Jalan Panjang Fotografi dan Sejarahnya di Indonesia

Senin, 20 Desember 2021, 14:13 WIB
83

Dewasa ini kita dapat melihat bahwa fotografi merupakan ranah yang begitu digandrungi masyarakat Indonesia. Berbagai kalangan hidupnya terus-menerus bersinggungan dengan bidang ini. Masyarakat awam yang sekedar memotret demi kepentingan dokumentasi pribadi saja sudah termasuk kegiatan bertema fotografi.

Bahkan perkembangan fotografi di Indonesia sudah masuk ke level profesional. Cukup banyak orang yang hidupnya berkecukupan harta berkat menekuni profesi sebagai fotografer. Tak dapat dipungkiri, sekarang fotografer jadi salah satu jenis profesi yang paling dicari dengan upah lumayan tinggi, seiring demam bisnis digital.

Semua yang tampak di masyarakat modern tentu melalui proses dan perjalanan panjang. Ada pula momen pertama kali kala dahulu fotografi memasuki peradaban manusia Indonesia. Maklum, fotografi secara sejarah umum bukanlah konsep yang ditemukan di Indonesia.

Pemikiran tentang fotografi sejatinya sudah mencuat sejak era 400 sebelum masehi (MS). Bukti otentik sejarahnya dapat dilihat dari tulisan-tulisan bangsa China kuno serta beberapa pemikiran Aristoteles. Namun, pada titik ini fotografi cuma masih sebatas konsep, belum sampai ke tahap untuk benar-benar direalisasikan.

Peradaban manusia harus menunggu sangat lama sampai ada yang mampu menciptakan kamera, alat untuk menjadikan nyata cikal-bakal konsep fotografi. Soal kamera pertama di dunia, pencetusnya ialah Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Haytham atau yang beken dengan panggilan Alhazen. Secuil informasi tambahan, Alhazen latar belakangnya merupakan ilmuwan yang memeluk agama Islam alias seorang Muslim.

Alhazen, Ilmuwan Muslim Pembuat Kamera Pertama di Dunia - Halaman 3 -  Tribunjogja.com

Karya Alhazen menemukan kamera terjadi sekitar abad ke-10 silam. Dia berhasil mengembangkan alat yang dia beri nama kamera obsura. Sederhananya, kamera ini berupa kamera lubang jarum yang masih amat sederhana. Meski belum terlalu canggih, hasil penemuan Alhazen setidaknya sudah bisa dipakai guna keperluan fotografi dasar, yakni menangkap sebuah gambar ke bidang datar yang memanfaatkan sirkulasi cahaya.

Tentu upaya Alhazen menemukan kamera tidak langsung selesai dalam sekali berpikir dan kerja. Dia harus melewati banyak percobaan serta kegagalan terlebih dahulu hingga akhirnya menemui keberhasilan. Ia berulang kali menguji coba teknologi optik rancangannya, didukung oleh eksperimen bertajuk “Al-Bayt al-Muthlim” atau yang berarti ruang gelap.

Hasil kerja Alhazen selanjutnya ia tulis dan rangkum menjadi setumpuk makalah. Isi makalahnya tentu menjabarkan secara terperinci perihal sistem kerja kamera buatannya hingga mampu menangkap gambar. Walau begitu, Alhazen dengan rendah hati menolak label khalayak yang menyebutnya sebagai penemu kamera.

Bentuk penolakan Alhazen dituangkan dalam tulisan bahasa latin “Et nos non inventimus ita”. Alhazen menegaskan bahwa dia bersama timnya tidak menemukan kamera. Mereka hanya bekerja mengembangkan konsep fotografi yang sudah lebih dulu ada.

Lebih jauh, Alhazen menerangkan bahwa segala konsep perihal ide membuat kamera sudah lebih dulu dibuat oleh Mozi yang merupakan seorang filsuf asal China. Alhazen juga memanfaatkan teori-teori mengenai optik yang dikembangangkan Aristoteles. Kedua literasi tersebut tinggal Alhazen gabungkan dan telusuri lebih jauh untuk merancang kamera pertama di dunia.

Apa yang Alhazen buat, pada kemudian hari terus mendapat pengembangan dari beberapa ilmuwan dan tokoh besar. Mulai dari Albertus Magnus, Georg Fabricius, Daniele Barbaro, Wilhelm Homberg, hingga Thomas Wegwood, semuanya silih berganti di zamannya masing-masing membantu meneliti lebih jauh sekaligus mengembangkan kualitas teknologi kamera. Tapi sejarah puncaknya mungkin dipegang oleh Nicéphore Niépce, ilmuwan asal Prancis yang berhasil mencetak foto permanen pertama di dunia pada 1822.

Niépce pada perjalanannya ingin mengembangkan temuannya menjadi produk komersial. Akibat menemui kendala yang mana proses eksposur masih terlalu lama, bahkan bisa berhari-hari, Niépce coba meminta bantuan rekannya, Louis Daguerre. Pasca Niepce meninggal pada 1833, upaya ini hanya diteruskan Daguerre seorang.

Tahun 1838, Daguerre sukses menciptakan kamera yang proses kerjanya jauh lebih cepat. Karya Daguerre setahun kemudian diakui dunia sebagai penemuan sensasional. Sejak temuan Daguerre diresmikan, mulai banyak bermunculan fotografer profesional dari banyak negara.

Dua fotografer Indonesia raih penghargaan HIPA - ANTARA News

Masuknya Fotografi ke Indonesia

Indonesia benar-benar nihil peran dalam proses awal penemuan fotografi maupun kamera. Kedua hal itu baru masuk ke Indonesia pada 1840, atau dua tahun setelah Louis Daguerre menyelesaikan temuannya. Subjek yang mengantarkan fotografi masuk ke Indonesia pertama kali ialah Jurian Munich, fotografer asli asal Belanda.

Sebenarnya Munich bukanlah benar-benar seorang fotografer profesional. Ia sejatinya berprofesi sebagai petugas medis dari pemerintah kolonial Belanda yang sedang menjajah Indonesia. Tahun 1840, Munich mendapat penugasan spesial dari atasannya untuk mendokumentasikan berbagai pemandangan alam di Indonesia.

Munich selanjutnya melaksanakan tugas itu memakai metode hasil temuan Louis Daguerre. Ia lantas berkeliling Nusantara, memotret segala jenis tanaman dan tumbuhan yang mendiami Bumi Pertiwi. Semua hasil fotonya kelak digunakan pemerintah Belanda dalam upaya memantau perkembangan kondisi alam Indonesia.

Catatan tambahan, sebelum Munich beraksi, tak ada satu pun foto yang merekam bagaimana kondisi Indonesia zaman dulu. Dokumentasi era pra-Munich selalu menggunakan lukisan tangan. Sejak Munich bertugas, barulah Indonesia mengenal dan ditulari fotografi serta dokumentasi yang menggunakan kamera.

Setelah Munich, memang Belanda memerintahkan lebih banyak lagi serdadunya untuk menguasai fotografi. Namun Munich tetap menjadi pegawai Belanda yang punya kemampuan fotografi paling menonjol. Salah satu karya fotografi sensasional milik Munich kala dia berhasil memotret keindahan alam Jawa Tengah. Foto Munich soal panorama Jawa Tengah berjudul “Kali Madioen”.

Pergerakkan Munich selaku pionir fotografi di Indonesia selanjutnya diteruskan orang Belanda lainnya, Adolph Schaefer. Geliat Adolph Schaefer dimulai pada 1844 saat ia pertama kali diimpor oleh pemerintah kolonial Belanda untuk bertugas di Indonesia. Fokus Adolph Schaefer dalam penugasannya masih seperti Munich, yakni memotret berbagai fenomena indah di Pulau Jawa.

Perkembangan fotografi masuk ke babak yang lebih masif ketika kakak-beradik asal Inggris, Albert Walter Woodbury dan James Page, mendaratkan kakinya di Indonesia pada 1857. Mereka berdua disebut-sebut sebagai tokoh yang membawa kemajuan signifikan perihal sistem pendokumentasian lewat foto. Karya Albert dan Page tidak hanya menangkap keindahan alam saja. Keduanya juga bekerja memotret untuk keperluan dokumentasi acara-acara upacara adat, kehidupan suku-suku di kawasan pedalaman, hingga memotret bangunan-bangunan penting nan bersejarah.

Kassian Cephas, Pionir Fotografi Profesional Pribumi » Boleh Merokok

Fotografer Pertama Asli Indonesia

Fotografi memang masuk ke Indonesia sejak tahun 1840. Namun eksistensinya kala itu terus-menerus didominasi oleh orang-orang dari bangsa Eropa, khususnya Belanda. Tidak ada satu pun juru foto yang asli dari Indonesia. Belanda yang sedang menjajah Indonesia, seakan enggan memberikan kesempatan kepada bumiputera untuk mengenal kemajuan teknologi fotografi.

Namun ada secuil catatan sejarah yang menjelaskan tentang fotografer pertama asli Indonesia. Namanya ialah Kassian Cephas. Pria yang lahir pada 15 Januari 1845 ini melalui masa tumbuh besarnya dengan didikan dari orang Belanda. Ia menjadi murid bagi tokoh penyebar agama Kristen di Pulau Jawa, Christina Petronella Phillips-Steven.

Pengalamannya dekat dengan orang Belanda, berlanjut ketika Kassian tumbuh dewasa. Tahun 1960-an, Kassian tak lagi mengikuti Christina dan memilih menetap di Yogyakarta yang merupakan tanah kelahiranya. Hidup di Yogyakarta, Kassian mengais rezeki dengan cara bekerja untuk seorang tentara Belanda berpangkat Letnan Dua, Simon Willem Camerik.

Selama berada di bawah naungan Simon, Kassian dipercaya menjadi juru foto pribadi. Titik inilah yang membuat Kassian akhirnya bisa mengenal fotografi dan jadi fotografer pertama di Indonesia. Mengingat fotografi masih berupa barang baru baginya, Kassian berusaha giat mempelajari segala tekniknya agar benar-benar mahir di bidang itu.

Saking semangatnya belajar fotografi, Kassian sampai mau secara khusus berguru dari seorang fotografer profesional asal Belgia yang tinggal di Jawa Tengah, Isidore van Kinsbergen. Kassian mengambil ‘kursus’ tersebut selama kurang lebih 12 tahun lamanya, sedari 1863 sampai 1875.

Setelah Kassian menikah, ia dikaruniai empat orang anak. Pada kemudian hari, buah hatinya yang nomor dua, Sem, dipercaya Kassian untuk menjadi asisten pribadi saat menjalankan tugas juru foto. Sem otomatis menuruni kemampuan ayahnya perihal fotografi.

Karier fotografi Kassian pernah menduduki jabatan juru foto keraton Yogyakarta. Salah satu karya fotografi Kassian kala ia memotret area Taman Sari pada 1884. Bahkan Kassian turut memakai kemampuan fotografinya guna menyalurkan minatnya di bidang penelitian. Ia sempat masuk organisasi arkeologi dan mendokumentasikan potret penampakan Candi Prambanan serta Candi Borobudur.

Ada sebuah momen penting yang dipotret Kassian kala menjalankan tugasnya sebagai fotografer keraton. Ia dengan cakap mendokumentasikan momen kunjungan Raja Siam Chulalongkorn. Berkat aksinya, Raja Siam menghadiahi Kassian batu permata yang sangat indah.

Pihak Belanda ternyata turut mengakui kehebatan karya-karya fotografi Kassian. Kerajaan Belanda pernah menjatuhkan penghargaan spesial kepada Kassian bertajuk Orde van Oranje-Nassau. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi Kerajaan Belanda atas kinerja Kassian yang selalu lihai memotret keindahan kebudayaan masyarakat Jawa.