Ivan Campo: Dibuang Real Madrid, Jadi Legenda di Bolton

Jumat, 31 Desember 2021, 20:07 WIB
46

Ini adalah tipe pemain tertentu yang dikenang dan dipuja bertahun-tahun setelah dia meninggalkan klub. Seringkali itu adalah pahlawan homegrown atau bocah lokal asli, seperti Steven Gerrard, Matthew Le Tissier atau John Terry, one man club yang berdedikasi dan bersemangat. Seringkali mereka jadi pencetak gol atau jimat yang dibutuhkan oleh tim, seperti Paolo Di Canio, Ossie Ardiles atau Eric Cantona.

Namun terdapat karakter aneh yang tak terduga menjadi legenda klub, entah bagaimana mengejutkan penggemar dan rekan satu tim. Dalam kasus ini terdapat pada klub bernama Bolton Wanderers, legenda mereka sendiri yang tidak mungkin tidak diragukan lagi adalah pemain buangan dari Spanyol, yakni Ivan Campo.

Dia seringkali dipanggil dengan julukan Afro dengan jersey terkenal Bolton bertuliskan sponsor Reebok selama empat tahun yang penuh kenangan dan kebahagiaan. Menumbuhkan cinta yang tidak terlukiskan dan abadi untuk klub serta kota yang mengeluk-elukkan nama Ivan Campo.

Ivan Campo Ramos lahir pada 21 Februari 1974 di San Sebastian, ibu kota Negara Basque di Spanyol. Perkembangan masa mudanya sebagai bek tengah dihabiskan pertama kali di Logroñes dan kemudian Alavés, di mana ia membuat terobosan besar sebagai pemain muda 18 tahun di musim 1993/94 di divisi tiga Spanyol. Penampilannya yang menjanjikan di musim penuh pertamanya di level senior mencuri perhatian para pencari bakat dan akhirnya menggoda raksasa LaLiga Valencia untuk meminangnya.

Dia kemudian dipinjamkan ke klub kecil La Liga, Real Vallodolid selama musim 1995/96 untuk mendapatkan pengalaman serta menit bermain yang dibutuhkan di level tertinggi. Penampilannya dalam 24 pertandingan cukup menggembirakan bagi Valladolid, yang berhasil bertahan setelah memecat Rafa Benítez setelah 22 pertandingan sempat ada di dasar klasemen.

Dia kembali ke Valencia untuk musim 1996/97, membuat 25 penampilan liga dengan satu gol tetapi gagal meyakinkan manajer Los Che, Jorge Valdano bahwa dia memiliki kualitas yang cukup untuk membuat langkah jangka panjang ke tim utama reguler. Dengan demikian, Campo yang masih muda, dibebaskan pindah ke klub lain di musim panas 1997.

Klub yang menginginkannya tentu cukup banyak, dengan Real Mallorca menjadi klub promosi yang beruntung mendapatkannya. Musim itu di Palma, Campo membentuk kemitraan yang luar biasa dengan Marcelino Elina, dalam tim dinamis yang menampilkan Juan Carlos Valerón muda ketika Mallorca mengamankan satu tiket ke Piala UEFA, usai mengakhiri musim perdananya setelah promosi di urutan kelima Liga Spanyol 1997/98.

Musim panas 1998, Javier Clemente sudah melihat sesuatu yang istimewa dari bek tengah muda tersebut. Dia pun akhirnya membawa Campo untuk skuat Spanyol di Piala Dunia 1998. Dia menjadi pemain pengganti untuk dua laga terakhir fase grup, namun salah satunya adalah kekalahan memalukan 3-2 dari tim Nigeria yang tahun tersebut memang berisi para pemain berbakat.

 

Ivan Campo Pindah ke Real Madrid

Tidak lama setelah keikutsertaan yang mengecewakan bersama Timnas senior Spanyol, dia tetap dipandang sebagai salah satu talenta terbesar di Negeri Matador. Dengan Real Madrid menaruh minat kepadanya. Manajer dan pelatih legendaris di kancah Eropa, Jupp Heynckes memang sudah berulangkali menyatakan minatnya untuk menjadikan Campo salah satu pemain di skuatnya. Ketertarikan Heynckes membuatnya menjadi pemain termahal Real di musim panas tersebut mengingat klub sedang penghematan besar-besaran di Santiago Bernabéu, tentunya saat menghadapi kegilaan beberapa tahun terakhir. Real Mallorca mendapatkan pembayaran transfer sebesar £2.65 juta untuk melepas Campo ke Real Madrid.

Sayangnya, lima tahun berseragam Los Blancos, bisa dibilang membuatnya frustasi, saat dia silih berganti masuk keluar dari susunan pemain baik laga domestik atau kancah Eropa. Meski total dia mampu menciptakan 60 penampilan untuk Los Blancos, tapi itu bukanlah prestasi yang membanggakan untuk orang yang dibuang dari tim besar sekaliber Valencia. Namun kekecewaan ini bisa dipahami karena selama di Real Madrid dia harus bersaing dengan para bek kelas dunia, seperti Ivan Helguera dan Fernando Hierro – nama yang akan dia temui kembali kala membela Bolton di kemudian hari.

Satu-satunya sorotan yang terbesar saat membela Real Madrid adalah pada pertandingan super penting di final Liga Champions bulan Mei 2000 silam. Sebuah kemenangan 3-0 berhasil diamankan ketika menghadapi klub lamanya, Valencia. Fernando Morientes, Steve McManaman dan Raul Gonzalez mencetak gol saat Ivan Campo bermain penuh 90 menit dengan formasi tiga bek. Dia berpasangan dengan dua bek kelas dunia lainnya, yakni Ivan Helguera dan Aitor Karanka.

Pada Agustus 2002, hanya dua tahun sejak final tersebut, giliran fans Bolton yang terkejut kala pulang bekerja dengan kepindahan Ivan Campo dari Real Madrid ke klub kesayangan mereka. Meski dengan status pinjaman, nama tersebut langsung diberikan harapan tinggi para fans Bolton, karena dirinya datang dari klub sekaliber Real Madrid.

 

Disambut Hangat dan Mencuri Hati di Bolton

Zaman dulu belum ada social media seperti sekarang, jadi wajar jika para penggemar tidak terlalu mengenal Ivan Campo, bahkan saat dirinya gabung Bolton pada tahun 2002. Penampilannya untuk Real Madrid juga tidak terlalu menarik perhatian para pengamat sepak bola Inggris. Apalagi lini serang Los Blancos saat itu benar-benar menyita perhatian, jadi seorang bek tengah seperti Ivan Campo luput dari sorotan lampu panggung.

Namun ternyata ketidakterkenalan itu tidaklah penting, karena para fans Bolton langsung menyambutnya dengan sepenuh hati di Bandar Horwich. Mereka merayakan kedatangan sang pemain yang langsung debut di laga Liga Inggris kontra Liverpool. Ketika ia meluncur dengan berani untuk menyodok bola dan menyamakan skor jadi imbang 2-2 menit ke-87. Sayang, gol penyama kedudukannya tidak bertahan lama, karena Liverpool mampu membalikkan keadaan jadi 3-2 dan membawa pulang kemenangan.

Tapi itu bukanlah debut yang buruk, pemain kelahiran Basque itu benar-benar sangat membantu Wanderers untuk bertahan di Liga Inggris dalam dua musim berturut-turut. Dirinya juga sangat Bahagia ketika berhasil mengumpulkan 31 penampilan beserta dua gol dengan seragam putih khas Bolton yang terkenal dengan tulisan sponsor Reebok.

Dirinya bahkan merasa masa-masa berkarir di Bolton seperti menjadi rumah keduanya. Selain sambutan para penggemar, rekan-rekan setimnya dan bahkan Sam Allardyce, manajer kala itu, disebutnya sebagai ‘ayah angkat’, seperti yang dia akui dalam wawancara dengan Guillem Balague. Setelah musim perdananya yang gemilang, Allardyce pun tidak ragu memberinya kontrak tiga tahun dan kepindahan permanen dari Real Madrid.

Saat menandatangani kontrak dengan Bolton itu, Campo sadar betul dirinya meninggalkan klub terbesar di dunia. Belum lagi saat waktu membawanya ke masa-masa sulit, di mana Bolton diasuh oleh pelatih baru, Carlos Queiroz – mantan tangan kanan Sir Alex Ferguson di Man United –, yang membuatnya harus bekerja keras untuk berjuang kembali meyakinkan sang pelatih baru untuk satu tempat di barisan pertahanan Wanderers. Setelah penandatanganan kontrak baru, dia pun memilih untuk menetap di kota pabrik tua Lancashire, yang kemudian menjadi rumah spritiual bagi dirinya. Hubungan asmara Bolton dan Ivan Campo pun benar-benar baru dimulai saat itu.

Pengorbanan meninggalkan klub terbesar dunia seperti Real Madrid dan menetap di kota tua Lancashire itu terbayar lunas. Dengan total 160 penampilan di semua kompetisi, dan 12 gol yang seringkali penting, membuat empat setengah musim di Bolton menjadi kenangan termanis dalam karirnya. Dari awal kedatangan sudah mengundang banyak skeptis dari para pengamat, karena bek tengah tradisional sepertinya datang ke Liga Inggris yang mengutamakan kecepatan, hingga menjadi seorang pemain kunci untuk Bolton, membuat para penggemar tidak pernah melupakan sosoknya.

Para penggemar Bolton tidak akan pernah melupakan drama-drama yang disuguhkan oleh Ivan Campo ketika duel dengan para pemain lawan. Dia sering terjatuh dan meringis kesakitan dan memang itu bukan tindakan terpuji, tapi pada akhirnya dia seringkali lolos dan lawan dinyatakan melakukan pelanggaran. Sebuah aksi yang sering menyelamatkan Bolton dari lawan-lawan kuat mereka. Aksinya itu membuat para penggemar Bolton tersenyum lebar ketika mengingat-ingat momen tersebut.

Selain itu, para fans tidak akan melupakan umpan terobosan luar biasa Ivan Campo dalam gol kedua Nicolas Anelka yang membuat Bolton menang 3-1 atas Arsenal. Belum lagi saat dia berlari setelah mematahkan jebakan offside untuk mengejar umpan sempurna dari Jay-Jay Okocha yang membuat West Ham tertunduk malu di kandangnya sendiri. Banyak sekali sebenarnya kenangan manis di benak para penggemar Bolton tentang kehebatan Ivan Campo sebagai seorang pemain.

Perjalanan luar biasa ke babak final Piala Carabao tahun 2003 juga disebut-sebut sebagai era terbaik dalam sejarah klub. Yang membuat media-media kala itu, menyoroti bakat besar Okocha, setelah dua tendangan bebasnya kontra Aston Villa di leg pertama semifinal Carabao Cup. Namun kelincahan dan kecerdasan pemain asal Nigeria itu memang menutupi kualitas Ivan Campo, sama seperti Fernando Morientes dan Raul Gonzalez ketika dirinya berkontribusi besar untuk Real Madrid di final Liga Champions 2000 lalu.

 

Legenda yang Tidak Diberi Perpisahan yang Tepat di Bolton

Dalam wawancaranya dengan Balague di kemudian hari jauh setelah dia meninggalkan Bolton, diketahui bahwa Ivan Campo tidak diberikan kesempatan yang tepat untuk mengucap selamat tinggal kepada para penggemar.

Hal tersebut dikarenakan perselisihan yang terjadi antara sang bek tengah dengan manajer baru Bolton kala itu, Gary Megson. Hal inilah yang membuatnya memutuskan pergi dan bergabung dengan Ipswich Town, sebuah klub gurem di barat laut Inggris.

Persinggahan singkat selama 17 pertandingan bersama Ipswich merupakan catatan kecil yang tidak bisa disandingkan dengan pencapaiannya sepanjang karirnya. Terutama jika mengingat empat setengah tahunnya bersama Bolton, dia selalu Bahagia, tersenyum dan mendapat kasih sayang yang besar dari para penggemar.

Dia pun memantapkan hatinya untuk pergi ke Siprus dan bergabung dengan AEK Larnaca. Sebuah tempat yang mungkin bisa dikatakan jadi pilihan terbaik untuk para pemain yang sudah mulai memasuki masa-masa akhir karirnya.

Namun dari bermain di Bolton lalu Ipswich yang merupakan kota dengan iklim hujan dan lembab, kini berkarir di Siprus, yang terik sinar matahari luar biasa, membuat Ivan Campo hanya bermain delapan kali sebelum memutuskan pensiun di usia 36 tahun, musim panas 2010.

Musim panas tersebut menjadi akhir dari karir panjang Ivan Campo, seorang bek tengah yang kuat secara fisik, namun gaya berlari yang kurang bagus, dengan rambutnya yang afro-gondrong, membuat saya, mungkin sebagian besar para penggemar Bolton tertawa melihatnya. Tapi dengan segala pesimisme yang ada, dia telah berhasil mengambil hati para fans Bolton dan akan selalu terkenang untuk selamanya. Para fans Bolton, hingga hari ini, bisa dibilang masih jatuh cinta dan merindukan sosok Ivan Campo.

BERITA TERKAIT