Jejak Persiwa Wamena, Si Badai Pegunungan yang Kini Telah “Hilang”

Kamis, 02 Desember 2021, 00:44 WIB
102

Persipura Jayapura memang sudah dikenal sebagai klub jagoan yang berasal dari Bumi Cenderawasih. Meski begitu, terdapat satu klub yang kiranya tidak boleh dilewatkan untuk dibahas, yakni Persiwa Wamena.

Persiwa bermarkas di kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua dan Stadion Pendidikan dijadikan sebagai kandangnya.

Terdapat beberapa pemain kenamaan yang pernah merasakan kesempatan berseragam Persiwa Wamena, seperti Erick Weeks Lewis, Boakay Eddie Foday, hingga Pieter Rumaropen.

Sedangkan pelatih yang pernah menangani Persiwa di antaranya ada nama Djoko Susilo, Suharno, Zainal Abidin, Gomes de Olivera, hingga Subangkit.

Persiwa Wamena sudah sejak lama berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola di Indonesia, hanya saja tidak ada prestasi menonjol yang mereka tunjukkan. Kendati demikian, terdapat satu musim yang membuat nama Persiwa begitu diingat dalam sejarah dan menjadikan mereka sebagai klub legendaris. Berikut ini akan coba dibahas lebih jauh tentang hal tersebut dan soal nasib klub saat ini.

 

Awal Julukan “Badai Pegunungan”

Papua menjadi pulau terbesar di Indonesia yang di dalamnya menyimpan begitu banyak kekayaan alam serta beragam budaya. Pulau yang seolah menyerupai burung ini juga menjadi pulau paling timur yang masuk dalam wilayah Indonesia.

Kabupaten Jayawijaya yang menjadi tempat Persiwa bermarkas berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah lembah yang terbentang pada areal ketinggian 1500 hingga 2000 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, Lembah Baliem sendiri dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena puncak-puncak salju abadinya, yakni Puncak Trikora, Puncak Mandala, dan Puncak Yamin.

Dengan kondisi topografi dan geografis semacam itulah menjadi awal Persiwa Wamena dijuluki sebagai “Badai Pegunungan”. Selain itu juga, bermain di kandang Persiwa menjadi tantangan tersendiri bagi klub-klub Indonesia yang hendak bertandang.

Tim-tim tamu pun bakal dibuat kesulitan untuk tampil bagus atau memenangkan laga saat bermain di markas Persiwa. Salah satunya karena posisi wilayahnya yang tinggi sehingga membuat konsentrasi oksigen jadi menipis. Bagi para pemain yang tidak terbiasa bermain di kondisi demikian, dijamin akan kesulitan untuk bernapas. Selain itu, perbedaan cuaca menjadi factor lainnya. Jadi, saat siang bisa sangat panas, sedangkan saat malam bisa sangat dingin.

 

Kiprah Persiwa dan Prestasi Fenomenal di Sepak Bola Indonesia

Persiwa Wamena tercatat melakukan debut berkompetisi di sepak bola Indonesia pada musim 1994/95 di Divisi II Liga Indonesia. Kurang lebih selama sepuluh tahun klub yang memiliki julukan lain “Kasuari Hijau” itu berkutat di kompetisi kasta keempat dalam piramida sepak bola Indonesia tersebut.

Mereka promosi ke Divisi I Liga Indonesia 2004 setelah pada 2003 menempati peringkat ketiga di Divisi II.

Dari situlah awal mula Persiwa mampu terus meningkatkan prestasinya. Setahun kemudian atau tepatnya pada Divisi I Liga Indonesia 2005 mereka menempati posisi ketiga dan berhak naik kelas ke Divisi Utama.

Di Divisi Utama, Persiwa menunjukkan diri sebagai tim yang patut untuk diperhitungkan. Hal ini dibuktikan dengan menjadi 8 besar di Divisi Utama 2007.

Prestasi fenomenal mereka catatkan ketika bermain di Liga Super Indonesia tahun 2008/09. Saat itu, mereka sukses menjadi runner-up di bawah tim sesame asal Papua, yakni Persipura Jayapura.

Tim yang kala itu berada di bawah arahan pelatih Zainal Abidin tersebut total mengumpulkan poin sebanyak 66 poin. Salah satu rekor yang mereka catatkan adalah selalu meraih kemenangan di laga kendang. Tentu saja, hal ini tidak terlepas dari angkernya Stadion Pendidikan.

Total sebanyak 17 kemenangan diraih oleh Persiwa ketika bermain di kandang. Selain itu, mereka juga sukses mencatatkan 42 gol dan hanya kebobolan 6 kali saat bermain di stadion berkapasitas 15 ribu penonton tersebut.

Total poin yang dikumpulkan oleh Persiwa di akhir musim sejatinya sama dengan Persib Bandung. Hanya saja, Persiwa unggul soal selisih gol berkat status jago kandang yang mereka sandang kala itu. Sehingga, Persiwa pun lebih berhak untuk menempati posisi kedua.

Namun, selain rekor apik, terdapat rekor buruk yang diukir oleh Persiwa pada gelaran ISL musim tersebut, yakni soal performa ketika bermain tandang. Mereka menjadi tim yang paling buruk di laga tandang dengan menelan 10 kekalahan dari 17 laga.

Berkat menjadi runner-up di ISL 2008/09, Persiwa pun mendapatkan tiket untuk bermain di babak play-off Liga Champions Asia 2010. Hanya saja, mereka gagal merebut tiket lolos ke fase grup, sehingga harus puas bermain di Piala AFC.

Tergabung ke dalam Grup G bersama South China (Hong Kong), Muangthong United (Thailand), dan VB Sports (Maladewa), sayangnya Persiwa cuma numpang lewat ketika berkiprah di Piala AFC 2010.

Mereka menjadi bulan-bulanan dengan menjadi juru kunci Grup G karena hanya mampu meraih satu poin. Mereka kalah lima kali dan imbang sekali, serta kebobolan 21 kali dan hanya 8 kali mencetak gol.

 

Ketika Badai Pegunungan Dihantam Badai Finansial

Setelah mampu mengejutkan publik sepak bola tanah air dengan menjadi runner-up ISL 2008/09 serta tampil di Piala AFC 2010, kiprah Persiwa Wamena mulai mengalami penurunan.

Pada Liga Super Indonesia 2013, mereka mengakhiri kompetisi dengan mengisi posisi ke-17 atau satu strip di atas sang juru kunci PSPS Riau.

Saat itu, Persiwa mengoleksi 30 poin dari 9 kemenangan dan tiga kali imbang. Sedangkan 22 laga sisanya berakhir dengan kekalahan. Mereka menjadi tim kedua terburuk setelah PSPS Riau dengan catatan 62 kali. Sedangkan PSPS Riau menjadi lumbung gol bagi lawan dengan catatan 107 kali kebooblan.

Mereka memang hanya setahun bermain di Divisi Utama, karena pada 2014 menjadi runner-up sehingga berhak kembali mentas di gelaran Liga Super Indonesia 2015. Hanya saja badai finansial menerpa tim dengan julukan Badai Pegunungan tersebut.

Mereka didiskualifikasi dari kepersetaan ISL 2015 karena masalah keuangan serta infrastruktur yang tidak mendukung atau tidak memenuhi persyaratan.

“Minimal setiap klub peserta kompetisi butuh dana sebesar Rp15 miliar,” tutur Sekretaris Badan Liga Indonesia kala itu, Joko Driyono, usai memastikan kalua Persiwa tak lolos kualifikasi ke ISL.

Padahal sebelumnya Asosiasi Bupati se-Pegunungan Tengah berkomitmen mendukung Persiwa, begitupun dengan sang gubernur, Lukas Enembe, yang berusaha mencari solusi. Namun, nyatanya nasib buruk tak dapat ditolak oleh Persiwa.

 

Persiwa Kini Hilang Karena Merger

Sepak bola Indonesia sempat disanksi FIFA yang membuat roda kompetisi tidak dapat bergulir. Nama Persiwa Wamena pun seolah semakin terlupakan. Mereka sempat kembali berkompetisi di Liga 2 pada 2018, tapi harus terdegradasi ke Liga 3.

Selain itu, saat berkompetisi ke Liga 2, mereka juga sempat berpindah-pindah stadion. Stadion Pendidikan bukan lagi jadi kandang, tapi mereka sempat bermarkas di Cimahi, Depok, kemudian Kuningan.

Kini, klub bernama Persiwa Wamena ini benar-benar hilang. Bukan karena vakum atau tidak lolos verifikasi yang dilakukan oleh operator kompetisi, melainkan karena merger dengan tim lain. Persiwa kini telah merger dengan klub asal Cirebon bernama Bina Putra.

Keputusan tersebut terjadi sekitar bulan Juli tahun 2018 lalu. Dengan adanya merger tersebut, maka dipastikan nama klub juga berubah menjadi Persiwa Bina Putra FC. Markas tim juga ikut berubah jadi ke Cirebon.

Pemilik Bina Putra FC, yakni Subagja Suihan, beralasan merger tersebut bertujuan untuk kembali menggairahkan sepak bola di Kota Cirebon. Selain itu, kesibukan ketua Persiwa, yakni John Banua, jadi alasan lainnya.

“Saya sebagai pemilik klub Bina Putra langsung menghubungi Pak Banua. Saya tahu dia sedang sibuk sehingga tak sepenuhnya fokus mengurus Persiwa. Saya pun menawarkan diri,” tutur Subagja, 14 Juli 2018 silam.

Tentunya, mergernya Persiwa ini sangat disayangkan karena membuat klub-klub asal Tanah Papua jadi berkurang. Sebab bukan cuma Persiwa yang sudah hilang, tapi juga ada Persidafon Dafonsoro yang sudah tak terdengar lagi kiprahnya. Kemudian juga ada Persiram Raja Ampat yang juga sudah merger dengan PS TNI dan berubah menjadi nama PS Tira.

Demikianlah sekelumit kisah dari jejak Persiwa Wamena di kancah persepak bolaan Indonesia.