Jatuh Bangun Persibo Bojonegoro: Prestasi Hingga Bikin Malu di Kompetisi Asia

Rabu, 01 Desember 2021, 14:53 WIB
97

Bagi para fans sepak bola yang sudah mengikuti perhelatan bal-balan nasional sejak lama, mungkin sudah tidak asing dengan klub bernama Persibo Bojonegoro.

Persibo merupakan klub yang berbasis di kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dan telah berdiri sejak 12 Maret 1949. Klub dengan julukan Laskar Angling Darma ini bermarkas di Stadion Letjen H. Soedirman yang berkapaistas 20 ribu penonton.

Persibo sempat mampu unjuk gigi pada era 2000-an. Mereka menapaki jalan dari kompetisi kasta bawah hingga kasta teratas. Gelar pertama mereka dapatkan pada tahun 2004 yang mana pada saat itu, mereka merengkuh gelar juara Divisi Dua Liga Indonesia atau kompetisi kasta keempat dalam piramida sepak bola Indonesia. Jelas saja, gelar juara membuat mereka otomatis promosi ke Divisi Satu.

Tiga tahun Persibo berkutat di Divisi Satu, hingga akhirnya pada 2007, gelar juara berhasil diraih sekaligus promosi ke Divisi Utama.

Mereka hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk dapat promosi ke kompetisi kasta teratas, yakni Liga Super Indonesia, setelah pada 2009/10 mereka jadi juara Divisi Utama.

Namun, dari semua itu, salah satu yang mungkin dikenang dalam perjalanan sejarah Persibo Bojonegoro adalah pada dekade 2010-an. Menarik untuk kembali melihat kisah masa lalu Persibo ini, apalagi mereka sempat tampil di kompetisi level Asia atau tepatnya Piala AFC 2013 silam.

 

Kejutan Persibo di Piala Indonesia

Sejatinya Persibo Bojonegoro sejatinya sudah mengikuti ajang Piala Indonesia atau Copa Dji Sam Soe sejak tahun 2005. Sementara itu, penampilan mereka mengalami peningkatan sejak musim 2008/09 yang mana pada saat itu berhasil menembus babak perempatfinal.

Setahun kemudian, pencapaian mereka mundur satu langkah karena hanya mampu sampai pada babak 16 besar. Namun, kejutan terjadi pada Piala Indonesia 2012 saat itu mereka berhasil keluar sebagai juaranya.

Padahal pada saat itu ada Semen Padang, Arema, Persebaya, hingga PSM Makassar yang sangat diunggulkan.

Langkah Persibo di Piala Indonesia dimulai di putaran ketiga dengan bertemu sesama tim asal Jawa Timur, yakni Persema Malang. Hasil imbang 1-1 mewarnai pertemuan leg pertama, kemudian di leg kedua Persibo menyikat Persema dengan skor 3-1. Persibo pun lolos ke perempatfinal berkat keunggulan agregat 4-2.

Di babak perempatfinal, lagi-lagi bertemu dengan klub asal kota Malang, kali ini adalah Arema. Laga leg pertama berlangsung di Stadion Gajayana, 6 Juni 2012 dan skor kacamata menghiasi akhir pertandingan.

Persibo memastikan tiket lolos ke semifinal setelah di leg kedua mereka menyegel kemenangan dengan skor yang sangat tipis, yakni 1-0, berkat gol yang dicetak oleh Teguh di menit 42’.

Persibo tampak tidak begitu kesulitan dalam melakoni laga semifinal melawan PPSM Magelang. Di leg pertama yang digelar 20 Juni 2012 di Stadion Madya, Persibo menang dengan skor 1-2. Dan di leg kedua, kemenangan 3-1 diraih Persibo sekaligus memastikan lolos ke final dengan agregat 5-2.

Persibo berjumpa dengan Semen Padang dalam perebutan gelar juara dalam laga yang digelar di Stadion Sultan Agung, 14 Juli 2012. Ketatnya gengsi membuat pertandingan berjalan sengit. Tidak ada gol yang tercipta ketika kedua tim memasuki ruang ganti pada jeda babak pertama.

Momen besar akhirnya didapat oleh Persibo pada menit ke-49 setelah sang gelandang Dian Irawan membukukan angka sekaligus menjadi pencetak gol semata wayang pada laga final tersebut.

Keberhasilan Persibo menjadi juara di Piala Indonesia sekaligus membuat mereka menjadi wakil Indonesia di ajang Piala AFC 2013. Semen Padang yang menjadi runner-up juga dapat jatah untuk tampil di kompetisi Asia level dua tersebut di tahun itu.

 

Masalah Finansial dan Jadi Bulan-bulanan di Piala AFC

Piala AFC tahun 2013 tentunya menjadi kesempatan perdana bagi Persibo Bojonegoro tampil di kompetisi level Asia. Namun sayangnya, mimpi buruk justru menghampiri klub kebanggaan masyarakat kota minyak tersebut.

Tergabung di Grup F bersama New Radiant (Maladewa), Yangon United (Myanmar), dan Sunray Sun Hei (Hong Kong), Persibo hanya numpang lewat di turnamen tersebut karena mereka menempati posisi buncit tanpa meraih kemenangan dan kebobolan 34 gol. Mereka hanya membukukan lima gol dan meraih satu poin.

Noda hitam yang ditorehkan Persibo tidak cukup sampai di situ. Mereka bahkan bertindak tidak sportif dalam salah satu pertandingan babak grup tersebut, tepatnya di pertemuan kedua melawan Sun Hei.

Laga tersebut berlangsung di Stadion Mang Kok, Hong Kong, 24 April 2013 silam. Menyambut laga ini, Persibo hanya membawa 12 pemain karena terdapat tiga pemain yang harus absen akibat akumulasi kartu. Otomatis, hanya ada satu pemain tersisa di bangku cadangan.

Delapan gol sudah bersarang ke gawang Persibo Bojonegoro ketika pertandingan baru berusia 37 menit. Ketika babak kedua berjalan, lima pemain Persibo tumbang karena cedera sehingga memaksa wasit menghentikan jalannya laga. Hal ini berdasarkan aturan dari FIFA yang menyebutkan bahwa setidaknya tersisa tujuh pemain dari satu tim untuk laga tetap berlanjut.

Kubu Sun Hei menuding kelima pemain Persibo tersebut bertindak tidak suportif karena hanya berpura-pura cedera. Selain itu, isu-isu soal pengaturan pertandingan atau match fixing pun tidak luput jadi dugaan.

“Memalukan. Tidak ada yang percaya kalau mereka cedera. Mereka hanya tidak mau melanjutkan pertandingan. Ini tidak bisa diterima,” tutur kapten Sun Hei kala itu, Roberto Afonso Jr, dikutip dari South China Morning Post.

Masalah finansial memang sedang menghantui Persibo Bojonegoro kala tampil di Piala AFC 2013 kala itu. Salah penyebabnya karena para sponsor enggan menyuntikkan dananya ke kompetisi sepak bola Indonesia dikarenakan sedang carut marut akibat dualisme PSSI.

Akibat masalah finansial itu juga, skuat Persibo berangkat ke Hong Kong hanya satu malam sebelum pertandingan berlangsung. Persibo menunggu tiket pesawat ditanggung oleh PSSI.

Soal masalah finansial ini juga sempat membuat Persibo tampil tanpa adanya pemain cadangan ketika berlaga di kompetisi Liga Primer Indonesia (IPL) ketika menjamu Persepar Palangkaraya, 26 Maret 2013 silam.

Terkait adanya tudingan tidak sportif saat melawan Sun Hei, Komdis PSSI pun turun tangan untuk menginvestagasi. Pemain-pemain Persibo diwawancarai dan memang terbukti mereka hanya berpura-pura cedera. Hanya saja, soal adanya dugaan pengaturan skor tidak didalami lebih jauh.

Komdis PSSI pun pada akhirnya menjatuhkan hukuman berupa larangan bermain selama 2 tahun kepada empat pemain Persibo, yakni Wahyu Teguh, Tri Rahmad Bayu Andra, dan Eka Angger.

Kiprah itulah yang menenggelamkan nama Persibo. Apalagi, memang tidak ada kompetisi resmi yang bergulir pada tahun 2015 dikarenakan Indonesia atau dalam hal ini PSSI, dijatuhi sanksi FIFA berupa pembekuan segala aktivitasnya.

 

Kembali ke Kasta Bawah

Kiprah Persibo mulai dilupakan. Mereka kini harus kembali memulai segalanya dari awal. Sejak tahun 2017, Persibo tampil di Liga 3, yang mana merupakan kompetisi kasta terendah dalam sepak bola Indonesia.

Para suporter Persibo yang dikenal dengan sebutan Boromania pun mendesak agar pemerintah daerah mau ikut campur dalam mempertahakan eksistensi klub.

Hanya saja, hal tersebut terhalang karena Persibo sendiri sudah berbentuk PT (Perseroan Terbatas) sehingga dianggap sudah profesional. Pemerintah tidak bisa menyuntikkan dananya. Sebab, kalau dipaksa akan ada sejumlah pelanggaran terjadi, salah satunya korupsi.

Satu hal yang pasti, apabila Persibo memang ingin bangkit dan kembali unjuk gigi di panggung sepak bola Indonesia, harus mencari investor baru yang siap mengucurkan dananya. Sementara pemerintah hanya bisa dijadikan sebagai rekanan.