penafsir berpendapat, Jepang membangun angkatan darat dan laut modern yang memenangkan peperangan melawan China pada 1895 dan melawan Rusia pada 1905. Sebaliknya, upaya industrialisasi China tidak berjalan baik. Sementara itu adalah benar bahwa China membangun industri berat milik badan usaha yang dijalankan oleh para pedagang pada abad kesembilan belas, namun industri-industri itu sangatlah tidak berhasil.

Selain itu, China kalah dalam setiap peperangan, sejak Perang Candu pada 1840-an hingga Perang Dunia Kedua, hanya di luar periode itu, China dapat mengalahkan Jepang. Berdasarkan atas perbandingan-perbandingan nyata tersebut, maka muncul asumsi bahwa Jepang telah terindustrialisasi sedangkan China tidak.

Era Perang Dingin dan Kondisi Ekonomi Cina

Pada era perang dingin, 1960-1990an, dunia ekonomi didominasi etnis China tidak dicirikan oleh industri berat. Manufaktur-manufaktur China mengkhususkan diri pada perusahaan kecil dan menengah. Pabrik sederhana itu biasanya menciptakan produk konsumsi. Seperti pakaian, sepatu, pesawat TV, kalkulator, komputer.

Pada era perang dingin, barang-barang pabrikan itulah yang memenuhi rumah-rumah di seluruh Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Ahli-ahli ekonomi tahu bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi negara dan PNB (Produk Nasional Bruto) tidak dapat dihitung hanya berdasarkan pada hasil dari satu atau dua sektor industri.

Bahkan jika diambil perbandingan, perbandingan sejarah antara Jepang dan China masih diperkeruh oleh dimensi politik. Pada abad ke-19 dan ke-20, China yang tidak menang perang dan tidak pula berhasil membangun politik ekonomi.

Jepang dan China pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh punya takdir berbeda. Yang berbeda, bukanlah kehadiran kapitalisme di satu pihak dan ketidakhadiran kapitalisme di pihak lain.

Namun, ada dua versi kapitalisme yang berbeda. Keduanya muncul secara serempak dengan terbukanya negara negara. Fakta ini punya pengaruh pada ekonomi dan politik global. Dua versi kapitalisme menguat dan mengambil tempat di dalam kapitalisme global pada akhir abad kedua puluh.

Kapitalisme Jepang merupakan transformasi negara. Kapitalisme ini adalah produk ekonomi politik. Sebagai contoh, selama era Meiji (1868-1912), elit politik Jepang merumuskan rencana pembangunan komprehensif, dalam tiga puluh jilid buku. Buku rancangan ini mencakup setiap aspek ekonomi Jepang.

Dipublikasikan pada 1884, rencana tersebut didasarkan pada investigasi yang cermat atas ekonomi dan lembaga korporasi Eropa oleh elit Jepang yang pergi ke Eropa. Mereka menetap untuk sementara, mengadakan pengamatan, mengajukan pertanyaan, dan kembali ke Jepang untuk membangun rencana ekonomi untuk menyusul Barat.

Kemudian dengan sangat mengagumkan, mewujudkan rencana itu menjadi kenyataan. Bahwa rancangan-rancangan dan sasaran itu “diselesaikan secara nyata” selama sepuluh tahun.

Eleanor Westney dalam bukunya Imitation and Innovation, The Transfer of Western Organizational Patterns to Meiji Japan (1987) menunjukkan contoh luar biasa perubahan di era Meiji.

Weastney menunjukkan bahwa, pada lima belas tahun pertama dari masa Meiji (kasarnya dari 1868 hingga 1883), elit ekonomi dan politik Jepang mengubah tata lembaga masyarakat dan sistem negara. Mereka menciptakan angkatan darat dan laut model Barat, sistem pos dan telegraf, sistem pendidikan berjenjang dari sekolah dasar hingga universitas, sistem perbankan terpadu, dan angkatan kepolisian nasional yang dibentuk secara birokratis.

Di dalam tiap-tiap inovasi organisasi itu, pejabat pemerintah dan elit swasta Jepang meniru praktek-praktek Barat, meminjam secara bebas,terkadang secara tepat, terkadang secara longgar.

Di Jepang, selama abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, alat utama perkembangan kapitalisme adalah koalisi elit politik dan elit ekonomi. Kapitalisme Jepang bukanlah ciptaan (creation) dari kelas pedagang. Meskipun. beberapa pedagang berperan dalam koalisi elit tersebut. Kapitalisme Jepang bukan pula ciptaan para petani meskipun para petani benar-benar mengubah hasil produksi dan daya kerja secara drastis.

Dibandingkan dengan kasus China, kapitalisme Jepang merupakan kreasi ekonomi politik, dari sistem yang saling memperkuat satu sama lain dalam kuasa-kuasa pemerintahan dan hak-hak istimewa elit ekonomi.

Dalam masa yang sangat singkat, orang-orang Jepang mampu mengubah produk kerajinan dengan skala kecil menjadi produk industri dengan skala besar, dari pabrik-pabrik kecil menjadi hirarki korporasi birokratis yang membentuk jaringan-jaringan konglomerasi.

Peran Baru Hongkong di Ekonomi Dunia

Pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia Kedua, Hongkong bertindak sebagai cerobong kapitalis China. Ratusan ribu imigran China dari pedalaman Guandong dan Fukien keluar dan kembali ke Hongkong setiap tahun. Jutaan uang China terbang melalui bank-bank dan pusat-pusat pengiriman uang di Hongkong.

Beberapa uang keluar dari China untuk investasi di tempat yang jauh, namun porsi terbesar mengalir masuk ke China dalam bentuk pengiriman uang (remittansi)—gaji/upah dan keuntungan (profit) dari tempat kerja manapun. Uang mengalir masuk ke China memenuhi komersialisasi (perdagangan) di China Selatan pada periode sebelum Perang Dunia Kedua.

Menjelang 1950, sebenarnya semua perdagangan ekonomi dengan Daratan China telah berakhir dan Hongkong berhenti menjadi sebuah pelabuhan. Namun, seolah-olah ini merupakan kompensasi akhir bagi Hongkong yang posisinya terapung-apung di atas uang, buruh, dan pengusaha.

Pada 1950-an, investasi uang, beberapa terbang dari China sebelum revolusi dan beberapa dalam bentuk pengiriman uang (remittances) dari Asia Tenggara yang tidak bisa masuk ke China, tiba dan tinggal di Hongkong.

Para pengungsi berlindung dari kekuasaan komunis telah membangun perkampungan liar di seluruh koloni tersebut sehingga menyediakan tenaga kerja dengan upah murah. Selain itu, beberapa pengusaha terkemuka dari Shanghai memindahkan pabrik-pabrik mereka di sana.

Banyak orang berpendapat bahwa kombinasi ini merupakan faktor-faktor yang mengizinkan Hongkong dengan cepat mengalihkan ekonominya dari pelabuhan perdagangan menjadi kantong- kantong industri.

Meskipun sumber-sumber daya tersebut memberikan kontribusi pada pertumbuhan yang cepat, namun ada alasan pokok atas industrialisasi Hongkong yakni semangat usaha niaga orang-orang China. Pengusaha-pengusaha China di Hongkong menemukan pasar. Tidak seperti Jepang, Hongkong, mengalami pertumbuhan paling awal pasca perang, namun tidak memiliki pasar lokal yang cukup untuk mengkonsumsi barang-barang yang dihasilkan pabrik-pabriknya.

Pada akhir 1970-an stabilitas politik berlaku di Asia Tenggara—Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Semua negara itu mulai mengendurkan nasionalisme ekonominya. Pada saat yang sama, Daratan China memulai reformasi ekonomi dan membuka ekonominya bagi orang- orang luar. Segera sesudah itu, China dan Asia Tenggara mulai menarik dalam jumlah yang sangat besar investasi asing langsung (foreign direct investment).

Kebanyakan investasi asing tersebut datang dari perusahaan-perusahaan Jepang, Taiwan, dan Hongkong dan semuanya mencari sumber daya manusia yang lebih murah dan keuntungan-keuntungan ekonomi lain.

Investasi saling-silang tersebut diisi dengan revolusi retail baru yang terjadi di seluruh dunia, diisi mengikuti perkembangan shopping mall, super discount stores, dan barang-barang ber-merk terkenal seperti The Gap, The Limited, Nike, Reebok, Dell Computers, dan Mattel Toys, semua manufaktur tersebut tidak memiliki pabrik. Sistem inventaris yang ter-komputerisasi, transportasi laut dan udara yang cepat, dan periklanan yang sangat maksimal menyertai trend penjualan massal tersebut.

Para pengusaha China dengan cepat mengambil keuntungan-keuntungan dari kesempatan-kesempatan baru tersebut. Mereka menciptakan produk-produk terbaru, membeli real estate terpilih, dan membuat transaksi terbaik dalam melakukan bisnis apapun di Asia.

Para pengusaha China baru dari Hongkong, Taiwan, dan Asia Tenggara tidak lagi merupakan kapitalis kecil dan tidak lagi terikat dengan pertimbangan-pertimbangan wilayah dan garis keturunan.

Keberhasilan mereka di Hongkong, Taiwan, dan Asia Tenggara berlangsung cepat, karena mereka secara ekonomi adalah segmen penduduk yang paling gesit dan paling mudah bergerak. Karena kebanyakan berpendidikan Barat, maka mereka menyadari kesempatan- kesempatan yang diberikan oleh lingkungan politik dan ekonomi yang berubah.

Keberhasilan mereka menjadikan mereka menjadi kekuatan ekonomi besar di kampung halaman ekonomi. Di Hongkong, kemandirian dan kekuatan para pengusaha China mengusir perusahaan-perusaan Inggris.

Di Taiwan, perusahaan-perusahaan swasta yang dimiliki oleh etnis Taiwan memudarkan perusahaan-perusahaan milik negara dan partai. Di seluruh Asia Tenggara, etnis China meraih kekuasaan atas sektor dinamis dalam ekonomi. Para pengusaha China menjadi super kapitalis Asia.

Hongkong menjadi pusat perkembangan kapitalisme. Basis manufaktur Hongkong adalah di Guangdong, dan Hongkong sekali lagi menjadi cerobong kapitalis di mana sumber daya manusia dan material bergerak masuk dan keluar dari China.

Investor terbesar di China berasal dari orang-orang China yang mendominasi ekonomi di luar China: Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Hingga terjadinya krisis bisnis (ekonomi) Asia, perusahaan multinasional terbesar di Thailand, Charoen Pokphand Group, kelompok usaha yang dimiliki dan dikuasai oleh etnis China, adalah juga investor tunggal terbesar di China.