James Milner, Gelandang Liverpool yang Gaya Mainnya Bagai Sebuah Mesin

Kamis, 02 Desember 2021, 01:43 WIB
97

Jika kalian salah satu fans yang berpendapat bahwa James Milner pemain biasa-biasa atau kurang penting di lapangan hijau, kalian harus hati-hati. Karena setelah baca artikel ini, pendapat tersebut bisa berubah, bahkan kalian akan merasa kagum sampai geleng-geleng kepala.

Musim 2021/2022 merupakan tahun ke-20 Milner sebagai pesepak bola profesional. Selama itu pula, dia sudah membuktikan profesionalisme, kebugaran, keserbagunaan, dan batas fisiknya yang di atas rata-rata pemain pada umumnya. Pada saat musim panas 2021 kemarin, para pemain Liverpool yang tidak bertugas membela tim nasional melapor ke klub untuk tes kebugaran menyambut pra-musim. Dengan beberapa penilaian seperti berlari, mengukur daya tahan stamina, dan sebagainya, Milner benar-benar melampaui semuanya.

Kita mundur sebentar saat dia memainkan penampilan debut untuk Leeds United di usia belia, 16 tahun, menjadi bukti bahwa dirinya memang pemain berbakat. Bahkan di musim pertama itu, dirinya sering menjadi tumpuan timnya saat itu. Setelah itu, dia pindah ke Newcastle, Aston Villa, lalu Manchester City dan sekarang, Liverpool, di mana dua klub terakhir menuntut dirinya beradaptasi di level tertinggi, dengan para pemain setim yang jauh lebih muda.

Lantas apa yang membuat Milner punya karir panjang, di saat para pemain pada umumnya, yang tengah berusia 30 tahunan, sudah menunjukkan penurunan fisik dan juga karir. Kita akan bahas semuanya dalam artikel ini.

Dengan sepak bola terus maju seiring perkembangan zaman, para pemain muda yang bermunculan juga sudah ditopang dengan skill para pelatih profesional. Namun, Milner tidak lekang oleh zaman dan masih bisa membuktikan diri bisa beradaptasi, baik dengan kemunculan para wonderkid atau pun perkembangan permainan dari waktu ke waktu. Bahkan ada beberapa pemain muda yang muncul bakatnya berkat pelatihan modern, dengan teknologi kecerdasan buatan, seperti robot.

 

James Milner Bukan Robot

James Milner bukan robot, tapi jangan salah, dia adalah mesin. Untuk melakukan apa yang dia capai dalam permainan sampai sekarang, membutuhkan kemampuan untuk bermain dalam sistem dengan rekan satu tim yang sesuai dengan kreatifitas.

Dia mampu bermain di level tertinggi di era yang berbeda selama dua dekade. Dia bermain untuk pelatih yang semuanya memiliki filosofi dan tuntutan berbeda, yang menyoroti tidak hanya keserbagunaannya, tetapi juga daya tahan dan kecerdasannya sebagai pemain dan sebagai seorang profesional. Ada pemain kreatif yang tidak pernah bisa memiliki karir panjang seperti dirinya. Bukan kebetulan bahwa Milner telah mencatatkan hampir 800 penampilan di klub profesional dan telah bermain untuk negaranya sebanyak 61 caps.

Apa yang membuat kontribusi Milner begitu berharga adalah bahwa asetnya sebagai pemain melayani tim dan manajernya dengan baik sebelum dia mendapatkan haknya. Dan dia mampu melakukan ini selama dua dekade di level tertinggi, dari minggu ke minggu, dari tahun ke tahun.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah video beredar di media sosial tentang Milner di lapangan Etihad dengan staf pelatih Manchester City saling membantu. Sang pemain menendang bola lintas lapangan yang akurat dan masuk ke dalam kantong bola saat sesi latihan sudah berakhir. Ada juga klip Milner yang benar-benar melakukan tekel keras dengan wajah putus asa untuk memberikan semuanya untuk tim secara kolektif. Dia memang kuat dalam tekel, dia berlari tanpa henti membayangi para lawan, tugasnya hanya satu, membuat pekerjaan rekan satu timnya lebih mudah. Dan kontribusinya selama menjalankan permainan sering tidak ditangkap oleh kamera atau bahkan luput dari perhatian para pengamat.

Dari mengalahkan Neymar di sebuah pertandingan Liga Champions hingga mengeksekusi penyelamatan tepat di garis gawang secara maksimal, hingga naik-turun sepanjang 90 menit – inilah sepak bola yang kita semua sukai.

Dalam sepak bola dewasa ini, inflasi gaji, biaya transfer dan mungkin berpengaruh besar pada ego besar para pemain, membuat mereka kebanyakan cenderung mengabaikan kewajibannya sebagai pemain. Namun Milner menganggap pekerjaannya sebagai pemain profesional sebagai menghadiri sebuah pesta.

“Kamu tidak pernah menyesal meninggalkan pesta lebih awal, tetapi yang bikin menyesal adalah datang terlambat,” ucap Milner kepada media suatu waktu. Milner, seperti pendukung lainnya dalam permainan, tidak menerima begitu saja situasi atau ketertinggalan. Oleh karena itu, dia terbiasa setiap minggunya, untuk melakukan persiapan, diet, kebugaran, dan studi tentang calon lawan dengan sangat serius.

 

Milner Tidak Sebesar Messi dan Ronaldo, tapi…

Meskipun Milner adalah salah satu pria utilitas yang paling dikenal dan menonjol dalam sepak bola Inggris, namun di dunia, ada pemain lain seperti Ronaldo dan Messi yang telah memainkan peran ini – jago di usia 30an. Oleh karena itu, para pemain seperti Milner dapat memicu perdebatan menarik dalam hal perkembangan pesepakbola.

Apakah lebih baik menjadi spesialis yang menonjol atau pemain serba bisa yang agnostik sistem. Yang artinya Ketika kebutuhan muncul untuk mengisi posisi tertentu, menyesuaikan dengan taktik lawan, menjadi jembatan antara pertahanan dan serangan, pemain utilitas serbaguna seperti Milner adalah solusi dalam arti yang paling harfiah.

Apa yang membuat para pemain serbaguna begitu istimewa bukanlah performa bernilai tinggi di setiap pertandingan. Namun seringkali memang tidak terlihat atau jauh dari lampu sorot lapangan. Meski begitu, jika kalian atau para pemain lainnya, yang ada di sekitarnya dan mempelajari permainan profesional, tahu betul bagaimana seorang pemain serbaguna sangat menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang. Menjaga kondisi tubuh lewat makanan sehat, latihan rutin dan tahu betul batas fisiknya, adalah kiat-kiat untuk menjadi seperti Milner.

Bahkan kinerja mereka memang jarak mendapatkan sorotan, bonus kemenangan, atau penghargaan individu seperti pemain mega bintang lainnya. Yang mereka lakukan semuanya hanyalah semata-mata untuk kepentingan tim. Seperti yang sekarang sedang dirasakan oleh Liverpool, Milner benar-benar menjadi contoh dan tauladan baik untuk para pemain yang lebih muda. Bahkan tidak jarang dirinya disebut Boring Milner.

“Milner itu orangnya membosankan, begitu-begitu saja, tapi dia pemain hebat. Pemain yang paling tidak dianggap, tapi sebenarnya punya kontribusi lebih besar dibanding bintang lainnya. Dia itu orangnya boring, kita semua tahu itu, karena yang dia lakukan hanyalah latihan, kerja, latihan. Jika kalian satu tim dan berlatih bersamanya, akan sadar seberapa hebat pemain satu ini,” ucap Danny Ings, yang sempat membela Liverpool beberapa musim lalu.

Figur lainnya yang mengakui keserbagunaan Milner di atas lapangan adalah mantan pelatihnya di Aston Villa, Martin O’Neill. Salah satu pelatih yang malang melintang di dunia kepelatihan sepak bola Inggris itu mengatakan bahwa semua manajer pasti tidak menolak jika punya 11 pemain seperti Milner.

“Dia memang tipe pemain yang selalu tampil bagus dan konsisten untuk timnya. Saat James pergi dari Aston Villa untuk mengembangkan karirnya, saya sangat sedih, dia tidak tergantikan. Tapi saya senang dengan karir dan semua penghargaan yang sudah dia capai sejauh ini,” kata O’Neill kepada Goal pada tahun 2020 lalu.

Pada saat musim 2019/2020 di saat Liverpool mengakhiri puasa gelar Liga Inggris selama 40 tahun, sosok Milner benar-benar bekerja keras untuk tim. Dia bahkan mencatat 22 penampilan di Liga Inggris dengan torehan dua gol dan dua assist. Tidak hanya itu, dia dimainkan di berbagai posisi oleh Jurgen Klopp. Mulai dari gelandang tengah, gelandang bertahan, bek kiri, bahkan beberapa menit dalam pertandingan dia digeser ke depan, sebagai winger.

Kini dirinya sudah berusia 35 tahun dan tampaknya kata ‘pensiun’ hanya tinggal menunggu waktu. Namun pendapat yang tampaknya sudah mungkin dibilang fakta sahih, dibantah oleh Jurgen Klopp pada Oktober 2021 kemarin.

“Bagi kebanyakan pemain, usia sepertinya memang tinggal pensiun saja. Tapi fisiknya sangat kuat, saya tidak tahu dia mau bermain sampai kapan, tapi dia akan selalu di sini, bermain dan membantu kami. Tidak ada kata stop bagi dirinya,” kata Klopp di situs resmi Liverpool.

Jika kata rekan-rekan sesama pemain profesional Milner adalah pribadi yang membosankan, karena cuma kenal latihan dan bekerja keras, tapi nyatanya kontribusinya untuk Liverpool selalu diharapkan. Musim ke-20, Milner bukan robot, tapi selayaknya sebuah mesin.