Jejak Laga Internasional Persib: Lawan Tim India Hingga Dipuji Fabio Capello

Rabu, 01 Desember 2021, 15:03 WIB
106

Persib Bandung adalah klub kebanggaan masyarakat Tanah Priangan yang sudah memiliki reputasi top sejak dulu kala. Kekuatan Persib sudah diperhitungkan di kancah persepak bolaan tanah air yang mana hal ini dibuktikan dari total tujuh gelar juara yang mereka raih. Lima trofi dari kompetisi Perserikatan (1937, 1959-91, 1986, 1989/90, dan 1993/94). Sementara itu dua trofi lainnya diraih ketika kompetisi era Liga Indonesia (1994/95 dan 2014).

Klub yang berdiri pada 14 Maret 1933 ini juga menjadi salah satu dari tujuh klub yang melahirkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI pada 19 April 1930, federasi yang menjadi induk persepak bolaan di Indonesia. Saat itu, Persib masih bernama Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB).

Dengan begitu, Persib sudah tidak diragukan lagi punya sejarah yang panjang dalam mewarnai perjalanan sepak bola Indonesia.

Hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Persib sehingga bisa berkesempatan untuk menantang klub-klub dari luar negeri

 

Tim-tim Asia Pertama Dijajal

Mengutip dari buku “Persib Undercover: Kisah-kisah yang Terlupakan (2014)”, kesempatan Persib untuk bertanding melawan klub luar negeri bisa ditilik sejak masa Indonesia masih berada di bawah pendudukan kolonial Belanda atau tepatnya tahun 1937.

Saat itu, NIVU selaku “PSSI bentukan Belanda” menjalin kerja sama dengan PSSI dengan cara menjadi promotor untuk mendatangkan klub dari luar negeri. Kebetulan juga, saat itu NIVU yang diakui sebagai anggota FIFA. Salah satu calon lawan Persib adalah klub asal Hong Kong, Nan Hwa. Sayangnya, laga tersebut tidak jadi dilaksanakan dikarenakan pihak Persib keberatan karena harus menyetorkan pendapatan kotor sebesar 5 persen kepada NIVU. Persentase tersebut dianggap terlalu besar sebab sumber pendapatan Persib berasal dari iuran pemain dan karcis.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Indonesia sudah meraih kemerdakaan, Persib akhirnya menjalani laga internasional perdananya dengan melawan klub asal India bernama, Aryan Gymkhana, pada bulan Mei tahun 1952. Laga ini berlangsung di Stadion Sidolig.

Masih dari sumber buku yang sama, klub berjuluk Maung Bandung ini menang 4-1 dalam permainan yang diwarnai dengan hujan deras sehingga lapangan jadi tergenang. Empat gol Persib dicetak oleh Tanoe dan Freddy Timisela yang masing-masing membukukan dua angka.

Selang sebulan kemudian, Persib meladeni perlawanan Nan Hwa yang saat itu sedang menjalani tur di Indonesia. Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Sidolig itu, Persib menahan imbang tamunya itu dengan skor kacamata.

Selain Persib, tim yang dilawan oleh Nan Hwa antara lain ada Persija B, BBSA Tama, Persebaya, hingga Persis.

 

Mulai Lawan Tim dari Benua Biru

Awal-awal dekade 1950-an, bisa dibilang Persib sangat sering bertanding melawan klub dari luar negeri. Setelah melawan tim dari Benua Asia, pada Agustus 1953, giliran Persib melawan klub dari Benua Eropa.

Negara yang pernah dipimpin oleh Marshall Josip Broz Tito itu melakukan tur ke Indonesia. Persib menjadi tim pertama yang ditantang oleh Yugoslavia yang saat itu turun dengan skuat B. Laga ini berlangsung di Stadion IKADA, Jakarta.

Mengutip data dari rsssf, Persib yang saat itu berisikan materi pemain macam Aang Witarsa, Freddy Timisela, dan Isak, masuk ruang ganti jeda babak pertama dalam keadaan tertinggal 1-5. Hingga akhirnya, kalah dengan skor 1-8.

Satu-satunya gol hiburan Persib itu dicetak oleh Jachja lewat titik penalti di menit 43’.

Seara keseluruhan, Yugoslavia mampu menyapu bersih setiap pertandingan di Indonesia dengan kemenangan. Mereka menang atas Timnas Indonesia 2-0, Jawa Tengah XI 7-0, Persebaya 2-0, dan Persija 3-2.

Dua tahun setelah melawan Yugoslavia atau tepatnya pada bulan Juli 1955, giliran tim dari Austria, yakni SV Austria Salzburg yang bertamu. Saat ini, klub tersebut sudah berganti nama menjadi RB Salzburg dan pernah dibela oleh bintang muda Erling Haaland pada 2009-10.

Dalam pertandingan yang digelar di Stadion IKADA, Jakarta dan menyedot perhatian sejumlah menteri serta 40 ribu penonton tersebut, Persib kalah 0-3.

 

Beri Perlawanan Sengit ke Juara Prancis dan Finalis Liga Champions

Setelah itu, pada 27 Juni 1956, Stadion Siliwangi menjadi saksi digelarnya laga persahabatan antara Persib Bandung melawan klub dari Prancis bagian utara, Stade de Reims.

Stade de Reims datang sebagai tim terpandang. Mereka baru saja meraih gelar juara Liga Prancis musim 1954/55 yang mana ini menjadi gelar ketiga di liga domestik kala itu. Kemudian juga dengan status finalis Piala/Liga Champions 1955/56.

Pada musim perdana digelarnya kompetisi Piala/Liga Champions itu, Stade de Reims kalah dari Real Madrid dengan skor 3-4 di babak final.

Balik ke laga persahabatan antara Persib vs Stade de Reims di Stadion Siliwangi, Pangeran Biru cukup memberikan perlawanan.

Sebab, Persib sempat tertinggal 0-3, hingga akhirnya mampu memperkecil kekalahan lewat dua gol yang dicetak oleh Atik di menit 75’ dan Aang Witarsa lewat titik putih di menit 83’. Skor berakhir 3-2 untuk kemenangan untuk sang tamu dari Prancis.

Hasil tersebut tentu bisa dibilang lumayan dikarenakan Stade de Reims menurunkan nama-nama beken semacam Rene-Jean Jacquet di posisi kiper hingga Raymond Kopa di lini depan demi menghibur publik Siliwangi.

Sebagai tur, Stade de Reims bukan cuma menghadapi Persib dalam kunjungannya ke Indonesia, tapi juga klub lainnya. Kemenangan terbesar diraih klub berjuluk Les Roueges et Blancs itu saat menghadapi Persija. Mereka menang 11-1.

 

Dipuji Guus Hiddink dan Fabio Capello

Lompat ke akhir-akhir warsa 1980-an atau tepatnya pada 11 Juni 1987, Persib berhadapan dengan klub asal Belanda PSV Eindhoven di Stadion Siliwangi.

Pada saat itu, PSV dilatih oleh Guus Hiddink yang baru menjajaki masa-masa awal kariernya sebagai juru taktik. Kemudian, kala itu tim klub berjuluk Rood-Witten ini juga diperkuat oleh Ronald Koeman hingga Ruud Gullit.

Pertandingan tersebut tampak bagaikan perseteruan antara David vs Goliath. Meskipun Persib sebelumnya meraih gelar juara Perserikatan 1986, tetap dibuat tak berdaya oleh PSV yang sedang berada di masa jaya-jayanya. PSV menang enam gol tanpa balas.

Di laga itu, Gullit hanya mencetak sebiji gol. Penjagaan ketat yang dibrikan oleh Sukowiyono membuat sang striker berambut gimbal itu lebih sering memberikan umpan ketimbang gol.

Guus Hiddink tetap memberikan kredit kepada permainan yang ditunjukkan oleh Persib. Hanya saja, dia mengkritik soal gaya permainan Persib yang lebih sering memainkan umpan lambung, padahal lawannya memiliki postur yang tinggi.

Penampilan dari winger kanan Persib, yakni Uut Kuswendi juga tak lepas dari pujian Guus Hiddink. “Meski begtu, dia (Uut Kuswendi) masih harus mematangkan sejumlah teknik dasar dalam bermain sepak bola,” tutur pelatih asal Belanda 8 November 1946 silam tersebut kala itu.

Tim bergengsi lainnya yang pernah dihadapi Persib adalah AC Milan pada 4 Juni 1994. Pada tahun itu juga, Persib memastikan diri sebagai juara Perserikatan 1994. Ini menjadi tahun terakhir era Perserikatan karena setelahnya berubah format menajdi Liga Indonesia.

Laga antara Persib vs AC Milan berlangsng di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Persib Bandung yang diisi oleh Robby Darwis dan kawan-kawan mencoba meredam kekuatan permainan klub berjuluk Rossoneri tersebut.

Namun, akhirnya delapan gol bersarang ke gawang Persib yang dijaga oleh Aris Rinaldi. Sementara Persib tak mampu menceploskan bola satu pun.

Kendati kalah telak, pelatih yang menangani AC Milan saat itu, yakni Fabio Capello memuji permainan yang ditunjukkan oleh Yudi Guntara sebagai gelandang.

“Saya melihat pemain nomor punggung 5 mampu beberapa kali melakukan gerakan yang baik dan melewati beberapa pemain kami,” tutur pria berkebangsaan Italia tersebut saat itu.

Demikianlah sekelumit kisah Persib Bandung dalam menghadapi tim-tim dari luar negeri di masa lalu. Tentunya akan sangat menarik andaikan kesempatan tersebut datang tersebut datang kembali saat ini. Baik itu, klub luar negeri yang ingin menghadapi Persib, maupun tim Indonesia lainnya.