Karir Naik-turun Saido Berahino: Negara Kecil Afrika, Liga Inggris, Sekarang di Belgia

Jumat, 31 Desember 2021, 20:21 WIB
53

Burundi terletak di Afrika Timur, merupakan salah satu negara paling tertinggal di muka bumi ini. Kemajuannya dihambat oleh kekerasan yang sering terjadi, perpecahan etnis dan pemerintah korup yang terus terjadi selama beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan Majalah Keuangan Global, mereka mendapatkan peringkat teratas untuk negara termiskin di dunia. Sementara Laporan Kebahagiaan oleh Lembaga Dunia PBB, mereka dicap sebagai negara yang paling tidak Bahagia di dunia. Sekitar 80 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan, 90 persen penduduknya bekerja di sektor pertanian. Belum lama ini, ada salah satu bocah yang keluar dari Burundi, yang kemudian jadi pencapaian tersendiri baginya, karena muncul sebagai pesepakbola professional.

Saido Berahino nama bocah tersebut, lahir di Bujumbura yang merupakan ibukota Burundi pada bulan Agustus 1993. Dari kisah yang diceritakan Berahino, Burundi benar-benar menjadi sebuah mimpi buruk untuk anak-anak yang masih usia dini.

“Kamu akan melihat mayat-mayat menutupi jalan, dan tidak sedikit dari mereka masih anak-anak kecil. Anda bisa melihat selongsong peluru berserakan di jalanan,” cerita Berahino kepada Channel 4 di tahun 2014 lalu. Ayah Berahino sendiri merupakan satu dari sekitar 300 ribu orang yang tewas karena perang saudara di Burundi. Enam tahun setelah kematian ayahnya, Berahino lari ke Inggris saat usianya sepuluh tahun, terpisah dari ibu dan saudara perempuannya.

Ibu dan saudara perempuannya akhirnya dilacak dan diberangkatkan kembali ke Birmingham untuk bertemu dengan putranya kembali. Ketika mendarat di Tanah Inggris, Berahino sendiri tidak tahu bahasa Inggris. Dia cuma paham Bahasa Prancis dan Swahili, yang memang dia gunakan sejak kecil bersama ibunya. Sejak memulai hidup di Birmingham, dia langsung paling menonjol, selain karena warna kulitnya, keterampilannya dalam beberapa olahraga, khususnya sepak bola membuat dia menarik perhatian banyak orang.

Hanya setahun usai meninggalkan Burundi, dia pun diundang untuk gabung Sekolah West Brom di tingkat di bawah 12 tahun. Pemain yang mengaku penggemar Manchester United itu mengaku dirinya saat ke West Brom tidak tahu apa-apa.

“Saya dulu bermain untuk tim lokal di Birmingham dan manajer memberi tahu saya dikirim ke West Brom untuk laga uji coba. Saya tidak tahu siapa mereka, karena saya tahunya hanya empat besar tim Inggris saja,” cerita Berahino kepada FourFourTwo di tahun 2010.

Dia memang sejak remaja selalu menjadi striker tapi bukan penyerang bertipe kaki cepat, namun kuat secara fisik dan teknik yang bagus.

“Dia terus meningkat dari tahun ke tahun, kami selalu ingat saat dia mencetak empat gol untuk West Brom U-15 saat menghadapi Liverpool. Semua tim akademik selalu membicarakan seberapa hebat Saido,” ucap Steve Hopcroft, Direktur Akademik West Brom kepada Telegraph di tahun 2014.

 

Kontrak Profesional Pertama Bersama West Bromwich

Di usia 18 tahun, Berahino pun ditawari kontrak profesional pertamanya oleh West Brom dan berlatih bersama tim senior yang saat itu diasuh oleh Roy Hodgson. Namun dirinya harus menjalani beberapa peminjaman yang gemilang bersama Northampton dan Brentford lebih dulu, sebelum debut untuk tim senior West Brom.

Saat dia kembali ke West Bromwich usai peminjaman di musim panas 2012, Hodgson dipecat dan Steve Clarke datang menjadi pengganti. Pelatih kepala yang baru memberikan debut untuk Berahino saat West Brom menghadapi Yeovil di Piala Liga Inggris, dia berduet bersama Romelu Lukaku yang dipinjam dari Chelsea kala itu.

Tapi setelah itu, dirinya kembali dipinjamkan kali ini ke klub Championship, Peterborough saat usianya 20 tahun. Cedera lutut pada pertengahan musim membuatnya absen panjang membela Peterborough yang harus degradasi ke kasta ketiga Liga Inggris. Jelang musim 2013/2014, Lukaku kembali ke Stamford Bridge dan Peter Odemwingie gabung Cardiff, membuat ada slot di posisi striker.

Ketika diberi kepercayaan, Berahino langsung membawa West Brom mengamuk dengan hattrick menghadapi Newport di Piala Liga Inggris. Bukan hanya Steve Clarke yang terkesan dengan kemampuannya, Gareth Southgate yang masih jadi pelatih Timnas Inggris U-21, memanggilnya untuk pertandingan persahabatan. Dia mencetak gol tunggal saat The Three Lions menang 1-0 atas Moldova.

Akhirnya gol pertama Berahino pun datang di Liga Inggris dan lebih spesialnya lagi, kala West Brom menghadapi tim kesukaannya, Manchester United di Old Trafford. Penampilan selanjutnya terbukti apik sehingga Southgate kembali memanggilnya untuk Inggris U-21. Dirinya pun pernah menyinggung tentang dirinya membela Inggris padahal kelahiran Burundi.

“Burundi adalah tanah air bagi saya. Saya akan selalu jadi orang Burundi terlepas apa yang terjadi, bahkan jika saya jadi pemain Liga Inggris. Saya masih punya budaya Burundi dalam diri saya,” katanya kepada Telegraph.

“Bermain untuk Inggris sungguh berbeda. Mereka telah memberi saya kesempatan kedua dalam hidup, juga keluarga saya, kini punya gaya hidup yang berbeda. Saya merasa sangat berterima kasih atas apa yang dilakukan Inggris untuk keluarga saya. Jadi ketika saya bermain untuk bendera Inggris, saya sangat bersemangat dan gembira, keinginan untuk membalas semua perlakuan negara ini dengan kemenangan,” jelasnya lagi.

Dia pun bisa dibilang jadi langganan Southgate di berbagai kelompok umur Timnas Inggris, mulai dari U-16, U-18 hingga U-21. Pada saat dia mencetak gol pertamanya kontra Finlandia di Stadium MK bulan November, Berahino mengangkat bajunya dengan kaos polos bertuliskan ‘RIP, Love U Dad.” Momen haru ini membuktikan bahwa Burundi masih melekat di benak dan hati sang pemain, meski dirinya membela negara lain.

Pada pertengahan musim pertamanya membela tim senior West Brom, ada beberapa tensi tegang mengingat terdapat seleksi Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2014. Meski pun dia cukup berkontribusi besar bagi West Brom, sayangnya, tidak ada tempat bagi Berahino dalam pesawat Timnas Inggris yang terbang ke Brasil.

 

Gaya Hidup Liar di Luar Lapangan, Berahino Mulai Meredup

Kembali ke West Bromwich, Pepe Mel dipecat dan Alan Irvine mengisi kursi pelatih kepala. Dia langsung mendatangkan Brown Ideye dari Dynamo Kyiv untuk mempertebal opsi lini serang. Dengan persaingan yang makin ketat di lini depan, performa awal musim 2014/15 Berahino membuatnya tidak tergantikan. Penyelesaian peluang dengan satu sentuhan, membuatnya makin spesial di mata banyak klub. Gosip transfer Berahino yang mengaitkannya ke Liverpool dan Tottenham pun merebak jelang Januari di pertengahan musim. Belum lagi panggilan pertama kali dari Timnas Senior Inggris yang saat itu dilatih oleh Roy Hodgson, mantan pelatih West Bromwich Albion.

“Semuanya terserah kepada Saido untuk membuat langkah dari U-21 ke level senior, ini adalah momentum untuknya,” kata Hodgson jelang jeda internasional pada November.

Namun tampaknya meski sudah dipanggil oleh Timnas Inggris senior, sang pelatih tidak pernah memainkan Berahino satu menit pun di Kualifikasi Euro 2016 atau pertandingan persahabatan. Tapi sang pelatih itu tentu punya alasan mengingat gaya hidup striker yang kala itu berusia 21 tahun. Beberapa minggu setelah jeda internasional November, Berahino diketahui bersalah karena mengemudi dalam keadaan mabuk sebulan sebelumnya. Kemudian pada Januari dia dijatuhkan sanksi dan denda karena pelanggaran tersebut, tetapi kehidupannya di dalam dan luar lapangan, benar-benar seperti sebuah hal yang terpisah.

Dengan Tony Pulis menggantikan Alan Irvine yang dipecat, Berahino masih tampil regular selama sisa musim tersebut. Namun senyum perlahan menghilang di wajah Berahino, bahkan ketika dirinya memborong empat gol kontra Gateshead di Piala FA. “Saya hanya melakukan pekerjaan saya dan bertindak secara profesional, cuma itu saja. Tidak perlu saya jelaskan kenapa tidak merayakan gol,” ucapnya setelah laga tersebut.

Masalah sikap dan rumor keretakan hubungan dengan manajemen klub, membuat West Brom menarik diri dalam negosiasi kontrak baru untuk Berahino. Mereka pun berencana untuk menjualnya di musim panas, namun ternyata tawaran Tottenham masih saja ditolak. Yang membuat sang pemain diyakini tambah kesal dengan klub. Berahino pun memberikan ancaman pada klub bahkan bersumpah tidak akan bermain lagi untuk West Brom saat masih dimiliki oleh Pengusaha Lokal, Jeremy Peace.

September datang dan striker itu masih terjebak di Hawthorns. Gencatan senjata berhasil dilakukan untuk mendinginkan tensi panas antara pemain, klub dan pelatih, yang berujung pada pemakaian jasanya kembali ke skuat senior. Para fans WBA pun seolah memaafkannya atas semua perilaku sang pemain sebelum-belumnya, ditambah gol tunggal ke gawang tuan rumah Aston Villa. Bisa dibilang ini menjadi momen pemecah kebekuan dan Berahino kembali tersenyum saat merayakan golnya tersebut. Rekan-rekan setimnya pun mengelilingi dirinya yang menjadi gestur mendukung sang striker berbakat itu. Tapi berbeda dengan manajer klub.

Tony Pulis sendiri merupakan pelatih yang langsung membekukan sang pemain dari skuat senior sebelumnya. Apalagi setelah West Brom menolak sederet tawaran dari klub besar untuknya di musim panas. Semakin buruk ketika karirnya di West Brom berakhir dengan buruk, pindah ke Stoke City yang membuatnya makin meredup lagi. Bahkan dirinya dikritik oleh Paul Lambert saat The Potters terdegradasi dari Liga Inggris ke Championship.

 

Kembali ke Panggung Internasional Bersama Timnas Burundi

Sama seperti musibah yang terjadi terus menerus, tentu akhirnya ada sinar terang. Musim panas 2018, ketika rekan-rekan seangkatannya seperti Raheem Sterling, John Stones dan Jesse Lingard membela Inggris di Piala Dunia 2018, Berahino akhirnya kembali ke pentas sepak bola internasional. Dia bermain pertama kali untuk negara kelahirannya di akhir tahun 2018, dengan mencetak gol saat Burundi menahan imbang Gabon 1-1, yang dibela oleh Pierre-Emerick Aubameyang di Libreville. Burundi sebelumnya tidak pernah lolos ke turnamen besar di panggung Afrika, namun dengan kedatangan Berahino, para masyarakat mulai bermimpi Burundi bisa tampil di Piala Afrika.

Ketika Gabon bertamu ke Bujumbura di bulan Maret berikutnya, Burundi sebenarnya cuma butuh satu poin untuk masuk ke Piala Afrika. Namun pertandingan kontra Gabon berakhir dengan kekalahan dan membuat mereka gagal ke Mesir. Meski gagal, Burundi benar-benar mendapatkan sesuatu yang mereka nanti-nantikan setelah sekian lama.

Untuk pemuda Burundi yang tumbuh dewasa di negeri sebesar Inggris, sekarang kembali ke negara asalnya, membuat Berahino tidak butuh waktu lama untuk jadi idola. Dia pun jelas diberikan ban kapten, yang membuatnya makin gagah dan dianggap pahlawan untuk banyak orang Burundi.

Setelah kehidupan pribadinya lagi-lagi membuat karirnya di Stoke City berakhir lebih cepat, striker yang pada 2019 masih berusia 26 tahun, hijrah ke Belgia gabung klub bernama Zulte Waregem. Setahun bersama Zulte, dia kemudian berpindah ke Charleroi. Sekarang dia kembali ke Inggris namun dengan transfer permanen ke Sheffield Wednesday di kasta ketiga sepak bola Inggris. Meski banyak keraguan atas kualitasnya sebagai atlet profesional, karena gaya hidupnya di luar lapangan, naik-turun karir Berahino sudah cukup untuk membuat sang ayah bangga di Surga sana.